Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Archive for the ‘MP – lomba’ Category

(Senyumku untuk berbagi) : Senyum paling bahagia sepanjang tahun


Ini adalah foto tahun lalu, waktu pertama kali adik tersayangku pulang kembali setelah 6 bulan “terdampar” di Balikpapan.

Bisa berkumpul kembali adalah kebahagiaan buat semua.
Setelah pengalaman buruk ditipu seorang laki-laki bajingan, pernikahan yang gagal, bulan-bulan penuh keresahan menunggu kesempatan bisa mutasi kerja lagi ke pulau Jawa, maka b
oleh dibilang senyum-senyum di foto ini adalah awal dari senyum yang bertebaran di hari-hari selanjutnya.
Senyum menyambut hari yang baru, masa depan yang baru.
Senyum yang menjadi bukti bahwa Tuhan selalu menyediakan jalan terbaik ketika kita sungguh-sungguh memintanya.
Pengalaman buruk tidak harus terus disesali karena bisa jadi itu adalah caraNya untuk mengajar tentang banyak hal. Pelangi akhirnya muncul dari balik awan asalkan kita bisa menjalani semua ujian dengan sabar.

Perpisahan selama 6 bulan yang terasa seperti 6 abad akhirnya terbayar dalam sebuah pertemuan kembali yang penuh senyum bahagia.

Mudah-mudahan senyum seperti ini akan terus menghiasi hari-hari yang akan datang.



*** Senyum mana yang paling manis? Yang tengah dong yaaaa……

Diikut-sertakan dalam lomba di sini.

Ayo ikutan, karena setiap foto yang ikut lomba berarti telah ikut menyumbangkan 5.000 rupiah.
Kapan lagi bisa narsis sekaligus berbagi…..


Advertisements

Ibu

Menatap wajah tirus pucat dengan derita tergambar di setiap guratnya, menggenggam tangan kurus kasar yang berkeriput termakan usia, rasanya aku seperti terlempar pada belasan tahun silam.
Teringat ketika tangan yang sama, wajah yang sama, mengelus rambutku dan menyiramku dengan senyuman berlumur cinta, sambil menatap matahari sore menghilang perlahan-lahan.
Aku tidak akan pernah melupakan ritual itu, yang selalu kulakukan bersama Ibuku setiap sore di beranda rumah. Setelah itu ia akan membiarkan aku tidur di pangkuannya seraya mulutnya menyenandungkan harapan dan doa-doa untukku.
Masa itu hidup masih terasa begitu indah dan senyum Ibu adalah segalanya bagiku.

Lalu keindahan itu hilang ketika seorang laki-laki yang selama ini kupanggil Bapak tiba-tiba berkhianat. Pergi tanpa perasaan setelah menghabiskan seluruh harta di meja judi.
Sejak itu binar di mata Ibuku memudar. Meski mulutnya masih kerap menghiburku dengan ucapan, “Bapakmu pasti pulang, Nak”. Tapi aku tahu jauh di lubuk hatiku cerita tentang Bapak sudah selesai.

Jutaan hari lewat kusaksikan Ibu jatuh bangun, berdarah-darah, terseret-seret beban hidup, tercampak ke dalam lumpur tanpa aku bisa berbuat apa-apa untuk melepaskannya.
“Semua demi kamu, Nak,” ungkapnya selalu dalam linangan air mata, “Demi masa depan dan kehidupan yang lebih baik untukmu kelak. Tak ada yang perlu disesali.”
Tapi bagaimana aku tidak menyesali diriku. Bukannya mempersembahkan istana pualam untuk ibuku, malah kutambahkan lagi coretan hitam jelaga di wajahnya.
“Tak heran dia hamil sebelum menikah, Ibunya saja perempuan malam,” cibiran orang-orang bagai belati menikamku perih.

Maafkan anakmu, Ibu. Maafkan semua kebodohanku.
Tapi hari ini sudah kuputuskan untuk menepati janjiku membebaskanmu. Tak akan pernah lagi tangan-tangan kotor para lelaki itu menjamah tubuhmu. Tak akan ada penghinaan lagi. Tak akan kubiarkan wajahmu terus kuyup oleh air mata.
Kalau dunia tak lagi menjanjikan apapun, akan kubawa dirimu pergi dari sini. Barangkali masih ada sedikit tempat buat kita di sudut langit, di mana aku bisa tertidur lagi di pangkuanmu setelah menatap matahari sore menghilang.

***

Tangan Ibu dalam genggamanku terasa dingin. Kubelai lagi tubuh kakunya yang tadi kubaringkan di atas dipan setelah kuberi minum segelas racun serangga.
Kuambil gelas kedua dan kuminum tanpa ragu.
Semuanya selesai sekarang.

Akhirnya selesai juga persembahan buat hajatan Bupeb………

Yipiiiiiiiieee….. berhasil juga masukin pideonya. Makasih Bupeb buat tutorialnya……

[Lomba – My Silly Diary] Sahabat yang (tidak) terpercaya

Jaman dulu kalau ada yang mengatakan diary-nya adalah sahabat sejati, sahabat yang paling terpercaya, aku pasti langsung mencibir.
Oh, tentu saja aku juga punya diary. Bahkan buat seorang introvert seperti aku, menulis diary adalah sebuah keharusan. Karena ada banyak hal yang sangat sulit untuk diungkapkan secara lisan, tapi jika dipendam dalam hati juga menjadi sebuah uneg-uneg yang mengganggu kenyamanan. Maka jalan keluarnya tentu saja bercerita kepada “Dear Diary….”.

Diaryku adalah sahabatku tentu saja. Tapi bukan seorang sahabat yang bisa kupercaya sepenuhnya. Kenapa? Karena jika ada yang penasaran ingin tahu tentang diriku lalu bertanya pada diaryku, maka diaryku tentunya tidak akan menggigit atau meneriaki orang usil tersebut melainkan akan menceritakan semua rahasia sampai hal-hal terkecil dengan sukarela. Tak peduli jika yang diceritakan itu akan membuatku malu seumur-umur.

Disimpan di tempat rahasia? Tentu saja.
Digembok dan dikunci? Sudah juga.
Tapi kalau kau pernah tinggal satu kamar dengan seorang adik perempuan yang sangat pantang menyerah dalam hal mengetahui rahasiamu, maka kau akan tahu bahwa semua pengamanan itu sia-sia saja.
Berkali-kali aku memarahinya karena berani membaca diaryku. Tapi marah tidak membuat dia melupakan apa yang sudah dia baca dan ketahui. Dan itu teramat sangat menjengkelkan.

Sampai akhirnya aku menemukan sebuah cara yang cukup ampuh. Aku menulis dua buah diary. Yang satu, diary yang berupa buku tebal, bergambar lucu plus ada gemboknya. Kupakai untuk menulis pengalaman sehari-hari di sekolah saja. Hal-hal umum yang kalaupun ada orang lain membaca tak akan membuatku menanggung malu.
Satu lagi adalah buku tulis biasa yang disampul plastik dan kuselipkan di antara buku-buku catatan sekolah. Di situlah aku menulis semua rahasia-rahasia hatiku, cowok-cowok yang aku suka, mimpi-mimpiku, kesenangan dan kekecewaan, semuanya.

Cara itu kuanggap cukup berhasil untuk adikku. Dan aku terus memakainya sampai terjadi lagi satu peristiwa kecolongan.
Waktu itu aku sudah jadi anak kost di Bandung. Satu kali seorang teman datang dan mengajakku pergi. Ku suruh dia menunggu di kamar sementara aku turun untuk sarapan dulu. Ternyata waktu kembali ke kamar kudapati temanku sedang asyik membaca diary buku tulisku. Waktu kuomeli dengan santai dia bilang, “Gak sengaja. Aku tadi nyari catatan Sistan kamu, ternyata malah nemu buku ini…”
Halah! Halah! Mana disitu aku nulis tentang seorang kakak kelas yang aku taksir lagi….
Biarpun temanku itu janji gak akan bilang siapa-siapa, tapi setiap kali berpapasan dengan si kakak kelas dia langsung melempar pandangan jail plus senyum-senyum menggangguku.
Sejak itu kuputuskan tidak akan bercerita blak-blakan lagi pada diaryku. Kalau aku bercerita tentang seseorang, kuberi nama-nama lain atau julukan-julukan yang cuma aku sendiri yang tahu. Jadi kalaupun kecolongan lagi, orang yang membaca diaryku tidak akan tahu siapa sebenarnya yang kumaksud.

Seperti kukatakan di awal, bagi seorang introvert seperti aku rasanya tak mungkin jika tidak memiliki diary.
Aku mulai menulis diary pertamaku waktu kelas 6 SD.

Diary pertama hadiah ultah ke-12

Tulisannya masih pake huruf sambung

Sayang kebanyakan diaryku ditinggal di Tasik. Cuma ada beberapa yang terbawa ke Bandung

Diary buku tulis

Salah satu yang banyak memuat kisah pacaranku

Sebuah puisi yang kutulis waktu patah hati (mudah-mudahan gak kebaca…)

Membaca kembali diary lama bagiku bukan cuma mengenang masa lalu, tapi lebih pada menyelami kembali perasaan dan cara berpikirku tentang satu masalah pada waktu lalu. Aku jadi bisa melihat proses bagaimana aku bisa menjadi seperti aku yang sekarang.
Apa yang sekarang kusukai dan tidak kusukai, semua bermula dari pengalaman-pengalaman masa lalu yang bisa kutemukan dalam diary-diary lamaku.
Membacanya kembali sekarang bisa membuatku tersenyum, meringis malu, garuk-garuk kepala atau bahkan meneteskan air mata lagi.

Sayangnya di antara sekian banyak diaryku, ada satu yang hilang. Dan yang satu itu justru yang mencatat pertemuan pertama sekaligus masa pacaran dengan si Papah.
Sebetulnya itu bukan murni diary tapi agenda kerja yang didalamnya kutulis catatan-catatan kecil waktu sedang boring di kantor dan pikiran melayang pada si Papah atau puisi pendek yang dibuat saat terkantuk-kantuk di tengah meeting.
Agenda itu hilang waktu terjadi kerusuhan rasial di Tasik menjelang akhir masa kerjaku dan tempat kerjaku ikut dibakar masa. (ceritanya ada di sini)
Dari puluhan bahkan ratusan buku dan dokumen yang ada di ruang kerjaku, tidak ada satupun yang rusak atau hilang. Semua selamat karena ada yang mengangkut berikut meja dan lemarinya sekaligus.
Lucunya, satu-satunya isi laciku yang hilang adalah agenda itu dan sebuah buku saat teduh yang biasa kupakai di kantor kalau gak sempat saat teduh pagi di rumah.
Sayang juga…. jadi gak ada catatan yang bisa dibaca sambil tertawa berdua sekarang…..

Diikutkan dalam lombanya Mba Amel
Mudah-mudahan dapat Pia-pia….


[Flash Fiction] Pada Sebuah Upacara

Upacara peringatan hari kemerdekaan. Dan dia adalah sang inspektur upacara.

Paskribaka sedang menaikkan sang Saka Merah Putih ke atas tiang. Tangannya pun sedang menempel di dahi memberi hormat.

Tapi di langit biru, yang dia lihat bukan kibaran sang Merah Putih, melainkan kibaran rok Tami, istri mudanya yang bahenol.

Lalu sementara pikiran kotornya mengembara, tiba-tiba gambar Tami di langit memburam. Sebagai gantinya muncul gambar wajah-wajah lain yang pernah dia lihat dalam buku pelajaran sejarah. Ada Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Tuanku Imam Bonjol, Panglima besar Sudirman, Sukarno, Hatta, dan banyak lagi. Mereka memandang ke arahnya dengan tatapan marah.

Ia mengerjapkan mata. Mungkin ini halusinasi akibat terlalu lama berada di bawah terik matahari.

Gambar itu tak mau hilang. Sekarang malah bersuara.

Jenderal Sudirman menunjuk ke arahnya, “Kau orang kotor. Tak layak memberi hormat pada Merah Putih yang suci.“

Lalu Cut Nyak Dien, “Kau pengkhianat!“

Diponegoro, “Koruptor! Pemakan uang rakyat!“

Sukarno tak kalah garang, “Politikus kotor! Kau menyia-nyiakan darah dan air mata para pendiri negeri ini.“

Tuanku Imam Bonjol, “Kau menyalah gunakan jabatan untuk kepentinganmu sendiri!”

Kakinya mulai terasa goyang. Seluruh tubuhnya gemetar.

Kemudian mereka semua serentak mengacungkan tangan seperti hendak mencekiknya. “Enyahlah koruptor! Enyah politikus busuk! Enyah maling! Enyah! Enyah!”

“Aaaaaaaaaaaghh….,” teriakan histerisnya membahana mengalahkan suara drumband yang mengumandangkan Indonesia Raya. Lalu tubuh tambunnya tumbang berdebam.

Yang kemudian terjadi adalah upacara bubar. Sang Inspektur upacara yang diangkut ambulans ke UGD tak henti-hentinya meracau minta ampun.

Di lapangan upacara, dengan berlatar belakang langit biru, Merah Putih masih berkibar dengan gagahnya.

Yang ini juga buat lomba di : http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF

[Flash Fiction] Bapak Tersenyum

Bapakku tidak pernah tersenyum. Sepanjang yang aku ingat, aku hanya pernah melihat senyum Bapak dua kali. Sekali waktu adik perempuanku lahir. Kemudian saat aku lulus SMU beberapa bulan yang lalu.

Sebaris kalimat berisi doa terlontar di sela-sela senyumnya. “Akhirnya sekolahmu selesai juga. Mudah-mudahan kamu bisa cepat dapat pekerjaan. Kerja kantoran. Jangan jadi tukang becak seperti Bapak.”

Lalu tangannya mengelus rambutku penuh sayang.

Itulah Bapak. Beban hidup yang berat mungkin telah membuatnya lupa caranya tersenyum.

Tapi hari ini senyum Bapak merekah kembali. Seperti cahaya matahari pagi yang mengusir kabut kegelapan dalam rumah bilik kami. Cahaya yang membawa kebahagiaan dan pengharapan. Akhirnya aku bisa mengatakan pada Bapak bahwa aku sudah mendapat pekerjaan. Kerja kantoran seperti yang Bapak inginkan.

Dan Bapak pun tersenyum.

Sementara di sudut rumah, Emak memeluk adikku seraya menyusut mata dengan ujung kebayanya.

*******************

Pagi ini aku berangkat bekerja. Berkemeja rapi dan menjinjing tas. Senyum Bapak merekah lagi ketika melepasku.

Bus Damri membawaku ke pusat kota. Di sebuah sudut jalan kulepas kemejaku dan kutukar dengan sehelai kaus dekil. Sebuah kecrekan dari tutup botol kusiapkan sebagai senjata. Dan mulailah aku mengais rupiah dari mobil ke mobil saat lampu merah menyala.

Jangan kaget. Aku memang cuma jadi pengamen. Ijasah SMU-ku tak laku kujajakan ke kantor-kantor.

Tapi jangan ceritakan kebohongan ini pada Bapakku.

Supaya ia bisa tetap tersenyum setiap hari.

(Bandung, Agustus 2010)

Ditulis untuk lomba menulis Flash Fiction di :

http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF

Romantisme Ala Aku dan Dia

Lomba mengarang kisah romantis? Kedengarannya menarik. Beberapa hari aku merenung, mengingat kembali jalinan kisah antara aku dan si Daddy. Tapi sampai bolak-balik ditelusuri, diurut dari masa perkenalan hingga menikah hingga saat ini, rasanya aku tak berhasil menemukan bagian romantis yang cocok untuk dibuat sebuah cerita.

Perkenalanku dengannya terjadi begitu saja. Dia mengantar temannya yang kebetulan menjadi salah satu supplier di tempat kerjaku. Kami berkenalan, ngobrol-ngobrol sedikit, habis itu sudah.

Beberapa minggu kemudian kami bertemu lagi di gereja usai ibadah. Dia mengantarku pulang lalu ngobrol-ngobrol lagi di rumahku. Di situ kami merasa cocok satu sama lain. Dia seorang yang berwawasan luas, suka bercanda dan tahan bicara berjam-jam tanpa berhenti. Seorang Sanguin sejati. Tapi mungkin itu hal pertama yang membuatku tertarik. Dia bisa membuat topik apapun menjadi bahan perbincangan yang menarik.

Kalau ditanya sejak kapan kami pacaran, aku tidak tahu. Semua seperti mengalir begitu saja. Tidak pernah ada ungkapan cinta. Tidak pernah ada komitmen untuk menjalin hubungan lebih serius. Hanya dengan datang rutin tiap Sabtu malam, tiba-tiba saja dia sudah mentahbiskan aku sebagai pacarnya. Dan ajaibnya, aku tidak protes.

Padahal aku pernah berangan-angan ketika akhirnya aku “pacaran” maka itu akan diawali dengan sebuah candle light dinner, dia memegang tanganku dan menatapku begitu rupa lalu bilang I love you dengan manis. Atau dipantai sambil berlari-lari dengan gaya film India, lalu laut dan langit jadi saksi tentang cinta yang dipahatkan diantara debur ombak.

Nyatanya? Jauh sekali dari angan-angan.

Masa pacaranpun tak ada yang bisa disebut romantis. Jarak yang jauh (aku di Tasik dan dia di Bandung) membuat kami cuma bisa bertemu seminggu sekali. Itupun lebih banyak diisi dengan nonton TV di rumah sementara dia tidur di sofa (katanya cape setelah nyetir dari Bandung ke Tasik). Pernah sekali setelah menikah kami tertawa bersama mengingat hal ini. Aku bilang kasihan banget aku ini, sudah dandan cantik cuma disuruh nungguin orang tidur. Dia malah balas bilang kok aku mau aja? Nah, itu dia yang aku heran…

Peristiwa yang lebih konyol terjadi waktu dia mau melamar. Karena dia sudah tidak punya orang tua maka kakaknya yang akan jadi wakil dari pihak keluarganya. Sehari sebelum waktu yang ditentukan dia telepon dari Bandung dan bilang kalau dia belum sempat menyiapkan barang-barang antaran untuk melamar. Jadi dia minta aku sendiri yang beli buah-buahan dan koya merah, terus tolong bungkusin pakai kertas merah dan dikirim ke rumah kakaknya untuk besoknya dibawa ke tempatku sebagai perlengkapan melamar. Rasanya belum pernah aku dengar ada acara lamaran yang seperti ini.

Berlanjut setelah kami menikah. Rasanya juga tak pernah kualami moment yang romantis yang pantas untuk diceritakan. Tahun pertama menikah, aku pernah memergoki dia mengintip KTP di dompetku hanya untuk melihat tanggal lahirku yang katanya lupa. Kemudian ketika hari ulang tahun itu tiba, tetap saja dia lupa…

Aku pernah secara bercanda bilang padanya kalo aku ingin sekali-kali dikirimi surat cinta. Dengan santainya dia jawab, “Kamu kan pinter nulis. Tolong bikinin deh, nanti aku yang tanda tangan…” (????????)

Ajaib. Tapi itulah dia. Lelaki paling tidak romantis yang ternyata telah menjadi pemenang dengan mengambil tempat teristimewa dalam hatiku. Dari 15 tahun yang kujalani bersamanya ( 2 tahun masa pacaran dan 13 tahun berumah tangga), aku akhirnya belajar sisi lain dari romantisme.

Romantisme bukan hanya ada pada acara makan malam dibawah cahaya lilin, tapi dari hal-hal sederhana seperti ketika kami berhimpit-himpit di tempat tidur bersama anak-anak dan mendengar cerita mereka tentang hari-hari di sekolah.

Romantisme bukan hanya disampaikan lewat kata-kata bersayap dalam puisi atau surat cinta, tapi bisa juga dirasakan lewat doa yang selalu ia panjatkan tengah malam untuk istri dan anak-anaknya.

Romantisme tidak bisa diukur dari banyaknya bunga mawar yang diberikan, tapi dari tiap tetes keringat yang dikorbankan dalam perjuangan memberi kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang tercintanya.

Romantisme yang sesungguhnya adalah ketika kita telah berhasil mengolah perbedaan sehingga menghasilkan sebuah harmoni yang indah. Seperti bagian-bagian dari sebuah puzzle yang selalu saling melengkapi satu sama lain.

Dan ketika aku telah berhasil melihat itu semua, maka akulah wanita yang paling berbahagia di dunia karena memiliki cinta dari seorang yang sangat tidak romantis.

Tag Cloud