Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Topeng

Orang bijak bilang “Don’t judge the book by its cover”.
Jangan buru-buru menilai sesuatu itu baik atau buruk, karena apa yang terlihat oleh mata belum tentu mencerminkan isi yang sebenarnya.

Tapi saya lagi nggak kepingin mereview buku sekarang. Cuma sedang berpikir tentang topeng-topeng yang secara sadar ataupun tidak sering dipakai untuk menutupi keadaan diri yang sebenarnya. Pencitraan, kalau istilah kerennya mah.

Nggak usahlah kita bicara tentang para politikus yang sudah jelas mengutamakan pencitraan di atas segalanya. Apalagi menjelang pilkada begini…
Tapi coba perhatikan sekeliling, sadar nggak kalau ada banyak topeng di sekitar kita. Malah mungkin kita sendiri juga sebetulnya sedang memakai topeng. Terutama ketika berhadapan dengan orang-orang tertentu atau kepentingan tertentu.

Seorang cowok yang sedang pedekate, akan berusaha tampil sebagai seorang prince charming di depan pujaan hatinya. Biarpun aslinya dia jorok, suka kentut sembarangan, tidurnya ngorok, rakus, sudah jelas semua itu akan ditutupi demi tercapainya sebuah tujuan mulia, menjerat hati sang putri.

Seorang karyawan akan berusaha tampil serajin dan sebaik mungkin di depan bos-nya. Tujuannya apalagi kalau bukan kenaikan pangkat, kenaikan gaji, dan kalo bos punya anak yang masih jomblo sukur-sukur bisa diangkat jadi menantu.
Tapi coba begitu bos keluar kantor…… apa yang terlihat di layar komputernya? Apa yang dilakukannya dalam ruang kerja yang tertutup?
(Iya deh… ngaku… saya juga dulu begitu waktu masih jadi karyawan…. 😀 )

Seorang tokoh masyarakat atau publik figur, di depan umum akan selalu berusaha menjaga tingkahnya, ucapannya supaya bisa disebut sebagai panutan. Tapi siapa yang tahu apa sebenarnya yang ada dalam kepalanya.

Kita bahkan nggak pernah tahu, ketika kita curhat dengan seorang yang kita anggap sahabat, apakah empati yang terlihat di wajahnya atau kata-kata hiburannya adalah yang sesungguhnya dan bukan topeng. Yakinkah kita di belakang kita dia tidak akan bersikap sebaliknya?

Di dunia maya apalagi. Namanya saja dunia maya, sering kali yang ditampilkan berlawanan dengan kondisi yang sebenarnya. Makanya saya pernah protes berat ketika ada seorang teman berkata dia bisa menilai karakter sesorang dari status-statusnya di FB.
Haaaa? Yakiiin? Yakin kalo statusnya penuh kata-kata bijak berarti orangnya juga bijaksana? Yakin itu bukannya topeng juga?
Jangan heran kalau banyak yang jadi korban penipuan di dunia maya…. sebab di sana topengnya jauh lebih tebal, bisa jadi berlapis-lapis malah.

Topeng…. topeng…. topeng dimana-mana….

Kenapa?
Mungkin karena “kesempurnaan” dituntut dimana-mana. Pemimpin sempurna, karyawan sempurna, suami atau istri yang sempurna, menantu yang sempurna, teman yang sempurna, idola yang sempurna…..
Maka terciptalah topeng-topeng “kesempurnaan” dan kita merasa nyaman di baliknya karena bopeng kita nggak kelihatan.

Wajah asli di balik topeng biasanya baru nampak ketika sedang sendirian. Ketika tidak ada orang yang melihat. Atau bisa juga terlepas tanpa sengaja sebagai reaksi spontan ketika ada masalah.

Nggak merasa pake topeng?
Merasa selalu tampil apa adanya dan jujur?
Yakiiiiin??
Jujur sejujur-jujurnya?

Bagaimana dengan pikiran-pikiran liar yang kadang mampir di kepala kita? Apa kita dengan senang hati membiarkan orang terdekat mengetahuinya? Atau kita pake topeng wajah innocent buat menyembunyikannya?

Saya tidak sedang menilai benar atau salah. Cuma mengajak bercermin, topeng apa yang sedang kita pakai sekarang.

Apa yang ada di balik topeng itu…. cuma kita sendiri dan Tuhan yang tahu….

Ctt : Gambar ambil dari google

 

 

 

Advertisements

Comments on: "Topeng" (22)

  1. Betuuul… di dunia maya mah segala bisa terjadi.. Lha orang bisa menciptakan berbagai karakter, tokoh sesuai yg dia inginkan, apalagi yg ndak jelas hehehe
    Saya pake topeng apa hari ini? Saya yg belum mandi… Blm beres2… Eh ini topeng horeaaaaam hehehehe……
    Tapi ada foto yg pakai topeng lhooo *ngga nanyaaaa…!!!* 😀

  2. Topeng nggak hanya ada di dunia maya aja ‘kan? Di dunia nyata juga banyak kok. Apalagi menjelang Pilkada gini. Makanya, kayaknya pas Pilkada mah saya mau milih duo dari Garut aja ah, yang menurut saya nggak pake topeng atau pun kalau saya salah menilai, topengnya nggak nutupin muka mereka ketebelan. :-}

    • Lha yang saya ceritain itu memang topeng di dunia nyata kok, Bund.

      Iya tuh… mau Pilkada saya sempet eneg berat liat poster segede-gede gaban bertebaran, nampangin wajah penuh senyum yang kayaknya pedulian banget sama rakyat…. Topeeeeeeeng pisan!
      Mendingan nonton topeng monyet, lucu.

      Golput, aaaahhhh!!!!

      • Aih please deh, jangan gitu dong. Pilih yang dari Garut ya, soalnya kang T kan dari zaman baheula nggak pernah masang topeng, daripada nanti kursinya kerebut nu teu pararuguh. Ujug-ujug ustadz potokopi kapilih, sangsara di urangna euy………. Please ya, pilih neng Oneng hehehehe……

        *merajuk merengut*

        • Gak janji deh, Bund…
          *garuk-garuk pala

          Takut aja jadi ada guilty feeling kalo ternyata calon yang saya pilih gak amanah…..
          Kecuali kalo saya yakiiiiin banget sama salah satu calon…. baru deh saya mau merelakan diri ikut nyoblos… hehehe

  3. pingkanrizkiarto said:

    tapi kadang pemakain topeng tidak selalu bertujuan jelek
    macam kalo pas dapet lotre, tapi temen sebelah lagi sedih kehilangan dompet. Masak iya tega sorak-sorak sementara tetangga sebelah nangis gero-gero, qiqiqiqi… pasang tampang prihatin dikit lah… :p

    *cek stok topeng di laci*

    • Iya, Bu… makanya saya bilang saya nggak mau menilai benar atau salah.

      Kalo anak lagi di hukum nggak boleh nonton TV misalnya, kadang kita juga kudu pake topeng “tega” pas dia mulai merengek-rengek pingin nonton kartun kesukaannya. Pura-pura nggak peduli, padahal dalam hati mah kasian… Toh tujuannya baik, biar dia belajar disiplin.

      Btw, jadi Buk Ping habis dapat lotre nih????
      *Langsung pasang “tampang berharap”……. …eh,ini asli lho, bukan topeng…

  4. saya juga sering pake topeng *nunduk malu*

  5. Apalagi dunia maya ya…uh susah banget bedain antara topeng dan wajah asli. Cuma Tuhan yg tahu, bener itu. Bahkan saat orang bilang “aku tampil apa adanya” itu juga bentuk pencitraan lo, bentuk pencitraan sebagai orang yg tulus. Nah lo. Ha…ha…ha. Tapi kalau udah banyak makan asam garam, biasanya dikit2 keasah tuh radar untuk menilai yg mana topeng dan yang mana bukan.

    • Iya beneeeerrr…. justru orang yang selalu bilang “aku tampil apa adanya” itulah yang patut diwaspadai…… :))

      • Hi…hi…hi…aku juga sempat ada masanya jadi apatis banget sama pencitraan alias topeng orang2 di dunia maya, mbak. Sudah terbukti kok lebih banyak yg palsu daripada yang sejati. Sempat males lo aku temenan lagi di dunia maya. Kalau dunia nyata biasanya lebih cepat terdeteksi, bisa terlihat deh dari bahasa tubuh dll. Meskipun juga kalau udah gape nipu2nya ya bakal kecele juga kali ya…ha…ha.

  6. iiih keren banget postingannya…
    enakan apa adanya. tapi tetap berusaha mencapai better dan better.
    yg penting insyl ga suka kentut di depan(kec terpaksa), ga korengan, ga ngupilan..

  7. Di dunia nyata saja bisa tertipu topeng, apalagi di dunia maya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: