Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Bukan dari ladang tetangga

Tadi pagi saya beli roti di penjual roti keliling langganan. Si mbak penjual bilang harga rotinya mulai hari ini dinaikkan, dan saya otomatis bilang, “Yaaah, udah harganya lebih mahal dari roti lain masih dinaikkan lagi.”
Eh, dibilang begitu si mbak penjual malah terus jadi curhat, “Yang naik cuma harga rotinya, Neng. Kalo gaji karyawannya mah nggak ikutan naik.”
Saya senyum aja.
“Sejak toko roti ini berganti pemilik, saya jadi nggak betah. Peraturannya makin banyak. Salah dikit dimarahin di depan karyawan lain. Tapi kesejahteraan karyawan nggak diperhatikan.”
Saya senyum lagi. Rasanya sudah nggak aneh keluhan begini keluar dari mulut seorang pekerja.
“Target bulanan juga makin naik. Kalau nggak tercapai berarti hilang bonusnya. Padahal dengan harga dinaikkan begini saya makin susah buat ngejual. Pusing saya tiap hari, Neng.”
“Kenapa nggak keluar saja kalo begitu?” tanya saya akhirnya, “Cari kerja lain yang lebih enak.”
“Kerja dimanaaa? Si Eneng kayak nggak tau aja cari kerja sekarang susahnya kayak apa.”
“Nah, berarti mbak termasuk beruntung dong bisa kerja di toko roti yang terkenal kayak sekarang ini.”
Si Mbak diem sebentar sambil membungkus roti pilihan saya.
“Yaaa… pingin aja kayak orang lain gitu, Neng. Punya bos yang baik, gajinya gede, kalo hari Minggu dapat libur, ada bonus ini bonus itu.”
“Cari dong perusahaan yang kayak begitu terus cobain ngelamar.”
“Ah, kalo ada yang mau terima mah udah dari dulu kali saya cabut, Neng.”
“Kenapa nggak coba usaha sendiri?”
“Modalnya dari mana? Lagian saya mah nggak punya keahlian, Neng.”
“Susah dong kalo gitu ya, Mbak….”
Dan saya pun buru-buru pamit dengan alasan masih harus belanja yang lain lagi. Padahal aslinya pusing aja kelamaan dengerin orang cuma muter-muter dengan masalah yang seperti nggak ada jalan keluarnya.

 

Sering banget saya jumpai orang model si mbak tukang roti ini. Terjebak dalam pekerjaan yang tidak disukai, tidak berani untuk meninggalkan dengan berbagai alasan, tapi juga tidak berusaha untuk belajar menyukai atau sebaliknya membuat perusahaan tempat kerja menyukainya.
Jadilah tiap hari dia cuma bekerja dengan setengah hati, sibuk mengasihani diri sambil melihat-lihat orang lain yang rasanya jauh lebih beruntung.
Kira-kira dimana orang seperti ini akan berakhir?
Lima atau sepuluh tahun lagi akan jadi apa dia?

 

Saya selalu meyakini bahwa berkat untuk seseorang itu datang dari ladangnya sendiri, bukan dari ladang milik orang lain yang biasanya akan kelihatan lebih bagus dan lebih menjanjikan.
Setiap orang sudah dapat pembagian lahan dari “Yang Punya Hidup”. Ada yang besar ada yang kecil, semua sudah diukur sesuai dengan kesanggupan masing-masing untuk mengolah.
Yang harus dilakukan masing-masing adalah mengusahakan supaya lahan bagiannya bisa memberi hasil yang maksimal. Dan itu tidak akan didapat hanya dengan komplain tiap saat.

Pekerjaan apa yang sedang Tuhan percayakan pada kita sekarang, itulah ladang kita. Jangan buru-buru berkecil hati kalau merasa pekerjaan kita nggak menjanjikan apa-apa untuk masa depan.
Kadang-kadang butuh waktu lama sebelum benih yang kita tanam bertumbuh dan akhirnya bisa dipanen. Selama benih itu belum tumbuh, kita nggak boleh berhenti berharap, nggak boleh berhenti mengusahakan segala yang terbaik. Dikasih pupuk paling baik, disiram, dijauhkan dari hama. Dan semua itu perlu ketekunan.

Seandainya si mbak penjual roti mau mengubah nasibnya, seharusnya dia lebih dulu mengubah cara berpikirnya. Biarpun cuma penjual roti, kenapa tidak berusaha menjadi penjual roti terbaik yang dimiliki perusahaan. Kerja lebih rajin, jangan telat melulu kalo datang ke kantor, melayani pembeli dengan lebih ramah, jangan kebanyakan mengeluh dan menjelek-jelekkan bos apalagi sama pembeli. Saya yakin akan ada saatnya si bos melihat, menghargai dan akhirnya mungkin memberi dia kepercayaan lebih.

Pernah dengar cendol Elizabeth?
Berapa banyak tukang cendol yang jualan di Bandung? Tapi kenapa yang terkenal cuma cendol Elizabeth?
Konon pemiliknya dulu cuma penjual cendol biasa di emperan toko tas Elizabeth. Mungkin banyak yang memandang sebelah mata. Tapi si bapak cendol ini nggak berhenti berusaha. Sampai akhirnya sekarang, semua tukang cendol di Bandung akan memasang nama “Elizabeth” di roda jualannya. Kadang ditambahin pula dengan “asli” demi meyakinkan calon pembeli. Padahal cendolnya entahΒ  buatan siapa.
Seandainya dulu si bapak cendol merasa minder karena cuma jualan cendol, atau merasa jualan cendol nggak ada masa depannya, mungkin dia nggak akan jadi terkenal kayak sekarang yang produksi cendolnya sampai berjolang-jolang sehari.

 

Intinya adalah, just do the best… apapun itu yang sedang kita kerjakan sekarang, and let God do the rest..

 

 

Advertisements

Comments on: "Bukan dari ladang tetangga" (30)

  1. Sapatuuuuu sama kalimat2 terakhir eeehh sepakat dan setujuu maksudnya πŸ˜€

    Kalau di Islam mah, ikhtiar sareng tawakal, hatur nuhuun teh buat postingannya … Jempol ala efbe πŸ™‚

  2. sedikit banyak ketampar nehhh…. saya mulai nggak puas ama management tapi belum action apapun untuk menolong diri.saya. dan ini terasa makin desperate aja.

  3. Iya mbak, banyak ngeluh pasrah sama nasib seakan akan hidupnya gak ada solusi, dari percakapan diatas klihatan sekali jawaban-jawabannya menunjukan rasa pesimis. saya pernah bekerja di tempat yang saya juga tidak nyaman, tapi saya jalani aja, ujungnya saya diterima di tempat yang baru karena pegalaman kerja ditempat lama. πŸ™‚

  4. Ci, nyatanya memang banyak orang yang terpaksa bertahan seperti penjual roti itu. Masalahnya sama, kerja sudah maksimal berupaya memuaskan majikan, tapi dianggap belum memenuhi standar kualitas yang diinginkan. Akibatnya kena tekanan stress. Di rumah saya ada tuh orangnya. Cuma kita mau ke mana lagi nyari kerja zaman sekarang ini kalau umur sudah di atas tiga puluh lima tahun???

    *maaf jadi numpang curhat sekalian*

    • Justru karena cari kerja susah makanya pekerjaan yang ada sekarang harus disyukuri dan dimaksimalkan. Saya sih selalu yakin masa menuai akan datang kalau kitanya rajin menabur. Dulu pernah ngalamin sendiri soalnya, Bund.

      Emang siapa yang lagi setres sama kerjaan di rumah Bunda? Mudah-mudahan bukan si Mas…

  5. Yoiiiiiii, top deh tulisannya.
    Banyak jalan menuju ke Roma, tetap usaha dan gak usah mengeluh. Capek deh ndengerin orang yang mengeluh terus dan gak ada usaha. Ntar takdir pula yang disalahin.

    • Nah itu, Mbak… kalo mengeluh terus mana bisa kerja bener. Kalo nggak kerja bener mana bisa dapat perbaikan nasib. Muter aja kayak lingkaran setan, dan ujungnya nanti orang begini bakal nyalahin Tuhan…. Duuuhhh….!

      Btw, seneng deh baca lagi komennya Mbak Evi…
      Apa kabar nduluth? Lagi musim apa?

      • Lagi musim duren πŸ˜›

        Sedang dingin parah. Beberapa hari dalam minggu2 terakhir ini suhunya rata2 -20 C (minus 20 C).
        Dinikmati saja, memang tinggal di negara dingin, ya dapet salju. Hidup kan ada keseimbangan. Alamnya juga menyesuaikan, manusianya juga menyesuaikan.
        Ketimbang mengeluh, cepet tua.

  6. BBM belum naik harga2 sudah merangkak naik 😦

    • Bikin mumet emek-emak yang harus ngatur duit belanja tiap hari ya?
      Tapi jangan terlalu kuatir, berkat dari Yang Di Atas juga naik terus kok, Mbak…

  7. Setujuuuuuuu….dengan mu Nov πŸ™‚
    perenungan yang keren abis πŸ™‚

    Aku termasuk mahluk yang beruntung karena mutusin untuk keluar kerja dan jadi emak emak rumahan dan akhirnya bisa punya banyak waktu buat ngerjain banyak hal yang disuka…nge blog dan nyandu drama korea…hihihi…

    Konsekuensi nya yah gitu deh, yang tadinya 2 penghasilan jadi berkurang…
    Tapi kalo kita banyak bersyukur dan gak melulu mikirin apa aja yang kurang InsyaAllah kita bisa maju kok πŸ™‚

    • Saya juga SaHM. Dulu memutuskan berhenti kerja karena alasan yang sama kayak Mbak Erry. Ada banyak kehilangan sih dengan tidak bekerja lagi.
      Tapi bersyukur aja, dan berusaha menjalani apa yang sudah saya pilih dengan bahagia. Ladang saya sekarang ya anak-anak. Menabur segala yang terbaik demi melihat nantinya mereka jadi anak-anak yang “jempol”……

    • waaaa, komentarnya keren sekali, saya suka.. πŸ™‚

  8. Aih rame ya disini…. Tulisannya bagus banget deh ceu….

  9. Halo mba, salam kenal. Selama ini silent reader dan selalu suka tulisan-tulisan mba novi.

  10. jadi pengen nyobain cendol elizabeth..
    itu bedanya orang yang optimis dan pesimis..
    terus semangat ya..

  11. kalau gak mau merubah nasib, apa alasan dia mengeluh?
    harusnya daripada mengeluhkan keadaan, lebih baik dia mengeluhkan dirinya sendiri, orang situasi yang gak enak itu adalah pilihannya.. grrr…

  12. pingkanrizkiarto said:

    Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, tetapi hidup penuh bersyukur itulah yang membuat kita bahagia… satujuuu ? :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: