Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Bukan Si Raja Tega

Sekali waktu pas ngobrol seru sama kakak ipar, dia tanya seandainya ada cowok yang pinter, kaya, muka gak jelek-jelek banget, tapi lembek… maksudnya gak bisa apa-apa karena terlalu lama berada di ketek emaknya… kira-kira mau gak diambil jadi mantu.
Saya spontan teriak ogaaaahhh…… Nasi yang terlalu lembek aja saya gak doyan, apalagi menantu….

Lalu kakak cerita, ternyata ada kenalannya yang seperti itu. Ibunya lagi pucing pala karena gak ada yang mau sama anak semata wayangnya. Padahal sudah diiming-imingi bakal dikasih rumah, mobil dan hidup senang selamanya asal mau jadi istri anaknya.
Eh, sebelum ada yang mikir aneh-aneh, anaknya ini cowok tulen lho ya.. bukan gay dan gak punya kelainan seksual.
Masalahnya ya cuma itu… lembek…. kayak nasi kebanyakan air… hihihi

Jadi menurut kakak, sejak kecil anak itu terlalu dimanjain ibunya. Segala keperluan selalu ada yang meladeni… maklum horang kayah pembantunya banyak. Selama kuliah saja (bahkan sampai S2 katanya), tiap hari ada sopir yang antar jemput ke kampus atau kemanapun dia mau pergi. Jangankan diijinkan naik motor, bawa mobil sendiri saja nggak boleh. Alasannya, supaya kalau ada apa-apa semisal nabrak atau nyerempet orang, kan jadinya sopir yang salah. Si anak mah gak usah repot.
Kalau perlu dia mah mau makan juga tinggal mangap doang, ada pembantu yang siap nyuapin.
Tugasnya cuma belajar, sekolah, jadi anak pinter.
Iya sih pinter…. tapi kalau kata Semsem mah “Kelainan”….
Nah cowok model begini, apa gak repot yang nanti jadi istrinya… tiap ada masalah atau harus ambil keputusan sudah pasti langsung lari cari mami…

Habis itu saya jadi ingat pernah ngobrol sama Semsem tentang seorang teman sekelasnya yang kalau secara nilai akademis sih biasa-biasa saja, cenderung kurang malah. Tapi anaknya (kata si Sem nih…) punya life skill. Kelihatan dari cara dia ngomong, cara dia ngerjain sesuatu, cara mikirnya…. pokoknya (istilah si Sem lagi…) matang.

 

Kebanyakan orang tua kepingin anaknya pintar, berprestasi di sekolah dan bikin orangtua bangga.  Iyalahhh… saya juga termasuk di situ.
Saking berambisinya punya anak pintar, dari usia dini biasanya anak udah dikirim ke sekolah terbaik. Masih nggak cukup, pulang sekolah wajib ikut les ini itu sampai malam. Bangga bukan main kalau anak bisa jadi juara di sekolah.
Sibuk menjadikan anak “pintar” tapi lupa bahwa yang terpenting bukan hanya belajar menguasai matematika, fisika, kimia  atau berbagai bahasa asing, tapi belajar untuk “jadi orang”.

Untuk bisa “Jadi orang” ini anak-anak harus dilatih untuk bisa mengurus segala keperluannya sendiri, belajar berkomunikasi dengan orang lain, belajar berani mengambil keputusan, mengerti etika dan sopan santun, belajar mengendalikan emosi, belajar menyelesaikan masalah.
Semua itu saya rasa nggak ada buku panduannya yang baku atau tutorialnya di youtube. Cara terbaik untuk mempelajarinya adalah dari contoh yang diberikan orangtua, atau pengalaman yang dialami anak selama hidupnya.

 

Isssshhh, jangan serius banget gitu atuh bacanya. Neng Nopi bukan lagi kasih ceramah parenting ini mah…. cuma lagi ngadongeng sambil nungguin antrian mau mandi….

 

Memang berapa lama sih orangtua bisa mendampingi anak. Biar bagaimanapun suatu saat anak harus menjalani hidupnya sendiri tanpa orangtua kan? Terus kalau nggak dipersiapkan, mau bagaimana dia ketika orangtuanya nggak ada lagi.

Sering kali orang tua lalai dengan hal ini karena terlalu dibuai oleh rasa sayang terhadap anak.
Kasiaaan… dia belum bisa, belum siap…
Duh, nggak tega lihat dia menghadapi kesulitan…
Nanti kalau salah bagaimana….

Padahal kalau mau mikir lebih jauh, rasa sayang yang merusak itu bukan lagi sayang namanya. Itu mah egoisnya orangtua aja.
Dari pada rumah kotor karena si kecil mencoba makan sendiri, sudah mama saja yang suapin.
Dari pada nanti jarinya kena pisau terus mama yang repot harus ngobatin, sudah mama saja yang masak.
Dari pada nanti bajunya kotor, terus mama yang cape nyuci, sudah suruh tukang saja buat betulin sepeda kamu.
Dari pada nanti urusan sama polisi kalau kamu nabrak orang, terus papa jadi ketiban sibuk, sudah pakai supir saja kalau bepergian.
Dari pada kecapean terus sakit, terus nanti papa yang harus bayar biaya ke dokter, gak usah ngerjain ini itu, kan sudah ada si bibik yang dibayar buat ngurusin kamu.

 

 

Pernah dengar cerita tentang seseorang yang melihat ketika seekor kupu-kupu berusaha melepaskan diri dari kepompongnya…. saking kasihan melihat si kupu-kupu yang kelihatan tak berdaya harus berjuang sekuat tenaga, akhirnya orang itu berbaik hati membantu membuka kepompongnya. Hasilnya, muncul seekor kupu-kupu yang cantik… tapi sayang nggak bisa terbang…
Karena sebetulnya dalam proses waktu dia berusaha keluar dari kepompong itulah sepasang sayapnya dilatih untuk menjadi kuat dan nantinya bisa membawa dia terbang. Ketika proses itu terlewat, hasilnya adalah kupu-kupu yang “cacat” dan sebentar kemudian akhirnya mati.

Seperti itulah kira-kira orangtua tanpa sadar telah  “membunuh” anak-anaknya.

 

 

Jadi ingat waktu Semsem mau punya SIM. Dia keukeuh nyuruh si Sem ikut ujian.
Jadi dia bukan cuma harus belajar buat ujian tulis tapi belajar juga ngejalanin motor zigzag di depan rumah. Pake botol-botol bekas sebagai pembatas, tiap sore dia latihan.
Sudah gitu pas ujian dia harus pergi sendiri. Ngurus semua sendiri. Dibonceng sama satpam kompleks, kan dia belum boleh bawa motornya sendiri. Dan ujian pertama itu nggak lulus dong di ujian prakteknya.
Belajar lagi tiap sore, mondar-mandir bolak-belok sampai bisa dia nggak ngejatuhin botolnya waktu zigzag.
Akhirnya ujian kedua baru lulus, dan dia membawa pulang SIMnya dengan bangga.

Kok repot bener sih. Nembak aja kan bisa… kebanyakan temannya juga dapat SIM dengan cara nembak.
Soalnya kalau nembak itu………. lebih mahal… hahaha… *terus dikepruk si babeh
Nggak ding… itu mah alasan emaknya mendukung keputusan babeh….

Babeh pinginnya Semsem tahu bahwa dapat SIM itu gak gampang, supaya nanti dia bisa lebih menghargai, nggak sembarangan bawa motor yang mengakibatkan ditilang… gitu deh kira-kira.
Dia juga harus pergi sendiri tanpa babeh supaya bisa belajar berkomunikasi sama petugas, bisa belajar ngurusin ini itunya sendiri, biar tahu juga bikin SIM itu seperti apa repotnya.

 

Kadang sikap tega itu diperlukan.
Membiarkan anak menghadapi kesulitan, menyuruh mereka berusaha menyelesaikan masalahnya, mengajar mereka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah, itu bukan berarti tak sayang.
Justru dengan begitu orangtua sedang membekali anak, mempersiapkan mereka untuk kelak bisa tetap survive setelah mereka lepas dari ketek orangtua…….. dan tentu saja juga biar gak susah dapat jodoh… Uhukkk!

 

 

 

 

Advertisements

Comments on: "Bukan Si Raja Tega" (3)

  1. Teh Nopi, gimana kabarnya? sehat2 kan? kangen tulisan teh nopi.? apalagi sama cerita tentang semsem # eh :))

    • Kabar baik, mbaak. Cuma kebanyakan mainan benang dan jarum jadi lupa sama keyboard dan mouse… hahaha..
      Semsemnya udah jadi anak kuliahan sekarang.
      Nantilah aku update kabar anak2…

      Makasih masih setia mampir…

  2. batesannya sampe mana supaya gak over protektif emang susah sih. jadi ortu emang serba salah. 😛

    sebenernya gak fair kalo semua itu disalahkan ke ortu karena kalo anaknya udah dewasa harusnya dia bisa sendiri, bukan menyalahkan kepada ‘karena dibiasain begitu’.

    gua soalnya ngalamin sendiri. walaupun gua selalu dianter jemput supir sampe kuliah. gak pernah sekalipun naik bus umum. gak pernah ngekos, selalu tinggal sama ortu sampe married. tapi pas harus mandiri gua bisa mandiri kok. maap ya kalo sombong. hahaha. bukan sombong tapi bangga. 😛

    ortu itu kan rata2 selalu niatnya baik. tapi anaknya harus juga bisa mikir sendiri dong. ortu ngasih fasilitas bukan berarti mau bikin anak jadi males/lembek. kalo masalah lembek itu kayaknya emang dari diri anaknya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: