Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Saatnya Melepas

Ada rasa geli sekaligus terharu waktu membaca status FB adikku : Badan rasanya remuk. Coba bisa tidur seminggu…..
Status yang langsung mengundang banyak komentar dari teman-temannya. Dari yang serius sampai yang cuma ngeledek…

Aku mencoba membayangkan hidupnya di Balikpapan sekarang.
Sejak dia tiba di sana, ketiga anak mas Simon langsung nempel pada calon Ibu barunya. Bahkan tiga-tiganya ikut tinggal di tempat kost dan gak mau lagi pulang ke tempat ayahnya.
Di satu sisi aku merasa senang, karena apa yang dulu kutakutkan tentang tanggapan anak-anak terhadap keberadaannya sebagai ibu tiri sepertinya tidak terbukti. Tapi di lain pihak kasihan juga melihat si “Anak Mama” yang biasanya manja sekarang harus mengurus 3 anak sekaligus.

Seperti yang pernah kuceritakan, adikku adalah mutiaranya Mama. Dia punya tempat khusus di hati Mamaku yang membuat Mama terkadang agak berlebihan memperlakukannya.
Dulu waktu aku mulai diajari turun ke dapur, bersih-bersih rumah, nyetrika baju dan pekerjaan rumah lainnya, dia tidak pernah diberi tugas yang berarti. Paling cuma nyapu. Itupun banyakan tidak dilakukan.

Setelah lulus SMA, dia langsung kerja. Itupun karena Mama gak rela melepasnya kuliah ke luar kota dan jadi anak kost seperti aku.
Otomatis sampai sebesar itu dia tidak pernah belajar mengurus hidupnya sendiri. Makan tinggal makan karena Mama yang masak. Baju tinggal pakai karena dulu ada tukang cuci dan setrika di rumah. Pokoknya dia cuma tahu kerja di kantor. Pulang kerja kalau gak baca buku, main game sampai larut malam. Habis itu tidur.
Kalau kebetulan liburan di Bandung juga waktunya lebih banyak dihabiskan dengan tidur. Alasannya mumpung cuti, bisa tidur sepuasnya.

Makanya sekarang dia pasti kerepotan karena selain harus belajar mengurus dirinya sendiri sebagai anak rantau, juga harus mengurus tiga bocah yang aku yakin gak gampang.
Seperti yang diceritakannya padaku waktu pulang ke Bandung dua minggu lalu, katanya sekarang harus bangun subuh menyiapkan sarapan untuk anak-anak yang mau sekolah. Tidur juga sering larut malam, bukan karena main game atau nonton TV seperti dulu tapi harus nemani anak-anak belajar, juga harus nyuci dan nyetrika. Maklum gak ada mesin cuci di tempat kost…
Aku cuma bisa bilang bahwa semua pilihan itu punya resiko. Dan ini adalah resiko untuk pilihan yang dia ambil, jadi istri duren…………

Mamaku yang sepertinya masih setengah gak rela dengan pilihan itu berulang-ulang berkata dengan sedih, “Kasian… kok jadi begini nasibnya…”. Apalagi ketika adikku bercerita cuma mendapat rumah kontrakan yang kecil saja untuk mereka tinggal nanti setelah menikah, karena pekerjaan Mas Simon belum cukup mapan.
Ketika keluhan itu diulang untuk kesekian kalinya, aku terpaksa berkata dengan agak keras bahwa itu bukan sesuatu yang harus disesali………. (Sorry, Ma… but I have to say that….!)

Bagiku itu malah patut disyukuri. Bayangkan, di usia 37, ketika kami nyaris hopeless dia bisa bertemu pasangan hidupnya, ternyata Tuhan malah mempertemukannya dengan orang yang pernah dekat di hatinya belasan tahun lalu. Bukankah itu keajaiban namanya?
Aku bilang pada Mama sesusah apapun hidup adikku di sana, tetap jauh lebih baik dari pada dia terus hidup sendirian. Memangnya sampai kapan Mama bisa menemani dan mengurusnya…..
Sekarang dia punya teman berbagi, orang-orang yang kelak akan jadi sandaran hidupnya… kenapa pula harus disesali…??
Masalah hidup prihatin, itu rasanya biasa bagi sebuah rumah tangga baru. Aku juga dulu benar-benar mulai dari nol. Setelah menikah tinggal di rumah kontrakan yang kalau hujan bawahnya banjir, atasnya bocor. Mulai usaha kecil-kecilan yang hasilnya cuma cukup buat makan. Tapi semua baik-baik saja. Berkat itu pasti datang sepanjang kita gak berhenti berusaha.
Jadi kenapa mesti cemas? Keadaan adikku di sana boleh dibilang masih lebih baik dari aku karena dia masih bisa terus kerja. Gajinya masih lebih dari cukup untuk hidup.

Rela atau gak rela, sudah saatnya Mama belajar melepas anak kesayangannya untuk menjalani hidupnya sendiri. Belajar dewasa dan bertanggung jawab dengan pilihannya. Bagaimanapun dia bukan anak kecil lagi……

******
Bagiku ini sebuah pelajaran juga. Semoga kelak aku memiliki hati yang lapang jika tiba saatnya melepas anak-anakku untuk terbang ke masa depannya masing-masing……..
Walau masih lamaaa… tapi gak ada salahnya bersiap dari sekarang…



Advertisements

Comments on: "Saatnya Melepas" (40)

  1. Hmmmm… Bingung, hehehe…

  2. Nice story I like it verymuch.Pilihan hidup seseorang memang berbeda-beda, tapi benar kata mba, jalanin aja apa adanya. Saluuuuuut D”

  3. amiinnn..harus dipersiapkan dari sekarang ya Cie Novi πŸ™‚ semoga aku juga bisaaaa πŸ™‚

  4. Setiap pilihan pasti ada tantangannya, dan kalau adik cie novi kuat, mama harusnya dikasih puisi kahlil gibran tuh… πŸ™‚

  5. hehehe…kemarin melepas adik yang kerja di luar negeri cuma 6 bulan aja yang nganter serombongan. Lha wong adik bungsu, dah gitu dia yang paling deket sama Bapak Ibuk, bisa tau apa maunya ortu. Makanya berat juga melepas..apalagi awal2 ini dia sudah ngeluh kangen rumah..wehhh..padahal cuma setengah tahun πŸ™‚

  6. aku jadi pengen cerita soal aku dan ibuku nih…iya, kak… kita memang harus bersiap ya utk melepas anak2 kita ke arah yang diinginkannya… *semoga menuju ke arah kebaikan, amin…

  7. @Melly :Kok bingung? @Bang Rudal :Makaciiih…. @Kristin :Mudah2an kita dikasih umur panjang juga biar bisa mendampingi anak2 sampai tiba saat melepas…. Hiks… mendadak melow…

  8. @Mba Dina: Hmmm… aku juga suka puisi itu. Tapi gak kebayang nyuruh Mama baca puisi…. πŸ˜€

  9. @Mba Niez :Anak bungsu dimana-mana sama kali ya….Dulu sih aku suka agak jealous, tapi sekarang malah bersyukur karena Mama gak pernah rewel dg apapun pilihanku…. @Maya :Ayo cerita…*duduk manis siap dengerin dongeng

  10. adik mu hebat ^_^btw, bungsu bukan berarti manja πŸ˜€

  11. rirhikyu said: adik mu hebat ^_^btw, bungsu bukan berarti manja πŸ˜€

    aku bungsu πŸ˜€

  12. @Febbie :Tergantung ortu yg membentuk. Kalo berlebihan perhatiannya ya jadi manja.Anak sulung juga gak semua bisa diandalkan dan bertanggung jawab kok.

  13. @Maya :Nah, silakan menilai apa dirimu termasuk anak manja.Kalau adikku beneran, dari dulu anak mama banget…

  14. zeeppp zeeppppelajaran untuk mama… πŸ™‚ harus adil ya sama semua putra putrinya… 😦

  15. kayak adikku bgt. Bungsu, manja dan keras kepala. Tapi blm ketemu jodoh sampai sekarang. Kalau ditanya, langsung pasang tanduk dikepala…hehehe…

  16. @Mba Heni :Iya, Mba. Aku bercermin sendiri jangan2 aku juga terlalu mengistimewakan salah satu anak.

  17. @Mba Erwin :Adikku dulu juga begitu. Tapi pas ketemu cinta lamanya, tanduknya langsung ngelipet sendiri.Nanti adik Mba Erwin juga akan tiba gilirannya. Jangan berhenti berharap.

  18. mayamulyadi said: aku bungsu πŸ˜€

    Aku juga bungsu, tapi kata orang-orang rumah, aku justru lebih berpemikiran matang dibanding kakak-kakakku sekalipun yang sulung dan umurnya hampir tujuh puluh tahun.Bungsu cuma status dalam silsilah, tapi kepribadian tergantung masing-masing orang kok May.

  19. Salut atas jawaban cik Pipie. Bener mesti disadarkan bahwa itu adalah resiko dari kebahagiaan yang diambil dan dipilihnya sendiri. Semoga dia mengerti dan ikhlas menjalaninya.Salam buat dia kalau ngontak lagi ya. Semoga lekas menyesuaikan diri.

  20. really nice story…Semua ada waktunya, disaat sekeliling kita mendukung kita untuk menjadi pemalas, terbentuklah prilaku yang malas. disaat kondisi memang mengharuskan kita tanggap dan aktif, otomatis kita pun bereaksi aktif. yups, kecuali orang yang nggak ‘sadar’.sampai dengan SMA aku nggak kenal kerjaan rumah, disuruh belajar tok ama ortu. tapi sekarang yah bisa tuh. but aku nggak mau mendidik kaya aku kecil.

  21. drackpack said: Dan ini adalah resiko untuk pilihan yang dia ambil, jadi istri duren…………

    He he he…… Hem…… Masa sieh resikonya sebegitu besar nya kalau nikah sama Duren 😦 ( mikir2 lagi nieh jadinya )Mungkin seandainya saja dia belajar mandiri sejak dini, gak akan merasa sebegitu bertanya kali ya :)well…….. harusnya Ibu nya Berfikir, kalau dia nya Happy, apa lagi yang harus di khawatirkan. toh….. kebahagian dia ( anak nya ) bukannya lebih penting dari segala2nya ya :)Kalau Khawatir ini dan itu sih wajar, namanya juga Seorang Ibu πŸ™‚

  22. iras80 said: kayak adikku bgt. Bungsu, manja dan keras kepala. Tapi blm ketemu jodoh sampai sekarang. Kalau ditanya, langsung pasang tanduk dikepala…hehehe…

    Adiknya cewek apa cowok Mbak Wind….. hihihi

  23. iyah mbak, mgkn itu naluri seorang ibu klo ngeliat anaknya dlm situasi tdk ‘nyaman’ yg dilihat dari kacamatanya, meski kdg si anak ngerasa ok2 aja…tpi memang hidup hrs dijalani ke depan dgn segala resiko & tantangannya.Jd inget saya ..biar sdh sgede gini,msh suka ditanyain sama nyokap klo kurusan dikit,..knpa?? sakit yah?? trs dimasakin deh…hahhaha

  24. Inilah saatnya cinderella berubah menjadi upik abu yang sakti :))

  25. dinantonia said: πŸ™‚

    πŸ˜›

  26. bundel said: Bungsu cuma status dalam silsilah, tapi kepribadian tergantung masing-masing orang kok

    Iya, betul…..Cuma orang aja suka menggeneralisasi.

  27. bundel said: Salut atas jawaban cik Pipie. Bener mesti disadarkan bahwa itu adalah resiko dari kebahagiaan yang diambil dan dipilihnya sendiri. Semoga dia mengerti dan ikhlas menjalaninya.Salam buat dia kalau ngontak lagi ya. Semoga lekas menyesuaikan diri.

    Nanti saya sampaikan salamnya. Dia juga suka ngintip-ngintip rumah saya ini kok…. Cuma diajak ngempi gak mau karena gak suka nulis katanya…

  28. Biasanya sih yang gak bisa juga jadi bisa kalau kepepet ya, Mbak….. Aku juga berpikir dengan adikku tinggal jauh dari ortu mungkin kedewasaannya akan lebih terasah. Masa sih seumur-umur mau jadi anak mama terus….

  29. @Mba Rosy:Maksudku, biasanya kalo menikah itu kan pertama2 belajar ngurus suami. Trus punya anak, tambah lagi belajar ngurus anak. Nanti tambah lagi anak kedua, ketiga dst.Lha kalo dapat yg udah berbuntut 3 kan jadi langsung repot.Apalagi buat yg gak biasa ngurus diri sendiri macam adikku itu.

  30. @Mba Imel :Kalo gak gitu emang namanya bukan ibu.Padahal adikku bercerita begitu ya cuma sekedar cerita saja. Tanpa nada menyesal atau sedih. Masih bisa ketawa-tawa.Berarti gak ada yg perlu dicemaskan sebetulnya kan?

  31. @Ko Eddy :Biasanya mah upik abu jadi cinderella yah?Tapi ini emang bukan dongeng…Jujur, sebetulnya aku salut sama keberaniannya keluar dari zona nyaman. Mudah2an upik abu ini juga lived happily ever after ya….

  32. drackpack said: Jujur, sebetulnya aku salut sama keberaniannya keluar dari zona nyaman.

    the power of love….

  33. Great love story!

  34. drackpack said: Tuhan malah mempertemukannya dengan orang yang pernah dekat di hatinya belasan tahun lalu. Bukankah itu keajaiban namanya?

    seringkali tuhan punya rencana sendiri yang kita tak tahu maksudnya. πŸ™‚

  35. eddyjp said: the power of love….

    :))

  36. lilyrupiana said: Great love story!

    Ahemmmm……..

  37. abonenak said: seringkali tuhan punya rencana sendiri yang kita tak tahu maksudnya. πŸ™‚

    Betul banget, Mba Efin….Biarpun kadang gak mengerti, percaya aja bahwa yang Dia berikan itu yang terbaik.

  38. nice story mba…=)

  39. drackpack said: Semoga kelak aku memiliki hati yang lapang jika tiba saatnya melepas anak-anakku untuk terbang ke masa depannya masing-masing……..

    Amin.Kau si-siaplah dari kini.Waktu tu cepat berlalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: