Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Archive for the ‘MP – ceritaku’ Category

Take my hand and never let go

Berjalan berdua sambil bergandengan tangan mungkin bukan sesuatu yang istimewa. Jaman pacaran apalagi. Kemana-mana bergandengan tangan berasa dunia milik berdua. Kalau perlu nyebrang jalan terus-terusan biar ada alasan kuat buat gandengan….

Tapi setelah menikah lama, biasanya kebiasaan itu mulai hilang. Seringnya ketika pergi bersama, istri sibuk menuntun anak-anak, suami repot membawa barang-barang.
Sekalinya pergi hanya berdua juga risih rasanya harus gandeng-gandengan. Jalan bersisian aja sudah bagus. Biasanya suami jalan di depan, istrinya ngintil di belakang.

Ini akuuuu loooooooh….. yang lain sih mungkin nggak begitu yaa… (nggak begitu beda maksudnya… xixixixiii…)

Tapi hari ini aku melihat sepasang suami istri berjalan-jalan berdua di taman unyil, hanya beberapa meter di depanku. Dan mereka nggak sekalipun melepas gandengan tangan selama berjalan.
Yang membuatnya istimewa adalah karena mereka adalah pasangan yang sudah sepuh. Rambutnya sudah hampir semua memutih, terutama istrinya.
Sesekali kelihatan mereka bercakap atau tertawa-tawa. Kadang tangan yang bergandengan itu diayun-ayun seperti anak kecil kalau berjalan dengan temannya.

Aku jadi merasa tertohok sendiri karena aku saat itu lagi ngintil jalan di belakang babeh….

Lalu pelan-pelan aku merapat, mencari tangan babeh, dan ikut berjalan sambil bergandengan tangan. Babeh sempat menengok heran. Aku menunjuk pasangan sepuh di depan tanpa suara. Dan babehpun ikut mengenggam tanganku lebih erat….. prikitiiiiiiiwwwww………..

Apa salahnya menunjukkan kemesraan selagi masih bisa jalan berdua. Bergandengan mungkin sebuah hal yang terlalu sederhana untuk sebuah ungkapan cinta, tapi bila yang sederhana saja tak bisa dilakukan bagaimana dengan yang lebih dari itu.

Aku lantas berdoa dalam hati, semoga ketika usia kami sudah sepuh seperti mereka, kami masih bisa jalan-jalan memutari taman unyil sambil bergandengan seperti ini….

I lop yu, beh……


ctt : gambar-gambarnya dari gugel.
Kepingin motret si oma-opa tapi nggak berani, takut mereka nggak suka….

Protected: Suatu pagi di sebuah taman

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Cukup nggak cukup harus cukup

Pulang sekolah anak-anak bawa masing-masing selembar kertas yang begitu dibaca langsung bikin mood-nya si mamah drop. Apa lagi kalau bukan daftar buku yang harus dibeli untuk tahun ajaran baru nanti.
Padahal sih udah tau dan udah terbiasa juga kalau awal tahun ajaran sama dengan duit menggelontor untuk macam-macam keperluan sekolah. Cuma agak kaget karena tahun ini kok begitu cepat udah diminta. Padahal UAS aja baru selesai hari Rabu besok. Pembagian rapot baru pertengahan bulan nanti. Belum jelas naik kelas apa tidak kok sudah disuruh beli buku yang tanggal terakhir pelunasannya adalah Sabtu ini.

Jadi keinget lagi uang masuk TK Daniel plus uang seragamnya yang belum dibayar lunas.
Terus bulan September/Oktober nanti pastinya udah harus siap-siap daftarin Semsem ke SMU. Meskipun lulusnya masih tahun depan, tapi pendaftaran biasanya sudah mulai dibuka bulan-bulan itu.
Masih berharap Semsem bisa dapat beasiswa lagi seperti waktu masuk SMP kemarin. Nilai-nilainya selama ini sih menurutku cukup bagus.
Kalau nggak, babehnya kudu nyiapin entah berapa jeti buat daftar ke SMU.
*lirik saldo buku tabungan
*menghela nafas

Kuatir? Jujur saja ada. Dan aku rasa itu manusiawi.
Jadi inget lagi kemarin pagi sempet ngobrol sama seorang tetangga di pasar mini sambil belanja. Si Ibu yang sebetulnya menurutku termasuk golongan cukup berada itu mengaku pusing dengan harga-harga yang terus melonjak. Katanya uang gaji nggak cukup lagi buat memenuhi segala keperluan, apalagi biaya sekolah anak-anak yang minta ampun.
Lha kalo Ibu yang rumahnya gedong, mobilnya ada 2 aja masih bilang pusing… gimana dengan orang-orang yang gajinya masih berkisar di UMR atau malah di bawah itu.

Aku udah lama nggak pernah berani berpikir tentang cukup atau nggak cukup. Pokoknya cukup nggak cukup harus cukup. Seberapa yang Tuhan kasih, itulah yang harus aku kelola sebaik-baiknya supaya bisa jadi cukup.
Pada akhirnya sih ketika aku bisa hidup berpadan dengan apa yang ada, semua kebutuhan toh terpenuhi juga. Kebutuhan lho… bukan keinginan.

Seperti sekarang ketika dihadapkan pada kebutuhan untuk sekolah anak-anak. Meskipun ada rasa kuatir, tapi belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, akhirnya pasti akan terpenuhi juga.
Paling harus memutar otak buat menyesuaikan beberapa pos pengeluaran. Seperti rencana babeh yang pingin nambah tools buat bengkelnya mungkin terpaksa ditunda dulu. Keinginan si mamah liburan ke Jogya nengokin ponakan juga kayaknya harus diundur lagi.
Hemat…hemat…hemat…

Sebetulnya soal berhemat ini bukan hal baru buatku. Rasanya seumur hidup aku sudah terbiasa dipaksa hidup hemat. Saking terbiasanya si babeh suka bilang kalo uang udah masuk ke mamah, suka susah keluarnya lagi….. xixixixiii…
Ini hemat apa pelit sih???

Me and my little princess (3)

Bukannya tanpa hambatan apa yang kami usahakan untuk Debi.
Banyak yang bilang kami keterlaluan karena membiarkan saja kalau anak sakit.
Lho, siapa yang membiarkan?
Satu dua kali aku menjelaskan alasannya. Tapi lama-lama bosan juga, dan aku cuma mesem aja kalau ada yang bilang begitu.

Yang lain sibuk memberi saran ini dan itu. Dari mulai makan hati kelelawar yang katanya bisa nyembuhin asma, obat-obat herbal, tusuk jarum, pergi ke dokter ini dan itu, berenang, macem-macem deh.
Semua saran aku hargai dan aku terima. Tapi nggak harus aku lakukan semua kan?
Misalnya berenang. Udah pernah aku coba beberapa kali. Tapi biarpun berenang di kolam air hangat, begitu selesai tetap dia kedinginan dan malamnya pasti sesak nafas.
Pernah juga ada yang menyarankan pergi ke dokter yang praktek di Rancamanyar (aku udah lupa namanya). Konon dokter ini cespleng kalo ngobatin sakit batuk pilek. Pasiennya banyak bukan main. Dari mulai anak-anak sampe kakek nenek. Katanya lagi dokter ini nggak suka kasih antibiotik.
Aku beberapa kali coba bawa Debi ke sana pas lagi batuk. Memang sih batuknya dalam dua hari langsung jauh berkurang. Tapi kejadiannya sama lagi, belum sampe sebulan udah kumat. Dan aku juga nggak percaya kalo obat racikan yang dikasih itu nggak ada antibiotiknya. Soalnya dipesan harus dimakan habis biarpun batuknya udah berkurang.

Pada akhirnya tetap meningkatkan daya tahan tubuhnya adalah yang terbaik.
Kami coba semuanya pelan-pelan. Berenang, dicoba waktu badannya sedang fit. Itupun mula-mula cuma sebentar aja. Terus sesudahnya cepat dibalur kayu putih, pake mantel dan dikasih minuman hangat.
Waktu kami lihat dia baik-baik saja, waktunya mulai ditambah sedikit demi sedikit.
Makanan tetap sangat kuperhatikan. Buah-buahan dan sayur jadi menu wajib tiap hari. Goreng-gorengan, snack macam chitato dan teman-temannya, permen, minuman dingin, sebisa mungkin dihindari.
Ditambah minum noni juice yang katanya bisa meningkatkan sistem imun tubuh.

Puji Tuhan, semua usaha yang kami lakukan akhirnya mulai menampakkan hasil. Asmanya semakin jarang kambuh. Kalaupun sampe kambuh biasanya cuma sebentar dan sembuh sendiri.
Dalam setahun terakhir ini aku catat malah belum pernah kambuh lagi.
Seiring kesehatannya yang membaik, prestasinya di sekolah juga mulai menunjukkan peningkatan.

Lambat tapi tidak terlambat
Mungkin karena mengasuh Semsem yang cepat belajar dan sudah kelihatan kecemerlangannya dari kecil, awalnya aku merasa Debi sangat lambat dalam banyak hal.
Bukan bermaksud membanding-bandingkan. Aku tahu semua anak punya kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Tapi tanpa sadar pastilah kita akan melihat jejak si kakak waktu mengasuh adiknya. Dan pemikiran “kok yang ini begini dan yang itu begitu ya” akan muncul juga dengan sendirinya.

Waktu masuk TK, Debi bahkan belum bisa memegang pensil dengan benar. Boro-boro hapal abjad A-Z dan berhitung seperti Semsem. Mengajarinya harus super sabar dan pelan-pelan. Karena kalau dia stress ujungnya pasti kumat asmanya.

Aku juga nggak memaksakan dia harus sebagus kakaknya. Waktu dia masuk SD sudah lancar mambaca aja rasanya aku udah senang banget.
Kelas 1, rankingnya masih belasan. Tapi waktu pembagian rapot, wali kelasnya bilang supaya aku nggak kecewa. Katanya Debi itu kalo diibaratkan mesin, susah panasnya. Tapi kalo sudah panas jalannya pasti mulus.
Bu Guru itu bilang dia berani bertaruh, begitu kelas 3 akan mulai kelihatan prestasinya. Pasti masuk deretan ranking teratas.

Aku bersyukur sekali, tahun pertamanya di SD dia bisa dapat seorang wali kelas yang sangat perhatian dan memberinya banyak suntikan semangat.
Lebih bersyukur lagi ternyata apa yang dibilang si Ibu itu terbukti benar.
Pelan-pelan Debi mulai bisa menyesuaikan diri dengan pelajaran-pelajaran sekolahnya. Sifatnya yang tekun dan nggak gampang menyerah banyak membantu dalam hal ini.
Apalagi setelah dia nggak terlalu banyak bolos sekolah karena sakit.
Semester pertama di kelas 3 kemarin dia dapat peringkat 4. Sungguh sangat memuaskan buatku.


Selalu ceria setiap pergi sekolah

Karnaval dan Hari Kartini di TK

My lovely princess

Me and my little princess (2)

Perjuangan panjang melawan asma
Sejak awal sudah terlihat bahwa Debi memiliki banyak masalah kesehatan.
Mula-mula dia bermasalah dengan BABnya. Bisa sampai 3 atau 4 hari dia nggak BAB. Dan kalau sudah begitu dia akan rewel, seperti sakit perut. Tapi waktu aku tanya Dsa-nya katanya nggak apa-apa karena ada juga bayi yang seperti itu. Karena dia masih minum ASI disarankan aku banyak minum, makan buah-buahan dan sayur.
Akhirnya kalau pingin dia BAB aku angkat kakinya sambil aku usap-usap dekat lubang duburnya buat merangsang. Kadang berhasil tapi sering juga gagal.
Makanya kalau dia sudah BAB aku rasanya legaa banget.
Itu berlangsung sampai umurnya beberapa bulan.

Habis itu umur kira-kira sebulan, pipinya tiba-tiba jadi merah dan bruntus-bruntus kasar. Entah alergi apa. Dan ini juga lumayan lama baru akhirnya hilang.
Debi kecil juga nggak tahan udara dingin. Kalau Semsem waktu bayi selalu tidur dengan baju pendek, celana pendek dan tanpa selimut, Debi justru sebaliknya. Malah bukan cuma selimut dan baju hangat, di bawah boks tempat tidurnya selalu siap dua lampu bohlam 100 watt yang dinyalakan kalau dia kelihatan kedinginan. Baru dengan begitu dia bisa tidur tenang dan nggak rewel.

Serangan asma pertamanya kalau nggak salah waktu dia berumur setahun. Kena batuk pilek dan terus nafasnya jadi sesak.
Keluarga papanya memang penderita asma. Ibu mertuaku, kakak ipar dan anak-anaknya bahkan sampe cucunya juga.
Suamiku sehat. Eh, malah Debi yang kebagian.
Kakak ipar yang paling besar sampai sekarang di usia 60-an masih sering kambuh. Salah satu ponakan suami bahkan sudah pernah berobat ke klinik khusus di Jakarta. Dicari dengan detil apa saja pemicu alerginya lalu selama beberapa tahun secara rutin diobati dengan cara disuntik. Habis biaya besar dan ternyata tetap saja nggak sembuh total.
Dari situ mereka bilang bahwa asma nggak bisa sembuh.

Kakak ipar bilang sediakan saja nebulizer di rumah jadi kalau asmanya Debi kambuh nggak usah repot bawa ke dokter.
Aku menolak. Bukannya apa-apa, aku juga punya sepupu penderita asma. Tiap kambuh harus dikasih obat yang disedot itu (entah apa namanya, lupa). Tapi aku lihat bukannya membaik kok malah tambah parah. Dosisnya makin lama harus makin besar baru bisa berasa.
Aku nggak mau anakku jadi ketergantungan seperti itu. Kemana-mana harus bawa obat karena takut sewaktu-waktu kambuh.
Suamiku juga mendukung. Dia punya keyakinan Debi bisa sembuh sebelum usianya mencapai 10 tahun asal mulai sekarang kita berupaya meningkatkan kekebalan tubuhnya.

Pelan-pelan aku mulai mencatat apa saja yang bisa mengakibatkan asmanya kambuh. Ternyata udara dingin adalah yang utama. Begitu kedinginan dia akan pilek, batuk dan berujung sesak nafas.
Makanya bulan-bulan musim hujan adalah bulan-bulan yang paling menyiksa jadinya.

Memasuki usia sekolah, tantangan bertambah lagi.
Kalau di rumah sebisa mungkin kami menjaganya supaya nggak terkena pilek, di sekolah sering kali malah ketularan teman-temannya.
Frekuensi sakitnya meningkat. Hampir tiap 3 bulan pasti kena. KAlau sudah kambuh begitu bukan cuma sesak nafas, tapi juga muntah-muntah dan perutnya suka kejang.
Meskipun di luar aku selalu memasang wajah riang, berusaha menghiburnya dengan mengajak bercanda, tapi dalam hati aku selalu menangis tiap melihat dia terengah-engah atau meringis sakit perut. Kalau bisa mau rasanya bertukar tempat, jangan dia yang sakit.
Hatiku tersayat rasanya kalau sedang mengganti pakaiannya dan melihat badannya yang kurus banget sampai bertonjolan tulangnya.


Membawanya ke dokter tidak membantu. Obat-obatan atau antibiotik yang diberikan memang membantu penyembuhan saat itu, tapi kemudian batuk pileknya malah lebih sering datang.
Suamiku bilang, biarkan tubuhnya sendiri yang membangun benteng. Kalau berhasil dia akan jadi anak yang kuat nantinya.
Yang kami usahakan hanya memberinya gizi yang cukup, menjauhkan dari makanan-makanan yang merangsang batuk, melindungi badannya supaya selalu hangat dan mengusahakan pertukaran udara yang bagus di rumah.

Setiap mengadakan mezbah keluarga, kesehatan Debi selalu jadi pokok doa yang utama.
Dalam doa-doa pribadiku juga aku selalu berseru kepada Yang Memberi Hidup. Aku percaya semua ciptaannya sempurna, termasuk Debi. Ketidaksempurnaan yang kami lihat sekarang aku yakini sebagai sebuah pelatihan juga bagi kami orangtuanya untuk lebih mengandalkan Tuhan.
Dia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan pada akhirnya.

Umur 3 tahun masih berisi pipinya

Nggak bisa lepas dari mantel

Lagi sakit

Kurus banget

Me and my little princess (1)

Dulu Bunda Julie pernah menantangku untuk membuat sebuah tulisan memoar tentang anak-anakku. Katanya tulisan itu kelak akan menjadi sebuah harta yang berharga untuk mereka sebagaimana yang pernah beliau buat dan aku baca sampai meneteskan air mata.

Aku nggak sepandai Bunda Julie dalam merangkai kata-kata. Tapi berharap saja apa yang aku tulis ini suatu saat akan dibaca anak-anakku dan mereka akan mengerti sedalam apa tempat mereka dalam hatiku.

Kenapa Debi yang aku tulis? Karena anak perempuanku ini dari awal benar-benar mengajariku apa artinya berjuang dengan lutut dalam doa. Ada begitu banyak rasa selama mengasuhnya yang sering kali tidak bisa aku keluarkan lewat kata-kata.

Maka inilah kisahku……

***************************






NOVEMBER 2002
Mataku terbelalak lebar menatap layar monitor di ruang praktek dokter kandungan. Ada gambar sebuah bentuk kecil seperti kacang merah di sana.
Dokter tersenyum dan memberi selamat, membuatku lebih melongo tak percaya.

Bagaimana tidak bingung. Kedatanganku hari itu sebetulnya untuk pemeriksaan lanjutan setelah bulan sebelumnya berkonsultasi kenapa aku nggak hamil-hamil meskipun IUD sudah 3 tahun dicopot.
Ternyata bekas infeksi waktu buka IUD itu yang katanya jadi penyebab. Aku diberi obat dan diminta kembali bulan depan setelah selesai haid.

Bulan berikutnya teryata haid malah nggak normal. Keluarnya hanya berupa flek berwarna coklat tua. Aku kembali ke dokter setelah flek-flek itu hilang. Dan waktu USG, hasilnya malah mengejutkan…. aku hamil. Tapi katanya kandunganku lemah. Disuntik dan diberi obat penguat, terus diharuskan banyak istirahat.

Berita kehamilan kedua ini disambut gembira seluruh keluarga. Bertahun-tahun menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga.
Bahkan sebelum USG bisa memastikan jenis kelaminnya, aku sudah tahu bahwa anakku kali ini perempuan.

Sayangnya kehamilan ini rasanya berat sekali. Sangat berbeda dengan kehamilan pertama. Hampir tiap sore dilanda mual hebat. Meskipun tidak sampai muntah-muntah, tapi itu membuatku banyak melewatkan waktu cuma di tempat tidur. Belum lagi tiap kali terlalu banyak bergerak, langsung keluar flek. Padahal waktu itu aku nggak punya PRT. Sampai-sampai suamiku terpaksa banyak turun tangan membantu pekerjaan rumah ( luv u banget, Beh… ).

Memasuki trisemester 3, mulai terasa nyaman. Tapi kemudian dokter bilang plasentanya menutupi jalan lahir. Kalau nggak bergeser berarti nggak bisa melahirkan normal.
Aku bilang sama si dede, “Jadi anak manis ya, de… SC itu mahal lho…. Mamah mau kamu nanti lahirnya normal aja. Kita kerja sama ya…”

Dan si dede kecil selalu membalas dengan sikutan tiap kali aku ajak bicara.

JULI 2003
Hari itu aku sama suami ke toserba Yogja, belanja keperluan bayi. HPL udah kurang dari seminggu lagi. Hasil pemeriksaan terakhir cukup melegakan. Biarpun plasenta belum bergeser banyak tapi kata dokter celah yang ada cukup buat bisa melahirkan normal. Syukurlah. Dede kecil memang anak yang manis.

Pulang dari mall aku agak pusing. Mungkin karena capek turun tangga dari lantai 3 (nggak ada lift dan eskalator cuma untuk naik saja ) mungkin juga karena sumpek terlalu banyak orang jadi kurang oksigen (ini teori si papah ). Tapi setelah tidur semalaman, besoknya sudah segar lagi.

Sepanjang hari itu aku sedikit aneh karena si dede sedikit sekali gerakannya. Sangat jauh dibandingkan biasa. Bahkan waktu aku elus-elus dan ajak ngobrol, dia nggak menendang-nendang seperti biasa.
Kebetulan sore itu memang jadwal untuk kontrol. Jadilah aku pergi dengan sedikit rasa cemas.

Waktu memeriksa print out detak jantung bayi, dokter mengerutkan kening. Dia lalu suruh aku masuk ke ruang USG. Habis diperiksa dia tanya apakah aku stress atau kecapekan, soalnya detak jantung bayi lemah sekali dan nggak beraturan.
Karena HPL memang sudah dekat dia menganjurkan aku masuk RS saja supaya bisa terus dipantau. Kalau tidak membaik, besok pagi diinduksi supaya si dede bisa lahir.

Tadinya aku nggak mau kelahiran yang dipaksakan. Tapi takut juga kalau si dede di dalam sana kenapa-kenapa.
Akhirnya setelah pulang ke rumah, doa bersama-sama, aku serahkan semua sama Tuhan. Satu saja yang aku percaya, Tuhan yang sudah campur tangan sejak awal nggak akan meninggalkan begitu saja di saat semuanya hampir selesai.
Aku bilang lagi sama si dede, “Bertahan ya, de… kamu anak yang kuat. Sekali lagi mamah minta kita kerja sama biar kita bisa cepet ketemu.”

Malam itu jadinya aku nginap di RS. Untungnya mamaku sudah stand by di Bandung jadi bisa menjaga Samuel di rumah.
Tiap beberapa jam detak jantung bayi diperiksa. Akhirnya waktu pagi datang dokter bilang mendingan bayinya dilahirkan saja. Karena takut ada apa-apa dengan si dede, aku akhirnya setuju kalau itu memang yang paling baik.
Dan ternyata, pengalaman melahirkan anak kedua ini adalah yang paling aduhai “enak”nya…… bener-bener bikin kapok lombok…

Sabtu, 12 Juli 2003 jam 14.10, SI ANak yang dinanTI begitu lama akhirnya meluncur juga ke dunia dengan tangisan yang nyaring (lebih nyaring dari kakaknya). Perempuan seperti yang sudah kuperkirakan. Berat 3,2kg panjangnya 49cm. Wajahnya sungguh mungil dengan rambut super lebat dan hitam. Dia melirik sambil menjilati bibirnya waktu pertama kupeluk.

Sayangnya RS ini nggak menerapkan IMD. Baru sebentar dia kupeluk, perawat langsung membawanya pergi dengan alasan mau dimandikan. Suamiku tergopoh-gopoh mengikuti, takut anaknya tertukar. Istrinya yang masih “ngangkang” nunggu dijahit, ditinggal begitu saja…

Mamaku senangnya bukan kepalang punya cucu perempuan. Adikku apalagi, karena dari dulu cita-citanya punya keponakan perempuan supaya bisa didandani lucu-lucu. Nggak heran kalau si dede kecil sudah punya stok baju lucu, bando, sepatu dan topi yang buaanyak sekali, karena tantenya nggak bosan-bosan belanja. Padahal dia masih pake popok dan bedong…..

Kami memberinya nama Deb
ora. Diambil dari nama seorang nabiah dalam Alkitab Perjanjian Lama. Debora ini selain seorang nabiah juga seorang pahlawan perang yang gagah berani dan seorang istri yang terpuji. Itulah yang kami harapkan untuk si kecil kami. Agar kelak dia bisa menjadi seorang anak yang kuat, yang dipakai Tuhan dan sekaligus menjadi seorang perempuan yang bijaksana. Nama tengahnya adalah Sianti, singkatan dari SI ANak yang dinanTI sekaligus diambil dari nama chinesenya Cing Sian.

Kesibukan mengurus bayi pun dimulai…..


2012

Jurnal pertama tahun 2012………. Isinya cuma cerita gak penting……..

Tapi waktu menulis ini dibarengi perasaan lega karena baru saja menuntaskan pe-er.
Akhir tahun kemarin memang lumayan ngos-ngosan. Ada salah satu customerku yang mau buka toko baru pas tanggal 2 besok. Jadi sejak dua minggu yang lalu pekerjaanku mulai bertumpuk-tumpuk. Sampai-sampai gak sempat ngajak anak-anak liburan.
Untungnya anak-anakku gak pernah protes. Mereka cukup ngerti emak babenya kudu kejar setoran, jadi gak rewel biarpun liburan cuma main di rumah saja.

Sehari setelah Natal memang sempat mudik dua hari ke Tasik. Terpaksa, soalnya salah satu ponakan suami nikah di Ciamis.
Biasanya kami sangat menghindari bepergian ke luar kota saat sedang liburan. Apalagi libur panjang. Gak tahan sama macetnya.
Tapi mau gak datang, gak enak sama kakak ipar karena dia sudah wanti-wanti minta kami datang.
Dan persis seperti yang sudah diperkirakan….. macet sampai dua jam lebih di Rancaekek karena habis banjir. Mana panas minta ampun dan si Utun mobil keramat kami gak ada AC-nya. Sampe di Tasik udah gak sempat kemana-mana lagi. Cuma tidur semalam, besoknya kondangan dan langsung pulang lagi ke Bandung sorenya. Dan……. kena macet lagi di Nagrek karena ada tabrakan beruntun.
Bener-bener mudik yang menyiksa….

Habis itu sampai malam tahun baru kemarin, ngebut ngeberesin kerjaan. Melotot terus di depan komputer sampe mata rasanya perih.
Tapi bersyukur, akhirnya selesai juga semua……. tinggal bayar hutang tidur.

Tahun 2012 aku gak mentargetkan apa-apa buat diriku sendiri. Tahun baru bagiku hanya sekedar ganti kalender. Hidup tetap berjalan sebagaimana biasa. Yang kulihat malah kehidupan gak pernah lebih mudah dari tahun sebelumnya.
Jadi buat apa pesta kembang api semalam kalau paginya kita sudah dihadapkan lagi pada masalah-masalah yang sama. Buat apa juga bikin janji muluk-muluk buat tahun depan kalau semuanya langsung terlupakan begitu pesta selesai.
Siapa menjamin tahun ini bakal jadi lebih baik dari tahun yang lalu. Dunia makin kacau, krisis menjadi-jadi, ekonomi makin parah, bencana alam tidak bisa dihindari.
Takut? Kadang-kadang iya….
Tapi aku melihat pemeliharaan Tuhanku yang ajaib sepanjang tahun-tahun yang lalu. Dan aku tahu kasihNya tidak pernah berubah.
Jadi apapun yang bakal terjadi tahun ini, aku akan tetap berkata “Tuhan itu gembalaku, tak akan kekurangan aku…… kasihNya akan selalu cukup bagiku.”

Selamat tahun baru………

Pertolongan Yang Ajaib

Ini cerita dari seorang tetanggaku. Pelajaran tentang bagaimana manusia seringkali membatasi Tuhan dengan akalnya yang dangkal.

Awalnya beberapa waktu yang lalu, tukang lotek langgananku tutup berhari-hari tanpa tahu kenapa. Aku lumayan kehilangan, karena loteknya yang enak biasa jadi alternatif kalau aku malas masak.
Sekali waktu pas aku lewat, kebetulan suami si ibu lotek sedang nyapu di halaman rumahnya, jadi aku tanya kenapa si ibu kok gak jualan lagi.
Si bapak langsung sedih mukanya lalu bercerita kalau istrinya ternyata sakit. Ada batu di empedu yang lumayan besar dan menyumbat sehingga harus segera di operasi. Biaya operasi setelah ditanya-tanya mencapai 30 juta lebih. Tentunya tak terjangkau untuk mereka yang hanya mengandalkan jualan lotek untuk hidup.
Sudah diusahakan minta surat keterangan tak mampu, tapi ternyata butuh waktu panjang untuk mengurusnya. Sementara operasi harus dilakukan tanpa ditunda.

Aku ceritakan itu sama suamiku sepulangnya ke rumah. Rasanya kami gak bisa berbuat banyak selain ikut mendoakan supaya ada jalan buat mereka.
Tapi beberapa hari setelah itu suamiku ketemu si bapak di pos satpam depan rumahku yang kalau malam dijadikan ajang ngerumpi bapak-bapak kompleks.
Si bapak itu mungkin suntuk di rumah jadi ikut nimbrung di pos buat mengalihkan pikiran. Padahal biasanya dia gak pernah nongkrong di situ.
Suamiku mengajaknya ngobrol dan dia bercerita lagi tentang istrinya. Dia bilang sudah mencoba ke RS Hasan Sadikin yang biasanya memberi subsidi untuk kalangan tidak mampu. Tapi katanya cuma ada pemotongan biaya sekitar 3 juta saja. Beberapa RS lain yang dia datangi juga tak bisa memberi solusi.
Minta tolong pada keluarga yang dirasa mampu, tidak membawa hasil. Masing-masing punya alasan sendiri yang intinya tidak bisa membantu soal biaya.
Lebih parah lagi sejak sakit si ibu gak bisa jualan lotek yang otomatis membuat keuangan mereka semakin parah.
Suamiku cuma bisa menghibur dan bilang bahwa keluarga si bapak sedang diuji. Satu-satunya jalan kalau semua jalan kiri dan kanan sudah tertutup, ya carilah jalan ke atas. Cari pertolongan dari Tuhan.
Karena si bapak ini muslim, suamiku bilang pakailah cara yang diajarkan agama si bapak. Mungkin pertolongan itu bisa didapat kalau dia lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Lebih banyak berdoa salah satunya.
Lalu suamiku bertanya apakah si Bapak sudah coba mencoba ke RS B. Sebab tahun lalu waktu Samuel kena DB dan harus rawat inap, pelayanan di RS itu sangat-sangat memuaskan. Begitu juga waktu aku melahirkan Daniel. Biaya juga ternyata tidak semahal yang kami kira.
Tapi si Bapak itu seperti gak percaya dan bilang bahwa RS Hasan Sadikin saja cuma bisa memberi potongan sedikit, apalagi RS swasta yang dikenal mahal. Pokoknya si bapak bersikeras bilang bahwa itu mustahil.
Ya sudahlah.

Beberapa minggu kami gak mendengar lagi kabar si bapak. Warung loteknya tetap tutup. Rumahnya juga sepi seperti tidak dihuni lagi.
Tahu-tahu tadi pagi si bapak datang ke rumah, penuh senyum. Dia menjabat tangan suamiku erat-erat sambil mengucapkan terimakasih.
Lalu ceritanya pun mengalir.
Katanya sejak ngobrol dengan suamiku di pos satpam itu, dia seperti mendapat pencerahan. Malam itu juga dia mulai menjalankan sholat malam yang selama ini gak pernah dia lakukan. Tiap hari dia mengkaji kitab suci dan minta petunjuk Tuhan untuk masalahnya. Dia berhenti berharap untuk dapat pertolongan dari saudara-saudaranya dan hanya minta pertolongan dari Tuhan.
Dan benarlah bahwa Tuhan gak pernah mengecewakan ketika ada umatNya yang berseru sungguh-sungguh minta pertolongan.
Entah kenapa si Bapak kemudian seperti didorong untuk pergi ke RS B, yang menurutnya RS mahal dan hanya mengutamakan duit.
Tanpa diduga di RS itu dia bertemu salah satu kerabat jauhnya yang ternyata bekerja di lab RS. Mendengar cerita si bapak, kerabatnya itu langsung memperkenalkannya dengan seorang dokter di RS tersebut. Lalu dengan bantuan dokter tsb akhirnya si Bapak bisa bertemu dengan direktur RS dan mendapat keringanan biaya operasi. Total yang harus dibayar katanya tak sampai 10 juta. Dokter yang kemudian mengoperasi istrinya itu malah cuma dibayar separuh dari yang seharusnya. Ini benar-benar diluar dugaan si Bapak.
Belum cukup sampai di situ, ketika istrinya di RS, tiba-tiba salah satu keluarga istrinya datang dan langsung membayar separuh dari biaya RS yang harus dibayar si Bapak. Malah keluarga istrinya itu marah-marah karena gak dikasih tahu sebelumnya. Menurut si Bapak, dia memang gak berani minta tolong pada keluarga istrinya itu karena selama ini dikenal sangat pelit dan suka itung-itungan. Nyatanya malah si pelit itu yang kemudian menolong mereka.
Si bapak bilang, ternyata selama ini cara berpikirnya yang dangkal yang membuatnya gak bisa melihat pertolongan Tuhan. Tanpa sadar dia sudah membatasi kuasa Tuhan dengan akalnya sendiri.
Padahal ketika Tuhan sudah membuka jalan, apa yang menurut manusia mustahil ternyata malah tak mustahil jadinya. Bahkan orang yang pelit pun ketika hatinya sudah digerakkan Tuhan bisa jadi seorang penolong.

Bukankah memang kita sering juga demikian. Meminta pertolongan Tuhan tapi dengan sebuah skenario dalam kepala kita. Bahwa pertolongan itu nantinya akan datang dengan cara yang paling masuk akal buat kita.
Padahal siapa kita sehingga bisa mengetahui jalan pikiran Tuhan dan apa yang sebetulnya Dia rencanakan buat kita.

“Sekarang saya menyesal, Pak,” kata si Bapak itu, “Kenapa gak dari dulu-dulu saya menyerahkan semuanya sama Tuhan. Saya berharap si A dan si B bisa menolong saya. Saya menunggu-nunggu, tapi pertolongan itu gak datang-datang. Malah orang yang tidak terpikir oleh saya yang akhirnya datang mengulurkan tangan.”
“Soalnya kalau terjadi seperti yang Bapak pikirkan, Bapak gak akan merasa bahwa pertolongan itu dari Tuhan, tapi dari si A atau si B,” kata suamiku. “Seperti orang yang mau tenggelam, Pak. Orang lain baru bisa menolong kalau dia diam dan menyerahkan dirinya buat ditolong. Mungkin Tuhan juga selama ini nungguin Bapak menyerah dulu.”
“Iya, bener juga,” si Bapak mengangguk-angguk, “Dan begitu pertolonganNya datang, semua jalan seperti terbuka begitu saja. Sampai-sampai saya terheran-heran sendiri.”

Katanya si Ibu sekarang sudah pulang dari RS. Tinggal memulihkan kesehatannya. Mudah-mudahan gak lama lagi bisa kembali berjualan.

Semoga…………
Sudah lama juga gak makan lotek soalnya…….

I love Becak

Kalau ada yang bertanya tentang kendaraan yang paling kusukai, maka aku pasti akan menjawab becak.
Dari kecil, ketika di kota asalku becak masih menjadi primadona angkutan kelas menengah ke bawah, sampai sekarang ketika keberadaannya makin terpinggirkan, aku selalu menyukai naik becak.
Ketika harus pergi ke suatu tempat naik kendaraan umum, sepanjang tempat itu masih terjangkau oleh kayuhan kaki mang becak, aku pasti memilih naik becak daripada angkot. Biarpun harus mengeluarkan ongkos lebih mahal.

Cerita hidupku sendiri sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari becak. Aku bisa makan, beli baju, sekolah sampai selesai kuliah, semua karena becak.
Masa-masa tahun 70-80an Papaku boleh dibilang pemilik becak terbanyak di Tasik. Itulah makanya becak ikut jadi bagian dari keseharianku.
Puluhan becak yang parkir di halaman rumah dan tukang-tukang becak dengan kesibukannya masing-masing jadi pemandangan yang kulihat setiap saat.

Pagi hari sebelum berangkat sekolah, aku sering menghabiskan sarapanku di atas salah satu becak di halaman, sambil memperhatikan para penyewa becak berdatangan mengambil becaknya masing-masing.
Becak juga jadi tempat bermainku bersama teman-teman kecilku. Main rumah-rumahan di atas becak atau pura-pura jadi tukang becak dan penumpangnya.
Satu lagi yang paling kusukai adalah memperhatikan saat Papa sedang mengecat becak-becak yang baru dibelinya. Tiap besi di beri warna yang berbeda, sehingga setelah selesai becak itu jadi berwarna-warni meriah. Sayangnya aku tidak pernah diperbolehkan membantu.

Untuk mengantar aku dan adikku ke sekolah, ada becak khusus yang disediakan Papa. Pengemudinya mang onji yang berbadan pendek dan punya suara tawa sangat khas.
Si mamang yang suka bercanda ini bukan cuma jadi pengawalku kemana-mana. Kejujurannya membuat dia selalu dipercaya jadi penunggu rumah jika kami sekeluarga pergi liburan.
Kadang-kadang waktu aku pulang sekolah, Papa sudah menungguku di becak mang Onji. Itu artinya aku diajak Papa pergi, membeli onderdil becak atau menyusul tukang becak yang sudah lama menunggak setoran. Bagiku itulah saat yang paling menyenangkan. Bukan cuma karena bisa berduaan dengan Papa tapi karena perjalanan itu biasanya cukup jauh sampai ke pinggiran kota.

Waktu aku mulai besar, Papa mulai melibatkan aku untuk mengurus setoran-setoran becak. Terutama jika beliau pergi ke luar kota.
Dalam buku catatan Papa,s emua penyewa becak diberi nomor untuk memudahkan pencatatan. Tugasku adalah menulis di buku penerimaan harian, nomor berapa yang setor dan berapa setorannya.
Ada satu tukang becak yang paling tidak kusukai karena bau badannya yang aduhai. Kalau dia datang untuk setor aku selalu harus menerimanya sambil menutup hidung. Lalu di buku catatan aku akan menulis dengan jengkel “Si Bau” dan bukan nomor seperti seharusnya.
Papa selalu mengingatkan aku untuk tidak bersikap judes apalagi kasar pada para tukang becak. Katanya karena mereka aku bisa hidup enak seperti saat itu.
Manusia tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua saling membutuhkan dalam hidup.
Meskipun selalu ingat pesan Papa, tapi untuk masalah si Bau aku pasti harus menahan nafas kalau tidak menutup hidung karena tidak tahan baunya. Jadi dengan terpaksa aku memilih menutup hidung saja……..

Oya… jaman itu becak-becak punya nomor polisi juga seperti mobil. Nomor itu biasanya diganti setiap tahun.
Becak yang jalan malam hari juga wajib memakai lampu minyak yang ditutup dengan rumah-rumahan kaca untuk penerangan.

Sebagian dari becak milik Papa dibawa pulang oleh penyewanya dan mereka cukup datang untuk setor tiap beberapa hari sekali. Kepercayaan seperti itu diberikan hanya pada tukang-tukang becak yang sudah lama ikut Papa. Sisanya biasa mengambil becak pagi hari dan mengembalikannya sore hari (istilahnya ngabatang).

Waktu Papa meninggal, sebagian besar becaknya sudah terjual untuk menutup biaya pengobatan selama beliau sakit. Tapi masih tersisa sekitar 40 buah yang kemudian dikelola oleh Mama dengan bantuan beberapa tukang becak lama yang dulu jadi kepercayaan Papa. Diantaranya ya mang Onji itu.
Ketika kami pindah ke rumah yang sekarang, halaman rumah terlalu sempit dan cuma bisa menampung beberapa becak saja. Terpaksa kami menyortir para tukang becak itu. Yang sudah cukup lama diijinkan membawa becaknya pulang agar tidak menyesaki halaman. Yang kira-kira mampu ditawari untuk membeli becak yang biasa dia sewa dengan cara kredit.
Tapi pekerjaan becak membecak ini memang tidak cocok untuk perempuan. Berurusan dengan tukang-tukang becak yang sebagian berperangai kasar juga sering menimbulkan perasaan tidak nyaman.
Aku masih ingat betapa takutnya aku ketika ada seorang tukang becak yang mengamuk dan mengancam karena tidak diijinkan mengambil lagi becaknya setelah menunggak setoran berminggu-minggu. Hal seperti ini tidak pernah terjadi ketika Papa masih ada. Waktu itulah Mama mulai berpikir tak akan sanggup meneruskan usaha ini.
Ditambah lagi waktu itu aku sudah mulai kuliah dan butuh dana cukup banyak.
Satu persatu becak-becak itu dijual. Dan becak terakhir kami lepas tepat ketika aku akan wisuda. Rupanya Papa meninggalkan warisan yang pas sampai aku menyelesaikan masa sekolahku.

Tapi tidak lagi memiliki becak bukan berarti berakhir hubunganku dengan becak.
Bertahun-tahun setelah itu, ketika aku sudah menikah, suatu kali seorang tukang becak menghampiriku. Waktu itu malam hari dan aku memang sedang mencari becak setelah selesai berurusan dengan dokter gigi.
Tukang becak itu menyalamiku dan bilang kalau dia masih mengenaliku sebagai anak si “Engko becak”. Rupanya dia dulu salah satu penyewa becak Papa.
Akhirnya sambil mengantarku pulang, kami jadi ngobrol layaknya teman lama yang baru bertemu kembali.
Dan itu bukan cuma sekali terjadi. Eks tukang becak Papa ada yang sudah punya becak sendiri, tapi ada juga yang masih ngabatang.
Mang Onji, pengawal setiaku kudengar meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Pernah berhenti narik becak dan jadi tukang sapu di pasar, tapi kemudian narik lagi. Malah kalau tidak salah anaknya ikut juga jadi penarik becak.

Sekarang ini bahkan di Tasik pun becak sudah tak boleh lagi memasuki jalan-jalan utama. Ada yang bilang ini kendaraan tidak manusiawi karena memeras tenaga manusia. Ada lagi yang menuduh becak sebagai penyebab kesemrawutan kota.
Hidup pastilah makin sulit bagi tukang-tukang becak. Maraknya sepeda motor makin mempersempit ruang mereka untuk mencari nafkah.
Tapi kalau dipikirkan, masih banyak sebetulnya yang membutuhkan kehadiran becak. Terutama untuk menuju tempat-tempat yang tidak dilalui angkot.

Bagiku sendiri, selama becak masih belum punah, agaknya aku masih akan bernyanyi……..
Saya mau tamasnya
berkeliling-keliling kota
hendak melihat-lihat
keramaian yang ada
saya panggilkan becak
kereta tak berkuda
becak, becak coba bawa saya……

Saktinya tukang becak

** gambar-gambar hasil googling


Kisah si kura-kura

Percaya tidak kalau mainan ini umurnya sudah lebih dari 30 tahun?

Ya harus percaya! Karena ini adalah hadiah yang aku terima dari almarhum Omaku pada hari natal tahun 1979……!!

Aku menemukannya lagi beberapa minggu yang lalu waktu sedang membereskan lemari Samuel. Dan sungguh tidak disangka, kondisinya masih sangat bagus. Batoknya yang terbuat dari plastik masih mulus tanpa goresan. Begitu pula tali yang menghubungkan kura-kura besar dan kecil, masih bagus. Tali itu kalau ditarik akan membuat si kura-kura berjalan pelan sambil memainkan musik yang merdu sekali. Bahkan gambar tempel berbentuk bunga yang kutempel dulu di atas batoknya masih ada. Satu-satunya yang berubah mungkin cuma kepalanya dan anak kura-kura yang terbuat dari bahan semacam karet, warnanya jadi kusam karena terlalu sering dipegang-pegang.


Dulu waktu kecil, aku suka menyimpan kura-kura itu di dekat bantalku dan membiarkan musiknya mengalun menemani aku tidur.

Di antara banyak mainanku, rasanya aku paling suka dengan kura-kura ini. Salah satunya karena gak ada teman-teman lain yang memiliki mainan seperti ini.
Aku masih ingat, tahun 1982 waktu gunung Galunggung meletus dan Tasik dilanda hujan abu, Mama menyuruh aku dan adikku mengemasi pakaian dan kami menginap di rumah Oma supaya kalau sewaktu-waktu harus mengungsi kami bisa pergi bersama-sama. Diam-diam aku menyelundupkan si kura-kura dalam tas bajuku. Saking sayangnya, rasanya waktu itu tidak sampai hati meninggalkannya di rumah.

Waktu adik-adik sepupuku kecil mereka suka meminjam kura-kura ini. Aku tidak pernah melepaskan mereka bermain sendiri, karena takut mereka menarik terlalu keras hingga talinya putus, atau ceroboh dan menyebabkan si kura-kura jatuh dan pecah. Lama-lama mereka kesal juga mungkin karena aku terlalu cerewet, dan akhirnya gak pernah memainkannya lagi.

Bertahun-tahun si kura-kura tersimpan di lemariku di Tasik. Sampai kemudian aku memberikannya pada Samuel kecil.
Samuel anak yang sangat apik menjaga semua barang miliknya. Sebagian besar mainannya masih dalam kondisi bagus sampai sekarang, termasuk si kura-kura.
Berbeda dengan adik-adiknya. Apalagi Daniel. Setiap diberi mainan baru, tidak berapa lama pasti rusak kalau gak berantakan sama sekali.
Makanya waktu Samuel mau memberikan kura-kura ini pada Daniel aku melarangnya. Rasanya sayang kalau mainan yang umurnya sudah tua ini harus rusak di tangan Daniel.
Mendingan dia jadi penghuni lemari saja. Entah sampai kapan….
Paling tidak setiap melihatnya aku masih bisa tersenyum-senyum mengingat kenangan masa kecilku.

Tag Cloud