Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Warisan

Kematian yang tiba-tiba selalu membuat terhenyak.
Tak peduli setinggi apa posisinya atau seberapa banyak uang yang dimilikinya, kalau Sang Pemilik Kehidupan sudah memutuskan bahwa jatah seseorang di dunia habis, maka tak ada yang bisa memberi sogokan untuk memperpanjang.

Tiba-tiba aku berpikir, seandainya Bapa di Surga menyuruhku pulang suatu saat, apa yang akan diingat orang-orang tentang aku? Apa yang akan diingat anak-anak tentang Ibunya? Apa yang akan dikenang suamiku tentang kebersamaan kami? *jadi pingin nangis nih…

Ada yang pernah bilang, kalau mau tahu seperti apa seseorang semasa hidupnya, lihatlah waktu dia mati. Banyak yang menangis atau malah mensyukuri? Banyak yang kehilangan atau malah lega?

Beberapa waktu yang lalu salah satu sepupu suamiku yang pernah kuceritakan di sini meninggal dunia. Anaknya mengabarkan berita itu pada kami dengan nada begitu biasa seperti sedang bercerita tentang sesuatu yang terjadi tiap hari.
Suamiku yang kemudian melayat, pulangnya bercerita bahwa dia sungguh sedih melihat gak ada kerabat ataupun tetangga yang datang di rumah duka. Anak perempuannya yang tinggal di Australia saja tidak memerlukan datang. Jadi cuma ada suaminya, anak laki-laki dan menantunya, suamiku dan beberapa orang dari gereja.
Aku tidak terlalu tahu seperti apa sepupu itu semasa hidup. Tapi melihat dari suasana pemakamannya mungkin orang sudah bisa menilai.

Kembali aku berpikir tentang warisan apa yang kelak kutinggalkan kalau waktuku di dunia habis. Bukan warisan harta, tapi yang jauh lebih bermakna dari itu. Warisan yang gak bakal jadi bahan rebutan, yang gak bisa dicuri dan gak akan hilang selamanya.
Sepertinya harus mulai menabung dari sekarang…. menabung hal-hal baik buat warisan.
Karena kita tidak pernah tahu kapan saatnya….

**terinspirasi berita tentang Adjie Masaid yang tutup usia tanpa diduga.

Advertisements

Comments on: "Warisan" (8)

  1. Segala amal perbuatan dan tingkah laku baik kita, itulah warisan abadi yang akan ditinggalkan untuk dikenang selamanya di dunia ini. Hayo, jangan mikirin mati dulu ah, kasihan kan anak-anak.

  2. Almarhum mama mertua adalah orang yg sangat baik dan peduli pada keluarga, teman dan tetangga. Waktu mama mertua mulai lemah kami baru saja memulai liburan di Indonesia. Suami yg sudah lama di Indonesia untuk urusan pekerjaan, memutuskan segera pulang shg masih bertemu dg mamanya. Selang beberapa hari mama mertua meninggal. Saya bermaksud pulang untuk menghadiri pemakamannya tapi suami justru mencegah. Suami saya yg sangat mengenal ibunya memberi penjelasan bahwa mama mertua saya akan mengerti dan rela jika saya tidak hadir saat pemakaman, krn saya dan anak saya hanya bisa bertemu dg keluarga Indonesia satu kali setahun.Begitulah kita bisa menafsirkan ketidak hadiran keluarga saat pemakaman dg tafsiran yg berbeda.

  3. Kematian memang gak ada yg bs menduga*btw,aku nyimak jg komen mba silvy.Memang benar mba sil.Aku pernah punya teman yg sempat sedih bgt pas gak bisa pulang saat kematian ayahnya yg sangat dia cintai.Krn saat itu keadaan gak memungkinkan, dia sedang kuliah di amrik dan sedang banyak ujian. Gak susah sekali tuk mengurus ini itu untuk bs pulang ke indo dan balik lg kesana. Semuanya dipertaruhkan. Akhirnya dia gak bs plg. Kebayang banget betapa sedihnya dia.Duh, pdhl dia dokter, dan saat papa nya membutuhkan dia, dia gak bs mendampinginya. Hiks.

  4. rirhikyu said: Kematian memang gak ada yg bs menduga*btw,aku nyimak jg komen mba silvy.Memang benar mba sil.Aku pernah punya teman yg sempat sedih bgt pas gak bisa pulang saat kematian ayahnya yg sangat dia cintai.Krn saat itu keadaan gak memungkinkan, dia sedang kuliah di amrik dan sedang banyak ujian. Gak susah sekali tuk mengurus ini itu untuk bs pulang ke indo dan balik lg kesana. Semuanya dipertaruhkan. Akhirnya dia gak bs plg. Kebayang banget betapa sedihnya dia.Duh, pdhl dia dokter, dan saat papa nya membutuhkan dia, dia gak bs mendampinginya. Hiks.

    Terima kasih Feb…..sebagai anak yg ditinggalkan kita memang lebih sedih dibandingkan yg meninggalkan kita untuk beristirahat di alam baka.Contohnya saya sendiri. Sehabis menikah, saya tidak tega meninggalkan almarhum ayah saya yg sudah lama sakit untuk bergabung dengan suami. Ketika ayah saya mengetahui pikiran saya beliau menganjurkan agar saya segera menyusul suami dan tidak perlu merisaukan keadaan ayah saya. Mnrt beliau jika sang suami baik maka adalah kewajiban istri untuk mendampingi suami. Sebagai anaknya saya bisa mendoakan kesehatan ayah dari jauh. Ayah saya meninggal kira2 setahun setelah pernikahan saya. Pesawat saya mendarat saat ayah saya sudah dimakamkan. Saya sangat menyesal tidak bisa merawat sampai akhir hidupnya. namun dilain pihak saya pikir ayah saya senang krn saya menuruti nasehatnya. Sampai saat ini saya selalu mendoakan arwah ayah saya. Mudah2an segala kebaikannya diterima Tuhan yang maha Kuasa.

  5. @Febbie & Mba Silvy :Memang banyak alasan kenapa seseorang tidak hadir dalam pemakaman orang terdekat.Tapi dalam kasus sepupu suamiku itu sedikit berbeda. Seperti yang pernah kuceritakan di jurnal dulu, mereka anak beranak seperti tidak punya ikatan emosi. Waktu anak-anaknya masih kecil, pasangan suami istri ini cuma tahu kerja dan kerja. Anak-anaknya tercukupi secara materi tapi tidak secara jiwa. Akibatnya waktu mereka dewasa, mereka memperlakukan orang tuanya dengan cara yang sama. Segala keperluannya dicukupi, tapi diabaikan.Sepupu yang meninggal itu udah lebih dari 10 tahun stroke. Tinggal cuma berdua dengan suaminya yang juga sudah lama sakit-sakitan. Anak-anaknya seperti tidak peduli. Dia sering mengeluh kesepian di hari tua.Aku pikir waktu dia meninggal, mungkin anak-anaknya masih ada rasa kehilangan. Ternyata mereka cuma mengurus seperlunya saja. Sedih aku melihatnya.

  6. @Bunda : Bukannya kita harus selalu ingat mati supaya gak kebablasan? Supaya inget nabung amal dan kebaikan, bukan cuma nabung duit di bank…

  7. drackpack said: @Bunda : Bukannya kita harus selalu ingat mati supaya gak kebablasan? Supaya inget nabung amal dan kebaikan, bukan cuma nabung duit di bank…

    Hehehehe…. iya ya, tapi masa’ saya jadi kerasa ngeri sih?

  8. aku kemarin koment via hape ternyata gak masuk…bener mbak, siapa menabur angin dia menuai badai…orang akan mendapat balasan sesuai amal perbuatannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: