Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Alkisah ada dua orang yang bersahabat, katakanlah namanya Melon dan Belimbing (karena kalau Mawar dan Melati rasanya kok seperti korban perkosaan di koran). Bertahun-tahun putus kontak, akhirnya mereka bertemu kembali lewat jejaring sosial. Maka dirancanglah rencana pertemuan untuk melepas kangen.

Melon ingat bahwa Belimbing dulu adalah seorang teman yang murah hati. Tiap bertemu, selalu ada buah tangan yang dibawa Belimbing untuk Melon.
Maka kali ini Melon merencanakan untuk memberikan sesuatu juga untuk Belimbing. Apalagi ini adalah pertemuan pertama setelah beberapa tahun tak saling berkabar.

Pada hari yang ditentukan akhirnya mereka bertemu. Melon menyerahkan gift yang telah dia persiapkan dengan segenap hati untuk Belimbing.
Ternyata Belimbing juga masih seperti dulu. Dia juga memberikan “oleh-oleh” untuk Melon yang membuat hati Melon seketika berbunga-bunga.

Singkat cerita seusai pertemuan, Melon pulang ke rumah dan membuka gift dari Belimbing dengan tak sabar. Lalu yang terjadi adalah………… dia terhenyak.
Belimbing memberinya sebuah kotak kecil, isinya sebuah bros. Tapi kelihatan jelas itu bukan bros baru. Warnanya sudah memudar. Penitinya juga agak bengkok, mungkin karena sudah berulang kali dibuka tutup.
Iya, Melon kecewa bukan main. Merasa tak dihargai. Ingat sebuah dompet kulit mahal yang tadi dia berikan untuk Belimbing.
“Tau dikasih barang bekas begini, ngapain gua kasih dia barang bagus. Mending barangnya gua pake sendiri”.
Dalam hati Melon berjanji pada diri sendiri untuk tidak berhubungan lagi dengan Belimbing. Lo gue end…!

Satu hal yang tidak diketahui Melon adalah, Belimbing sesungguhnya baru saja kena musibah. Rumahnya kebakaran. Harta bendanya ludes dilalap api. Milik paling berharga yang tersisa adalah sebuah bros yang pada saat kejadian kebetulan melekat di pakaian Belimbing. Bros itu hadiah ulang tahun perkawinan dari almarhum suaminya yang selalu dipakai Belimbing tiap hari.
Diberikannya dengan tulus pada Melon sebagai rasa penghargaan atas persahabatan mereka.

 

**********************

 

Temans, cerita ini mengganggu pikiran saya selama beberapa hari.
Saya jadi berpikir banyak tentang “memberi”.
Sudah pada tahu lah ya, kalau neng Nopi ini orangnya agak-agak pelit…. Ngakunya gak suka matematika tapi kepalanya tiap saat selalu berhitung untung dan rugi.

Kayak beberapa hari yang lalu, babeh bantuin seorang tetangga benerin pompa airnya yang rusak. Kebetulan si tetangga ini adalah pengurus RW juga. Terus kemarin si Sem yang rencana mau ngisi liburannya dengan kerja magang, perlu surat keterangan belum kawin dari RT/RW. Saya langsung nyeletuk, “Minta tolong bikinin sama Pak X deh. Kan kemarin udah dibantuin benerin pompa. Masa sih sekarang gak mau bantu kita.”
Babeh langsung protes, “Kalo bantuin orang itu yang ikhlas. Gak usah ngarep imbalan.”

 

Doeeenngggg!!!
Langsung toyor jidat sendiri. Iyaaa… jidat sendiri kali ini, bukan jidat si babeh.

 

Itungan banget saya jadi orang. Selalu berpikir bahwa saya berhak menerima kalau sudah memberi. Kalo gitu pemberian saya jadi gak ikhlas dong ya… karena di belakangnya kok jadi ngarep ada timbal balik.

d7e8822e8c0d198a7e732d08615e93a2

 

Nah lo…!!!

Eh tapi jujur jelujur nih… ada yang sama dengan saya gak sih? Suka ngarep maksudnya…
Gak usah jauh-jauh deh contohnya. Urusan ngeblog aja. Pernah gak berpikir macam ini, “Aku kan rajin komen di postingan si A, kok dia berkunjung ke blogku aja nggak pernah sih. Belagu ih!”

Gak ada yang kayak gitu?

Berarti saya doang dong ya……
*malu

 

Kalo kata orang bijak mah, yang namanya memberi itu seharusnya bisa membahagiakan kedua pihak. Yang memberi, karena telah melakukan sebuah kebaikan. Dan tentu saja yang diberi.
Jadi kalau ada salah satu pihak yang merasa kecewa artinya apa dong?

7bd7c34f817b6e9827d85d364daa8061

 

Tah itu jawaban yang paling jujur kayaknya.
Karena kita masih suka ngarep. Nggak berbuat apa-apa aja suka ngarep, apalagi kalau habis berbuat apa-apa. Pinginnya imbalan datang saat itu juga. Kalau perlu dengan berlipat-lipat. Trus comotin dengan semena-mena deh itu segala ayat alkitab tentang memberi.
*iyaaaa…. ini neng Nopi, bukan yang lain.

 

Yang kita suka lupa adalah, memberi itu ibarat menabur benih. Emangnya ada yang nanam biji mangga terus besok pohonnya langsung berbuah lebat? Ini si babeh udah setahun lebih nanam pohon lengkeng aja masih belum nongol buahnya.
Buah itu mungkin baru akan kita nikmati bertahun-tahun kemudian. Atau mungkin saja kita sendiri gak akan sempat menikmati buahnya.

Tapi segala sesuatu yang kita buat dengan hati tulus itu dicatat sama Tuhan. Gak pernah ada sesuatu yang sia-sia.
Segala kebaikan yang kita buat tanpa kita ingat-ingat, suatu saat tanpa kita sadari akan kembali pada kita dalam bentuk yang lain. Itu yang sejatinya adalah buah kebajikan.
Kalau yang diingat-ingat? ehmmm…. mungkin itu sudah bukan kebaikan lagi namanya. Mungkin itu mah sejenis barter gitu.

409

 

Ini neng Nopi bukan lagi nguliahin loh ya, tapi seperti biasa lagi mengingatkan diri sendiri. Sekalian menuh-menuhin isi blog yang sekarang jarang ditengokin… hihihi

Trus apaan itu kok tumben pake banyak quotes gitu…..  Biar nampak keren dong ah…!

 

Jadi, kalau saya bilang sih daripada memberi sesuatu tapi dengan ngarep balasan, trus menggerutu panjang pendek waktu balasan yang diterima ternyata nggak sesuai dengan yang dibayangkan. Mungkin mendingan jangan memberi apa-apa deh. Paling nggak kan jadinya gak membuang energi dengan ngomel. Apalagi kalo ditambah dengan ngomongin orangnya di belakang…. jadi nambahin dosa atuh, bukannya dapat pahala.

Lagipula seringkali kita tidak tahu alasan sebetulnya dibalik perbuatan seseorang pada kita kan? Ya macam si Melon dan Belimbing itu lah…

 

 

Eh, iya….. Trus itu si Melon sama si Belimbing gimana?
Oh… Melon dan Belimbingnya sudah saya bikin jadi jus tadi siang…

 

 

 

 

Advertisements

Comments on: "The Art of Giving (Kisah Melon dan Belimbing)" (6)

  1. cieeee melon dan belimbingg…

  2. Kok ngga nulis blog lagi, teh. Kangen tulisan2 yg inspiring bgt

  3. Saya mau memberi komentar di Postingan Lubang Hati …
    tapi saya tidak bisa komen di sana …

    Saya ingin berkomentar seperti ini …
    Lama tak ke sini … ternyata si Koko udah lulus SMA aja …
    Dan benar sekali … jika anak tidak didengar … itu bisa menimbulkan lubang di hatinya … bahkan luka …
    Saya berusaha untuk mendengar apa yang anak-anak kemukakan … seberapa lelahpun saya

    salam saya Bu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: