Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

My Dad, My Hero

Gara-gara membaca jurnalnya Bunda Julie tentang “Hero”, jadi rada-rada melow dan terkenang-kenang masa lalu.
Teringat sosok pahlawan dan tokoh idolaku dari kecil. Papaku.

Agak susah mendapatkan fotonya, karena semua tersimpan di rumah di Tasik. Tapi aku berhasil mendapatkan yang ini dari FB adikku

Ihihihi… masih imut-imut banget ya…

Aku dan adikku cuma dua bersaudara. Entah kenapa sedari kecil banyak yang berkata aku anak Papa sementara adikku anak Mama.
Bukan berarti mereka membagi kasih sayang secara tak adil. Tapi dalam banyak hal aku memang lebih banyak kecocokan dengan Papa, sementara adikku sampai sekarang pun adalah si bungsu yang punya tempat khusus di hati Mama.

Waktu kami kecil dulu, kalau mau pergi bersama naik becak, aku akan berada di pangkuan Papa dan adikku di pangkuan Mama.
Setelah kami mulai besar dan perlu 2 becak untuk bepergian, aku pasti kebagian satu becak dengan Papa dan adikku dengan Mama.

Papaku kakinya cacat karena polio yang menyerangnya waktu kecil. Tapi bagiku itu malah merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Cuma aku di sekolah yang punya Papa berkaki besi….
Aku ingat setiap pagi sebelum pergi sekolah, aku senang sekali memperhatikan Papa memasang sepatu besinya yang bergesper banyak. Bagi imajinasi kecilku waktu itu, sepatu itu membuat Papa keren sekali.

Papa punya hobby menulis, yang belakangan ternyata menurun padaku. Beliau dulu suka menterjemahkan cerita-cerita berbahasa asing lalu mengirimkannya ke berbagai media cetak (terbanyak dimuat di majalah “Senang” sekitar tahun 70-an).
Waktu aku SMP dan mulai belajar bahasa Inggris, Papa memberiku tugas menterjemahkan sebuah cerita. Judulnya “The Doctor’s Son”, penulisnya aku tidak ingat lagi.
Terang saja gagal total. Lha di sekolah saja pelajaran baru sampai simple present tense…. hehehe…
Bahkan setelah aku kuliah dan kebetulan buku lama itu aku temukan lagi, aku tetap saja gak bisa menterjemahkan dengan baik cerita itu….

Tapi Papa tak berhenti menyemangatiku untuk belajar menulis. Aku diijinkan belajar memakai mesin tik kesayangannya. Papa juga membelikan buku-buku bagus untuk memuaskan hobi membacaku.

Selain urusan hobi, Papa sangat memperhatikan masalah sekolah anak-anaknya. Segala hal yang berhubungan dengan sekolah, Papa yang mengurus. Dari mulai mengambil rapot, memantau nilai-nilai ulangan sampai menulis surat ijin kalau anak-anaknya gak masuk sekolah (Jadi membandingkan dengan anak-anakku sekarang, yang semua masalah sekolahnya aku sendiri yang urus, termasuk kalau ada pertemuan ortu…)
Satu hal yang gak akan aku lupa, waktu aku kelas 1 SMA, nilaiku pernah turun drastis (lagi puber kali…). Ranking 19…. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah sekolahku.
Biarpun gak memarahiku, aku tahu dari raut wajahnya Papa kecewa bukan main. Biasanya setiap habis mengambil rapot senyumnya selalu terkembang cerah penuh bangga. Aku sampai bersumpah-sumpah dalam hati gak akan lagi membuat Papa kecewa seperti itu. Dan kupenuhi janjiku karena semester-semester selanjutnya posisiku tak pernah lagi beranjak dari 3 besar.
Waktu Papa mulai sakit, setelah beberapa hari opname di RS, beliau bersikeras minta pulang. Katanya karena anak-anak mau ulangan umum, jadi beliau ingin menemani di rumah.
Akhirnya dokter mengijinkan rawat jalan. Dan yang dilakukan Papa setiba di rumah adalah memasang sebuah kasur lipat di kamar depan yang dijadikan tempat belajarku. Dengan ditemani segelas teh, sekaleng biskuit kesukaannya dan beberapa majalah, tiap malam Papa menemaniku belajar di kamar itu (Duh, aku selalu pingin mewek kalau ingat ini…)

Bukan hanya seorang Papa yang baik tapi aku melihat Papa juga seorang suami yang sempurna, setidaknya dimataku. Mama sendiri mengakui bahwa selama 17 tahun mereka hidup bersama, Papa belum pernah sekalipun membuat Mama sakit hati. Padahal Mama orang yang emosional. Kalau mereka tak pernah bertengkar, itu lebih karena Papa punya kesabaran yang sangat luas.
Kalau Mama sedang ngambek, aku suka mendekati Papa ingin tahu apa yang dirasakannya. Biasanya tanpa kata-kata Papa cuma tersenyum sambil mengucek-ngucek rambutku, seperti ingin menenangkan bahwa semua akan baik-baik saja.

Ya, semua memang akan baik-baik saja selama Papa ada di sampingku. Itu yang selalu kurasakan. Papa bagiku adalah matahari, adalah sauh bagi perahu kecilku. Aku merasa dunia begitu nyaman dan aman ketika berada dalam pelukannya.

Lalu dunia itu tiba-tiba runtuh waktu Tuhan memanggilnya pulang. Terlalu tiba-tiba dan aku sama sekali tidak siap. Aku kelas 3 SMA waktu itu, diambang ujian akhir. Mendadak aku tidak tahu lagi arah tujuan hidupku. Aku takut karena tidak bisa lagi melihat masa depan seperti apa yang tersedia untukku.
Untunglah saat itu ada seorang yang mengingatkanku bahwa Tuhan selalu punya rencana. Ada pelangi yang tersembunyi di balik awan mendung. Orang itu bilang, “Kamu kehilangan Papamu, tapi jangan lupa kamu masih punya Bapa di Surga yang akan memelihara hidupmu, menyayangi dan menjagamu seperti biji mataNya.”

Biarpun hari-hari setelah kepergian Papa sama sekali tidak mudah, tapi kata-kata itu selalu kuingat setiap kali aku sedih dan merasa sendiri.
Nyatanya setelah bertahun-tahun lewat, aku mulai bisa melihat bahwa rencana Tuhan memang tak pernah salah. Dia tahu yang terbaik, meski sesaat kita merasakannya sebagai yang terburuk.
Aku tidak akan pernah belajar menggantungkan harapanku sepenuhnya pada Tuhan kalau aku tidak merasakan kehilangan itu.

Hari ini ketika mengingat lagi semuanya, aku tiba-tiba ingin kembali menjadi gadis kecil di pelukan Papa. Ingin menemaninya mengisi TTS, nonton TV sambil makan singkong goreng kegemarannya, tertawa-tawa mendengar candanya di teras rumah saat senja.
Ingin kembali melihatnya saat berkhotbah di atas mimbar, atau saat sibuk dengan mesin tik tuanya.
Tapi kembali aku tahu bahwa Tuhan telah menetapkan yang terbaik bagi hidupku.
Dan aku tak pernah menyesalinya………..

Tanpa mengecilkan arti Mama dalam hidupku…
Dad, you are my hero……….

Aku suka sekali lagu ini :

I Love you daddy (Ricardo & friends)

DADDY, YOU KNOW HOW MUCH I LOVE YOU
I NEED YOU, FOREVER ,I’LL STAY BY YOUR SIDE
DADDY, OH DADDY
I WONT ALWAYS PLEASE YOU
BUT I’LL NEVER STOP TRYING
TO BE YOUR NUMBER ONE

YOU UNDERSTAND ME
YOU TEACH ME HOW TO PRAY
AND YOU PLAY THE GAMES I LOVE TO PLAY
I HAVE NO FEAR , WHEN YOU ARE NEAR
YOU GUIDE ME THRO THE DARKEST NIGHT

I LOVE YOU DADDY , YOU ARE MY HERO
AND YOU’RE ALWAYS IN MY DREAMS
I LOVE YOU DADDY , OH DADDY
YOU ARE MY SUPERSTAR

DADDY, YOU KNOW HOW MUCH I LOVE YOU
I WANT YOU, TO HELP ME , TO SHOW ME THE WAY
DADDY, OH DADDY
SOMETIMES I MIGHT DO WRONG
BUT I’LL NEVER STOP TRYING
TO BE YOUR NUMBER ONE

I WANT TO SHOW YOU
I’LL BE AS STRONG AS YOU
WHEN I GROW UP , I’LL STILL LOOK UP TO YOU
SO HAVE NO FEAR, I’M ALWAYS HERE
I WILL BE MY DADDY’S GIRL

YOU’RE ONE IN A MILLION , AND A MILLION IN ONE
FOREVER I WANT TO , BE BY YOUR SIDE
YOU’RE ONE IN A MILLION, SHOW ME THE WAY
GUIDE ME THROUGH MY LIFE

**Maap postingan kali ini rada melow…

Advertisements

Comments on: "My Dad, My Hero" (34)

  1. Aku juga sayang sangads sama Babe. . . (panggilan sayank) :)dan aku juga yg paling deket sama Babe. hemmm. . . jadi inget Babe juga. yang sudah lebih dulu meninggalkanku :)Luv My Dad 4ever. . . 🙂

  2. aku sama bapak sering berantem…tapi giliran kuliah, kalo seminggu gak pulang, selalu yang rewel nanya ya Bapak. Karena kangen berantemnya hehehehe…sampai sekarang loh mbak, sering debat.

  3. Kalau saya punya Papa model begini, saya juga akan sangat bangga kepadanya. Sama bangganya dengan kebanggaan saya kepada Meilan teman SD saya yang pengidap polio, tapi kemudian berhasil kuliah di Kedokteran dan kata Mama sama ciciknya akhirnya dinikahi orang Belanda serta dibawa ke negerinya.Meilan juga nggak pernah patah semangat meski anak-anak jahil sering menyembunyikan kruknya. Kalau saya ingat Meilan, rasanya saya kepengin bisa minta maaf atas perbuatan anak-anak itu (walau sudah barang tentu saya sih nggak termasuk di dalamnya, karena umumnya mereka anak-anak lelaki).Terima kasih atas kisah indahnya yang menarik. Salam hangat.

  4. Hiksss… aku sedih sekali bacanya…Kebayang kehilangan yang mbak novi rasakan…. hiks….Jadi sedih, andaikan aku punya papa yang seperti ini…. ;(Peluk peluk mbak novi

  5. Bapaknya pasti akan bangga membaca cerita ini.Di becak dipangku bapak dan adik dipangku ibu, soalnya bapak lebih besar drpd ibu, mungkin ?

  6. Potonya lucu..sama bapak hmm.. klo deketan malah gak deket.. begitu tinggal jauhan malah deket.. ceritanya bikin terharu ceu..

  7. so sweet.turut berduka ya.

  8. kelas 3 sma sudah ditinggal Papa, pasti sedih banget ya Nov…. :(((

  9. jadi mellow juga mbak..hiks..hiks…

  10. drackpack said: Tapi bagiku itu malah merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Cuma aku di sekolah yang punya Papa berkaki besi….Aku ingat setiap pagi sebelum pergi sekolah, aku senang sekali memperhatikan Papa memasang sepatu besinya yang bergesper banyak.  Bagi imajinasi kecilku waktu itu, sepatu itu membuat Papa keren sekali.

    Hua..ha.ha…dikau anak baik :)) babe dikau pendeta yah…

  11. unguviolet31 said: jadi inget Babe juga. yang sudah lebih dulu meninggalkanku 🙂

    Duh, maap…. jadi bikin sedih.*peluk dulu deh…

  12. rengganiez said: aku sama bapak sering berantem…tapi giliran kuliah, kalo seminggu gak pulang, selalu yang rewel nanya ya Bapak. Karena kangen berantemnya hehehehe…sampai sekarang loh mbak, sering debat.

    Bersyukur, Mba…. masih bisa debat sampai sekarang….Mudah-mudahan Bapaknya dikasih sehat dan panjang umur yaa…

  13. jandra22 said: Meilan juga nggak pernah patah semangat meski anak-anak jahil sering menyembunyikan kruknya. Kalau saya ingat Meilan, rasanya saya kepengin bisa minta maaf atas perbuatan anak-anak itu (walau sudah barang tentu saya sih nggak termasuk di dalamnya, karena umumnya mereka anak-anak lelaki).

    Waktu saya SD, pas pengambilan rapot ada seorang teman tanya, “kok Papa kamu jalannya pincang sih?”Saya jawab, “Soalnya Papa bawa senjata rahasia di kakinya. Kalo gak percaya coba aja tendang kaki kanannya, pasti kakimu sakit sendiri…”Untungnya temen saya itu masih punya sopan santun dan gak melakukan yang saya suruh… hehehe…

  14. dgreena said: Hiksss… aku sedih sekali bacanya…Kebayang kehilangan yang mbak novi rasakan…. hiks….Jadi sedih, andaikan aku punya papa yang seperti ini…. ;(Peluk peluk mbak novi

    Peluk balik Mba Dina.Maap ya… jadi bikin sedih.

  15. puntowati said: Bapaknya pasti akan bangga membaca cerita ini.Di becak dipangku bapak dan adik dipangku ibu, soalnya bapak lebih besar drpd ibu, mungkin ?

    Mungkin saja, Mba Silvy. Tapi adik saya memang suka gak mau dipangku Papa, alasannya sakit kena kaki besinya.

  16. nitafebri said: Potonya lucu..sama bapak hmm.. klo deketan malah gak deket.. begitu tinggal jauhan malah deket.. ceritanya bikin terharu ceu..

    Biasa itu mah, Mba Nita…. kalau jarang ketemu kan jadi kangen.Memang Mba Nita gak tinggal dengan ortu?

  17. thedarksideofmymind said: so sweet.turut berduka ya.

    Thx…. tapi itu sudah lewat berpuluh tahun, jadi dukanya sudah gak terlalu berasa. Kecuali kalau lagi melow begini….btw, senang berkenalan dengan Mba Sita…

  18. pingkanrizkiarto said: kelas 3 sma sudah ditinggal Papa, pasti sedih banget ya Nov…. :(((

    Dulu mah rasanya jadi orang paling malang sedunia, Mba Ping. Tapi setelah bisa melihat hikmah di balik musibah itu, saya malah jadi bersyukur kok.Semua indah pada waktunya…

  19. iras80 said: jadi mellow juga mbak..hiks..hiks…

    Aiihh…. Mba Erwin…Aku jadi merasa bersalah nih.. bikin banyak orang ikutan melow…*peluk dulu, ah….!!

  20. eddyjp said: babe dikau pendeta yah…

    Iya, Ko Ed… tapi bukan gembala jemaat.

  21. drackpack said: Iya, Ko Ed… tapi bukan gembala jemaat.

    apa bedanya ?

  22. Ya, beda…Kalau gembala jemaat umumnya full time di pelayanan. Kalau Papaku masih punya usaha sendiri, jadi juragan becak… Hehehe…

  23. drackpack said: Ya, beda…Kalau gembala jemaat umumnya full time di pelayanan. Kalau Papaku masih punya usaha sendiri, jadi juragan becak… Hehehe…

    OH gitu, jadi part timer ya pelayanannya, anaknya ada yang mengikuti jejaknya ? :))

  24. Gak ada tuh….Aku ibu RT saja dan adikku kerja di Bank.

  25. Huhuuu..jadi inget bapakku juga mbak..Beliau akhirnya meninggal tepat setelah 2 tahun menjalani cuci darah karena gagal ginjal..Beliau galak bangettt, tapi juga royal banget, alias sangat dermawan :)Yang kuingat sampai detik ini, saat-saat terakhir bapak mo gak ada, beliau mempersiapkan betul semuanya dengan detil..Hmm, kurasa setiap orang baik selalu tahu (punya feeling kuat) kalau ajalnya sudah dekat ya.. *nice post mbak, btw kayaknya baru kali ini saya baca postingan mbak Novi lagi..atau kelewatan dari inbox-ku?

  26. drackpack said: Ya, beda…Kalau gembala jemaat umumnya full time di pelayanan. Kalau Papaku masih punya usaha sendiri, jadi juragan becak… Hehehe…

    Tanteku jadi penatua, itu gembala jemaat bukan sih? Tapi itu juga full time nya setelah pensiun dari PNS. Sekarang anaknya diakon, sebagai bendahara gereja di GPIB.

  27. drackpack said: Gak ada tuh….Aku ibu RT saja dan adikku kerja di Bank.

    He..he..he..siapa tau ntar ada panggilan yang sama yah..

  28. sutrapelangi said: btw kayaknya baru kali ini saya baca postingan mbak Novi lagi..atau kelewatan dari inbox-ku?

    Aku memang jarang posting , Mba…Tapi kayaknya memang ada beberapa yang gak dikunjungi HS Mba Sari… hehehe…

  29. jandra22 said: Tanteku jadi penatua, itu gembala jemaat bukan sih? Tapi itu juga full time nya setelah pensiun dari PNS. Sekarang anaknya diakon, sebagai bendahara gereja di GPIB.

    Gembala jemaat itu biasanya adalah seorang pendeta yang bertanggung jawab terhadap ibadah dan segala sesuatu yang berkaitan dengan jemaat di gereja tersebut. Kalau penatua biasanya terdiri dari beberapa orang, tidak harus punya gelar pendeta dan Mereka itu semacam dewan penasehat begitu.Sedangkan diakon biasanya berurusan dengan keuangan dan masalah-masalah sosial.

  30. drackpack said: Duh, maap…. jadi bikin sedih.*peluk dulu deh…

    hehee. . ndak owk. . ndak sedich ^_^Caayyooooo. . . Smangadsss (^_^)/

  31. drackpack said: senang berkenalan dengan Mba Sita

    Sita?Well.. It’s Sitia. S I T I A.Nice to meet you too.. :DD

  32. Sita?Well.. It’s Sitia. S I T I A.Nice to meet you too.. :DD

  33. drackpack said: senang berkenalan dengan Mba Sita…

    Sita? Sitiaaa…. kurang ‘i’ . :((okeee… salam kenal!

  34. nice story Mbak…ikut terhanyut..salam kenal yaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: