Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Sesuai Kapasitas

Pada satu titikย  dalam perjalanan karir saya sebagai ibu rumah tangga, saya pernah “komplain” dan mempertanyakan keadilan Tuhan.
Itu adalah saat saya merasa sangat capek dengan “jatah berkat” yang buat saya terlalu ngepas. Saya bilang sama Tuhan, kenapa saya nggak dikasih berkat lebih… supaya saya bisa bernapas lebih longgar, supaya saya nggak selalu harus cemas memikirkan kebutuhan-kebutuhan yang begitu banyak dan menunggu untuk dipenuhi.
Saya melihat orang lain buka usaha ini itu sebentar saja sudah maju. Sementara saya dan suami bertahun-tahun jungkir balik rasanya seperti jalan di tempat. Dimana salahnya? Apanya yang kurang? Masa sih Tuhan punya anak emas yang lebih diistimewakan dari yang lain?
Berhari-hari pertanyaan itu berputar terus di kepala saya.

Lalu Tuhan memberi jawabannya lewat sebuah percakapan kecil dengan Daniel.
Waktu itu saya sedang membagikan uang jajan untuk anak-anak. Daniel memperhatikan lalu bertanya kenapa Cici dan Kokoh dikasih uang sedangkan dia tidak. Terus kenapa Kokoh dikasihnya lebih banyak dari Cici.
“Karena Kokoh sudah lebih gede, Niel… jadi keperluannya lebih banyak. Kalo Daniel kan tiap hari juga udah mamah bawain bekal ke sekolah jadi nggak perlu jajan lagi kan?”
“Kalo Daniel udah gede nanti dikasih uang kayak Kokoh, Mah?”
“Iya dong….”

Dan…..
“Ting!”
Saat itu seperti ada bola lampu yang menyala tiba-tiba di kepala saya.

Perbedaan jumlah uang jajan yang saya berikan untuk anak-anak bukan karena saya pilih kasih. Ini bicara tentang kapasitas. Tentang kedewasaan dan kemampuan untuk mengelola apa yang ada.
Semsem saya beri uang lebih banyak karena dia memang lebih banyak keperluannya. Dan dia cukup pintar mengelola jatah uang jajannya sehingga tiap minggu selalu ada sisa untuk ditabung. Sepertinya dia sudah menduplikasi dengan sempurna sifat hemat cenderung pelit dari Mamahnya….. ๐Ÿ™‚
Tapi dengan jatah uang jajan yang lebih sedikit, Debi juga nggak pernah merasa pusing. Karena dia tahu begitu uangnya habis, besok mamah akan memberinya uang jajan lagi. Bahkan kalau dia ada keperluan untuk membeli alat tulis atau jepit-jepit cantik kesukaannya, dia tinggal mencari mamah dan minta uang lebih. Kalau menurut pertimbangan mamah dia pantas mendapatkannya, maka uang lebih itu akan dia terima.
Karena kalau dalam usianya sekarang Debi diberi uang terlalu banyak, rasanya itu nggak akan membawa kebaikan buat dia. Malah sangat mungkin akan membentuk dia jadi anak yang konsumtif.
Sesederhana itu…..
Kepercayaan seorang anak kepada orangtuanya
Dan keadilan orang tua untuk anak-anaknya.

Seperti itulah sebetulnya berkat yang kita terima. Semua sesuai dengan takarannya masing-masing. Sesuai dengan kapasitas yang dimiliki tiap orang.
Ada yang menerima lebih, karena memang dia dipercaya bisa memanfaatkannya dengan bijaksana.
Ada yang diberi secukupnya karena Bapa di Surga dengan pertimbangan dalam keMahaTahuannya menilai itulah yang terbaik.

Dan jangan merasa senang dulu dengan berkat yang banyak, karena yang mendapat lebih banyak tentunya juga dituntut tanggung jawab yang lebih besar.
Itulah keadilan Tuhan yang seadil-adilnya.

Jadi, kenapa harus pusing dengan saldo tabungan yang terus menipis. Toh pada akhirnya semua kebutuhan tetap tercukupkan pada waktunya.
Meskipun harus pakai pusing kepala dulu sebelumnya, anggap itu sebagai latihan supaya saya nggak lupa bergantung sama Tuhan. Supaya saya nggak sombong dan merasa semua itu karena kerja keras atau kemampuan saya sendiri.

Lambat tapi tidak pernah terlambat, itulah pemeliharaan Tuhan yang sempurna untuk anak-anakNya.

Yang perlu saya lakukan sekarang adalah mengelola apa yang ada dengan sebaik-baiknya. Karena nanti akan ada saatnya juga saya mendapat “kenaikan uang jajan”…..


Barang siapa setia dalam hal yang kecil,
Kepadanya akan dipercayakan juga hal-hal yang besar.

Have a nice day, temans

*kembali pada pekerjaan mengotak-atik anggaran pendapatan dan belanja rumah tangga

ctt : gambar-gambar diambil dari google

Advertisements

Comments on: "Sesuai Kapasitas" (22)

  1. dzinggggg… jederrrr… boom… glodakkk..
    Kena dehhhhh T^T

    Knapaaa aku masih auban padahal dah ditegor berkali2…. huaaaaaaaa ๐Ÿ˜ฅ

    • Ditegur berkali-kali itu juga bagian dari kebaikan Tuhan buat anak “bandel”…….. ๐Ÿ™‚
      Masih untung cuma ditegur nggak dikeplak….

      Sama kok…. aku juga sering lupa bersyukur dan malah banyak komplain

      • hahahaha… haduhhh…. entahlah ci… hiks hiks..
        coba ci nov di jakarta…. dah tak ajak makan bareng trus curcol dehhhh :p

  2. Benar sekali, mbak. Besar kecilnya itu adalah ujian. Dan Tuhan tahu bahwa ujian yg dibebankan ke kita itu tidak melebihi kemampuan kita untuk mengatasinya.
    Bila kita setia dengan perkara-perkara kecil dan mampu mengatasinya, hanya masalah waktu saja untuk mendapatkan ujian dg kapasitas yg lebih besar. Dan itu dibarengi dg kedewasaan.

  3. Perlu kesabaran dan ikhlas untuk setia dengan yang kecil-kecil itu.

  4. Terima kasih ya de udah membantu saya mengingat lagi betapa maha besar kasih sayang Allah kepada saya, tapi rasanya kok saya pernah protes segitu nggak cukup.

    Senang sekali kita bisa ketemu lagi di lahan baru ini. Sering-sering posting dong ya! Salam buat anak-anak dan papanya.

    • Mudah-mudahan semangat nulisnya muncul lagi, Bund.
      Dari kemarin cuma blog walking doang. Di MP sepi, di sini juga belum terlalu rame. Mau komen aja males…..

  5. “Tapi dengan jatah uang jajan yang lebih sedikit, Debi juga nggak pernah merasa pusing. Karena dia tahu begitu uangnya habis, besok mamah akan memberinya uang jajan lagi. Bahkan kalau dia ada keperluan untuk membeli alat tulis atau jepit-jepit cantik kesukaannya, dia tinggal mencari mamah dan minta uang lebih.”

    Gak dikasih sama mama, giliran Iie-nya yang ditodong. Heheheheeee….

  6. Setuju sekali Nov. Ujian kesabaran.

  7. bagus deh tulisannya. ngingetin kita2 biar gak ngeluh mulu. saya juga lebih milih ngejalani aja lah. pengen sih punya ini itu, tapi klo lemampuannya cuman segini yah gimana lagi. capek sih mikir ngoyo lagi.

  8. wah, saya masih suka mempertanyakan juga. :p nice sharing nih. ๐Ÿ˜€

  9. […] Iya ih, kok saya jadi sirik sih. Kok lupa sih, bahwa semua yang diberikan Tuhan itu porsinya sudah sesuai dengan kapasitas saya. Bukan cuma cobaan yang diberikan Tuhan nggak melebihi kemampuan kita, tapi berkat juga diberikan nggak pernah melebihi kemampuan seseorang untuk menerimanya (pernah saya tulis di sini). […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: