Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Teungteuingeun…..

Seorang sepupu suami tiba-tiba datang berkunjung. Bukan silaturahmi sih…. lebih tepatnya kunjungan karena lagi ada perlunya. Anaknya mau ikut lomba bikin robot. Tapi ada masalah di rangkaian elektroniknya yang bikin si robot nggak bisa jalan seperti seharusnya. Jadi si sepupu itu minta bantuan untuk dicarikan solusinya.

Sementara suamiku nguprek-nguprek rangkaian itu, aku nemenin si sepupu ini ngobrol.
Mulanya dia tanya-tanya tentang anak-anak. Tanya di mana sekolahnya, jauh nggak dari rumah, naik apa kalau sekolah.
Waktu aku jawab Debi sekolah pakai antar jemput, dia langsung tanya, “Bayar berapa sebulan buat antar jemput?”
Waktu aku sebutin angkanya, dia manggut-manggut, “Murah ya…”
“Kalau SPPnya berapa sebulan?” dia nerusin lagi.
“Semsem nggak bayar SPP. Kan dapat beasiswa dari sekolah.”
“Kalau Debi?”
“Tiga ratusan lah…” Aku nggak kasih angka jelas.

Habis itu dia tanya yang lain lagi.
“Eh, itu anak yang kecil juga udah mau masuk sekolah ya? Masuk kemana?”
“Kalam Kudus lagi kayak kakak-kakaknya.”
“Berapa uang masuknya sekarang?”
Aku mulai merasa risih. Kok masalah duit terus yang ditanyakan. “Lumayan lah…” sahutku setengah mengelak, “Lumayan bikin engap.”

Terus pindah lagi ke masalah lain.
“AyKwan punya pegawai?”
“Ada,” sahutku
“Berapa orang?”
“Ah, cuma satu kok.”
“Berapa dibayarnya sebulan?”
Aku makin risih dengan pertanyaan ini. Jadi aku cuma bilang, “Oh, nggak dibayar bulanan kok.”
“Harian? Sehari berapa?” dia ngejar.
“Nggak tentu. Tergantung seberapa berat kerjaan hari itu.”
Mestinya dengan jawabanku itu dia ngerti kalau aku nggak mau bilang. Tapi ternyata dia nggak ngerti dan terus mendesak.
“Paling sedikit dikasih berapa? Goban dapet nggak?”
Aku senyum meskipun dongkol, “Memang kenapa, Cie?”
“Ah, nggak… pingin tahu aja.”

Lalu pindah topik lagi.
“Ini rumah sudah rumah sendiri?”
“Masih nyicil.” Aku mulai bisa menebak arah pertanyaannya.
“Berapa dulu belinya?”
Nah kan!
Aku jawab dengan senyum lagi. “Memang kenapa, Cie?”
“Pingin tahu aja, mahal nggak rumah di daerah sini.”

Kenapa aku jadi merasa lagi berhadapan dengan petugas pajak yang mendata harta kekayaanku……..

———–

Rasa ingin tahu itu memang nggak salah. Tapi kalau keterlaluan ya bisa jadi masalah.
Ketika orang bertanya tentang keluargaku, anak-anakku, suamiku, biasanya aku menganggap itu sebagai bentuk perhatian. Aku pasti menjawabnya dengan senang hati.
Kalau pertanyaan itu berlanjut masalah pekerjaan, aku juga masih menganggapnya sebagai keingin-tahuan yang wajar.
Tapi kalau yang berurusan dengan duit diselidik-selidik sampai mendetil, jujur saja aku anggap itu sudah melewati batas.
Masalah duit itu kadang menjadi masalah sensitif.
Bahkan dengan teman yang akrab saja aku nggak pernah tanya berapa gajinya sebulan, berapa harga tas atau sepatu yang dia pakai, atau berapa harga mobil barunya.
Apalagi ini orang yang nggak terlalu akrab. Jarang bertemu meskipun masih terhitung saudara.
Memangnya kalau aku jawab semua, dia mau nyumbang?

Rasanya masih banyak hal lain yang bisa ditanyakan. Yang lebih wajar dan nggak menyinggung orang yang ditanya.

Anehnya, waktu dia mau pulang, pertanyaan yang aku tunggu malah nggak keluar.
Mestinya dia tanya, “Ada komponen yang diganti ya? Mesti bayar berapa nih?”
Tapi dia cuma bilang “Makasih yaa…”

**Teungteuingeun itu artinya ter-la-lu

Advertisements

Comments on: "Teungteuingeun….." (30)

  1. loh loh loh… teungteuingeun bangettttttttttt

  2. estuning… kata sodara nenek mah :))iya teh, memang keuheul ditarosan detil kitu… komo soal duit mah… 😐

  3. rirhikyu said: loh loh loh… teungteuingeun bangettttttttttt

    Iyaaa…. bikin ilfil

  4. Euleuh lieur boga dulur nu kieu mah.Jung depak weh!

  5. puritama said: estuning… kata sodara nenek mah :))iya teh, memang keuheul ditarosan detil kitu… komo soal duit mah… 😐

    Asa teungteuingeun pisan nya…Hatur nuhun tos nyimpang ka dieu, Teh.

  6. bundel said: Euleuh lieur boga dulur nu kieu mah.Jung depak weh!

    Lain pibarayaeun, Bund…

  7. drackpack said: Lain pibarayaeun, Bund…

    Sumuhun leres, eta mah, pimusuheun nya?

  8. hadeuuuuh nyebelin bgt yaa.. ehh aku jg punya teman suka gitu nanya baju kita beli dimana, harga berapa. Aduuuuh.

  9. waduh, ingin tahu kok segitunya sih

  10. Hadew…..cape bener ketemu sodara atau temen yang model teungteuingeun begini.

  11. Ih nyebelin banget sih mba… Ter-la-lu kata bang rhoma..

  12. Vrisca,Mungkin aku agak berlebihan. Tapi beneran, aku paling nggak suka ditanya-tanya soal seperti itu.Kalau cuma tanya beli di mana, mungkin masih kujawab. Tapi kalau udah tanya ‘berapa’, duh rasanya langsung bete. Nggak tau orang lain merasa seperti itu juga apa nggak.

  13. Mbak Lala,Ingin tahu urusan dapur orang. Kenapa nggak ngurusin dapurnya sendiri aja ya.

  14. Mba Helene,Jadi mikir, kalo misalnya aku balik tanya berapa omset tokonya sebulan, kira-kira dia jawab nggak ya…

  15. Mba Dy,Kayaknya ‘berapa’ itu jadi kata tanya favoritnya ya.Memang sungguh ter-la-lu

  16. nov, tadi belanja di pasar apa di tukang sayur yang lewat? abis berapa? tiap hari rata-rata belanja berapa? sebulannya jadi berapa? *bari ngaleos motesin pisang di meja. 😛

  17. Nggak banyak, Teh… cuma abis lima juta buat beli pisang…*timpuk Teh Efin pake pisang sesisir

  18. drackpack said: Mungkin aku agak berlebihan. Tapi beneran, aku paling nggak suka ditanya-tanya soal seperti itu.

    Enggak, rasanya semua orang juga nggak suka kalau ditanya soal harta kekayaan dan segala yang menyangkut materi. Pantes kok kalau cikpie nggak suka, siapa pun juga nggak bakalan suka.

  19. drackpack said: Jadi mikir, kalo misalnya aku balik tanya berapa omset tokonya sebulan, kira-kira dia jawab nggak ya…

    Ksyaknya dia malah dengan bangga akan nyebut angka gede lho cikpie, soalnya yang suka usil nanya-nanya kekayaan orang, itu adalah biasanya orang yang memang demen pamer.

  20. bundel said: Enggak, rasanya semua orang juga nggak suka kalau ditanya soal harta kekayaan dan segala yang menyangkut materi. Pantes kok kalau cikpie nggak suka, siapa pun juga nggak bakalan suka.

    Sebetulnya sih saya juga liat-liat kepentingannya, Bund.Pernah waktu itu ada teman tanya berapa uang masuk sekolah Daniel. Karena saya tahu dia juga lagi cari sekolah TK buat anaknya, ya saya anggap dia bertanya karena butuh informasi. Jadi saya kasih tahu sampai sedetil-detilnya.Begitu juga waktu ada teman lagi cari rumah, dan dia tanya-tanya rumah saya. Ya saya jawab dengan memberi kisaran harga pasaran rumah di kompleks saya.Tapi kalo tanya-tanya cuma karena ingin tahu ya teungteuingeun…

  21. bundel said: Ksyaknya dia malah dengan bangga akan nyebut angka gede lho cikpie, soalnya yang suka usil nanya-nanya kekayaan orang, itu adalah biasanya orang yang memang demen pamer.

    Kayaknya begitu, Bund.Mungkin dia tanya-tanya buat ngebandingin apa yang saya punya dan apa yang dia punya….Hadeuhhhhh!

  22. drackpack said: Sebetulnya sih saya juga liat-liat kepentingannya, Bund.Pernah waktu itu ada teman tanya berapa uang masuk sekolah Daniel. Karena saya tahu dia juga lagi cari sekolah TK buat anaknya, ya saya anggap dia bertanya karena butuh informasi. Jadi saya kasih tahu sampai sedetil-detilnya.Begitu juga waktu ada teman lagi cari rumah, dan dia tanya-tanya rumah saya. Ya saya jawab dengan memberi kisaran harga pasaran rumah di kompleks saya.Tapi kalo tanya-tanya cuma karena ingin tahu ya teungteuingeun…

    Dan gaya bertanyanya orang butuh info kan lain cik dari gayanya orang rese hehehe……….

  23. drackpack said: Kayaknya begitu, Bund.Mungkin dia tanya-tanya buat ngebandingin apa yang saya punya dan apa yang dia punya….Hadeuhhhhh!

    Saya punya keluarga yang kerjanya juga mbanding-mbandingin antara keluarganya dengan keluarga saudaranya. Tiba-tiba nanti dia nanya, “mbak, anakmu kerja apa di mana?” Sambil nyeritain tentang anaknya sendiri yang katanya manager keuangan sukses. Berikutnya setelah dijawab, dia nanya lagi, “udah pernah dines ke luar negeri juga?” Sambil dia cerita anaknya baru pulang dari Head Quarter perusahaannya di Eropa. Sehabis itu masih juga nanya, “kemarin cucu-cucumu diajak orang tuanya liburan ke mana?” Sementara dia nyambung sendiri, “ajak aja ke Disneyland, eh, sekarang ada lho di Asia, cuma di Hongkong aja kok, kan anak saya udah pernah ngajak anak-istrinya ke sana.Halah, yang begitu tuh, sombong, doyan pamer atau rese ya?! 😛

  24. bundel said: Halah, yang begitu tuh, sombong, doyan pamer atau rese ya?! 😛

    Tiga-tiganya, Bund…. xixixiSaya sih pilih cepet kabur kalo ketemu yang model begini.

  25. bundel said: Dan gaya bertanyanya orang butuh info kan lain cik dari gayanya orang rese hehehe……….

    Leres pisan, Bunda…

  26. drackpack said: Tiga-tiganya, Bund…. xixixiSaya sih pilih cepet kabur kalo ketemu yang model begini.

    Lha kalau kakak beradik seperti mereka mah nggak bisa kabur, wong ketemunya kan kalo pas ngumpul-ngumpul keluarga, pulkam gitu. Yang ada, yang satu ngomongin yang lainnya, sampe penuh kuping saya ndengerinnya. 😛

  27. koq saia rasa2nya pengen nyambit uleq2 ke sodaranya Mbak yg bawel n wants to know ituuuuh…*gemaaaaas*

  28. mau nanyain sekalian ” sehari belanja habis berapa mbak? “Biar tambah pusing deh…..setuju, asli mbencekno orang yang mendata duit kita!

  29. Helen,Bentar aku pake helm dulu, takut sambitannya nyasar ke kepalaku

  30. Mba Ina,Mau nyumbang berapa buat belanja saya hari ini, mba?*senyum manis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: