Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Tangan-tangan Ibuku

DSC00041

Waktu kecil saya sangat suka nonton serial TV “Little house on the prairie”, dan salah satu favorit saya tentu saja adalah Ma Caroline yang selalu tampil sebagai seorang ibu ideal, penuh kasih, lembut, bijaksana, cantik pula.
Secara nggak sadar saya suka membandingkan mama saya sendiri dengan Ma Caroline. Sebagai seorang anak saat itu, sudah pasti saya punya banyak ketidak-puasan pada Mama saya, lalu saya jadi berangan-angan seandainya saya punya seorang mama yang sempurna seperti Ma Caroline.

Mama saya memang bukan tipe seorang ibu yang banyak mengumbar kata-kata sayang, pelukan atau pujian. Saya jarang bisa berbicara dari hati ke hati atau curhat pada mama seperti umumnya seorang anak perempuan dan ibunya. Bukan berarti hubungan kami tidak dekat, tapi untuk banyak hal yang bersifat pribadi saya lebih suka menyimpannya sendiri karena saya selalu takut mama akan menanggapi secara salah kalau saya bercerita. Mungkin karena kedua anaknya perempuan ditambah sifatnya sendiri yang suka panikan, jadi mama cenderung galak dan cerewet mengawasi pergaulan kami.

Tahun berjalan dan akhirnya saya juga menjadi seorang ibu.
Jauh sebelum anak pertama saya lahir, saya mencoba mempersiapkan diri dengan banyak membaca buku-buku tentang parenting. Berharap saya bisa jadi seorang ibu yang sempurna buat anak-anak saya nantinya.
Tapi kemudian ketika anak-anak mulai bertumbuh, saya menyadari bahwa menjadi seorang ibu tidak dapat dilakukan dengan membaca buku dan menghapal teori-teori tentang pengasuhan anak saja. Menjadi seorang ibu adalah masalah “hati”.
Dan saya kembali mengingat mama saya. Harus diakui bahwa dengan semua “pengetahuan” saya, ternyata saya belum memiliki separuh saja dari dedikasi, pelayanan dan pengorbanan yang diberikan mama pada anak-anaknya.

Setiap ibu punya caranya sendiri dalam menunjukkan kasih sayang. Saya jadi lebih bisa memahami mama saya ketika saya menempatkan diri saya sendiri sebagai seorang ibu. Mungkin saja anak-anak juga saat ini punya banyak ketidakpuasan pada saya, tapi saya tahu mereka menyayangi saya sama seperti saya selalu menyayangi mama dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Beberapa hari ini kebetulan Mama sedang berada di rumah saya. Ketika saya memperhatikannya menemani anak-anak saya bermain atau membantu mereka melakukan ini dan itu, saya menyadari bahwa ‘keibuan’ Mama belum berkurang sedikitpun. Dalam usia senja saat tak banyak lagi yang perlu dilakukan untuk anak-anaknya, sekarang perhatian dan pelayanan Mama ditujukan sepenuhnya untuk anak-anak saya, cucu-cucunya.

Melihat tangan-tangan keriputnya saat menyuapi Daniel makan, saya menyadari tangan-tangan itulah yang dulu juga menyuapi saya, memandikan saya,  mengajari saya menulis, menguncir rambut saya, menuntun saya sampai saya bisa jadi seperti saya sekarang ini.
Dan saya jadi teringat status seorang teman beberapa waktu yang lalu :  

Bisakah kita dengan rela menuntun ibu kita di langkah-langkah terakhirnya,

sama seperti kesabarannya menuntun kita di langkah-langkah awal kita….

Selamat hari Ibu……

I love you, Mom……. selalu dan selamanya….

 

Advertisements

Comments on: "Tangan-tangan Ibuku" (20)

  1. Di sini saya akan jadi orang pertama yang menyampaikan doa semoga cikpie jadi ibu yang membahagiakan anak-anak karena selalu penuh cinta kasih dan sabar menghadapi kerewelan mereka.

    Selamat hari ibu cik, salam ya untuk mama.

    *salaman sambil pelukan*

  2. selamat hari ibu ^____^
    moga bunda novi jau lebih ulet dan telaten juga lebih bisa mengungkapkan rasa sayangnya pada adik2ku yg laen ^______^

  3. ih suka deh katakata temennya itu.. semoga daku bisa menemani mama daku dilangkahlangkah akhirnya ya.. seperti mama daku nemenin daku dilangkah awal..

  4. selamat hari ibu..

  5. Oh jadi inget ibuku. Salam hormat untuk ibunya mbak Novi ya.

  6. Dhani & Helen Prakoso said:

    You are a great mom too Mbak 🙂

  7. pingkanrizkiarto said:

    Bisakah kita dengan rela menuntun ibu kita di langkah-langkah terakhirnya,

    sama seperti kesabarannya menuntun kita di langkah-langkah awal kita….

    Selamat hari Ibu……

    sukaaaa banget….

    makasih Nop, postingan bagus… aku sendiri juga baru bisa merasa ‘akrab’ dengan ibuku setelah aku sendiri menjadi ibu…

    • Saya jadi ingat anak saya, saya sudah mendapatkan kasih sayang murni dan tulus dari mereka. Terima kasih Tuhan, alhamdulillah, hidup ini hanya terasa indah saja sih bagi saya………

    • Iya, Bu Ping….sekarang jadi tahu rasanya kalo udah cape masak trus gak ada yang makan, tahu rasanya cemas nungguin anak pulang telat, tau rasanya was-was kalau anak keasyikan berinternet…..
      Dan aku ternyata lebih bawel dari mamaku……. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: