Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Waktunya injak rem.

index

Dulu   ketika negara api belum menyerang…. ketika demam batu akik melanda, bapak-bapak kompleks yang sempat keranjingan bebedilan, ikut juga ketularan.
Kalau mereka ngumpul di pos satpam, bukan lagi main tembak-tembakan atau ngebahas mau berburu kapan dan dimana, tapi semua sibuk sama batu. Bahkan ada yang sampai menjual senapannya buat beli batu.

Payahnya kegemaran batu ini seperti nggak pernah terpuaskan. Selalu ingin beli yang baru. Padahal di tangan kiri kanan hampir semua jari udah ada cincin batu akiknya. Alasannya, yang ini mah beda. Gapapa buat koleksi. Toh nantinya gampang dijual lagi.
Babeh juga sempat ketularan beli beberapa biji. Tapi karena belinya yang murah-murah jadi neng Nopi nggak protes. Dan sampai sekarang itu batu dan cincin juga nggak pernah dipake, karena babeh emang nggak suka pake cincin. Cincin kawin aja nggak pernah dipake.

Yang bikin saya agak terusik adalah ketika babeh cerita ada satu bapak yang udah berulang kali diomeli istrinya karena terus-terusan beli batu. Trus pas mau beli batu yang lain lagi, dengan alasan biar istrinya nggak ngomel dia bilang bahwa batu yang baru itu dikasih sama orang. Dia minta bapak-bapak lain untuk mendukung ceritanya kalo sampai istrinya nanti tanya-tanya.
Ih, kok jadinya bohong sih…. ngajak-ngajak pula bohongnya.

 

Itu cerita duluuuuuu…….
Kenapa saya menulis ini, karena pagi ini saya mendapati lagi kasus yang sama. Tapi kali ini pelakunya emak-emak.
Jadi tadi itu tanpa sengaja saya mendengar obrolan dua orang emak. Sebut saja namanya wortel dan tomat.
Jadi si wortel ini lagi hobi belanja online. Tiap lihat online shop apalagi ada judul “SALE” dia langsung kalap mata. Beli ini itu tanpa pikir panjang. Tentu saja cuma karena kepingin, bukan karena butuh.
Lama-lama suaminya ngeh juga karena belakangan sering banget ada paketan barang di kirim ke rumah.
Dan seperti biasa kalo belanja karena lapar mata itu ujungnya kan nggak semua barang bisa terpakai. Sebagian besar cuma numpuk menuh-menuhin rumah.
Suaminya menegur dong…. Wajar aja kan. Siapa tahu istrinya cuma lagi khilaf jadi perlu diingatkan.
Tapi istrinya rupanya susah untuk ngerem nafsu belanja. Jadi putar otaklah dia. Janjian sama si tomat bahwa nanti kalo dia belanja lagi, belanjaannya dikirim ke rumah tomat. Nanti wortel bisa ambil diam-diam tanpa sepengetahuan suami. Kalaupun ketahuan, dia bisa bilang bahwa itu barang pemberian atau oleh-oleh.
Bohong lagiiiii…….!!!

Dan saya sempat nyengir sendiri, emang suaminya segampang itu dibohongin? Emang ada ya orang yang ngasih hadiah atau oleh-oleh setumpuk barang-barang mahal?
Perasaan saya kalo bepergian, beli oleh-oleh paling gantungan kunci….. hihihi… itu mah neng nopi aja kali yang pelit ya?

 

Tapi yang mau saya bilang di sini…… kenapa harus pake bohong sih…
Memang kelihatannya cuma bohong kecil yang nggak ngefek apa-apa. Tapi segala yang besar itu kan selalu dimulai dari yang kecil.
Apalagi yang namanya bohong. Satu kebohongan akan selalu menyeret pada kebohongan-kebohongan lain.

“Ah, yang penting kan saya nggak motong duit belanja.”
“Nggak sampai mengganggu keuangan rumah tangga kok.”
“Itu kan duit saya sendiri. Hasil kerja saya. Jadi boleh dong saya pakai buat apa yang saya suka”
Kalau begitu kenapa nggak dijelaskan sama pak suami, terus didiskusikan baik-baik. Kenapa malah pilih bohong dengan resiko bisa jadi ribut kalau sampai ketahuan.

“Suami saya mah nggak pengertian sih. Bawel. Sukanya melarang-larang.”
Lah… kan namanya pernikahan itu ibarat dua orang lagi melaju dalam satu mobil. Kudu ada gas dan rem.
Kalo yang satu kekencengan ngegas, pasangannya harus bisa ngerem kalo nggak mau nyungsep di jurang.
Jadi kalau pak suami mengingatkan itu mestinya bersyukur karena berarti dia masih perhatian sama istrinya. Masih kepingin melaju bersama dengan aman sampai tujuan. Kalau dia udah nggak peduli, bisa saja dia biarkan istrinya nyungsep sendiri sementara dia turun di jalan dan naik ke mobil yang lain…..

“Gimana dong… kalau sudah hobi susah mau berhenti…”
Issshh…. antara hobi dan nggak bisa mengendalikan nafsu mah dua hal yang berbeda atuhhh…

Mau pake alasan apa lagi? Seribu satu alasan apapun nggak ada yang bisa membenarkan kebohongan.

Ikatan suami istri itu adalah ikatan yang sangat rapuh. Perlu kesungguhan untuk menjaganya hari demi hari.
Dan kebohongan itu bisa jadi benih untuk keretakan bahkan sampai kehancuran.
Ih, amit-amit…!! *ketok-ketok jidat babeh meja

Dan yang nggak kalah penting adalah, di rumah ada mata kecil yang selalu memperhatikan, menyerap, lalu meniru apapun yang orangtuanya lakukan.
Emang mau anaknya kelak jadi tukang bohong juga.
Emang enak kalau nanti setelah besar anak-anak suka ngumpet-ngumpetin segala sesuatu dari kita?

Kalau pak suami udah sampai negur, kalau hobi itu sudah bikin kita kecanduan, lupa diri, nambah-nambahin dosa, malah juga mengancam keutuhan rumah tangga…. mungkin sudah waktunya buat kita untuk ngerem sebelum kita benar-benar nyemplung di jurang…

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttt!!!!!

 

 

 

Advertisements

Tag Cloud

%d bloggers like this: