Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Archive for the ‘MP – Obrolan Iseng’ Category

Menggemukkan suami

Suatu siang, ngerumpi dengan beberapa orang teman.

Seorang teman yang punya suami berbadan besar memperlihatkan fotonya ketika baru menikah. Ternyata di foto itu suaminya kurus banget.
Langsung deh dia dihadiahi pujian sebagai istri yang pintar mengurusi suami.

Habis itu beberapa teman lain ikutan pamer bahwa suami mereka juga jauh lebih kurus waktu awal menikah dulu. Ada yang menunjukkan bukti foto, ada juga yang cuma berkoar-koar.
Aku? Seuri koneng sajaaah….

Gimana enggak. Suamiku dari pacaran sampe menikah 15 tahun ya segitu-segitu aja badannya.
Cincin kawin saja masih muat. Padahal cincinku udah lamaaaaaaaa banget nggak bisa lagi dipake.
Kalo ukuran pintar tidaknya seorang istri diukur dari kenaikan berat badan suami, berarti aku bukan termasuk istri yang pintar dong.

Tapi waktu aku bilang sama babeh, dia malah ketawa. Katanya kalo orang kerjanya kayak dia ya nggak boleh gemuk. Kalo gemuk mana bisa nungging-nungging atau masuk ke kolong mesin.
Katanya lagi, malah aku yang sukses mengurusi suami alias membuat suami tetap kurus.
Yang penting kan sehat, bukan gemuk. Sejak menikah katanya dia merasa kesehatannya jauh membaik karena makanan lebih terjamin.

Eheemmm…. eheemmmm…. seneng siiih dipuji babeh.
Tapi kepingin juga ngeliat dia gemukan dikiiiiiit aja. Biar aku nggak jadi yang paling bulet sendiri di rumah.
Asal nggak sampe segini aja gemuknya



Gimana denganmu temans??

ctt : fotonya dari gugel

Cantik buat siapa?

Pernah baca di satu buku, katanya seorang istri sebaiknya selalu tampil cantik di depan suaminya, termasuk di rumah. Kecantikan itu seharusnya untuk dinikmati suami. Jadi kalau ada seorang istri hanya berdandan ketika akan keluar rumah, sama saja kecantikannya ditujukan untuk dinikmati orang lain.

Dulu… duluuuuu banget waktu baru menikah, aku masih menyimpan idealisme seperti itu. Bangun tidur, mandi dan terus berdandan. Pakai bedak, pakai lipstik, terus pakai baju rapi sepanjang hari. Tidur malam pakai lingerie yang seksi-seksi.
Apalagi suamiku kerjanya di rumah. Sewaktu-waktu bisa ada tamu yang berurusan dengan pekerjaan. Jadi aku nggak malu-maluin kalau keliatan sama tamu itu.
Suamiku menanggapi usahaku dengan biasa-biasa saja.


Setelah punya anak satu, aku mulai kerepotan harus pakai rok di rumah. Jadi seragamku beralih ke celana rok. Mandi dan dandannya jadi agak siang setelah selesai mengurus tetek bengek anak. Rambut panjangku dipotong pendek banget supaya nggak ribet.
Masa itu aku punya ART jadi nggak terlalu banyak menangani urusan dapur dan rumah tangga.
Suamiku juga tidak berkomentar dengan perubahanku.


Tambah anak kedua, dan aku memutuskan berhenti memakai tenaga ART. Seragam rumahku masih celana rok atau celana selutut, tapi sekarang jadi suka pake kaos longgar bukan kemeja. Apalagi potongan badan makin melar.
Lipstik dan bedak terlupakan kecuali kalau mau pergi keluar rumah. Minyak wangi jadi irit karena jarang dipake.
Repot kan berdandan dan berwangi-wangi terus kudu masak. Baunya bercampur-campur sama bawang, terasi segala jadi nggak karuan.
Suamiku tetap nggak berkomentar.


Akhirnya punya tiga anak. Dan aku kadang sudah lupa gimana rasanya berdandan. Bahkan ketika mau pergi rasanya ribet banget karena harus nyiapin ini itu keperluan anak-anak. Cukup oles lipstik dikit, bedak dikit, ambil baju paling simpel… udah deh. Boro-boro kayak dulu kepikir nyocokin baju sama accesories, sepatu, tas dll. Patokanku asal masih kelihatan pantes dan nggak malu-maluin aja.
Kalo di rumah, jangan ngomong deh. Seragam the best sekarang ya kaos atau daster batik sepanjang hari. Kadang kaos bolong masih dipake karena adem. Apalagi kalo mau nyetrika…. xixixi…
Pake lingerie malem-malem? Boro-boro…… Pan udah lama aku pisah ranjang sama dia. Aku tidur sama Daniel dan dia sama Debi.
Tapi biarpun pisah kamar, kalau lagi ada maunya kan masih bisa saling merayap, atau janjian ketemu di kamar belakang….



Dan suamiku nggak pernah mempermasalahkan semua itu
Buat dia seperti apapun penampilanku, katanya tetap cantik……. uhuuuuyyyy!
Bahkan waktu aku keringetan di dapur atau lagi kotor habis bersih-bersih rumah, dia masih aja suka meluk-meluk.
Dia cuma protes kalo aku pake baju yang terlalu pendek atau terlalu terbuka. Katanya nggak rela ‘kepunyaannya’ harus dibagi sama orang lain.

Jadi masalah cantik atau nyaman, jujur aja sekarang aku pilih nyaman.
Cantik itu untuk siapa? Ya tetap buat babeh dong. Kalo aku masih berusaha berdandan waktu mau bepergian, itu karena aku menghargai babeh. Kasian dia kalo diliat orang istrinya kok dekil, gendut, nggak terawat.
Kalo menuruti keinginanku sih, maunya kemana-mana juga tetep pake kaos bolong yang adem itu….. Bandung kan sekarang panas banget, mana si Utun nggak ada ACnya….

Gimana denganmu temans???



Bawel itu terkadang perlu

Habis jalan pagi di taman unyil seperti biasa, aku minta babeh mampir sebentar di minimarket buat beli beberapa keperluan dapur.
Pas aku masuk, aku lihat para pegawai, kasir dan si ibu pemilik minimarket lagi heboh, mondar mandir kesana kemari. Ada suara anak kecil menangis kencang.

Rupanya ada seorang anak kecil (umurnya kira-kira 3 tahun) tertimpa rak tempat menggantungkan mainan-mainan. Nggak sampe terluka sih. Anak itu menangis mungkin cuma kaget. Dan ibunya lagi sibuk menenangkan dengan memberi macam-macam kue.
Setelah anaknya reda menangis, si ibu langsung membayar belanjaan di kasir terus pergi dengan terburu-buru.

Begitu si ibu keluar, langsung deh semua karyawan di situ plus ibu pemiliknya membicarakan kejadian barusan. Kata seorang karyawan, si ibu itu kalau datang belanja memang suka membiarkan anaknya berkeliaran tanpa diawasi. Anaknya nakal lagi, suka mawur-mawurin beras, pernah mecahin telor, bikin berjatuhan barang jualan di rak. Dan terparah hari ini, satu rak mainan sampe tumpah semua.
Sejauh itu ibunya nggak pernah melarang-larang apalagi sampe memarahi.

Pernah katanya salah satu karyawan menegur waktu anak itu memainkan tumpukan tabung gas 3kg, ibunya kelihatan nggak senang dan kemudian ikut mengomeli anaknya tapi dengan nada nyungkun (duh, bahasa indonesianya apa yah….). Padahal karyawan itu maksudnya baik. Dari pada si anak ketimpa tumpukan tabung gas.

Ibu pemilik minimarket bilang, “Anak itu kan bisa diajarin. Dikasih pengertian kalo itu bahaya. Untung rak mainan itu ringan. Coba kalo rak yang lebih besar yang rubuh, pan dia celaka jadinya.”

Iya sih… bahaya buat anak-anak bisa terjadi dimana saja.
Namanya anak-anak memang suka mengeksplorasi. Tapi kan bisa diarahkan, bisa diberi pengertian apa yang berbahaya dan apa yang tidak.

Anakku tiga, tapi aku rasanya nggak pernah repot kalau membawa mereka kemana-mana, bahkan waktu masih kecil.
Mulai dari Semsem kecil, terus Debi dan sekarang Daniel, aku suka membawa mereka kalau kebetulan harus kerja ke pabrik atau ke toko orang. Dan nggak pernah ada masalah.
Bahkan customer yang awalnya suka nyureng waktu ngeliat aku bawa anak, akhirnya malah seneng dan suka ngasih makanan atau coklat buat mereka.

Pergi ke mall atau supermarket, anak-anak juga sudah tahu bahwa mereka nggak boleh berada dekat eskalator tanpa pengawasan orang tua. Nggak boleh berlari-larian karena resikonya nanti memecahkan barang.
Kalau di rumah, mereka juga mengerti nggak boleh menggerataki barang-barang papah. Padahal yang namanya barang papah itu tersebar dimana-mana dan bisa tergeletak di mana saja. Tapi sampai saat ini puji Tuhan, nggak pernah ada kejadian kecelakaan karena anak-anak selalu nurut.

Masih ada banyak aturan yang aku buat.
Terkesan banyak melarang dan membatasi gerak anak?
Aku memang nggak termasuk ibu yang permisif, yang nggak suka melarang-larang anak, yang anti bilang ‘jangan’, atau nggak suka memarahi.
Kalau perlu marah ya aku marah saja. Mereka juga tahu bahwa mamah marah nggak berarti mamah nggak sayang.
Menghukum pelanggaran kalau perlu juga aku lakukan. Karena buatku antara kasih sayang dan disiplin itu tetap harus berimbang.

Aku berusaha memberi mereka pengertian bahwa ada hal-hal tertentu yang bisa mendatangkan bahaya buat mereka.
Caranya dengan sering mengajak mereka ngobrol. Sebelum tidur, sambil makan, di mobil waktu mau bepergian.
Dengan obrolan ringan disertai menjawab berbagai pertanyaan mereka, aku memberi batasan-batasan mana yang boleh dan mana yang tidak.
Dan siapa bilang anak itu nggak bisa mengerti.
Kadang-kadang lupa, tapi kalau diingatkan berkali-kali (termasuk dengan hukuman) lama-lama akan tertanam juga.

Makanya aku harus mengaku bahwa sejak punya anak tingkat kebawelanku bertambah entah sampai berapa lipat.
Tapi berkat kebawelan ini, aku nggak pernah dipermalukan oleh tingkah anak-anak di luar rumah.
Malah mereka suka berkomentar “Malu-maluin ya, Mah” kalau kebetulan melihat seorang anak kecil bertingkah tidak terkendali di tempat umum.

Balik ke insiden di minimarket tadi, untungnya setelah diperiksa nggak ada mainan-mainan itu yang rusak atau pecah. Kalau nggak, kasian si ibu pemiliknya harus menanggung rugi. Soalnya yang punya anak tadi pergi begitu aja tanpa basa-basi.


Ctt : Gambar burung bawelnya nyomot di gugel

Uhuuyyyyy…… Uhuukkkkk!!

Pagi-pagi ngobrol berdua sambil menyantap kupat tahu plus secangkir teh anget.
Romantis kan??
Cerita kesana kemari ujungnya membahas keponakan yang punya pacar pelit banget sampe kalau makan berdua saja harus bayar masing-masing.
Si Mamah tiba-tiba nyeletuk, “Udah tau pelit kok masih aja pacaran ya. Kalo aku sih putus aja.”
“Ah, Mamah juga pelit tapi tetep aja aku jadiin istri,” si Papah nyaut kalem.
“Yeeee…. kenapa dong mau sama cewek pelit?” si Mamah rada dongkol.
“Soalnya kamu itu baik. Inget nggak si Om (pendeta kami) suka bilang, cari pacar itu gampang, cari istri lebih sulit, tapi yang paling susah itu cari indung budak (ibunya anak-anak). Nah kamu itu bisa jadi indung budak.”

Itu mungkin bukan pujian yang gimanaaaa gitu. Tapi keluar dari mulut si Papah yang jarang banget memuji, si Mamah langsung serasa terbang ke langit, ngebelah atmosfir berlapis-lapis, meluncur bareng paus akrobatis, terus ngebut menuju rasi bintang paling maniiiiis…… *mamah korban iklan

Tapi habis itu….
“Makanya, nambah anak satu lagi yuk..!”
Si Mamah yang lagi melayang-layang langsung kepeleset, jatuh dari awan dan nyungsep di got depan rumah.

WHAATTT?????

“Kayaknya kalo punya anak satu lagi bakal perempuan nih. Jadi si Debi bisa ada temennya.” Si Papah masih melanjutkan dengan santai.

TIDAAAAAAAAAAKKKKK…………!!!

“Boleh tambah anak tapi Papah yang hamil sama ngelahirin,” si Mamah jutek.
“Gimana caranya?”
“Pikir aja sendiri!”

Dan berakhirlah romantisme pagi itu….

Teungteuingeun…..

Seorang sepupu suami tiba-tiba datang berkunjung. Bukan silaturahmi sih…. lebih tepatnya kunjungan karena lagi ada perlunya. Anaknya mau ikut lomba bikin robot. Tapi ada masalah di rangkaian elektroniknya yang bikin si robot nggak bisa jalan seperti seharusnya. Jadi si sepupu itu minta bantuan untuk dicarikan solusinya.

Sementara suamiku nguprek-nguprek rangkaian itu, aku nemenin si sepupu ini ngobrol.
Mulanya dia tanya-tanya tentang anak-anak. Tanya di mana sekolahnya, jauh nggak dari rumah, naik apa kalau sekolah.
Waktu aku jawab Debi sekolah pakai antar jemput, dia langsung tanya, “Bayar berapa sebulan buat antar jemput?”
Waktu aku sebutin angkanya, dia manggut-manggut, “Murah ya…”
“Kalau SPPnya berapa sebulan?” dia nerusin lagi.
“Semsem nggak bayar SPP. Kan dapat beasiswa dari sekolah.”
“Kalau Debi?”
“Tiga ratusan lah…” Aku nggak kasih angka jelas.

Habis itu dia tanya yang lain lagi.
“Eh, itu anak yang kecil juga udah mau masuk sekolah ya? Masuk kemana?”
“Kalam Kudus lagi kayak kakak-kakaknya.”
“Berapa uang masuknya sekarang?”
Aku mulai merasa risih. Kok masalah duit terus yang ditanyakan. “Lumayan lah…” sahutku setengah mengelak, “Lumayan bikin engap.”

Terus pindah lagi ke masalah lain.
“AyKwan punya pegawai?”
“Ada,” sahutku
“Berapa orang?”
“Ah, cuma satu kok.”
“Berapa dibayarnya sebulan?”
Aku makin risih dengan pertanyaan ini. Jadi aku cuma bilang, “Oh, nggak dibayar bulanan kok.”
“Harian? Sehari berapa?” dia ngejar.
“Nggak tentu. Tergantung seberapa berat kerjaan hari itu.”
Mestinya dengan jawabanku itu dia ngerti kalau aku nggak mau bilang. Tapi ternyata dia nggak ngerti dan terus mendesak.
“Paling sedikit dikasih berapa? Goban dapet nggak?”
Aku senyum meskipun dongkol, “Memang kenapa, Cie?”
“Ah, nggak… pingin tahu aja.”

Lalu pindah topik lagi.
“Ini rumah sudah rumah sendiri?”
“Masih nyicil.” Aku mulai bisa menebak arah pertanyaannya.
“Berapa dulu belinya?”
Nah kan!
Aku jawab dengan senyum lagi. “Memang kenapa, Cie?”
“Pingin tahu aja, mahal nggak rumah di daerah sini.”

Kenapa aku jadi merasa lagi berhadapan dengan petugas pajak yang mendata harta kekayaanku……..

———–

Rasa ingin tahu itu memang nggak salah. Tapi kalau keterlaluan ya bisa jadi masalah.
Ketika orang bertanya tentang keluargaku, anak-anakku, suamiku, biasanya aku menganggap itu sebagai bentuk perhatian. Aku pasti menjawabnya dengan senang hati.
Kalau pertanyaan itu berlanjut masalah pekerjaan, aku juga masih menganggapnya sebagai keingin-tahuan yang wajar.
Tapi kalau yang berurusan dengan duit diselidik-selidik sampai mendetil, jujur saja aku anggap itu sudah melewati batas.
Masalah duit itu kadang menjadi masalah sensitif.
Bahkan dengan teman yang akrab saja aku nggak pernah tanya berapa gajinya sebulan, berapa harga tas atau sepatu yang dia pakai, atau berapa harga mobil barunya.
Apalagi ini orang yang nggak terlalu akrab. Jarang bertemu meskipun masih terhitung saudara.
Memangnya kalau aku jawab semua, dia mau nyumbang?

Rasanya masih banyak hal lain yang bisa ditanyakan. Yang lebih wajar dan nggak menyinggung orang yang ditanya.

Anehnya, waktu dia mau pulang, pertanyaan yang aku tunggu malah nggak keluar.
Mestinya dia tanya, “Ada komponen yang diganti ya? Mesti bayar berapa nih?”
Tapi dia cuma bilang “Makasih yaa…”

**Teungteuingeun itu artinya ter-la-lu

Gara-gara air…….

Sesuatu biasanya baru terasa bernilai
ketika kita kehilangan atau tidak memilikinya lagi…..


Sebetulnya hari ini sudah punya banyak rencana yang semuanya adalah dalam rangka bayar hutang sehabis liburan 3 hari kemarin.
Masak, nyuci, nyikat kamar mandi, ngepel dan ngeganti air di akuarium.
Apa persamaan semuanya? Butuh air….
Dan apa yang terjadi?
Ternyata hari ini di rumah gak ada air, sodara-sodara…….

Pagi-pagi semua masih berjalan normal. Habis mandiin Daniel aku sengaja isi dua ember air buat nyuci bak tempat sikuya Kubi dan Kupa. Sambil nungguin air di ember penuh aku siap-siap masak.
Baru satu ember terisi, air di penampungan habis. Jadi aku colok buat nyalain pompa.
Pompanya sih nyala, tapi ditunggu lama kok airnya gak ngocor ke bawah.

Panggil si babeh, periksa-periksa, katanya pompa sih gak apa-apa. Mungkin pipa air yang naik ke atas mampet, kerena belakangan ini air dari sumur kotor banget.
Biasanya kalo cuma mampet begitu digetok-getok pipanya pake palu, airnya suka ngocor lagi. Tapi kali ini ternyata gak berhasil.

Mulai deh kelabakan…. mau menyelesaikan acara masak saja bingung dengan air cuma seember.
Bener ya…. jadi manusia itu memang sering lupa bersyukur buat hal-hal kecil. Waktu air ngocor lancar, rasanya itu sesuatu yang wajar saja. Kadang malah terbuang-buang karena lupa matiin keran. Anjuran untuk menghemat air rasanya tertuju buat belahan bumi yang lain dan bukan buatku……..
Setelah mampet begini baru deh berasa repotnya.
Janji deh, mulai hari ini air ngocor akan masuk list ‘hal-hal yang patut disyukuri dalam hidup’

Kembali ke soal pompa, hasil kutak-katik dan longak-longok akhirnya babeh bilang pipa yang naik dari pompa ke penampungan yang mampet. Buat ngebuktiin, pipa itu digergaji babeh di salah satu bagian sambungan. Habis itu dicoba nyalain pompa lagi. Dan ternyata, air ngocor deras dari bagian yang dipotong, yang artinya gak ada masalah di situ. ‘Mr Mas Giper’ hari ini ternyata lagi kurang pinter…

Akhirnya panggil satpam komplek buat disuruh naik ke atas toren air. Ternyata yang mampet itu malah pipa yang turun dan bukan yang naik. Entah dari mana datangnya di dalam toren air itu ada semacam kain buluk yang nyumbat mulut pipa…… *ada yang merasa kehilangan kain lap???
Tau gitu kan gak usah repot potong pipa dan bikin banjir wilayah dapur dan sekitarnya.

Karena sudah tanggung, sekalian si satpam disuruh ngeganti sensor otomatis pompa yang memang sudah lama rusak dan gak dibetulin karena Mr Mas Giper takut ketinggian, gak berani naik toren. Sekalian juga nguras toren yang sudah lama banget gak pernah dibersihin.
Tuh kan, pada akhirnya segala sesuatu itu selalu ada hikmahnya… Biarpun sekarang jadi nambah kerjaan, nyikat lantai di bawah toren air dan ngepel dapur…..

Untungnya kemudian babeh berbaik hati membersihkan semua sampai kinclong lagi…
I lop yu pull, beh…..!! Kalo bisa sekalian deh ngepelnya sampe ke depan….. *istri ngelunjak minta disetrum

Pilih kaya atau banyak uang

Tuhan bisa memberikan teguran pada kita lewat berbagai macam cara. Kadang-kadang bahkan lewat masalah yang sedang dialami orang lain. Seperti aku alami baru-baru ini.

Berminggu-minggu digencet masalah pekerjaan, sempat membuat aku mempertanyakan kenapa hidupku dari tahun ke tahun rasanya begini-begini saja. Padahal rasanya sudah mengerahkan segenap daya upaya untuk bisa mendapat sedikit keleluasaan dalam hal keuangan. Tapi yang ada seperti jalan di tempat. Lima belas tahun rasanya gak ada kemajuan yang berarti.

Biasanya aku bukan orang yang suka mengeluh. Biasanya aku selalu berpikir positif bahwa meskipun pas-pasan, tapi selama ini kami gak pernah juga sampai kekurangan.
Tapi hari-hari yang lumayan berat kemarin membuat berpikir positif pun jadi hal yang berat dan susaaah.
Baca-baca status facebook temen-temenku, malah bikin aku makin merasa meluncur ke bawah. Ada yang pamer lagi tour ke Holy Land, ada yang habis jalan-jalan ke Bangkok, ada lagi yang pamer mau pindah ke rumah baru…
Kenapa hidup kok sepertinya begitu mudah buat orang lain….
Dan aku tiba-tiba berubah jadi si tidak bersyukur yang punya banyak tuntutan pada Tuhan.

Tapi rupanya Tuhan gak berkenan mendengar keluh kesahku…..
Kemarin, tiba-tiba ada seorang teman telepon… tanpa basa-basi dia bilang kepingin curhat.
Temanku ini sudah aku kenal cukup lama dan aku tahu persis seperti apa kehidupannya. Dulu dia dan suaminya juga memulai usaha dari nol. Tinggal di sebuah rumah sederhana agak ke pinggir kota.
Lalu beberapa tahun belakangan tiba-tiba usaha mereka terus naik, bahkan meroket. Dalam waktu singkat mereka pindah ke sebuah rumah yang luar biasa besar di kompleks perumahan mewah di Bandung. Dari sebuah Panther tua, sekarang di garasinya gak kurang dari lima mobil mewah berjejer. Aku pernah menganggapnya sebagai orang yang sangat beruntung dan berbahagia….

Tapi waktu bicara di telepon kemarin, suaranya seperti habis menangis. Dia bilang belakangan dia gak bisa tidur tenang, gak bisa makan enak karena stress.
Penyebabnya sih klise…. suaminya berubah setelah jadi OKB.
Mungkin memang benar yang dibilang orang, bahwa kesetiaan seorang istri akan diuji pada saat-saat sulit, sedangkan kesetiaan seorang suami justru diuji pada saat senang dan sukses.
Suaminya yang dulu seorang kepala rumah tangga yang baik, ayah yang bertanggung jawab, tiba-tiba seperti dibutakan oleh kekayaan dan kesuksesan yang baru diraih.
Hidupnya sekarang melulu untuk uang. Waktu dan perhatian untuk keluarga nyaris tidak ada. Prinsip dasar hidupnya juga bergeser, kalau dulu dia mengutamakan kejujuran dalam berusaha, sekarang dia tidak keberatan menghalalkan segala cara demi meraih lebih dan lebih… Ini menjadi dilema tersendiri bagi temanku yang adalah seorang taat beribadah.
Kesedihan demi kesedihan dia simpan sendiri. Tapi kemudian semuanya menjadi tidak tertahankan setelah ketahuan suaminya menjalin hubungan dengan perempuan lain. Meskipun mereka tidak sampai bercerai, tapi sikap suaminya semakin dingin. Mereka jadi seperti dua orang asing yang cuma kebetulan tinggal satu atap. Itulah yang membuat temanku jadi stress.

Tapi yang membuatku merasa seperti ditonjok adalah kata-katanya setelah itu, “Dulu aku kepingin jadi orang sukses dan kaya, Ci… tapi sekarang kalau boleh nawar, aku mau Tuhan ambil lagi semua harta yang aku punya asal suamiku bisa balik lagi kayak dulu. Banyak uang ternyata gak bikin aku bahagia, Ci…”

Lama setelah percakapan di telepon itu berakhir, waktu aku lagi memandangi anak-anakku yang tidur tenang, kata-kata temanku itu terus berputar-putar di kepalaku.
Seandainya saat ini Tuhan memberiku pilihan, apakah aku ingin diberi uang banyak tapi kehilangan sukacita atau gak punya uang tapi hidup damai…. Mana yang akan aku pilih…
Sisi nakal hatiku bilang aku maunya banyak uang plus hidup damai….
Tapi dari yang kulihat selama ini, dua hal itu sangat jarang bisa dimiliki seseorang bersamaan. Tidak ada orang yang bisa puas dengan uang. Semakin dia punya banyak, malah semakin dia tidak bisa berhenti menginginkannya lebih…..

Padahal lagi orang bijak berkata bahwa orang kaya itu bukan orang yang memiliki banyak hal tapi orang yang bisa menikmati apa yang dia miliki biarpun sedikit….
Jadi seperti temanku itu, biarpun hartanya banyak… apa dia termasuk orang kaya?

Mungkin kalau bicara tentang kekayaan, aku malah lebih kaya dari dia. Dengan 3 anakku yang manis-manis, suami yang selalu sayang, kehangatan yang selalu ada dalam rumah bututku…. Belum lagi keajaiban pemeliharaan Tuhan yang selalu membuatku terkagum-kagum…

Jadi apa masih pantas kalau aku mengeluh dan minta lebih pada Tuhan? Bukankah selama ini Dia sudah memberiku kekayaan yang sangat sangat banyak…. biarpun bukan dalam bentuk uang bertumpuk-tumpuk…

Uang mungkin bisa membeli rumah yang bagus, tapi tidak bisa membeli kebahagiaan rumah tangga….
Uang mungkin bisa membeli tempat tidur mewah, tapi tidak bisa membeli tidur nyenyak….
Uang mungkin bisa membeli obat-obatan dan vitamin paling mahal, tapi tidak bisa membeli kesehatan….
Uang bisa membawa kita ke bagian dunia manapun yang kita mau…. kecuali ke Surga…

Jadi mau pilih yang mana, kaya atau banyak uang????
Aku sudah tahu jawabannya sekarang…….

Kebalik……..

Tadi pagi bangun dengan badan dan kepala terasa berat banget. Mungkin akibat begadang terus beberapa hari kemarin. Tapi karena harus masak, terpaksa jalan juga ke pasar mini di depan kompleks.
Belanja rasanya gak bisa konsen. Mata berat kepingin nutup lagi…

Pulang ke rumah aku ngedeprok di pintu dapur sambil makan gehu.
Daniel naik ke pangkuanku dan seperti biasa narik-narik baju yang aku pakai. Aku tau dia paling suka kaos yang lagi aku pakai saat itu karena gambarnya ikan banyak. Biasanya dia suka iseng ngitungin ikan-ikan itu.

“Mamah, ikannya kok ilang…” tiba-tiba dia bilang begitu.
Asal-asalan aku melirik kaos di badanku.
Dan………………………. gambar ikannya ternyata memang jadi burem….

Alamaaakkkk……..!!!! Rasanya pingin nyungsep saat itu juga….

JADI DARI TADI AKU JALAN-JALAN KE PASAR SEGALA PAKE BAJU KEBALIK ?????????????????
*toyor-toyor kepala sendiri

**Sampe gak berani cerita sama si babeh… takut diketawain…

Libur telah tiba

Meskipun liburan sekolah baru resmi dimulai hari ini, setelah pembagian rapot kemarin, tapi sebetulnya suasana libur sudah terasa di rumah sejak dua minggu yang lalu begitu anak-anak selesai UAS.
Tanda-tandanya :

– Makanan apapun yang disediakan, terutama cemilan, akan habis lebih cepat. Liburan selalu meningkatkan nafsu makan anak-anak dua kali lipat.



– Komputer mendadak jadi benda yang diperebutkan. Emaknya sampai harus ngalah, memilih waktu malam setelah mereka tidur kalau ingin ngenet.


– Keributan karena berantem meningkat. Kadang-kadang bisa lebih dari tiga kali sehari. Yang paling sering tentu saja Debi dan Daniel.

Satu-satunya yang tidak berubah adalah si mamah tetap harus bangun pagi meskipun liburan. Meskipun alarm HP sudah dimatikan agar tidak berbunyi pagi-pagi, tetap saja Debi dan Daniel akan bangun pukul lima pagi.
Kalau Debi masih mending, dia bisa main sendiri di tempat tidur kalau tahu mamah papahnya belum bangun. Tapi Daniel sudah jelas tidak akan membiarkan orang lain tidur sementara dia sudah bangun. Seperti tadi pagi, jam setengah lima dia sudah berteriak-teriak di depan tempat tidur kakaknya, “Kongkorongoooookkk…… banguuuunnn…. ini sudah siang tauu!!!”
Sudah dibilang ini hari libur dan semua pingin bangun siang, tapi dia mana mau peduli…..

Ya sudahlah…. nikmati saja.
Selamat liburan men-temen. Semoga liburan akhir tahunnya menyenangkan!

Ngerjain si Tuti

Si Tuti di sini bukan nama temenku, tapi singkatan dari Tukang Tipu….

Ceritanya tadi pagi aku dapat telepon dari seorang ibu yang langsung memperkenalkan diri, “Saya dari sekolah anaknya ibu”.
Aku langsung berfirasat bahwa ini penipuan. Soalnya kalau benar dari sekolah, biasanya mereka langsung menyapaku dengan sebutan “Mama Samuel” atau “Mama Debora”. Jadi aku bisa langsung tahu, ini masalah tentang Semsem atau Debi.

Kebetulan tadi pagi itu aku lagi agak santai, jadi gak seperti si tuti sebelumnya yang aku marah-marahi, kali ini aku malah tanya dengan sopan ada masalah apa.
“Ibu mohon jangan kaget, ya,” kata si tuti, “Anak ibu tadi jatuh di sekolah. Kepalanya kebentur tembok dan pingsan.”
Nah, bener kan dugaanku……..

“Ini anak saya yang mana, Bu? Soalnya anak saya ada 3.”
Di seberang seperti tergagap, “Oh… anu… yang SMP…”
Mungkin dia nebak-nebak. Dan untungnya tebakannya bener. Sebab kalau dia bilang yang SD, aku pasti langsung ketawa. Soalnya Debi lagi libur.

“Terus gimana sekarang?” tanyaku lagi. Sengaja berpanjang-panjang biar pulsanya habis.
“Terpaksa di bawa ke rumah sakit, Bu. Soalnya lukanya cukup parah.”
“Oke, rumah sakit mana?”
Kedengaran tergagap lagi, “Oh… itu… Ibu sebaiknya tanya langsung sama guru yang membawa ke rumah sakit. Teleponnya nol delapan satu…blah blah blah…”
“Guru yang mana yang bawa ke rumah sakit, Bu? Lah Ibu ini siapa?”
“Saya petugas tata usaha, Bu.”
Ketahuan banget boongnya. Bu Soni petugas tata usaha sekolah punya suara yang khas banget dan kenal baik denganku.
“Oh, Ibu ini tata usaha baru ya. Terus tadi yang bawa anak saya siapa, Bu?”
tut….tut…tuuuuttt……. Sebagai jawaban telepon di sana langsung ditutup.

Yaaaahhh…. kok ditutup sih…. padahal masih kepingin ngerjain niihh… Gak seru, ahhh!!!!
Apa mungkin suaraku terlalu tenang buat seorang ibu yang diberi tahu anaknya kecelakaan?
Okeh, next time aku pake akting panik deh……. biar lebih seru!

Tag Cloud