Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Rumah Para Lansia

Mamaku adalah si tengah dari tiga bersaudara, semuanya perempuan. Konon sebetulnya nenek dan kakekku punya delapan orang anak, tapi yang lain tidak ada yang mencapai umur lebih dari tiga tahun (tragis banget ya…) Makanya tiga yang ada ini sering disebut “Panyesaan (sisa-sisa)”.

Setiap orang yang mengenal mereka tidak akan menyangkal bahwa mereka adalah tiga bersaudara yang sangat dekat dan kompak, dari muda sampai sekarang.
Saking kompaknya, waktu Papaku berpulang tahun 1987, mereka lalu memutuskan untuk tinggal serumah lagi.
Jadilah kami satu keluarga besar. Aku bertiga dengan Mama dan adikku, Ayi (Kakak Mama) yang gak menikah, dan Ii (Adik Mama) dengan suami dan dua anak laki-lakinya.

Tahun-tahun pertama adalah masa penyesuaian yang lumayan melelahkan secara emosi.
Bagaimanapun kompaknya mereka, tapi menyatukan tiga keluarga yang masing-masing punya aturan dan tata cara sendiri sungguh bukan hal yang mudah. Keributan terjadi hampir tiap hari, terutama di antara kami anak-anak. Mulai dari rebutan kamar mandi, rebutan makanan, rebutan kursi paling enak kalau nonton TV, sampai pembagian tugas-tugas rumah, semua bisa jadi sumber pertengkaran.
Pokoknya tidak ada hari tenang. Padahal waktu itu aku kelas 3 SMA dan lagi menjelang ujian. Biarpun sebagai anak paling besar aku dapat fasilitas kamar sendiri, tetap saja suasana itu membuatku tidak nyaman dan susah berkonsentrasi belajar.

Perbedaan cara mendidik anak-anak juga sering jadi bahan keributan antar orangtua. Tanteku mendidik anak-anaknya dengan keras. Hukuman untuk kenakalan atau pelanggaran disiplin adalah pukulan di pantat dengan memakai rotan. Padahal dari kecil Mamaku nyaris gak pernah menghukum secara fisik. Paling parah ya cuma menjewer.
Jadi saat melihat adik-adik sepupuku dihajar rotan oleh ibunya, aku sering ketakutan sendiri.
Sebaliknya tanteku tak henti-hentinya meremehkan cara Mama yang menurutnya terlalu lemah pada anak-anak.

Pokoknya tahun-tahun itu benar-benar jauh dari menyenangkan.
Tapi seiring berjalannya waktu, kami pun mulai terbiasa dengan kehidupan bersama ini. Satu persatu masalah akhirnya mendapatkan pemecahannya.
Hidup pun mulai terasa bersahabat lagi.

Waktu berlalu dan kami anak-anak semakin bertumbuh dewasa. Satu persatu pun mulai meninggalkan rumah. Dimulai denganku yang pindah ke Bandung setelah menikah. Disusul tak lama kemudian adik sepupuku yang besar kuliah ke Jogya. Dia akhirnya tidak kembali lagi ke Tasik karena kemudian bekerja dan mendapatkan jodohnya di sana.
Lalu beberapa bulan lalu adikku pindah ke Balikpapan mempersiapkan masa depannya di sana. Dan terakhir si bungsu menyusul kakaknya ke Jogya karena mendapat pekerjaan juga di sana.

Sekarang rumah besar itu jadi sepi karena isinya tinggal empat lansia. Kadang cuma bertiga karena Mamaku sekarang lebih sering berada di Bandung.
Kadang ada juga perasaan khawatir karena kesehatan mereka yang mulai menurun. Belum lagi penyakit pikun yang sering bikin masalah.
Masakan di atas kompor lupa diangkat sampai gosong (ini yang paling sering), masak nasi tapi lupa nyolokin listriknya (alhasil waktu mau makan, ternyata nasi masih mentah), barang-barang hilang karena lupa menyimpan di mana, lupa masukin salah satu bahan waktu masak dan baru nyadar setelah masakannya jadi, belanja ke warung tapi lupa bawa duit, atau ngantri di ATM tapi pas giliran masuk baru sadar kalo kartu ATMnya ketinggalan. Masih banyak pikun-pikun lain yang akhirnya membuat kami tertawa-tawa sendiri.

Kadang aku juga melihat ada benarnya kata-kata orang bahwa semakin tua umur, sifat malah kembali seperti anak kecil. Begitulah para lansia di rumahku. Suka ngambek, suka rebutan remote TV (persis kami anak-anak waktu kecil dulu), kalo punya makanan suka diumpet-umpetin karena takut gak kebagian padahal akhirnya sampai basi di kulkas karena yang punya malah lupa sendiri.

Anehnya, meskipun hampir tiap saat mengeluhkan suasana di rumah yang selalu membuatnya kesal, Mamaku tidak pernah betah tinggal di Bandung lebih dari seminggu. Padahal mestinya disini beliau lebih terurus dengan baik. Terbukti kesehatannya selalu jauh lebih baik ketika berada di sini.
Tapi entahlah, mungkin baginya rumah yang sesungguhnya tetaplah di Tasik.
Meskipun begitu berada di sana hampir tiap hari teleponnya cuma berisi omelan tentang ulah para lansia di rumah atau keluhan bosan karena rumah yang sepi.

Gak tahulah…..

Aku cuma tiba-tiba berpikir melantur, seperti apa nantinya rumahku ini setelah anak-anak dewasa dan menjalani hidupnya masing-masing………
Terbayang aku dan si Babe berduaan lagi sebagai dua lansia yang pikun…… yaaayyykksss……..!!!

Advertisements

Comments on: "Rumah Para Lansia" (25)

  1. Lapor cik : 1. I am the 1st one di sini. 2. Akhir kisah tenda biru sudah selesai diposting.Selamat menyenang-nyenangkan para lansia, semoga menerima berkatnya!

  2. Ayeuna mah rek komen enyaan ah.Ieu sugan keur nyeungseurikeun uing nya? Eta soal kompor meh meledug gara-gara masakan tutung mah pagaweyan saya, padahal saya nu ngora. Tapi nyumputkeun kadaharan tepi ka basi eta pagaweyan ibu sepuh hahahaha…….. Tada teuing……. Moal atuh sayah mah medit kawas kitu. Tapi enya ketang, mun kabeuki sayah mah disusumput dina koelkast anak saya ambeh euweuh nu nyoo hahahahaha…..Nice sharing cik! Love you and blessed you!

  3. bundel said: Akhir kisah tenda biru sudah selesai diposting.

    Udah ke sana barusan, Bunda…

  4. drackpack said: Udah ke sana barusan, Bunda…

    Iya, terima kasih ya.

  5. bundel said: Eta soal kompor meh meledug gara-gara masakan tutung mah pagaweyan saya, padahal saya nu ngora. Tapi nyumputkeun kadaharan tepi ka basi eta pagaweyan ibu sepuh hahahaha

    Walah, ternyata sama saja……Satu lagi kebiasaan para lansia di rumah, saling ngerokin karna sering masuk angin…. hehehe…

  6. memang rame kalo orang tua tua dikumpulin jadi satutingkah polahnya kembali seperti anak anak…

  7. Seringkali aku juga sedikit khawatir jika ibuku di tinggal sendiri, maklum ibuku juga sudah cukup umur. Tapi, bener, Nov, walaupun kita suka khawatir, tapi beliau tetap nggak akan betah berlama-lama di rumah anak-anaknya. Mungkin ini juga spt wajar juga, spt halnya kita yang tidak akan betah tinggal berlama-lama di rumah ortu kita, karena kita sudah terbiasa dengan rumah tangga atau kebiasaan-kebiasaan kita.

  8. rawins said: memang rame kalo orang tua tua dikumpulin jadi satutingkah polahnya kembali seperti anak anak…

    Susahnya kalau mereka nakal atau bertengkar gak bisa dijewer kayak anak-anak…

  9. drackpack said: Walah, ternyata sama saja……Satu lagi kebiasaan para lansia di rumah, saling ngerokin karna sering masuk angin…. hehehe…

    Ini mah enggak. Kakak saya nggak doyan kerokan. Jadi kalau saya butuh dikerokin, ya anak lelaki saya dengan menutup matanya mengerok saya hahahaha……..

  10. nonragil said: Seringkali aku juga sedikit khawatir jika ibuku di tinggal sendiri, maklum ibuku juga sudah cukup umur. Tapi, bener, Nov, walaupun kita suka khawatir, tapi beliau tetap nggak akan betah berlama-lama di rumah anak-anaknya. Mungkin ini juga spt wajar juga, spt halnya kita yang tidak akan betah tinggal berlama-lama di rumah ortu kita, karena kita sudah terbiasa dengan rumah tangga atau kebiasaan-kebiasaan kita.

    Iya, Mba…. biarpun sudah berusaha keras supaya beliau merasa nyaman di sini, tapi sepertinya gak ada yang bisa mengalahkan kenyamanan rumah sendiri.

  11. Iya kalau udah tua malah anaknya yg jd khawatir.Saya jg lg binun krn ga tega ninggalin ortu keluar. Abis klo saya tinggal d luar yg ada bakaln d sms sepanjang hari, buat keluhan2 org d rumah πŸ™‚

  12. seruuuuuuuuuuuuuuuuuu banget…. tiga keluarga disatukn. kebayang hebohnya. satu keluarga aja suka rame. hehehe. salut!

  13. drackpack said: Mulai dari rebutan kamar mandi, rebutan makanan, rebutan kursi paling enak kalau nonton TV, sampai pembagian tugas-tugas rumah, semua bisa jadi sumber pertengkaran.

    sound familiar…hahaha sama ternyata!

  14. kalau aku melihat orangtuaku, alhamdulillah dimasa tuanya, jadi happy….kalau sakit, sudah pasti mbak, namanya juga orang tua…tapi aku suka lihat ritme hidupnya, pagi jalan2…pulang dah beli sarapan. Pekerjaan rumah selenanya aja, masak juga tidak ngoyo..

  15. he..he.he. susahlah ortu menjauh dari rumah di kampung halamannya Novi, kalo dikau udah tua ngumpul lagi dengan adik adik :))

  16. semoga gak sampe pikun ya..

  17. Itulah hidup yach mbak…dari anak, tumbuhh, ehhhhhhhhh baliknya jadi anak lagi πŸ˜€

  18. Maap ya, baru sempat balesin komennya

  19. @Nita : serba salah kadang2. Ninggalin gak tega, tp kalo sama ortu terus kapan mandirinya.

  20. @Mba Efin : Iya, Mba… kehebohannya itu kadang bikin kangen

  21. @Lily :Kalo masih satu keluarga sih mending. Ini karena lain2 keluarga jadi kalau anak2 berantem suka ngerembet ke para ortu…

  22. @Mba Erwin :Mestinya begitu. Sudah sepuh ya tinggal menikmati masa tua. Giliran anak2 yg mengurus mereka.Mamaku juga gitu kok. Menjahitpun sekarang cuma buat mengisi waktu. Soalnya kalau gak ada kegiatan sama sekali juga bosen.

  23. @Pak Ed :Wah, aku kalo udah tua mending pacaran lagi aja sama si babe. Mudah2an dikasih Tuhan panjang umur…

  24. @Bang Tiar :Sekarang aja aku udah mulai pikun, gimana dong?

  25. @Mba Vonny :Nanti kita bakal ngalamin juga… Salam kenal, makasih sudah mampir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: