Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

I love Becak

Kalau ada yang bertanya tentang kendaraan yang paling kusukai, maka aku pasti akan menjawab becak.
Dari kecil, ketika di kota asalku becak masih menjadi primadona angkutan kelas menengah ke bawah, sampai sekarang ketika keberadaannya makin terpinggirkan, aku selalu menyukai naik becak.
Ketika harus pergi ke suatu tempat naik kendaraan umum, sepanjang tempat itu masih terjangkau oleh kayuhan kaki mang becak, aku pasti memilih naik becak daripada angkot. Biarpun harus mengeluarkan ongkos lebih mahal.

Cerita hidupku sendiri sebetulnya tidak bisa dilepaskan dari becak. Aku bisa makan, beli baju, sekolah sampai selesai kuliah, semua karena becak.
Masa-masa tahun 70-80an Papaku boleh dibilang pemilik becak terbanyak di Tasik. Itulah makanya becak ikut jadi bagian dari keseharianku.
Puluhan becak yang parkir di halaman rumah dan tukang-tukang becak dengan kesibukannya masing-masing jadi pemandangan yang kulihat setiap saat.

Pagi hari sebelum berangkat sekolah, aku sering menghabiskan sarapanku di atas salah satu becak di halaman, sambil memperhatikan para penyewa becak berdatangan mengambil becaknya masing-masing.
Becak juga jadi tempat bermainku bersama teman-teman kecilku. Main rumah-rumahan di atas becak atau pura-pura jadi tukang becak dan penumpangnya.
Satu lagi yang paling kusukai adalah memperhatikan saat Papa sedang mengecat becak-becak yang baru dibelinya. Tiap besi di beri warna yang berbeda, sehingga setelah selesai becak itu jadi berwarna-warni meriah. Sayangnya aku tidak pernah diperbolehkan membantu.

Untuk mengantar aku dan adikku ke sekolah, ada becak khusus yang disediakan Papa. Pengemudinya mang onji yang berbadan pendek dan punya suara tawa sangat khas.
Si mamang yang suka bercanda ini bukan cuma jadi pengawalku kemana-mana. Kejujurannya membuat dia selalu dipercaya jadi penunggu rumah jika kami sekeluarga pergi liburan.
Kadang-kadang waktu aku pulang sekolah, Papa sudah menungguku di becak mang Onji. Itu artinya aku diajak Papa pergi, membeli onderdil becak atau menyusul tukang becak yang sudah lama menunggak setoran. Bagiku itulah saat yang paling menyenangkan. Bukan cuma karena bisa berduaan dengan Papa tapi karena perjalanan itu biasanya cukup jauh sampai ke pinggiran kota.

Waktu aku mulai besar, Papa mulai melibatkan aku untuk mengurus setoran-setoran becak. Terutama jika beliau pergi ke luar kota.
Dalam buku catatan Papa,s emua penyewa becak diberi nomor untuk memudahkan pencatatan. Tugasku adalah menulis di buku penerimaan harian, nomor berapa yang setor dan berapa setorannya.
Ada satu tukang becak yang paling tidak kusukai karena bau badannya yang aduhai. Kalau dia datang untuk setor aku selalu harus menerimanya sambil menutup hidung. Lalu di buku catatan aku akan menulis dengan jengkel “Si Bau” dan bukan nomor seperti seharusnya.
Papa selalu mengingatkan aku untuk tidak bersikap judes apalagi kasar pada para tukang becak. Katanya karena mereka aku bisa hidup enak seperti saat itu.
Manusia tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua saling membutuhkan dalam hidup.
Meskipun selalu ingat pesan Papa, tapi untuk masalah si Bau aku pasti harus menahan nafas kalau tidak menutup hidung karena tidak tahan baunya. Jadi dengan terpaksa aku memilih menutup hidung saja……..

Oya… jaman itu becak-becak punya nomor polisi juga seperti mobil. Nomor itu biasanya diganti setiap tahun.
Becak yang jalan malam hari juga wajib memakai lampu minyak yang ditutup dengan rumah-rumahan kaca untuk penerangan.

Sebagian dari becak milik Papa dibawa pulang oleh penyewanya dan mereka cukup datang untuk setor tiap beberapa hari sekali. Kepercayaan seperti itu diberikan hanya pada tukang-tukang becak yang sudah lama ikut Papa. Sisanya biasa mengambil becak pagi hari dan mengembalikannya sore hari (istilahnya ngabatang).

Waktu Papa meninggal, sebagian besar becaknya sudah terjual untuk menutup biaya pengobatan selama beliau sakit. Tapi masih tersisa sekitar 40 buah yang kemudian dikelola oleh Mama dengan bantuan beberapa tukang becak lama yang dulu jadi kepercayaan Papa. Diantaranya ya mang Onji itu.
Ketika kami pindah ke rumah yang sekarang, halaman rumah terlalu sempit dan cuma bisa menampung beberapa becak saja. Terpaksa kami menyortir para tukang becak itu. Yang sudah cukup lama diijinkan membawa becaknya pulang agar tidak menyesaki halaman. Yang kira-kira mampu ditawari untuk membeli becak yang biasa dia sewa dengan cara kredit.
Tapi pekerjaan becak membecak ini memang tidak cocok untuk perempuan. Berurusan dengan tukang-tukang becak yang sebagian berperangai kasar juga sering menimbulkan perasaan tidak nyaman.
Aku masih ingat betapa takutnya aku ketika ada seorang tukang becak yang mengamuk dan mengancam karena tidak diijinkan mengambil lagi becaknya setelah menunggak setoran berminggu-minggu. Hal seperti ini tidak pernah terjadi ketika Papa masih ada. Waktu itulah Mama mulai berpikir tak akan sanggup meneruskan usaha ini.
Ditambah lagi waktu itu aku sudah mulai kuliah dan butuh dana cukup banyak.
Satu persatu becak-becak itu dijual. Dan becak terakhir kami lepas tepat ketika aku akan wisuda. Rupanya Papa meninggalkan warisan yang pas sampai aku menyelesaikan masa sekolahku.

Tapi tidak lagi memiliki becak bukan berarti berakhir hubunganku dengan becak.
Bertahun-tahun setelah itu, ketika aku sudah menikah, suatu kali seorang tukang becak menghampiriku. Waktu itu malam hari dan aku memang sedang mencari becak setelah selesai berurusan dengan dokter gigi.
Tukang becak itu menyalamiku dan bilang kalau dia masih mengenaliku sebagai anak si “Engko becak”. Rupanya dia dulu salah satu penyewa becak Papa.
Akhirnya sambil mengantarku pulang, kami jadi ngobrol layaknya teman lama yang baru bertemu kembali.
Dan itu bukan cuma sekali terjadi. Eks tukang becak Papa ada yang sudah punya becak sendiri, tapi ada juga yang masih ngabatang.
Mang Onji, pengawal setiaku kudengar meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Pernah berhenti narik becak dan jadi tukang sapu di pasar, tapi kemudian narik lagi. Malah kalau tidak salah anaknya ikut juga jadi penarik becak.

Sekarang ini bahkan di Tasik pun becak sudah tak boleh lagi memasuki jalan-jalan utama. Ada yang bilang ini kendaraan tidak manusiawi karena memeras tenaga manusia. Ada lagi yang menuduh becak sebagai penyebab kesemrawutan kota.
Hidup pastilah makin sulit bagi tukang-tukang becak. Maraknya sepeda motor makin mempersempit ruang mereka untuk mencari nafkah.
Tapi kalau dipikirkan, masih banyak sebetulnya yang membutuhkan kehadiran becak. Terutama untuk menuju tempat-tempat yang tidak dilalui angkot.

Bagiku sendiri, selama becak masih belum punah, agaknya aku masih akan bernyanyi……..
Saya mau tamasnya
berkeliling-keliling kota
hendak melihat-lihat
keramaian yang ada
saya panggilkan becak
kereta tak berkuda
becak, becak coba bawa saya……

Saktinya tukang becak

** gambar-gambar hasil googling


Advertisements

Comments on: "I love Becak" (45)

  1. Tadi udah nulis, trus kehapus………. terpaksa ngulang lagi….!!!

  2. drackpack said: Tadi udah nulis, trus kehapus………. terpaksa ngulang lagi….!!!

    masa..ini baru muncul looh di inbox..*baca dulu*

  3. tadi aku udah komen lohhhh

  4. wuaaaah ternyata ceu Novi, anak juragan becak dulunya.. sayang yaa becak udah mulai dikit..selain karena memang makin banyak gak boleh berdar, trus juga suku cadang becak kan makin susyeh..

  5. Tukang becak sekarang mah pada nyebelin. Masa’ di kampung saya berani jalan melawan arus? Jadi kalau kita mau nyebrang terpaksa ya harus tengok kiri-kanan juga. Belum lagi yang di daerah pasar, kalau lewat nggak tau diri, orang sedang nungging milih sayur atau buah yang di pinggiran jalan disrondol aja. Itu kejadian pada saya, ya marahlah saya, tapi pas saya cerita sama akangnya bunda Aghnat malah diketawain coba halah……….!Saya nggak ngefans lagi ah sama becak! Nggak punya sopan santun gitu!

  6. Mbak Niez,Maap, tadi salah pencet. Mau ngedit malah kehapus semua.

  7. Nita,Di banyak tempat kalah sama ojek.Tapi aku sih ogah kalo disuruh naik ojek.

  8. Ih, saya juga suka sebel sama tukang becak yg suka seradak seruduk. Tapi itu gak bisa ngilangin kesenangan saya naik becak.Udah beberapa kali becaknya sampe terguling aja tetep gak kapok kok.

  9. Dongengan sejarah yang sangat mengharukan Novi…

  10. Beca juga kendaraan fav daku sampe sekarang..

  11. Pak Ed,Emang di Jakarta masih ada becak?Dulu pan udah dicemplung-cemplungin ke laut…

  12. Lha didepan praktek daku tempat mangkal beca :))

  13. di depok juga masih banyak becak..tapi aku malah belum pernah naik becak di depok hehehehe

  14. aku suka ga tega kalo naik becak. waktu kecil kalo diajak nenek naik becak, pas nemu tanjakan suka ikut turun bantuin dorong

  15. kalo tukang2 becak jaman dulu mungkin nyenengin ya Mbak, orangnya baik2 n ramah, waktu kecil aku juga sering diajak almarhumah Oma ato almarhum papa kemana2 naik becak..seneng…juga kasian ama pak becaknya…pasti berat ngayuh becak gitu…udah gedean n pindah rumah ketemunya sering ama tukang2 yg ga nyenengin, ditawar ngamuk, ga jadi naik diteriakin (lha abis kemahalan kadang), kalo ga naik nglewatin aja diuber2…hehehehe..tapi ya itu cara mereka bertahan hhidup dikehidupan yg makin berat ya…ga bisa disalahin juga šŸ™‚

  16. Pak Ed,Sukur kalo masih ada.Inget jaman becak dibuangin itu, aku takut banget kalo di Tasik juga becak bakal dihabisin. Tapi Papaku bilang, tenang aja Tasik jauh dari laut kok… hehehe…

  17. wah, novi anak juragan bcak ya? teman saya di sd dulu anak juragan oplet. oplet dan becak udah gak boleh beroperasi di jakarta hiks…

  18. Aku suka naik becak..

  19. Mbak Niez,Sama. Aku juga belum pernah naik becak di Depok…

  20. Kang Rawin,Mang becaknya suruh duduk terus si akang yg gowes becak… hihihi…

  21. Helen,Bukan cuma tukang becak deh kayaknya. Semua juga sekarang jadi gampang marah, suka maksa, seneng mancing keributan.Ya itu tadi, setres mikirin hidup yg makin susah.

  22. Teh Efin,Oplet yg kayak punya si Doel itu ya?

  23. Wewet,Naik becak kakinya lebih leluasa ya… daripada naik metromini…

  24. hiks.. abis bacanya koq sedih yoooo…..

  25. Ah, Febbie lagi melow…. bawaan orok tuh!

  26. kan nulisnya sambil kangen kannn.. hayoooo

  27. Kangen babe…………. iya siiihhh…

  28. aku jadi kangen ama becak mbak.. di Sydney ndak ada soale :(Nanti kalau pulkam, mau puasing naik becak yach?:D

  29. drackpack said: Pak Ed,Emang di Jakarta masih ada becak?Dulu pan udah dicemplung-cemplungin ke laut…

    Yang dicemplungin ke laut dulu ada yang mungut, dijual ke LN. Di kota Dusseldorf, Jerman ada lho restoran Indonesia namanya “Restaurant Indonesia : Bali” yang majang becak hasil “menjaring” di laut Jawa di pintunya. Asli becak Jakarta.

  30. Hehehe… berapa taun gak naik becak, Von?Mudah2an bisa cepet pulkam ya? Trus gimana suamimu? Udah dapet dokter spesialisnya?Duh, semoga gak ada apa-apa ya.

  31. Bunda, Mestinya dulu gak usah dibuang ke laut ya. Dijualin aja jadi suvenir buat turis… hihihi…

  32. drackpack said: Hehehe… berapa taun gak naik becak, Von?Mudah2an bisa cepet pulkam ya? Trus gimana suamimu? Udah dapet dokter spesialisnya?Duh, semoga gak ada apa-apa ya.

    belum mbak.. lha ini masih cari dokter yang kosong..susah di sini mbak..Semoga.. tidak apa2 :DHe..he terakhir pulkam 1999 šŸ˜€

  33. drackpack said: Bunda, Mestinya dulu gak usah dibuang ke laut ya. Dijualin aja jadi suvenir buat turis… hihihi…

    Iya, memang dipungutin lagi, terus dijualin, yang ke Eropa, dibelinya sama orang Indonesia di Jerman kok, saya ngobrol sih sama tauke restoran “Bali” itu.

  34. Becak juga alat transportasi favoritku juga, Nov. Sayang di tempat ibuku tinggal, susahnya nyari becak.Awal kami menikah, si P-J gak mau naik becak, dengan alasan tidak manusiawi, setelah aku jelas’in salah satunya adalah dengan kita naik becak, yang berarti kita membantu tukang becak mendapatkan penghasilan, baru deh….dia mau naik becak.

  35. di kota kelahiranku ga ada becak dayung loh mbak.. adanya becak mesin getoo šŸ™‚

  36. drackpack said: Teh Efin,Oplet yg kayak punya si Doel itu ya?

    betul…

  37. Mb Helene,Ya itu makanya becak Jakarta dicemplungin ke laut, gak manusiawi katanya.

  38. Mb Vris,Pernah liat gambarnya, tp belum pernah nyoba.

  39. Anak tauke becak juga :Dsyukur deh tukang becaknya pada ngerti dan setor sendiri. Lah aku harus ngejar mereka buat ambil setoran.

  40. Oww, Bang Tiar juga ‘ngebecak’?

  41. baru baca ini, menarik sekali baca cerita inidi komplekku masih ada tukang becak, maklum, komplek di pinggiran jakarta

  42. Sama, mbak. Rumahku juga di Bandung coret, jadi becak masih banyak.

  43. Hiks, sedih membaca ini, MbakTapi salut dengan usaha yang dimiliki papanya

  44. Gak bermaksud bikin sedih lho, Naz.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: