Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Lubang di Hati

12301143_1504222093206983_1379147694_n

 

Judul postingannya kayak judul lagunya Letto ya?

Tadi malam Sem, si sulung saya yang ganteng itu habis ikut prom night.
Iyaaa…. dia baru lulus SMA nih ceritanya…  uhukkk! Waktu beneran bagai terbang. Si anak kecil lucu nan bawel itu sekarang udah jadi pemuda harapan bangsa idaman calon mertua… uhukk lagi..!

13322168_10206434467760833_7561880204474920121_n

waktu wisuda minggu lalu…

 

Awalnya emak agak khawatir melepas dia pergi ke prom. Banyak dengar cerita jelek soalnya. Tapi dia kan sudah gede, sudah cukup tahu mana yang boleh dan mana yang dilarang. Dan saya rasa dia cukup bisa dipercaya.

Ternyata benar, dia pulang sekitar jam 10 malam trus langsung ngomel-ngomel. Katanya  nggak habis pikir apa sih asiknya disco time itu. Goyang-goyang gak jelas doang, mana musiknya berisik lagi. Jadi dia mutusin pulang duluan sebelum acara selesai.
Gara-gara itu akhirnya kita jadi ngobrol malem-malem berdua deh, karena si babeh kan sudah tidur duluan.
Dia cerita tadi pulang bareng sama sohibnya. Terus dijalan mereka ngobrol, kenapa bisa ada orang yang senang dugem, kenapa ada yang menikmati mabok, kenapa beberapa dari teman seangkatan mereka di sekolah kok suka berperilaku “ngaco”, mulai dari tingkat ngaco sedikit sampai ngaco banyak, kenapa ada yang sepertinya nggak peduli dengan masa depan.

Terus hasil analisa mereka berdua (cieeee…..!) katanya orang-orang yang seperti itu pasti ada ruang yang kosong atau lubang di hatinya. Dan itu rasanya pasti nggak enak banget. Makanya mereka berusaha menambal lubangnya dengan berbagai macam cara. Sayang caranya salah.
Kenapa hati mereka bisa berlubang….. Nah, itu yang kepingin saya share kali ini. Bukan mau sok-sok ngajarin sih tapi seperti biasa pengingat buat  saya juga. Siapa tahu tanpa sadar kita juga termasuk orangtua yang sudah membuat hati anak berlubang.

 

Anak bisa berlubang hatinya ketika mereka kehilangan rasa aman di rumah.
Orangtua yang berantem melulu di rumah itu bukan cuma ada di sinetron. Di dunia nyata juga banyak.
Mungkin karena tekanan hidup sekarang ini jauuuuh lebih berat. Semua orang stress dan jadi sumbu pendek.
Yang sering dilupakan adalah, ketika bertengkar di rumah dengan pasangan, ada mata-mata yang memperhatikan dengan cemas. Lalu ketika pertengkaran itu berulang dan berulang terus, kecemasannya pelan-pelan jadi pisau yang melubangi hati.
Gak pernah ada rasa tentram lagi. Setiap saat selalu dibayangi ketakutan bahwa mama dan papa akan pisah.
Apalagi kalau bertengkarnya disertai kata-kata kasar atau bahkan kekerasan fisik. Duhhhh……
Soal berantem sama pasangan ini saya pernah tulis di sini.
Jadi, kalau buat saya sih mending berpelukan di depan anak deh daripada berantem. Paling nanti ada yang nyelip-nyelip di tengah.

b9377a33adf14dec562ebb7b8562a26a

 

 

Anak bisa berlubang hatinya karena mereka tidak didengarkan
Saya juga pernah menyinggung soal ini di postingan yang ini.
Sekali lagi, yang perlu dilakukan orangtua adalah mendengarkan, bukan cuma mendengar.
“Listen” bukan cuma “Hear”…. gitu kalo bahasa kerennya mah.
Mendengarkan itu bukan cuma pakai kuping tapi pakai mata, pakai bahasa tubuh, pakai hati.
Waktu kita mendengarkan, kita bisa tahu juga apa yang tidak secara lisan disampaikan oleh anak. Bisa mengerti apa yang mereka rasa. Bisa paham apa yang mereka mau.
Seandainya orangtua mau meluangkan waktu untuk mendengarkan anak-anak, mungkin gak ada lagi tuh anak remaja yang teriak, “ortu gue gak pernah ngertiin gueee…” habis itu dia cari orang-orang di luar rumah yang dia anggap bisa lebih mengerti dirinya….
Bahayaaa…!!!

226517056228142990_mwvit9do_c

 

 

Anak bisa berlubang hatinya karena orangtua tidak pernah menghargai apa yang mereka lakukan
Coba deh diingat-ingat, waktu kita masih anak-anak dulu… pas dapat nilai ulangan bagus, pada siapa pertama kali kita ingin pamer. Tentunya pada orangtua.
Pas membuat sebuah gambar corat-coret yang bagi kita adalah mahakarya terbesar sepanjang sejarah… pada siapa pertama kali kita perlihatkan… Ya pada orangtua, bukan tetangga sebelah atau pak RT.
Dan apa yang kita rasa paling membahagiakan… waktu mamah atau papah tersenyum bangga sambil bilang, “Hebat banget sih kamu…”
Apalagi kalau ortu terus pamer juga pada teman-temannya… rasanya kita sudah jadi orang paling top markotop. Dan rasa bahagia itu akan memacu kita untuk berusaha lebih baik tiap saat. Hanya supaya bisa melihat lagi senyum dan binar penuh bangga di mata orangtua.

Terus kenapa tidak melakukan hal yang sama sekarang pada anak-anak kita.
Kenapa harus terus menuntut mereka untuk berusaha lebih baik lagi hanya karena hasil mereka belum memuaskan kita, padahal kita tahu mereka sudah berusaha jungkir balik sekuat tenaga. Kenapa hanya berfokus pada hasil dan bukan pada proses untuk mencapai hasil itu.
Apa sih beratnya memberi tepukan di bahu tanda penghargaan.
Kenapa mulut suka lebih lancar memuji anak orang lain ketimbang memuji anak sendiri.
Besar kecilnya sesuatu hal itu relatif. Yang menurut kita cuma hal sepele, bagi seorang anak mungkin saja adalah hal penting. Jadi jangan pelit deh ngasih pujian…. gratis ini…
 index

 

 

Anak bisa berlubang hatinya karena mereka tidak boleh menjadi dirinya sendiri
Orangtua suka merasa paling tahu apa yang terbaik buat anak. Sok tahu. Terus habis itu disambung dengan sok ngatur.
Padahal yang dibilang terbaik itu terbaik buat siapa? Buat anak atau orangtua?
Punya harapan sih boleh-boleh saja. Tapi kalau ternyata harapan jauh dari kenyataan, ya nggak usah ngotot. Anak punya mimpinya sendiri. Sepanjang mimpinya nggak “ngawur”, dan sepanjang dia serius buat mewujudkannya, orangtua cuma boleh mendukung.
Terus orangtua juga suka membanding-bandingkan anak dengan orang lain. Padahal tiap anak itu unik.
Biarkan mereka menjadi dirinya sendiri, menjalani mimpinya sendiri.
Orangtua boleh mendidik dan mengarahkan, tapi nggak boleh menguasai.
Heeeuhhh, ngomong ini gampang… prakteknya paling susaaaahhh

images

 

 

Cuma segitu?
Masih banyak daftarnya kalau mau diterusin. Tapi nanti postingan ini jadi kepanjangan dan neng Nopi diomel-omelin yang baca.
Intinya, membesarkan seorang anak itu susahhh.. Lebih susah dari ngerjain soal-soal SBMPTN. Belajar bertahun-tahun pun rasanya tak akan pernah cukup.
Tapi yang perlu diingat selalu adalah, anak itu titipan. Diberikan pada kita dalam keadaan baik, bersih, nggak ada cacatnya. Suatu saat ketika titipan itu akan diambil kembali oleh pemiliknya, apakah akan kita serahkan dalam keadaan penuh lubang dan terkoyak-koyak?  Nggak amanah banget kita ya? Mau ngomong apa kita nanti ketika diminta pertanggung-jawaban sama Tuhan?

Jangan sampai deh hanya karena kita terlalu sibuk mengejar materi jadi mengabaikan hal yang lebih penting…. anak-anak.

children-quotes-parenting-quotes-You-have-a-lifetime-to-work-but-children-are-only-young-once.

 

 

Dan buat sigantengku tersayang…. maafkan seandainya mamah juga secara nggak sengaja pernah bikin hatimu berlubang.
Hayu segera kita tambal lubangnya ke tukang tambal ban jangan sampai bertambah besar nantinya.

Hmmmm….. Mamah tahu kamu mau bilang apa, nak. Pasti kamu akan jawab, “Yang berlubang bukan hati saya, Mah… tapi hidung saya nih. Gara-gara ada jerawat tadi kepocel… sakiittttt…!”
DASAR AB  !! (*jokes yang cuma kita berdua tahu apa artinya… hahaha… !)
Love u, Naaaakkk…..

 

13346558_10206443597949082_2755724943058713100_n

calon pemeran 007 yang akan datang???

Advertisements

Tag Cloud

%d bloggers like this: