Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Babeh punya seorang teman. Dulunya dia karyawan di sebuah perusahaan. Setelah bertahun-tahun kerja, akhirnya dia memutuskan untuk memulai usaha sendiri. Hanya bermodal nekat dia membeli beberapa mesin dengan pendanaan dari leasing. Cicilannya lumayan bikin engap, tapi dia bilang gapapa dia kerja mati-matian dua atau tiga tahun, tapi habis itu dia kan bisa lebih santai.

Alkisah, mesin itu akhirnya terlunasi. Tapi dia kemudian malah mikir, kalau tambah beberapa mesin lagi pasti usahanya makin berkembang. Memang akan capek lagi beberapa tahun untuk melunasi cicilan ke leasing, tapi habis itu dia tinggal menikmati hasilnya.
Lalu diapun mulai kerja lebih keras lagi. Menurut ceritanya sendiri sama si babeh, dia sudah di pabrik pagi-pagi. Kadang sampai jam 9 malam baru pulang. Kerja 6 hari seminggu. Tapi hari Minggu juga nggak bisa santai-santai. Harus bikin rencana produksi untuk seminggu ke depan, harus beresin ini lah itulah. Nggak bisa mengandalkan anak buah karena target yang harus dicapai cukup tinggi demi bisa melunasi cicilan leasing.
Keluarga dan anak-anak udah nggak sempat lagi diurusi. Tapi dia bilang ini kan hanya untuk beberapa tahun saja, setelah semua lunas, dia bisa punya waktu lebih banyak buat keluarganya.

 

Saya bilang sama babeh, berani taruhan begitu mesin yang sekarang lunas, dia nggak akan berhenti. Pasti akan tambah lagi, kepingin lebih besar lagi. Dan akhirnya nggak akan pernah ada kata selesai. Nggak akan pernah ada waktu untuk menikmati.
Materi itu kan seperti air laut, makin banyak diminum malah bikin makin haus.

Ambisi untuk mencapai lebih kadang membuat orang jadi lupa bahwa waktunya di dunia ini sebetulnya singkat banget.
Terlalu fokus pada tujuan di depan juga bikin orang lupa menikmati hal-hal yang ada di sepanjang perjalanan.

 

Pernah lihat batu nisan?
Di batu itu biasanya terukir nama seseorang, lalu tahun lahir dan tahun meninggalnya.

images

Perhatikan garis kecil di antara kedua tahun itu.
Itulah tahun-tahun kehidupan seseorang.  Segala ambisi dan mimpi, semua prestasi, keberhasilan maupun kegagalan, perjuangan, kebahagiaan dan kesedihan…. pada saat dia meninggal semua itu menciut dan hanya tinggal menjadi sebuah garis kecil.

Sampai berapa lama seseorang akan diingat setelah dia pergi?
Iya, saya tahu ada orang-orang yang istimewa yang masih terus diingat sampai beberapa generasi setelahnya. Tapi bagi orang-orang kebanyakan, orang-orang biasa kayak saya ini…. mungkin sepuluh atau dua puluh tahun setelah saya pergi, setelah semua yang tahu dan mengenal saya juga tak ada lagi, maka tahun-tahun hidup saya hanya akan tinggal sebuah garis kecil di atas batu nisan yang lama-lama makin memudar dan akhirnya hilang.

Alangkah kecilnya kita.
Alangkah singkatnya keberadaan kita.

Dan waktu yang singkat itu rasanya terlalu berharga jika hanya digunakan untuk mengejar sesuatu yang bahkan tak bisa kita bawa ketika kita mati.

 

Bukan berarti nggak usah kerja keras, nggak usah punya cita-cita besar atau impian jadi horang kayah.
Issssh…… uang memang bukan segalanya, tapi segala hal dalam hidup kan perlu uang. Mau pipis aja sekarang mah perlu uang. Makanya saya juga masih kepingin kok punya gudang uang kayak paman gober.

Yang saya nggak mau adalah kalau untuk mendapatkan itu saya jadi nggak bisa menikmati hal-hal yang semestinya bisa saya nikmati.
Seperti yang pernah saya tuliskan dulu, memiliki dan menikmati itu adalah dua karunia yang berbeda. Kasihan banget orang yang punya segalanya tapi nggak bisa menikmati apa yang dia punya.

 

Balik ke temannya si babeh itu… saya membayangkan, suatu saat ketika kekuatannya mulai habis, ketika akhirnya dia harus berhenti karena mulai digerogoti umur dan penyakit, apa yang bakal dia rasa? Anak istri yang tinggal serumah mungkin sudah menjadi seperti orang asing karena bertahun-tahun dia abaikan. Uang yang didapat dengan harapan bisa diwariskan sampai anak cucu tujuh turunan, bisakah dipakai sebagai sandaran?
Terlalu banyak hal yang terlewatkan dan mungkin ujungnya hanya penyesalan. Nyesek nggak sih?

 

Jadi yang ingin saya bilang adalah, sebesar-besarnya ambisi, setinggi-tingginya cita-cita, sekuat-kuatnya daya upaya kita buat mencapai impian… jangan pernah lupa untuk menikmati apa yang ada di sepanjang perjalanan.
Ada anak-anak yang dalam sekejapan mata saja sudah menjadi besar. Cintai mereka sekarang.
Ada moment-moment yang nggak akan pernah bisa terulang berapapun kita berani membayarnya. Nikmati semua sekarang.
Ada teman-teman dan keluarga yang suatu saat mungkin nggak bisa lagi kita temui betapapun kita inginkan. Perhatikan mereka sekarang.

 

Iya, sekarang…. Karena kita kan nggak pernah tahu sampai kapan batas waktu kita.
Sekarang… sebelum semua terlambat dan kita hanya menjadi sebuah garis kecil di atas batu nisan.

 

Selamat hari Senin, temans….

 

Advertisements

Comments on: "Sebuah garis di batu nisan" (8)

  1. makjleb bgt ini teh novi, terimakasih sudah mengingatkan

  2. Uwoooo ini nampol banget
    Terimakasih sudah mengingatkan cie Novi
    Suka deh sama tulisannya 🙂

  3. berasa ditampar soreq haha

  4. Bener banget ci. Duh aku ga tau mo komen apalagi. Nyesek.

  5. setuju banget!!!
    sayang kalo melewatkan moment2 penting dalam keluarga terutama perkembangan anak ya…

  6. Merinding saya bacanya Teh Novi.. Makasih ya kasih bahan perenungan ini. Maksiih banget..

  7. iya setuju banget…kerjaan itu tidak ada habisnya ya

  8. wow menyentuh tulisannya nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: