Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Saatnya bicara masa depan

Waktu anak-anak masih kecil, kalau ditanya apa cita-cita mereka biasanya jawabannya cepat banget, nggak pake mikir dan hampir seragam. Kalo nggak jadi dokter, jadi polisi, jadi pilot, jadi guru, jadi presiden…. pokoknya yang standar gitu deh.
Tapi coba hal yang sama ditanyakan kembali waktu mereka mulai besar.
Biasanya jawabannya berubah jadi , “Mmmm…. belum tau..” atau, “Masih bingung…” atau, “Liat nanti aja deh…”
Dan biasanya disambung sama nyengir garing.
Kayaknya hanya sedikit saja anak-anak yang sampai besar masih tetap bertahan dengan cita-cita masa kecilnya.

Semsem, si sulung saya yang ganteng itu (setidaknya menurut emaknya… 🙂 ) jelas nggak termasuk hitungan yang sedikit itu.
Waktu kecil cita-citanya pingin kayak papah (insinyur elektro maksudnya). Sampai-sampai babeh udah kesenengan, mulai memperkenalkan dia dengan berbagai part elektronik, rangkaian dasar, macam-macam tools, bahkan sejak Semsem masih di SD.
Tapi makin ke sini kok kelihatan makin berkurang ketertarikannya. Memang sih karena anaknya cerdas (Ahemmm!!!) jadi dia bisa mengerti dengan mudah kalau dijelaskan ini itu sama babeh. Tapi jelas beda dong antara antusias karena tertarik atau cuma menurut biar babehnya nggak kecewa.
Saya nggak bisa tutup mata dengan hal ini.
Sedikit-sedikit mulai menggiring babeh pada kenyataan kalau sulung kami ini kemungkinan kelak nggak akan mengikuti jejak babeh.
Nggak gampang lho ini. Apalagi Semsemnya sendiri masih belum jelas sebetulnya ketertarikannya itu pada bidang apa.
Masuk SMA, saya mulai nyentil-nyentil dia untuk mikir serius, bidang apa yang ingin dia tekuni buat masa depan nanti (cieeeeh, masa depan….)
Tapi sampai naik kelas XI, masih belum kelihatan juga tanda-tanda dia lagi mengarah kemana.
Emak babehnya makin galau. Apalagi melihat beberapa temannya yang kelihatan mulai mantap menentukan pilihan.
Anak-anak dari teman dan kenalan saya dengar banyak yang mulai cari beasiswa. Lokal maupun interlokal…. eh, ke luar negeri maksudnya.. *digetok gagang telepon
Duhhh, terus si kasep kesayangan saya ini mau ngapain?
1450594006296[1]

Gak jelas, sedang memikirkan masa depan atau menunggu gebetan lewat… hihihi

 

Beneran deh, saat-saat begini saya merasa sekali kalau jadi orangtua itu gak gampang. Jujur, saya punya impian sendiri tentang anak-anak saya. Kepingin mereka nantinya begini dan begitu.
Ingat cita-cita saya yang dulu nggak kesampean, ada keinginan kecil suatu saat anak saya yang mewujudkan cita-cita itu.
Tapi saya ingat lagi bahwa anak-anak bukan saya. Mereka punya mimpi mereka sendiri. Nggak adil kalau saya yang menyetir kemana arah hidup mereka nantinya.
Kan sering banget tuh orangtua bilang, “Ini yang terbaik buat kamu, Nak…”
Lha terbaik buat siapa? Buat anak apa emaknya? Yang baik buat emak kan belum tentu baik buat anak. Karena anak itu bukan versi kecil dari orangtua. Mereka ya mereka sendiri. Punya pikiran sendiri, punya keinginan sendiri, punya dream sendiri yang mungkin nggak sama dengan orangtua.
Ini neng Nopi bukan lagi ceramah, tapi lagi mengingatkan diri sendiri…. Dan mungkin mengingatkan babeh juga… siapa tahu suatu kali babeh ngepoin lagi blog bininya ini…. hihihi…

 

Balik ke si koko Semsem.
Kadang memang harus sabar juga ya jadi ortu. Segala sesuatu ada waktunya. Anak-anak juga punya waktu mereka sendiri. Dan waktu itu nggak sama untuk semua anak.
Sama seperti ketika kecil, ada anak yang cepat bisa jalan, ada yang duluan keluar gigi, ada yang bawel dari umur setahun, ada yang telat ngomong. Tapi pada waktunya kan semua bisa juga.
Si Koko juga rupanya cuma perlu waktu lebih lama buat memantapkan hatinya memilih…. (semoga ini juga berlaku waktu dia nanti pilih jodoh… mantapkan dulu ya, nak. Jangan asal tembak…. uhukkk!!!)
Dan setelah memilih, dia seperti susah pindah ke lain hati…. (again, semoga ini juga berlaku untuk urusan cewek…)
Sampai saya perlu mengingatkan dia untuk punya plan A,B,C. Karena pilihannya itu jurusan yang pasti jadi rebutan sekarang ini.
Babeh yang awalnya kelihatan nggak setuju, akhirnya nyerah ketika melihat si sulung mulai serius. Meskipun masih ada pesan sponsor, seharusnya begini dan begitu, tapi intinya restu sudah diberikan.

 

Apa berarti masalah sudah selesai?
Ya jelas belum laaah…. Ini anak UN juga kan belum. SNMPTN gak tau bakal lolos apa nggak. SBMPTN mungkin jadi harapan terakhir, karena dia nggak daftar di swasta. Biayanya boookkk…
Jujur saja, dengan pilihan dia sekarangpun, saya masih deg-degan (pake banget) soal biaya kuliahnya nanti.
Berusaha meyakini saja, sesulit apapun jalannya penyertaan Tuhan bakal nyata.  Seperti yang sudah-sudah.

 

Iyaa, bulan-bulan ini memang nggak gampang buat saya.
Banyak perjuangan. Banyak masalah.
Tapi banyak melihat keajaiban juga…..

So…. jalani sajalah terus.

 

 

 

Advertisements

Comments on: "Saatnya bicara masa depan" (6)

  1. anakku msh 3 thn sih, jd blm saatnya ditanya bgini hihihihi ;p.. tp dulu aku pas msh sekolah juga sama bingungnya mba… ortu tipe yg suka maksa kehendak pula… akunya pgn perhotelan, eh dilarang keras, krn papa pikiriannya msh kolot… akhirnya win win solution business management deh… walopun aku ga seneng2 ama di sana, tp ya sudlah… drpd pilihan papa yg bau2nya eksakta semua -__-

  2. Semsem tinggi banget yaaa! #lostfocus

  3. anak saya yang baru berumur empat tahun sering saya tanya kalo besar nanti mau jadi apa?? dia jawab mau jadi pilot biar bisa naik pesawat 🙂
    tapi kemarin saat saya tanya kembali, dia jawab mau jadi dokter, saya tanya apa alasan dia mau jadi dokter? jawabannya adalah karena furqon (nama teman mainnya) mau jadi dokter, hehe 🙂

  4. Si kasep pengen kamana teh..?? sekarang mah yah, jd ortu teh ngga bisa mendikte barudak deui, kamu harus jadi ini atau itu, si cikal keukeuh pengen kuliah di mode design di sakola swasta yang lumayan bikin dompet papanya selalu kempeees.. pdhl kuliah negeri disini mah gratis tah..tp ya minat dan bakatnya kesitu, mau apa lagi, yg penting dia benar2 serius, menyelesaikan kuliahna, kalau bisa dengan hasil yg bagus juga, bukan sekedar menyalurkan hobbyna saja, keun we emak sama bapakna anu lieur mah hehe..

  5. Makin ganteng semsem teh mana tinggi menjulang lagi, pasti udah banyak yang klepek2*ehm ehm* 😀

  6. masa depan? masa lalu aja belom kekar,
    masa lalu biarlah masa lalu #berdendang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: