Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Keinginan Vs Kebutuhan

Lingkungan tempat tinggalku sedang heboh. Salah satu satpam ketahuan sudah beberapa bulan ini nilep uang iuran warga. Gak tanggung-tanggung jumlahnya lebih dari 1 juta.
Satpam ‘Y’ ini termasuk yang paling lama bertugas di RT kami. Makanya dia diberi kepercayaan menarik iuran RT dari warga.
Yang namanya iuran biarpun cuma lima puluh ribu sebulan, selalu saja ada yang susah bayar. Bahkan ada yang berbulan-bulan gak bayar karena memang gak ada sanksi juga buat yang nunggak. Dalam hal ini warga cuma diminta kesadarannya karena uang itu digunakan untuk kepentingan RT, termasuk menggaji 3 orang satpam.
Rupanya setelah sekian lama diberi tugas, satpam ‘Y’ mulai melihat celah yang bisa dipakai untuk keuntungannya sendiri. Dia mengambil uang iuran dari warga yang biasanya susah bayar. Makanya sampai beberapa bulan gak ada yang curiga waktu uang itu gak disetor ke bendahara RT.

Tapi perbuatan tidak terpuji gak bisa ditutupi selamanya. Singkatnya dia ketahuan dan beberapa hari yang lalu disidang oleh para pengurus RT.
Waktu ditanya alasannya melakukan itu, dia bilang kepepet karena gajinya sebagai satpam gak mencukupi untuk menghidupi keluarganya. Alasan yang sangat basi…!

Waktu dengar tentang ini, aku dan suami iseng berhitung. Sebagai satpam selain menerima gaji mereka juga dapat tunjangan beras tiap bulan.
Dan biasanya banyak warga yang suka memberi pekerjaan sampingan kalau mereka sedang tidak bertugas, misalnya motong rumput, cuci mobil, atau ngecat rumah. Tentu saja itu berarti tambahan penghasilan juga.
Satpam ‘Y’ ini baru punya 1 anak yang umurnya belum setahun. Artinya belum perlu memikirkan biaya sekolah yang besar.
Dia juga diberi tempat tinggal gratis di salah satu rumah yang pemiliknya tinggal di Jakarta. Berarti dia tak usah memikirkan pengeluaran untuk tempat tinggal.
Ada lagi motor Vespa yang juga diberikan warga lain untuk dia pakai kalau perlu bepergian. Menghemat biaya transportasi.
Dengan melihat semua fasilitas itu rasanya sungguh tak masuk akal kalau masih bilang uang gajinya tidak cukup.

Beberapa orang menilai istrinya tidak bisa mengatur uang. Boros. Selalu ingin kelihatan gaya tanpa menghitung berapa penghasilan suaminya.
Memang terlihat dari caranya berpakaian, HP yang dia pakai, Sufor yang dia berikan untuk anaknya, dan kesenangannya jalan-jalan.
Dulu waktu mereka baru punya anak, aku memberikan tempat tidur bayi dan kereta bayi bekas anak-anakku. Kupikir dari pada memenuhi rumah karena aku gak berencana punya anak lagi, dan kondisi barang-barang itu biarpun sudah dipakai 3 anak tapi masih bagus dan layak pakai.
Ternyata istrinya gak mau pakai barang bekas. Ketahuan waktu kulihat tempat tidur bayi itu malah ngejogrok di belakang pos jaga dan dia kemudian beli yang baru.

Lantas aku jadi ingat seorang temanku yang juga terlibat hutang kartu kredit sampai puluhan juta. Sampai stress dia karena tiap saat dikejar-kejar debt collector. Waktu kutanya kenapa, alasannya sama. Gaji dia dan suami gak cukup buat biaya rumah tangga. Katanya karena dia ingin memberikan “yang terbaik” buat anak-anaknya, jadi dia selalu memberikan susu yang “terbaik”, menyekolahkan mereka di sekolah yang “terbaik” dan membelikan segala keperluan yang “terbaik”.
Tentu saja “terbaik” di sini artinya yang mahal.

Padahal mahal gak selalu berarti terbaik. Setidaknya menurutku. Aku ceritakan pada temanku itu bahwa anak-anakku selepas ASI cuma aku kasih susu bendera yang murah. Tokh mereka tumbuh dengan baik. Pintar dan sehat juga. Karena pertumbuhan, kepintaran dan kesehatan itu yang memberikan Tuhan kok, bukan susu formula.
Anak-anakku juga sekolah di sekolah yang biasa saja. Yang biayanya masih terjangkau oleh hasil kerja kami. Yang penting sekolah itu masih mengajarkan disiplin dan budi pekerti dengan cukup baik.
Aku gak mementingkan anak-anakku bersekolah di sekolah yang katanya berstandar internasional dan uang sekolahnya nyampe 6 digit tiap bulan.
Aku lebih tertarik mengisi jiwa mereka dari pada otak mereka. Mengajar mereka bagaimana nantinya survive dalam hidup, punya kepribadian yang baik, punya kerohanian yang dewasa. Itu bekal mereka buat masa depan.

Jadi bagiku istilah “gak cukup” itu sama sekali gak masuk akal. Sebab kalau mau “cukup”, sampai kapanpun gak akan pernah cukup. Semakin besar penghasilan, semakin banyak keinginan.
Keinginan, bukan kebutuhan.
Makanya kubilang gak akan pernah cukup. Manusia itu mahluk daging yang gak pernah puas kok.
Kenapa gak belajar mencukupkan diri dengan apa yang ada.
Aku sangat percaya Tuhan yang memberikan hidup pada kita, sanggup memelihara dan mencukupkan apa yang kita butuhkan.
Sekali lagi, yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.
Masalahnya adalah perlu hikmat untuk bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Jadi, mau termasuk golongan orang berhikmat atau termasuk golongan orang yang menyerah kalah pada keinginan daging..??
Itu pilihanmu……

Note : Belum dapat kabar lagi apa yang diputuskan pengurus RT terhadap satpam ‘Y’

Advertisements

Comments on: "Keinginan Vs Kebutuhan" (34)

  1. Wuih, like this, mba Novi… Aku jd mikir ttg pendapatan n pengeluaran nih, heheheShock jg trnyt aku pny utang lumayan,huuaaaaaa… *liatin bon belanja

  2. bapak ibuku yang tinggal di desa, menyekolahkan ke sebelas anaknya dengan susah payah.. hidup apa adanya itu indah, biarpun keluargaku miskin tapi aku pede.. walaupun adik-adikku disekolahkan oleh panti asuhan, tapi tetap bisa berprestasi…. semoga satpam Y sadar…pak RT….. buat keputusan yang terbaik.. jangan sampai salah membuat keputusan…

  3. kalau mau nuruti keinginan ku sih banyaaaak banget, mau ini mau itu, tapi kan kita punya kebutuhan yg lebih penting daripada hy sekedar keinginan yg bisa ditunda. Aku termasuk yg ga neko2 urusan uang, ada ya syukur.. Ga ada ya bersyukur juga. Apapun alasan yg dlontarkan satpam tadi tetap ga bisa diterima, mungkin ada baiknya dari pihak warga juga perhatikan ttg kelancaran pembayaran iuran yg mana itu juga merupakan salah satu dari pendapatan para satpam. Yang jelas perbuatannya salah dan harus diberi sangsi sbg pelajaran. Ayo jgn menyerah pada keadaan, bersyukur dgn apa yg kita punya. Semua sudah diperhitungkan dari Yang Diatas. Semangat kerja keras dan tentunya berdoa

  4. Terbaik,… Kata kata ini sering banget jadi perdebatan ama ibu ibu sekarang… Aku sendiri juga ga tau ada disisi memberi anak karena keinginan atau kebutuhan… Insha Allah aku masih membeli apa yang aku sanggup bayar, ga perlu berhutang untuk itu, cuma kalau dipikir2 dengan biaya sekolahku dulu jauuuuh banget, toh dengan biaya sedikit dulu aku baik2 aja? Aku punya motivasi tinggi dan bisa kerja dengan gaji layak? Entahlah, kadang aku sendiri dilema menempatkan apa yang harus diberi untuk anak, pernah kasi susu ‘terbaik’ alias termahal di rak susu supermarket, toh ternyata itu beneran ‘racun’ buat tubuhnya, bukan cuma sekedar racun sufor seperti kata mama yeah, dia alergi ama susu itu… Apa itu terbaik?? Jadi skarang, semampunya aja, berusaha jauhkan dia dari pengaruh tivi yang berlebihan, ga bisa larang juga….Sebagai manusia kebanyakan kita beli sesuatu karena ingin, dan bukan karena butuh…. Perlu banyak belajar lagi tentang ini, mengontrol keinginan dan keborosan

  5. @mba Dina : kalo ngomongin boros, kayak nyindir aku dheyyy, huuuuuuaaaaaaa… *nangis sambil ngunyah sosis

  6. mellyheaven said: Wuih, like this, mba Novi… Aku jd mikir ttg pendapatan n pengeluaran nih, heheheShock jg trnyt aku pny utang lumayan,huuaaaaaa… *liatin bon belanja

    Harus diakui menahan godaan itu susah kok, Mel…Ayooo… nabung, nabung… jangan belanja terus. Biar cepat bisa punya usaha sendiri…

  7. kereyoben said: bapak ibuku yang tinggal di desa, menyekolahkan ke sebelas anaknya dengan susah payah.. hidup apa adanya itu indah, biarpun keluargaku miskin tapi aku pede.. walaupun adik-adikku disekolahkan oleh panti asuhan, tapi tetap bisa berprestasi…. semoga satpam Y sadar…pak RT….. buat keputusan yang terbaik.. jangan sampai salah membuat keputusan…

    Sederhana itu indah, limpah itu anugerah.Diberi kelimpahan pun kalau tidak bijaksana menggunakannya gak akan jadi berkat.Salam kenal ya. Makasih sudah mampir.

  8. inbluesecure said: Apapun alasan yg dlontarkan satpam tadi tetap ga bisa diterima, mungkin ada baiknya dari pihak warga juga perhatikan ttg kelancaran pembayaran iuran yg mana itu juga merupakan salah satu dari pendapatan para satpam.

    Kenyataannya banyak orang lebih suka bicara tentang hak mereka dan pura-pura lupa dengan kewajiban. Bayar iuran susahnya setengah mati, nanti kalau sudah kejadian ada yang kemalingan barulah mereka berkoar-koar menyalahkan para satpam.

  9. Betul mbak…ada yg salah kaprah di negeri ini. Sekolah bagus identik mahal, padahal gak banget. Di tempatku malah sekolah negeri identik bermutu n murah. Tp itu duluuu, skg sekolah negeri disulap ada embel2 internasional dgn biaya yg menggila..

  10. thanks for sharing

  11. dgreena said: Terbaik,… Kata kata ini sering banget jadi perdebatan ama ibu ibu sekarang… Aku sendiri juga ga tau ada disisi memberi anak karena keinginan atau kebutuhan… Insha Allah aku masih membeli apa yang aku sanggup bayar, ga perlu berhutang untuk itu,

    Sepanjang gak besar pasak dari pada tiang sih kupikir sah-sah saja.Yang jadi masalah adalah kalau yang terbaik itu selalu dikaitkan dengan yang termahal tanpa menimbang hal-hal lain seperti kondisi ekonomi.Lalu setelah terjadi masalah alasan “demi anak dan keluarga” dikeluarkan sebagai tameng.Itu kan namanya masalah yang dibikin sendiri…Percaya kok kalau Mba Dina termasuk yang bijak mengelola rejeki…

  12. mellyheaven said: @mba Dina : kalo ngomongin boros, kayak nyindir aku dheyyy, huuuuuuaaaaaaa… *nangis sambil ngunyah sosis

    *peluk peluk Melly*rampas sosisnya

  13. rengganiez said: Betul mbak…ada yg salah kaprah di negeri ini. Sekolah bagus identik mahal, padahal gak banget. Di tempatku malah sekolah negeri identik bermutu n murah. Tp itu duluuu, skg sekolah negeri disulap ada embel2 internasional dgn biaya yg menggila..

    Padahal siapa sih yang menjamin kalau sekolah di sekolah internasional yang biayanya aduhai itu nantinya dia bakal jadi orang pinter dan sukses…Aku malah melihat fenomena yang bikin miris, Mba… beberapa temanku yang anaknya sekolah di sekolah mahal (dengan maksa-maksain) mengeluh anaknya jadi susah diajak hidup sederhana. Segala sesuatu pingin yang mewah, liburan pingin ke luar negeri, sekolah naik carry malu sama teman-teman.Kalau orang tuanya memang mampu sih gak masalah. Tapi kalau nggak, anaknya terus jadi merasa minder, apa gak malah merusak jiwa anak?

  14. eojdlanor2 said: thanks for sharing

    Sama-sama. Ini cuma curhatan emak-emak iseng kok. Makasih sudah mampir.

  15. euleuh….. euleuh…. mang Yayat! (Aeh, maap make disebut ngarana heuheuheu……….)Enak bener fasilitasnya bu. Di perumahan saya aja nggak ada yang dapat fasilitas begitu. Gaji mereka kurang lebih sama dengan perolehan mang Y. Tapi mereka nggak ada yang minjemin rumah dan kendaraan. Kalau begitu usulkan aja sama pak RT atau RW biar dia dipecat, ganti dengan yang baru. Pasti masih banyak orang yang mau direkrut jadi penggantinya.Selamat akhir pekan!

  16. jandra22 said: euleuh….. euleuh…. mang Yayat! (Aeh, maap make disebut ngarana heuheuheu……….)Enak bener fasilitasnya bu. Di perumahan saya aja nggak ada yang dapat fasilitas begitu. Gaji mereka kurang lebih sama dengan perolehan mang Y. Tapi mereka nggak ada yang minjemin rumah dan kendaraan. Kalau begitu usulkan aja sama pak RT atau RW biar dia dipecat, ganti dengan yang baru. Pasti masih banyak orang yang mau direkrut jadi penggantinya.Selamat akhir pekan!

    Hihihi…. Bunda, huruf belakangnya beda… bukan huruf T…Iya, sebetulnya diantara 3 satpam, dia paling enak lho. Mungkin karena dia yang paling lama di sini jadi orang yang punya rumah itu nyuruh dia nungguin rumahnya. Daripada kosong.Masalahnya kata pak RT kalau langsung dipecat, berarti uang yang dia tilep gak kembali. Dan kas RT bisa tekor. Jadi mungkin akan dipekerjakan beberapa bulan dengan catatan potong gaji buat bayar utang. Kalau udah lunas baru dipikirkan buat ganti satpam baru.

  17. drackpack said: Ternyata istrinya gak mau pakai barang bekas. Ketahuan waktu kulihat tempat tidur bayi itu malah ngejogrok di belakang pos jaga dan dia kemudian beli yang baru.

    Di Indonesia, orang sering menganggap pemberian barang yg sudah dipakai sebagai penghinaan. Di Eropa justru sebaliknya. barang2 kuno yg merupakan warisan turun temurun justru sangat dihargai.Mama mertua saya juga selalu menyimpan satu set baju dan sarung bantal serta sprei bayi buatan sendiri yg dipakai anak2nya. Begitu anaknya melahirkan anak, maka barang2 yg dulu dipakainya swaktu masih bayi diserahkan untuk dipakai cucunya. Mengingat saya harus menunggu lama sampai anak saya lahir, saya pikir mama mertua sudah memberikan semua perlengkapan bayi pada kakak2 suami, ternyata waktu Rindu lahir mama mertua masih menyimpan perlengkapan tidur bayi yg dahulu dipakai oleh suami saya.Terharu rasanya.

  18. drackpack said: Segala sesuatu pingin yang mewah, liburan pingin ke luar negeri, sekolah naik carry malu sama teman-teman.Kalau orang tuanya memang mampu sih gak masalah. Tapi kalau nggak, anaknya terus jadi merasa minder, apa gak malah merusak jiwa anak?

    Yg ngajarin pengen liburan ke luar negeri kan ortunya. Yg ngajarin minder atau tidak seorang anak dg keadaan ekonominya juga ortunya.Didikan ortu yg kayak gini yg mengajari anak untuk menjadi calon koruptor.

  19. Bulan juli yll collega saya yg masih muda melahirkan anak. Sebagai kado saya bawakan minyak kayu putih dr Indonesia, kaos kaki baru dan juga sweater bekas yg Rindu pakai serta boneka mainan Rindu waktu masih bayi. Selain mengucapkan terima kasih banyak, collega saya sangat menghargai pemberian barang2 bekas yg pernah dipakai Rindu mengingat barang2 tsb mempunyai arti tersendr bagi saya. Setiap kali bertemu dia bercerita bagaimana anaknya mendapat pujian ketika mengenakan sweater favoritnya (sweater bekas Rindu). Collega saya juga menanyakan apakah Rindu memberi nama khusus untuk boneka bekas mainannya, supaya nama tsb tetap bisa mereka pakai.Nah…sopan santun yg kyk begini yg tampaknya sudah menipis di negara kita.

  20. Setuju bgt soal nyekolahin anak dan mnrtku dr crita mbak, kayaknya tu fasilitas yg dikasih ke si satpam uda enaaaak bgt… Dpt rmh, dpt vespa??? Gratis??? Hedeh…

  21. puntowati said: Mama mertua saya juga selalu menyimpan satu set baju dan sarung bantal serta sprei bayi buatan sendiri yg dipakai anak2nya. Begitu anaknya melahirkan anak, maka barang2 yg dulu dipakainya swaktu masih bayi diserahkan untuk dipakai cucunya.

    Hmmmm…. ini patut ditiru kayaknya. Hadiah sederhana yang kesannya pasti dalam sekali buat anak-anak.

  22. puntowati said: Yg ngajarin pengen liburan ke luar negeri kan ortunya. Yg ngajarin minder atau tidak seorang anak dg keadaan ekonominya juga ortunya.Didikan ortu yg kayak gini yg mengajari anak untuk menjadi calon koruptor.

    Ya mungkin itulah cikal bakalnya korupsi meraja-lela di sini. Karena dari kecil anak-anak gak diajari bersyukur dan mencukupkan diri dengan apa yang ada.

  23. puntowati said: Nah…sopan santun yg kyk begini yg tampaknya sudah menipis di negara kita.

    Aneh juga ya… orang sini kan biasanya merasa keren kalau bisa berkiblat ke barat. Tapi hal yang baik seperti ini malah terlupakan gak diikuti..Kalo aku sih senang-senang saja kalo ada yang kasih barang bekas pakai. Dulu waktu baru dapat anak perempuan aku banyak banget dapat baju lungsuran dari temanku yang anaknya perempuan semua. Waktu temanku itu mau kasih, dia juga seperti agak sungkan, berkali-kali minta maaf dan bilang ‘ini bukan menghina, ya’.Lho, aku gak merasa terhina kok. Malah senang karena bertahun-tahun gak usah beli baju anak saking banyaknya yang dia kasih.

  24. dinantonia said: Setuju bgt soal nyekolahin anak dan mnrtku dr crita mbak, kayaknya tu fasilitas yg dikasih ke si satpam uda enaaaak bgt… Dpt rmh, dpt vespa??? Gratis??? Hedeh…

    Udah dikasih enak masih juga merasa kurang. Kebangetan, ya?

  25. Nahan godaan itu emang susah, huhuhu… Apalagi godaan wisata kuliner,huaaa… *ttp ngunyah sosis bakar buatan ndiri

  26. Ceritanya udah berhasil bikin sosis bakar sendiri nih?Mau dong ngicip2. Tukeran ama katimus deh…

  27. Ceritanya udah berhasil bikin sosis bakar sendiri nih?Mau dong ngicip2. Tukeran ama katimus deh…

  28. drackpack said: Ceritanya udah berhasil bikin sosis bakar sendiri nih?Mau dong ngicip2. Tukeran ama katimus deh…

    Wakakakak, iya udah duoonnkkk. Yang bakar aku… Tapi ttp yg buat sausnya ibuku, qiqiqiqi..

  29. besar pasak dari pada tiang….tau gitu kereta bayi sama tempat tidurnya kasihkan saya aja mbak novie…..hehehehe…..

  30. memang harus hidup sesuai dengan “jatah” kita mbak… yang susah adalah ketika sudah berada di posisi tertentu, lalu terjadi sesuatu kejatuhan yang mengakibatkan harus menurunkan standar hidup….

  31. @Mba Relin :Memangnya mau punya bayi lagi, Mba? Hehehe…

  32. Susah awalnya. Tapi manusia selalu punya kemampuan utk survive dlm keadaan tersulit sekalipun…

  33. Makasih atas ceritanya mbak. bagus sekali. Kebetulan aku juga sedang draft cerita mengenai “cukup”.Di sini toe juga sedang heboh.. pusing saya mendengarnya! banyak orang bilang “tidak cukup uang untuk memenuhi kebutuhan hidup”.

  34. learningaza said: Di sini toe juga sedang heboh.. pusing saya mendengarnya! banyak orang bilang “tidak cukup uang untuk memenuhi kebutuhan hidup”.

    Ayooo…. ceritain….!!*duduk manis nunggu didongengin Mba Vonny

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: