Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Saatnya mengingat mereka

Dulu pernah ada orang yang bilang sama saya, kalau cari suami pilihlah laki-laki yang sayang sama ibunya karena dia pasti akan sayang juga sama istrinya. Karena kalau ada orang yang nggak bisa sayang dan hormat sama ibunya atau ayahnya, mustahil dia bisa sayang dan hormat pada orang lain.

 

Waktu seorang anak lahir, Tuhan memberinya hadiah pertama berupa sepasang orangtua untuk merawat, memberinya kasih sayang dan menolongnya untuk bertumbuh.
Iyaaaa…. saya tahu, banyak juga orangtua yang bersikap tidak sepatutnya pada anaknya. Ada orangtua yang mengabaikan anaknya. Ada orangtua yang melakukan kekerasan fisik pada anaknya. Bahkan ada orangtua yang tega membuang anaknya……..
Tapi karena saya selalu percaya bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan setiap orang adalah dengan suatu maksud tertentu dari Tuhan, maka seperti apapun orangtua, mereka tetap adalah hadiah dari Tuhan untuk seorang anak. Mengenai kenapa beberapa orang tertentu mendapatkan hadiah berupa orangtua yang “tidak baik”, saya tidak mau berkomentar karena saya tidak mengerti apa skenario besar Tuhan di balik itu.

Malah saya jadi bersyukur karena meskipun konon saya lahir dengan mata juling, suka ngacay dan nggak ada cakep-cakepnya sama sekali tapi mama dan papa saya nggak membuang saya atau menukar saya dengan anak lain yang lebih cakep……… toh setelah besar saya jadi cakep juga akhirnya….Β  πŸ˜€ πŸ˜€ Β  *pletaaakkkkk!!!!!
Dan meskipun waktu kecil saya ini bandel, susah diatur, makannya rewel, cengeng, tapi mama dan papa saya tetap menerima saya apa adanya, tetap menganggap saya sebagai anak termanis di dunia……
Itulah yang namanya K – A – S – I – H.
Mengasihi selalu melibatkan penerimaan sepenuhnya.

 

Tapi saya pernah merasakan saat-saat dimana saya sangat nggak puas dengan orangtua saya.
Pernah nggak sih bertanya kenapa kita harus lahir dari orangtua kita sekarang? Kenapa bukan dari keluarga X atau Y atau Z ?
Pernah nggak sih merasa kepingin menukar orangtua kita dengan orangtuanya si A, si B atau si C ?
Saya pernah…. dan nggak tanggung-tanggung, saya kepingin nukerin mama saya dengan Ma Caroline di serial Little House on the Prairie… *kepruk diriΒ  sendiri pake raket nyamuk

Dan saya nggak berpikir bahwa memiliki pikiran seperti itu saja artinya saya sudah kurang ajar banget. Bukan cuma kurang ajar sama orang tua tapi sama Tuhan juga.
Karena yang namanya diberi hadiah, kita kan nggak bisa memilih-milih. Terserah sama yang memberi dong. Protes terhadap pemberian orang juga sama saja artinya minta dicelupin ke ember cucian.
Apa hak kita nawar-nawar pemberian Tuhan, karena dalam keMaha-TahuanNya Tuhan telah memberikan sepasang orangtua yang terbaik untuk setiap anak yang lahir. Mungkin bukan yang terbaik di dunia, tapi pastilah yang terbaik, yang paling cocok, paling sesuai untuk kita…..

Lagi pula mana ada sih orangtua yang sempurna di dunia?
Dulu saya anggap mama saya cerewet banget, panikan nggak puguh, terlalu banyak mengekang.
Sampai saya punya anak dan saya sadar alangkah khawatirnya ketika anak saya terlambat pulang dari sekolah. Alangkah sakitnya ketika melihat anak saya dikecewakan temannya. Alangkah takutnya saya ketika mereka sakit.
Saya baru mengerti bahwa kecerewetan mama dulu lahir dari rasa peduli. Kebawelannya adalah bentuk dari kasih sayangnya.
Dan nyatanya…….. saya jauuuh lebih cerewet dan lebih bawel dari mama saya…. hiks…!Β  *pasang lakban di mulut

 

Setelah saya punya anak, rasanya seluruh pikiran dan perhatian saya tersita oleh mereka sampai saya sering lupa bahwa saya masih punya si mama yang harus saya perhatikan juga.
Mama saya yang terus beranjak tua (tahun ini 73 usianya), dan jujur saja menghadapi orang yang sudah sepuh itu seringkali sama susahnya dengan menghadapi anak-anak. Atau malah lebih susah ya… karena kalo anak-anak kan masih ada takutnya begitu mendengar perubahan suara saya atau melihat mata saya mulai melebar.

 

Tapi menghormati orangtua itu kan adalah sebuah perintah yang nggak bisa ditawar-tawar. Semua agama saya rasa mengajarkan hal yang sama.

Dan seorang anak yang menghormati orangtua nggak akan malas menelepon orangtuanya hanya untuk basa-basi tanya kabar, apalagi merasa bahwa itu cuma buang-buang pulsa. Karena dulu pun orangtua nggak nggak pernah itung-itungan, bahkan selalu menjadikan anak sebagai prioritas dalam hal keuangan.

Seorang anak yang menghormati orangtua nggak akan merasa buang waktu ketika menemani orangtua yang mulai beranjak sepuh untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai. Jalan-jalan, berkebun, nonton TV atau cuma ngobrol ngalor ngidul. Karena orangtua juga dulu selalu menjadikan anak-anak sebagai prioritas dari waktunya.

Seorang anak yang menghormati orangtua nggak akan bosan mendengar cerita orangtua yang suka bolak-balik itu-itu lagi. Apalagi kalau sudah cerita nostalgia jaman anak-anak masih kecil. Rasa hormat akan membuat semua cerita itu berharga. Sama seperti dulu tidak ada satu ceritapun yang keluar dari mulut anaknya, sekonyol apapun itu, yang dianggap nggak penting oleh orangtua.

Seorang anak yang menghormati orangtua nggak akan kehilangan kesabaran ketika mengajari orangtua memakai peralatan elektronik terbaru dan mereka nggak ngerti-ngerti juga. Karena dia akan selalu ingat betapa sabarnya dulu orangtuanya ketika mengajari dia menyuap, berjalan dan naik sepeda pertama kali.

Seorang anak yang menghormati orangtua juga nggak akan menggerutu ketika mendapati orangtuanya masih suka memperlakukannya seperti anak kecil. Karena memang mata orangtua tidak pernah melihat sudah seberapa tinggi dan besar badan anaknya, sudah berapa panjang deretan gelar yang menyertai nama anaknya, sudah berapa tinggi jabatannya dalam pekerjaan, bahkan tidak menghitung seberapa banyak uban yang sudah tumbuh di rambut anaknya. Buat mereka seorang anak tetaplah seorang anak yang harus selalu dinasehati, diingatkan dan ditegur bila perlu…..

*

*

*

Emmmmhhhhhh…… baru sampai sini saya rasanya udah kepingin nyelem di ember……..
Soalnya banyak kali saya nggak bisa melakukan semua hal yang saya sebutin tadi dengan sepenuh hati dan dengan rasa senang.

Tapi saya juga suka ingat bahwa kelak suatu saat saya juga akan berada pada posisi orangtua saya sekarang. Dan kalau melihat track recordnya, ada kemungkinan saya akan jadi nenek tua yang jauh lebih rese dan nyebelin kelak…. 😦
Bagaimana nantinya anak-anak memperlakukan saya, tergantung bagaimana saya sekarang ini memperlakukan orangtua saya. Karena anak-anak itu selalu melihat, merekam dan kemudian mencontoh…….

 

Lagi pula kalau dipikir-pikir, mestinya saya bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menikmati “hadiah pertama” saya sampai saat ini, meski tak lengkap lagi. Kesempatan merawat orangtua di masa tuanya adalah sebuah anugerah. Dan anugerah ini bisa saja diambil dari saya setiap saat. Jadi selagi masih bisa, mending saya nikmati dan saya manfaatkan sebaik-baiknya.
Ada berkat untuk anak-anak yang dititipkan lewat restu orang tua.

 

Dan mumpung lagi edisi valentine nih… kalau biasanya ini adalah momen untuk menunjukkan kasih sayang sama pacar atau suami atau sahabat, kenapa nggak sekali-kali valentinan sama ortu sendiri………….. πŸ™‚

 

Advertisements

Comments on: "Saatnya mengingat mereka" (25)

  1. Akuuuu suka postingan ini. Ci, aku boleh reblog gak?

  2. Filmnya sangat menyentuh.
    Ahhh terima kasih telah mengingatkan siapapun yang berstatus sebagai anak, termasuk diriku.

  3. video itu benar-benar bagus. sering sudah lihatnya tapi masih suka juga… 😦 sedih ingat ortu

  4. Maya rahayu said:

    Seneng liat video ini jd nginget ama nyokap yg skrng sendiri dibdg … πŸ˜‚πŸ˜‚, gw boleh ngeblog materinya vie ?

  5. filmnya menyentuh dan menyentil haha. kekep ortu kuat2 deh takut gak punya waktu nyenengin mereka

  6. setelah jadi parents, baru kita berasa ya gimana cinta orang tua ke anak, termasuk gimana cintanya ortu kita ke kita… yang dulu suka kita take it for granted…

  7. TFS… menyentuh sekali, sayangnya aku sdh gak punya ortu lagi skrng dan dulu masih berasa kurang sekali menyenangkan mereka :((

  8. iya Nov, di mata mereka kita ini masih ‘anak kecil’ melulu. Kadang kita suka nanya nanya pendapat soal sesuatu, waaah itu semangaat banget deh ortu ngejawabnya. Berasa dianggap masih penting kali ya. Bener kata Arman, setelah jadi orang tua, baru deh ngerasa gimana cintanya ortu ke kita.

    • Iya… aku kadang suka kesel kalo diperlakukan kayak anak kecil sama si Mama. Trus lupa kalo aku sendiri ke anak-anak suka tetep nganggap mereka masih kecil, masih belum bisa ini itu, masih belum waktunya…
      *toyor diri sendiri

  9. menyentuh banget tulisan sm videonya *lap air mata* thanks sudah ngingetin mbak πŸ™‚

  10. Ma Caroline itu emang lembut bgt ya..kalau pingin punya ibu kyk Ma Caroline trus Teteh jd siapanya? Hehe.. Iya bener bgt nih postingan ini..harus lbh memperhatikan ortu walaupun kdg level kesabaran aku naik turun ya..hehe.. Kdg aku merasa krn dulu Mama ku kerja dan di rumah sama mbak jd bercita cita nggak akan bgitu ke anak.. Tp cerita jd lain krn ternyata aku kerja n anak sm mama ku. Jd malu sendiri krn dulu aku kekeh sumekeh nggak akan bgitu n ternyata malah kerja mulu.. Maap out of topic nampaknya hehehe.
    Terima kasih ya mbak diingetin mulu nih mulai dr anak sampai ke ortu.. Besok edisi “pasangan” nampaknya πŸ˜€

    • Mmmmm….. jadi siapa ya? Kayaknya nggak ada satupun tokoh di Little House yang cocok sama aku. Pasti itulah sebabnya aku nggak dapat Ma Caroline sebagai ibuku, soalnya dia cuma cocok jadi ibunya Laura, Mary, Carrie dan Grace… Dan aku cuma cocok punya ibu kayak mamaku πŸ˜€

      Ini maksudnya rikwes edisi pasangan gitu… πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

  11. saya jauuuh lebih cerewet dan lebih bawel dari mama saya …
    Hahaha … no comments …

    Tetapi yang jelas … Cinta Orang Tua itu memang tiada duanya … dan tak akan bisa balas

    salam saya

    (14/2 : 4)

  12. teh Nopiiiii…! Aku nangiiisss…. inget ibuku di banjarnegara sana, huhuhuhu…
    beliau juga udah 70 tahun, udah mulai susah jalan jauh, dan kami masih itung2an kalo mau mudik nengok beliau kesana. Ya jauh, ya bensin, ya oleh2… ya… ya gitu deeehhh… 😦
    Iyaaa, bener banget yang teh Novi bilang. Dari sekarang bener2 musti hati2 memperlakukan anak2 ya, jangan sampeeeee saat mereka besar dan kita udah tua nanti, mereka menganggap kita beban. Thanks sudah mengingatkan ya, Teh. Ini jurnalnya TOP banget, deh….

    • Iya beneeerrr…. karena aku percaya apa yang ditabur orang itu yang nanti dia tuai. Kalo sekarang nggak sayang sama ortu, jangan berharap nanti pas tua kita disayang anak-anak…
      Berpelukan yuk! Aku juga soalnya suka sedih kalo inget ortu… hiks…hiks…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: