Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Ibu

Menatap wajah tirus pucat dengan derita tergambar di setiap guratnya, menggenggam tangan kurus kasar yang berkeriput termakan usia, rasanya aku seperti terlempar pada belasan tahun silam.
Teringat ketika tangan yang sama, wajah yang sama, mengelus rambutku dan menyiramku dengan senyuman berlumur cinta, sambil menatap matahari sore menghilang perlahan-lahan.
Aku tidak akan pernah melupakan ritual itu, yang selalu kulakukan bersama Ibuku setiap sore di beranda rumah. Setelah itu ia akan membiarkan aku tidur di pangkuannya seraya mulutnya menyenandungkan harapan dan doa-doa untukku.
Masa itu hidup masih terasa begitu indah dan senyum Ibu adalah segalanya bagiku.

Lalu keindahan itu hilang ketika seorang laki-laki yang selama ini kupanggil Bapak tiba-tiba berkhianat. Pergi tanpa perasaan setelah menghabiskan seluruh harta di meja judi.
Sejak itu binar di mata Ibuku memudar. Meski mulutnya masih kerap menghiburku dengan ucapan, “Bapakmu pasti pulang, Nak”. Tapi aku tahu jauh di lubuk hatiku cerita tentang Bapak sudah selesai.

Jutaan hari lewat kusaksikan Ibu jatuh bangun, berdarah-darah, terseret-seret beban hidup, tercampak ke dalam lumpur tanpa aku bisa berbuat apa-apa untuk melepaskannya.
“Semua demi kamu, Nak,” ungkapnya selalu dalam linangan air mata, “Demi masa depan dan kehidupan yang lebih baik untukmu kelak. Tak ada yang perlu disesali.”
Tapi bagaimana aku tidak menyesali diriku. Bukannya mempersembahkan istana pualam untuk ibuku, malah kutambahkan lagi coretan hitam jelaga di wajahnya.
“Tak heran dia hamil sebelum menikah, Ibunya saja perempuan malam,” cibiran orang-orang bagai belati menikamku perih.

Maafkan anakmu, Ibu. Maafkan semua kebodohanku.
Tapi hari ini sudah kuputuskan untuk menepati janjiku membebaskanmu. Tak akan pernah lagi tangan-tangan kotor para lelaki itu menjamah tubuhmu. Tak akan ada penghinaan lagi. Tak akan kubiarkan wajahmu terus kuyup oleh air mata.
Kalau dunia tak lagi menjanjikan apapun, akan kubawa dirimu pergi dari sini. Barangkali masih ada sedikit tempat buat kita di sudut langit, di mana aku bisa tertidur lagi di pangkuanmu setelah menatap matahari sore menghilang.

***

Tangan Ibu dalam genggamanku terasa dingin. Kubelai lagi tubuh kakunya yang tadi kubaringkan di atas dipan setelah kuberi minum segelas racun serangga.
Kuambil gelas kedua dan kuminum tanpa ragu.
Semuanya selesai sekarang.

Akhirnya selesai juga persembahan buat hajatan Bupeb………

Yipiiiiiiiieee….. berhasil juga masukin pideonya. Makasih Bupeb buat tutorialnya……

Advertisements

Comments on: "Ibu" (31)

  1. Vote buat yang ini ah cik Peb!Menngetarkan hati benar!

  2. Gileeee, ternyata FF mba Novi sama sadisnya dgn FF mamah depin, ckckckckck…Bravooo bravooo… *tepuktangan

  3. whoaaaaaaaaa….pada bunuh diriiii..

  4. sadis…..awas hanya untuk orang dewasa……aku vote buat mbak Novi..

  5. bundel said: Vote buat yang ini ah cik Peb!Menngetarkan hati benar!

    Ih, Bunda…. janten isin….

  6. mellyheaven said: Gileeee, ternyata FF mba Novi sama sadisnya dgn FF mamah depin, ckckckckck…Bravooo bravooo… *tepuktangan

    *ngumpetin muka, malu

  7. rengganiez said: whoaaaaaaaaa….pada bunuh diriiii..

    *meringis

  8. iras80 said: sadis…..awas hanya untuk orang dewasa……aku vote buat mbak Novi..

    Gak ada votenya, Mba….

  9. drackpack said: Ih, Bunda…. janten isin….

    Isin mah, turuban weh nganggo nyiru. Pan janten teu katawis 😀

  10. kalo minumnya Mortein nggak bakal mati lho wakakakakak

  11. bundel said: Isin mah, turuban weh nganggo nyiru. Pan janten teu katawis 😀

    Numawi teu gaduh…… punten atuh nambut heula…

  12. eddyjp said: kalo minumnya Mortein nggak bakal mati lho wakakakakak

    Iyalah…. nyamuk aja gak mati pake mortein…. mesti ditimpukin kalengnya dulu.

  13. drackpack said: Iyalah…. nyamuk aja gak mati pake mortein…. mesti ditimpukin kalengnya dulu.

    wakakakak makanya kudu dicantumkan mereknya dong :))

  14. drackpack said: Numawi teu gaduh…… punten atuh nambut heula…

    Ugh, sami, nyiru abdi ge bolong acan meser deui da beas ayeuna bararesih janten tara mikir meser nyiru enggal. Punten ah……..

  15. bagus ceritanya.lomba ya?

  16. abonenak said: bagus ceritanya.lomba ya?

    Iya, Mba…. ada linknya tuh kalo mau ikutan…

  17. eddyjp said: wakakakak makanya kudu dicantumkan mereknya dong :))

    provokator alami!!

  18. He he seru ceritanya……..

  19. ahhh lagu ini selalu mebuat terharu biru

  20. lilyrupiana said: provokator alami!!

    Hehehehe….

  21. rosyagus said: He he seru ceritanya……..

    Makasih, Mba….

  22. bunda2f said: ahhh lagu ini selalu mebuat terharu biru

    Semua lagu tentang Ibu selalu mengharu biru…..

  23. sahhh 🙂

  24. *jabatan tangan ama Bu Juri

  25. aduuuuuhhhhh nyesek banget bacanyakeren nih keren

  26. *blushing……..Makasih ya, dah mau baca cerita ngawur saya….

  27. numpang baca ya 🙂

  28. Silakan, Mba Intan…Tapi maaf, belum bisa bikin cerita yg bagus…

  29. ini juga bagus kok…..

  30. drackpack said: Tangan Ibu dalam genggamanku terasa dingin. Kubelai lagi tubuh kakunya yang tadi kubaringkan di atas dipan setelah kuberi minum segelas racun serangga.Kuambil gelas kedua dan kuminum tanpa ragu.Semuanya selesai sekarang.

    endingnya tak terduga … ceritanya bagus bu! 🙂

  31. Eksekusinya beneran keren. Bravo….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: