Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Dulu Bunda Julie pernah menantangku untuk membuat sebuah tulisan memoar tentang anak-anakku. Katanya tulisan itu kelak akan menjadi sebuah harta yang berharga untuk mereka sebagaimana yang pernah beliau buat dan aku baca sampai meneteskan air mata.

Aku nggak sepandai Bunda Julie dalam merangkai kata-kata. Tapi berharap saja apa yang aku tulis ini suatu saat akan dibaca anak-anakku dan mereka akan mengerti sedalam apa tempat mereka dalam hatiku.

Kenapa Debi yang aku tulis? Karena anak perempuanku ini dari awal benar-benar mengajariku apa artinya berjuang dengan lutut dalam doa. Ada begitu banyak rasa selama mengasuhnya yang sering kali tidak bisa aku keluarkan lewat kata-kata.

Maka inilah kisahku……

***************************






NOVEMBER 2002
Mataku terbelalak lebar menatap layar monitor di ruang praktek dokter kandungan. Ada gambar sebuah bentuk kecil seperti kacang merah di sana.
Dokter tersenyum dan memberi selamat, membuatku lebih melongo tak percaya.

Bagaimana tidak bingung. Kedatanganku hari itu sebetulnya untuk pemeriksaan lanjutan setelah bulan sebelumnya berkonsultasi kenapa aku nggak hamil-hamil meskipun IUD sudah 3 tahun dicopot.
Ternyata bekas infeksi waktu buka IUD itu yang katanya jadi penyebab. Aku diberi obat dan diminta kembali bulan depan setelah selesai haid.

Bulan berikutnya teryata haid malah nggak normal. Keluarnya hanya berupa flek berwarna coklat tua. Aku kembali ke dokter setelah flek-flek itu hilang. Dan waktu USG, hasilnya malah mengejutkan…. aku hamil. Tapi katanya kandunganku lemah. Disuntik dan diberi obat penguat, terus diharuskan banyak istirahat.

Berita kehamilan kedua ini disambut gembira seluruh keluarga. Bertahun-tahun menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga.
Bahkan sebelum USG bisa memastikan jenis kelaminnya, aku sudah tahu bahwa anakku kali ini perempuan.

Sayangnya kehamilan ini rasanya berat sekali. Sangat berbeda dengan kehamilan pertama. Hampir tiap sore dilanda mual hebat. Meskipun tidak sampai muntah-muntah, tapi itu membuatku banyak melewatkan waktu cuma di tempat tidur. Belum lagi tiap kali terlalu banyak bergerak, langsung keluar flek. Padahal waktu itu aku nggak punya PRT. Sampai-sampai suamiku terpaksa banyak turun tangan membantu pekerjaan rumah ( luv u banget, Beh… ).

Memasuki trisemester 3, mulai terasa nyaman. Tapi kemudian dokter bilang plasentanya menutupi jalan lahir. Kalau nggak bergeser berarti nggak bisa melahirkan normal.
Aku bilang sama si dede, “Jadi anak manis ya, de… SC itu mahal lho…. Mamah mau kamu nanti lahirnya normal aja. Kita kerja sama ya…”

Dan si dede kecil selalu membalas dengan sikutan tiap kali aku ajak bicara.

JULI 2003
Hari itu aku sama suami ke toserba Yogja, belanja keperluan bayi. HPL udah kurang dari seminggu lagi. Hasil pemeriksaan terakhir cukup melegakan. Biarpun plasenta belum bergeser banyak tapi kata dokter celah yang ada cukup buat bisa melahirkan normal. Syukurlah. Dede kecil memang anak yang manis.

Pulang dari mall aku agak pusing. Mungkin karena capek turun tangga dari lantai 3 (nggak ada lift dan eskalator cuma untuk naik saja ) mungkin juga karena sumpek terlalu banyak orang jadi kurang oksigen (ini teori si papah ). Tapi setelah tidur semalaman, besoknya sudah segar lagi.

Sepanjang hari itu aku sedikit aneh karena si dede sedikit sekali gerakannya. Sangat jauh dibandingkan biasa. Bahkan waktu aku elus-elus dan ajak ngobrol, dia nggak menendang-nendang seperti biasa.
Kebetulan sore itu memang jadwal untuk kontrol. Jadilah aku pergi dengan sedikit rasa cemas.

Waktu memeriksa print out detak jantung bayi, dokter mengerutkan kening. Dia lalu suruh aku masuk ke ruang USG. Habis diperiksa dia tanya apakah aku stress atau kecapekan, soalnya detak jantung bayi lemah sekali dan nggak beraturan.
Karena HPL memang sudah dekat dia menganjurkan aku masuk RS saja supaya bisa terus dipantau. Kalau tidak membaik, besok pagi diinduksi supaya si dede bisa lahir.

Tadinya aku nggak mau kelahiran yang dipaksakan. Tapi takut juga kalau si dede di dalam sana kenapa-kenapa.
Akhirnya setelah pulang ke rumah, doa bersama-sama, aku serahkan semua sama Tuhan. Satu saja yang aku percaya, Tuhan yang sudah campur tangan sejak awal nggak akan meninggalkan begitu saja di saat semuanya hampir selesai.
Aku bilang lagi sama si dede, “Bertahan ya, de… kamu anak yang kuat. Sekali lagi mamah minta kita kerja sama biar kita bisa cepet ketemu.”

Malam itu jadinya aku nginap di RS. Untungnya mamaku sudah stand by di Bandung jadi bisa menjaga Samuel di rumah.
Tiap beberapa jam detak jantung bayi diperiksa. Akhirnya waktu pagi datang dokter bilang mendingan bayinya dilahirkan saja. Karena takut ada apa-apa dengan si dede, aku akhirnya setuju kalau itu memang yang paling baik.
Dan ternyata, pengalaman melahirkan anak kedua ini adalah yang paling aduhai “enak”nya…… bener-bener bikin kapok lombok…

Sabtu, 12 Juli 2003 jam 14.10, SI ANak yang dinanTI begitu lama akhirnya meluncur juga ke dunia dengan tangisan yang nyaring (lebih nyaring dari kakaknya). Perempuan seperti yang sudah kuperkirakan. Berat 3,2kg panjangnya 49cm. Wajahnya sungguh mungil dengan rambut super lebat dan hitam. Dia melirik sambil menjilati bibirnya waktu pertama kupeluk.

Sayangnya RS ini nggak menerapkan IMD. Baru sebentar dia kupeluk, perawat langsung membawanya pergi dengan alasan mau dimandikan. Suamiku tergopoh-gopoh mengikuti, takut anaknya tertukar. Istrinya yang masih “ngangkang” nunggu dijahit, ditinggal begitu saja…

Mamaku senangnya bukan kepalang punya cucu perempuan. Adikku apalagi, karena dari dulu cita-citanya punya keponakan perempuan supaya bisa didandani lucu-lucu. Nggak heran kalau si dede kecil sudah punya stok baju lucu, bando, sepatu dan topi yang buaanyak sekali, karena tantenya nggak bosan-bosan belanja. Padahal dia masih pake popok dan bedong…..

Kami memberinya nama Deb
ora. Diambil dari nama seorang nabiah dalam Alkitab Perjanjian Lama. Debora ini selain seorang nabiah juga seorang pahlawan perang yang gagah berani dan seorang istri yang terpuji. Itulah yang kami harapkan untuk si kecil kami. Agar kelak dia bisa menjadi seorang anak yang kuat, yang dipakai Tuhan dan sekaligus menjadi seorang perempuan yang bijaksana. Nama tengahnya adalah Sianti, singkatan dari SI ANak yang dinanTI sekaligus diambil dari nama chinesenya Cing Sian.

Kesibukan mengurus bayi pun dimulai…..


Advertisements

Comments on: "Me and my little princess (1)" (42)

  1. woah bisa diajak kerja sama sejak jabang bayi ya debora.. nama yang indah..bener kan, otomatis jadi bisa menulis, katakata disini enak dibaca kog.. apalagi kalu topiknya orang paling kita sayangi.. otomatis deh jadi pengen cerita..

  2. Sayangnya RS ini nggak menerapkan IMD. Baru sebentar dia kupeluk, perawat langsung membawanya pergi dengan alasan mau dimandikan. Suamiku tergopoh-gopoh mengikuti, takut anaknya tertukar. Istrinya yang masih “ngangkang” nunggu dijahit, ditinggal begitu saja… >>>> hahaha kebayang ngangkangnya.. akhirnya berapa jahitan nih mbak?

  3. Mba Tintin,Gak tau deh brp jahitan. Nggak nanya juga sama dokternya… hehehe…Bete juga soalnya mikirin anak udah dibawa perawat. Padahal pinginnya disusuin dulu.

  4. Mba Tin pernah baca tulisan seri Bunda Julie tentang anaknya?Aku meleleh rasanya.Makanya lama aku baru memenuhi tantangannya. Ngumpulin keberanian dulu

  5. drackpack said: Mba Tintin,Gak tau deh brp jahitan. Nggak nanya juga sama dokternya… hehehe…Bete juga soalnya mikirin anak udah dibawa perawat. Padahal pinginnya disusuin dulu.

    anak ketiga sempat disusui dulu?*nunggu diceritain deh..

  6. drackpack said: Mba Tin pernah baca tulisan seri Bunda Julie tentang anaknya?Aku meleleh rasanya.Makanya lama aku baru memenuhi tantangannya. Ngumpulin keberanian dulu

    jaaahhh cerita anak emang bikin meleleh ya.. ku aja kalu nungguin adik dan sodara yang melahirkan rasanya gimana gitu..

  7. waah, daya ingatnya menyaingi ceu julie nih. detil banget.

  8. tintin1868 said: anak ketiga sempat disusui dulu?

    Yang ketiga sih IMD, karena RSnya beda. Padahal dokternya sama lho.Makanya waktu ngelahirin yang ketiga aku paling puas rasanya.

  9. abonenak said: waah, daya ingatnya menyaingi ceu julie nih. detil banget.

    Kalo yang menyangkut anak-anak sih inget semuanya. Tapi kalo urusan lain, saya ini pikunnya bukan main

  10. Bravo cikpie! Inilah yang saya harap bisa jadi cadeaux terbaik buat anak-anakmu. Teruskan nulis ya, jangan kayak saya yang akhirnya terlantar, terlupa begitu saja karena berbagai hal yang mengganggu. Oh ternyata anak ini karunia beneran ya? Kalau keponakan saya, cucunya bulik saya malah sekalian dikasih nama IKA alias Inilah Karunia Allah. Salam sayang untuk sicantik Sianti ya.Saya tunggu terus lanjutannya sampai tuntas.

  11. tintin1868 said: hahaha kebayang ngangkangnya..

    Hoahahaha…. terus kebayang sekitar “kangkangan” itu nggak jeng Tin? :-D*digebug nyonya rumah wadouw!*

  12. drackpack said: Mba Tintin,Gak tau deh brp jahitan. Nggak nanya juga sama dokternya… hehehe…Bete juga soalnya mikirin anak udah dibawa perawat. Padahal pinginnya disusuin dulu.

    Anak sulung saya yang akhirnya meninggal itu, meninggalkan dua belas jahitan lho, tanpa saya nanya sama bidan yang njahitnya kok dia bilang sendiri.

  13. abonenak said: waah, daya ingatnya menyaingi ceu julie nih. detil banget.

    Hayu, buruan de bikin memoar tentang neng Faya dan semua keistimewaannya, nanti kan akan jadi peninggalan yang maha berharga.

  14. drackpack said: Mba Tin pernah baca tulisan seri Bunda Julie tentang anaknya?Aku meleleh rasanya.Makanya lama aku baru memenuhi tantangannya. Ngumpulin keberanian dulu

    Saya sendiri sampe lupa lho nulis itu duluuuuuu….. banget. Terus di mana saya nulisnya, kayaknya di yang satunya ya?

  15. bundel said: Bravo cikpie! Inilah yang saya harap bisa jadi cadeaux terbaik buat anak-anakmu. Teruskan nulis ya, jangan kayak saya yang akhirnya terlantar, terlupa begitu saja karena berbagai hal yang mengganggu.

    Mudah-mudahan nggak keburu ilang moodnya, Bund…Makasih udah menyemangati.

  16. bundel said: Anak sulung saya yang akhirnya meninggal itu, meninggalkan dua belas jahitan lho, tanpa saya nanya sama bidan yang njahitnya kok dia bilang sendiri.

    Saya sih nggak dibilangin. Dokternya kalo lagi ngerjain jaitan kayak asik banget gitu… jadi sungkan mau mengganggu… hahahahaaa…

  17. drackpack said: Mudah-mudahan nggak keburu ilang moodnya, Bund…Makasih udah menyemangati.

    Jangan diilangin, sayang lho……….

  18. bundel said: Hayu, buruan de bikin memoar tentang neng Faya dan semua keistimewaannya, nanti kan akan jadi peninggalan yang maha berharga.

    Teh Efin…. tuh dikasih PR juga!

  19. drackpack said: Teh Efin…. tuh dikasih PR juga!

    Ah sanes PR cuma sekedar imbauan untuk menjadikan kita sebagai ibu yang menyenangkan bagi anak-anak kita kok 🙂

  20. bundel said: Saya sendiri sampe lupa lho nulis itu duluuuuuu….. banget. Terus di mana saya nulisnya, kayaknya di yang satunya ya?

    Iya, Bund… di site yang satunya.Saya promosi di sini boleh ya? http://jandra22.multiply.com/journal/item/69

  21. drackpack said: Iya, Bund… di site yang satunya.Saya promosi di sini boleh ya? http://jandra22.multiply.com/journal/item/69

    Oh iya ya, si bebek jelek itu ya? Silahkan, tapi kalau orang pada nggak suka bacanya nanti saya malu deh. *blushing tanpa blush on*

  22. bundel said: Hoahahaha…. terus kebayang sekitar “kangkangan” itu nggak jeng Tin? :-D*digebug nyonya rumah wadouw!*

    pernah ku lagi posisi gitu diperiksa, eh dokternya ketawaketiwi sambil teleponan.. bete sih mbak.. abis itu ga ke dokter itu lagi..

  23. drackpack said: Yang ketiga sih IMD, karena RSnya beda. Padahal dokternya sama lho.Makanya waktu ngelahirin yang ketiga aku paling puas rasanya.

    alhamdulillah.. dokter yang sama tapi lain kebijakan ya rs-nya..

  24. Debi seumuran Della dong ya thn 2003 juga.. hmm aku lupa pernah nulis ttng anak2 mulai lahir atau belum ya, belum kayaknya hihi

  25. ibuseno said: Debi seumuran Della dong ya thn 2003 juga.. hmm aku lupa pernah nulis ttng anak2 mulai lahir atau belum ya, belum kayaknya hihi

    Buruan tulis mumpung belum lupa. Anaknya seneng deh.

  26. Sianti nama yang manis, semanis akhir dari cerita kelahirannya.

  27. cerita tentang anak memang tidak ada habisnya ya, teh..

  28. bundel said: Buruan tulis mumpung belum lupa. Anaknya seneng deh.

    udah di ceritain sih Bun hehe, nanti deh di tulis :-p

  29. ibuseno said: hmm aku lupa pernah nulis ttng anak2 mulai lahir atau belum ya, belum kayaknya hihi

    Ini juga kepinginnya sih udah lama, sejak baca tulisannya Bunda Julie itu. Ayo nulis, Teh…. pastinya ada banyak cerita kan?

  30. nonragil said: Sianti nama yang manis, semanis akhir dari cerita kelahirannya.

    Tapi cerita berikutnya nggak manis semua lho, Mbak….

  31. rawins said: cerita tentang anak memang tidak ada habisnya ya, teh..

    Gimana dengan cerita anak tentang orangtuanya?

  32. ibuseno said: udah di ceritain sih Bun hehe, nanti deh di tulis :-p

    Bunda…. catat nih janjinya Teh Icho yaa

  33. tintin1868 said: pernah ku lagi posisi gitu diperiksa, eh dokternya ketawaketiwi sambil teleponan.. bete sih mbak.. abis itu ga ke dokter itu lagi..

    Waah, itu mah nyebelin banget, mbak…

  34. drackpack said: Gimana dengan cerita anak tentang orangtuanya?

    cerita baiknya kalo habis dibeliin hape dll…diluar itu jelek, haha

  35. rawins said: cerita baiknya kalo habis dibeliin hape dll…diluar itu jelek, haha

    Jadi mikir… kelak anak-anak bakal cerita apa tentang aku ya.

  36. Debi cantik… cium dari tante yaaaaaa muahhhhh!!!huhuwww mirip tije dulu, PP total, kalo gak geser ya SC…

  37. srisariningdiyah said: Debi cantik… cium dari tante yaaaaaa muahhhhh!!!huhuwww mirip tije dulu, PP total, kalo gak geser ya SC…

    Cium balik tante Ari.

  38. drackpack said: Bunda…. catat nih janjinya Teh Icho yaa

    Hehehe…. soal catat mencatat saya serahkan sama cikpie yang ahli administrasi ya.

  39. drackpack said: Tapi cerita berikutnya nggak manis semua lho, Mbak….

    Alur hidup kan gitu cik, up and down, kayak roller coaster.

  40. Dijelasin sama dokternya gak, kenapa detak jantungnya jadi melemah? Lahir normal ya?Mirip Menik waktu lahir, detak jantungnya melemah.

  41. Mb Evi,Akhirnya lahir normal.Dokter nggak jelasin rasanya. Cuma tanya apa aku stres. Aku juga panik sendiri jadi nggak nanya kenapa jantungnya bisa melemah.Kalo Menik kenapa, mba?

  42. drackpack said: Mb Evi,Akhirnya lahir normal.Dokter nggak jelasin rasanya. Cuma tanya apa aku stres. Aku juga panik sendiri jadi nggak nanya kenapa jantungnya bisa melemah.Kalo Menik kenapa, mba?

    Anakku yang pertama juga gitu Nov, sama kasusnya dengan Menik, jantung melemah. Dokter kandungan yang nangani anak pertama dengan dokter kandungan yang nangani Menik, berbeda. Dokter yang nangani Menik lebih kooperatif, lebih informatif, kalau ditanyain pasien ngejelasin panjang lebar sampe sedetil detilnya. Jantungnya melemah karena asupan makanan dari ibunya (yang lewat plasenta) berkurang. Indikasinya adalah warna tali pusat yang menghubungkan si bayi dengan plasenta berwarna kehijauan dimana kalau yang normal berwarna merah. Merah pertanda masih dialiri darah. Waktu aku tanya lagi kenapa asupan bisa berkurang, dokternya terus terang bilang belum tahu karena banyak faktor. Butuh penelitian lebih lanjut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: