Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Hari Sabtu kemarin nggak ada angin nggak ada hujan dan nggak ada pertanda sebelumnya, kulkas di rumah tiba-tiba mati.
Babeh langsung dong mengheningkan cipta beraksi. Bongkar-bongkar, kotak-katik. Tapi ujungnya nggak sukses. Katanya kompresornya yang mati. Sementara ganti kompresor itu nggak murah juga sodara-sodara. Hampir seharga kulkas baru…

Neng Nopi langsung bete. Apa lagi baru saja nyetok makanan. Dari mulai frozen food, bumbu siap tumis sampai buah-buahan. Terus gimana nasibnya semua makanan itu kalo kulkasnya mati.

Dan itu rasanya membuat lengkap semua masalah yang kita alami selama seminggu kemarin.
Babeh berkomentar, kok masalah barang tiba-tiba rusak begini selalu terjadinya pas kita lagi bokek ya.
Ya iyalah, Beh… namanya aja masalah. Kalo lagi punya duit mah jelas bukan masalah atuh. Kulkas rusak ya tinggal beli aja kulkas baru pan beres.

Saya sebetulnya antara pingin marah-marah dan pingin nangis juga sih. Seharian itu kerjaan saya jadi amburadul rasanya. Begini salah begitu salah. Uring-uringan dan yang jadi sasaran siapa lagi kalo bukan krucils. Pokoknya beteeee sebete-betenya…

 

Malamnya pas lagi saat teduh sebelum tidur, tiba-tiba Tuhan mengingatkan saya sesuatu.
Kok gampang banget saya bete hanya karena barang di rumah rusak. Bahkan sempat mikir saya ini orang yang paling apes se RT karena nggak punya kulkas lagi.
Mungkin udah terlalu keenakan selama ini ya. Terus saya jadi lupa bahwa dulu, di awal menikah sampai kira-kira empat tahun kemudian, saya juga nggak punya kulkas. Dan waktu itu nggak ada masalah tuh. Saya bisa belanja harian, nyimpen makanan hanya yang nggak cepat busuk, kalau pingin minuman dingin ya beli es batu di tetangga.
Jadi kenapa saya harus merasa sepertinya dapur saya akan lumpuh hanya karena nggak ada kulkas sekarang ini.
Cengeng banget ya saya. Kelamaan dimanja sama teknologi jadi begini deh….

 

Dan saya kemudian berpikir tentang “meletakkan sumber kebahagiaan kita di tempat yang salah”.
Pada benda-benda, pada kedudukan, pada apa yang sudah kita raih. Akibatnya gampang banget kebahagiaan itu hilang waktu tempat bergantungnya rusak atau hilang.
Padahal katanya bahagia itu adanya di dalam diri kita sendiri.

Jadi ingat kisah di salah satu bukunya Tere Liye. Tentang seorang bapak yang berusaha membuat danau yang airnya sejernih air mata untuk bisa menemukan kebahagiaan sejati.
Awalnya dia membuat sebuah lubang lalu mengalirkan air dari mata air di atas gunung ke lubang itu. Tapi ketika hujan turun, mata air di gunung itu jadi kotor oleh daun-daunan dan akibatnya danau yang dia buat ikutan jadi kotor.
Lalu dia membuat saringan di saluran airnya. Berhasil. Air kolamnya tetap bening meskipun hujan turun. Tapi agaknya danau itu masih terlalu dangkal. Ketika ada orang yang mengaduk dasar kolamnya, air yang tadinya bening langsung berubah jadi keruh. Gagal maning deh.
Akhirnya dia menggali sedalam mungkin, berusaha menemukan batu-batuan di dalam tanah tempat keluarnya mata air. Dia nggak peduli waktu begitu lama yang dia habiskan untuk menggali.
Sampai akhirnya pada kedalaman tertentu dia menemukan mata air yang jernih yang langsung menyembur memenuhi danau buatannya. Dan kali ini dia berhasil karena biarpun ada yang mengaduk dasarnya, airnya hanya keruh sebentar lalu kembali jernih karena mata air di dasarnya yang nggak berhenti memancar.
Si Bapak akhirnya mengerti bahwa itulah hakekatnya kebahagiaan sejati.

“Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan”  (Tere Liye, “Ayahku (bukan) pembohong”)

Pada akhirnya saya anggap kulkas rusak ini adalah cara Tuhan memberi sebuah pelatihan baru buat saya.
Karena yang Tuhan beri pada saya adalah barang-barang untuk digunakan dan orang-orang untuk dicintai. Tapi saya keliru meletakkan keduanya. Saya mencintai barang-barang yang saya punya dan sering malahan menggunakan orang-orang (misalnya untuk melampiaskan rasa kesal)….
*self toyor

Lagi pula kalau mau dihitung-hitung, diantara sekian tumpuk masalah yang ada sekarang ini, masih banyak juga kok hal yang sebetulnya patut saya syukuri dan membuat saya bahagia.

Dan sementara itu, mari kita sekarang buru-buru ngabisin stok makanan sebelum semuanya rusak.
Sambil berharap, babeh dapat berkat lebih buat beli kulkas baru…
Boleh ya, Tuhan yaaaaa…. pliiisssss…..

Advertisements

Comments on: "Meletakkan di tempat yang salah" (23)

  1. sama teh, kulkas ditempat saya juga sering mati….. lampunya tapi, bukan kompresornya. 😀
    berarti bumbu masakan kudu harus segera dimasak dan hasilnya dibagi2 ketetangga tuh teh.. 😀

  2. Duh…kalau udah ada yang rusak2 gitu bikin naik darah hehe

  3. Aih Teh Noviiii.. Dalem banget Teh postingannya. Huks. Jadi ketampartampar karena kemaren bete ama istri karena oh karena koneksi wifi mati. Haiyaaaah. Maluuu saya maluuu. Makasih ya Teh.

    • Btw semoga segera bisa diperbaiki atau dapet rejeki buat beli kulkas baru ya Teh.

    • Upppsss…. maap jadi ikut ketampar. Padahal ini maksudnya lagi menampar diri sendiri loh… 😀
      Amiin deh… semoga rejekinya cepet nyampe di tempat ya…

  4. Moga dimudahkan rejekinya 🙂
    Btw di tempat ibu mertua sempat ndak ada kulkas. Mesin cuci. Bahkan ambil air masi di sumur..masak nasi dan air di tungku kayu bakar 🙂 lama2 biasa
    Lagian hemat listrik hehehe

  5. kadang kita merusak kebahagiaan sendiri dengan hal sepele yaa.. padahal masih banyak yang harus ktia syukuri heheh..semoga ada rejeki buat beli kulkas yang baru ya mba 🙂

  6. dwiliana said:

    Huahahahaaaa….
    Moal nyieun salad atuh lamun kadinya.

  7. Aamiin. Semoga selalu dimampukan jdi orang yg pandai bersyukur ya Ci, sambil teuteeepppp kulkas baruuuu ^_^

  8. Mesti terus bersyukur ya…

  9. […] udah sempet baca postingan mamahnya daniel kemaren. Sudah seharusnya lah ya gue mulai belajar menempatkan ketenangan/kebahagiaan di tempat yang tepat, […]

  10. Sangat setuju. Kadang kita mesti bersyukur pada hal-hal kecil yang kita dapat, karena hal-hal besar dalam hidup tidak mungkin ada tanpa hal-hal yang kecil-kecil seperti ini :).
    Semoga kulkasnya cepat sembuh, atau kalau sakitnya sudah terlalu parah, semoga si kulkas beristirahat dengan tenang dan cepat dapat pengganti.

  11. […] setelah masalah kulkas yang tewas kemarin itu, sebetulnya saya udah ikhlas, udah rela nggak punya kulkas sementara. Apalagi sesudah stok makanan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: