Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

One Step Forward (bag 2)

 

“Mujizat tidak pernah datang dua kali dengan cara yang sama”

Entah kenapa buat saya ujian itu bolak-balik selalu berhubungan dengan keuangan. Apa mungkin karena saya ini orang yang terlalu banyak kuatirnya ya?

 

Beberapa tahun terakhir babeh punya mimpi untuk meluaskan usahanya ke bidang lain. Meskipun masih ada kaitannya dengan pekerjaan yang sekarang, tapi namanya bidang baru tetap saja kan perlu banyak perjuangan. Berasa kayak merintis lagi dari awal.
Meskipun secara hitung-hitungan nantinya usaha baru ini bakal lebih menjanjikan, tapi tetap saja saya adalah orang yang selalu berhitung dalam hal apa saja. Sementara babeh kalau sudah punya kemauan keras kepalanya bukan main. Soal hasil ya terserah nanti. Kalau berhasil sukur, nggak berhasil ya kudu dibuat supaya jadi berhasil. Keukeuh peuteukeuh….

Masalahnya modal awal dapat dari mana? Mesin baru yang harus dibeli untuk usaha itu harganya bikin saya pingin nelen celengan ayam….
Tuh kan duit lagi ujung-ujungnya…….

Tapi kan saya ini selain manis, pintar, ramah dan suka menabung juga adalah istri yang selalu sayang dan mendukung suami….. *kibasin poni
Jadi meskipun dalam hati bilang nggak mungkin, saya berusaha keras untuk nggak memadamkan impian babeh begitu saja.
Doakan aja dulu, Beh…. kalau memang kehendak Tuhan, pasti dibukakan jalannya….
Tuh kan rohani bener kan saya….. *dikepruk

 

Pertengahan tahun kemarin, ada orang menawarkan satu kerjaan besar. Kalo ngeliat itungan angkanya dan keuntungan yang bisa didapat, ngiler deh saya. Tapi dengan syarat kalau kerjaan itu bisa kita kerjakan sendiri. Kalau disub-kan lagi sama pihak lain ya kita nggak dapat banyak cuma capek doang.
Untuk bisa ngerjain sendiri kita perlu beberapa peralatan dan mesin tambahan di bengkel tentunya. Persis seperti yang lagi diinginkan babeh.
Kalkulator di kepala saya otomatis bekerja. Dan hasilnya saya bilang ke babeh, keuntungan yang didapat nantinya nggak cukup buat nutupin beli mesin dan peralatan baru. Jadi kita mesti nombok dari kantong sendiri. Dengan kata lain nantinya keuntungan kita ya cuma mesin dan peralatan baru, nggak ada duit lebihnya…. malah harus nombok.

Babeh dengan cara pikirnya yang buat saya “ajaib” malah bilang, “Itu kan berarti keuntungan juga. Malah itu berarti impian kita (kita? situ aja kali, Beeehhhh…) untuk memulai usaha baru itu juga bisa sekalian terwujud. Kan katanya nggak ada modal buat beli mesinnya… Nah ini sekarang udah langsung dapat modal plus proyek pertamanya. Bagus kan?”
Duh…. kenapa saya nggak bisa melihat bagusnya di mana ya? Memikirkan harus menguras tabungan untuk nombok itu lho yang berat…. Gimana kalau ada kebutuhan mendadak nanti? Gimana kalo ternyata kelak usaha baru ini nggak berjalan seperti yang diharapkan?
Terus itu kan baru biaya untuk mesin dan peralatan baru. Kita juga harus memperluas bengkel supaya bisa kerja lebih leluasa, trus harus nambahin listrik di rumah juga karena mesin baru itu nantinya perlu 3 phase. Baru ngebayangin aja saya udah langsung merasa bokek……….

Tapi babeh bilang kalo nggak diambil sekarang, kapan lagi dapat kesempatan sebagus ini? Orang yang mau kasih kerjaan itu mau kasih pembayaran lunas di muka karena percaya sama babeh. Apa ini bukan jalan Tuhan namanya?

 

Saya doa puasa cukup lama untuk hal satu ini. Berusaha menyakinkan hati bahwa ini memang kehendak Tuhan dan bukan cuma maunya saya dan babeh.

Tidak seperti waktu proses pembelian rumah yang rasanya semua berjalan mulus, kali ini pengambilan keputusan diwarnai oleh banyak masalah sampingan lain. Yang sakit bergantian serumah sehingga waktu dan tenaga habis buat ngurusin dan mikirin ini, yang beli barang malah ditipu orang, yang kerjaan gagal, yang nego nggak gol-gol. Pokoknya semrawut semua urusan. Sampe babeh esmosi melulu di rumah. Dan saya setengah mati berusaha menahan diri antara sebel dan nggak mau anak-anak sampe ikut stress.

Hampir saja akhirnya kami batalkan untuk mengambil proyek itu. Kok ini nggak kayak dulu yang semuanya lancar jaya sentosa. Apa ini bukan kehendak Tuhan?
Tapi lagi-lagi saya diingatkan tentang ilustrasi pintu otomatis itu.
Kelihatannya jalan memang tertutup. Tapi mungkin saja itu karena kami belum mulai melangkah. Cuma berandai-andai, cuma takut ini itu, kuatir begini begitu. Mungkin kalau sudah dijalani nggak akan sesulit yang dibayangkan.

 

Oke, mantapkan hati dan mulai melangkah.
Pertama bilang yes sama yang mau ngasih proyek.
Habis itu mulai cari-cari mesin yang ternyata nggak gampang juga karena terbatasnya dana yang ada. Harga di Bandung jauh sekali di atas budget kami. Mau beli mesin bekas, takut bermasalah. Maklum babeh belum berpengalaman di mesin. Beda sama komponen elektronik yang dia bisa tau mana yang bagus dan mana yang kw hanya dengan sekali lihat.
Tapi waktu babeh nyaris menyerah kok tiba-tiba dari sebuah kalender bisa nemu satu importir mesin di Jakarta. Dari kalender, bayangin…. Padahal kita udah googling sampe mata jereng. Udah bolak-balik buka yellow pages sampe lecek. Telepon sana sini sampe panas kuping. Ternyata ketemunya cuma dari kalender di kantor orang……
Dan singkatnya kami akhirnya dapat mesin yang dicari dengan harga memuaskan.

Setelah itu benang kusut mulai terurai satu-satu. Ajaibnya semua bisa serba pas waktunya.
Urusan dengan PLN yang semula kami kira akan ribet juga ternyata gampang saja waktu sudah dijalani. PLN kan lagi giat mengkampanyekan PLN Bersih, jadi semua urusan listrik ini nggak ada lagi duit sana duit sini. Pembayaran saja bisa lewat ATM dan semua sesuai dengan yang tercantum di tabel harga. Untuk petugas lapangan kami cuma nyuguhin kopi doang, nggak harus kasih uang tip lagi.

Beberapa kerjaan lain juga mulai berdatangan sehingga saya sedikit tenang, paling nggak habis selesai proyek ini tabungan kami masih tersisa sedikit lah…. Memang ya, mau bagaimana juga ketenangan batin itu erat kaitannya sama saldo di rekening…. hihihiii…. *ditimpuk angpaw segepok

 

Meskipun sampai sekarang banyak urusan yang masih dalam proses, meskipun jalannya masih panjang sebelum bisa menarik nafas lega, tapi dalam waktu tiga hari belakangan ini saya sampai terheran-heran sendiri melihat pertolongan Tuhan. Dan cuma bisa ngomong dalam hati, kok bisa ya? kok bisa ya? kok pas bener ya?
Tuhan memang nggak pernah setengah-setengah kalau sudah bekerja.

 

Berharap langkah yang kami ambil tahun ini akan membawa perubahan yang lebih baik untuk hidup ke depan. Mohon doanya aja yaaa….
Maklum deh…. biaya hidup makin lama makin bikin kening berkerut. Anak-anak makin gede, biaya juga makin gede terutama biaya sekolah. Untunglah Tuhan cuma kasih saya anak tiga dan bukan lima seperti mau saya dulu…. Apaaahhhh? Limaaa? Iyaaaaa…. itu kan dulu sebelum saya tahu repotnya ngurus anak… hihihi…

 

Paling tidak saya sekarang makin yakin, rasa kuatir tidak akan membawa kita kemana-mana. Melangkah saja dulu. Jika langkah kita itu tulus dan diniatkan untuk hal yang baik, berkat Tuhan pasti menghampiri.
Masalah pintu mana yang akan dibuka, dan bagaimana cara membukanya, itu serahkan saja sama Dia. Percayalah Dia nggak pernah keliru. Bahkan sampai waktunya pun sudah Dia perhitungkan. Nggak pernah terlalu cepat tapi nggak pernah sampai terlambat.
Yang harus kita lakukan hanya melangkah dengan iman. Lakukan bagian kita, dan tunggu Tuhan melakukan bagianNya

 

God bless you, temans………..

 

Advertisements

Comments on: "One Step Forward (bag 2)" (18)

  1. Semua indah pada waktunya..

  2. Ah jadi terharu biru begini bacanya…
    Mudah2an sukses, lancar … majeng teras usahana nya teh…
    Tulisan teh Novi bikin semangat yg baca teh.. waaah motivator saingan MT niih teh Novi hehe

  3. tulisan kayak gini nih bikin semangat hehe

  4. bener2 Tuhan maha baik ya… semua jalan yang keliatan gak mungkin bisa jadi mungkin… 🙂

  5. Ngakak dulu.. Memang ya, mau bagaimana juga ketenangan batin itu erat kaitannya sama saldo di rekening…. hihihiii…. Jadi inget betapa nenek sihirnya aku di bulan September yang bokek full hahahahahaha
    Novi aku seneeen banget baca ini dini hari begini. Ini aja kali ya Saat Teduhku *ihik*
    Yg dari kalender itu aku merinding bgt. Bener ya, kalo Tuhan yang mau kasih, Dia kasih lewat jalan yang bikin kita mikir “emang bukan dari kuat gagahmuuu, hai manusiaaaa, itu belas kasihanKU semataaaa”
    Nov thesisku selesai kerjaanmu selesai ketemuanlah kitaaaaa . Dan niatnya beranak 5 ya, sebelum tau repotnya ngurusnya? hahahaha SAMA!

    • Haruuuuussss….
      Mudah-mudahan Desember ya. Januari aku udah ditunggu kerjaan baru. Diambil dengan nekat demi ketenangan batin itu tadi…. hahahahaaaa…

      Iya tuh, dulu dengan pede pingin punya anak 5. Kan aku suka banget sama anak-anak dari dulu. Tapi ngurus anak sendiri ternyata 3 aja aku udah mabooookkk…..

  6. Finally! thank you for share ya ci. All the best! GBU!!!

    Sungguh suatu bahan perenungan yang baik.

  7. Selalu kagum dan salut dengan para pebisnis yang selalu berani mengambil resiko
    Kereenn!!

    Yang kalender itu pasti bukan suatu kebetulan. Memang jalan yang dikasih bisa dari mana aja ya Teh
    Sukses sama projectnya yaaa 😀

  8. tehnovi, semua ada jalannya kalu kita niat sih ya.. selalu semangat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: