Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Apa aku salah?

Pertanyaan itu tiba-tiba melintas setelah pembicaraan dengan dua orang Ibu kemarin siang.

Ceritanya kemarin di sekolah anak-anak ada pentas seni dan bazar untuk merayakan ulang tahun SKKKB. Debora ikut mengisi acara tari daerah, jadi kemarin pagi aku mengantarnya ke sekolah sekaligus untuk menyaksikan penampilannya.

Di salah satu ruang kelas yang dijadikan ruang ganti untuk para penari aku bertemu dua orang Ibu yang juga sedang menemani anak-anaknya didandani. Kelihatan mereka sedang seru sekali mengobrol.

Mula-mula aku hanya menyimak. Obrolan Ibu-ibu di sekolah apalagi kalau bukan seputar anak-anak. Mereka dengan bangganya sedang menceritakan bermacam-macam les yang diikuti anak-anak mereka. Dari mulai les bahasa Inggris, les Mandarin, les piano, les berenang, les gambar sampai les kumon.

Lalu salah satu Ibu itu bertanya padaku, “Kalau Debi ikut les apa saja?”

Aku cuma tersenyum dan menggeleng, “Nggak ikut les apa-apa.”

Dua Ibu itu serempak menatapku keheranan.

“Lho, terus kegiatannya sehari-hari apa dong?” tanya salah satu.

“Ya banyak. Sekolah, belajar, bikin PR, main, nonton TV, baca buku, jalan-jalan.”

“Wah, kalau saya sih nggak mau anak saya kebanyakan main. Makanya saya ikutkan macam-macam les, supaya waktu luangnya diisi dengan sesuatu yang bermanfaat,” kata si Ibu yang dandanannya menor.

“Lho, anak-anak itu kan dunianya memang bermain,” bantahku, “Lagi pula apa mereka nggak cape setelah belajar mati-matian di sekolah terus masih harus les ini dan itu lagi. Sekolah sekarang saya lihat sangat berat materi pelajarannya. Anak kelas 1 SD saja sudah harus belajar bahasa Inggris dan bahasa Mandarin segala.”

“Nah, justru itu anak saya disuruh ikut les. Soalnya terus terang saya sendiri nggak bisa bahasa Inggris maupun Mandarin,” si Ibu terkikik sendiri, “Belum lagi matematika, IPA, bahasa Sunda…. Ah, pusing. Mendingan bayar guru, suruh mereka yang ngajarin. Saya sih tinggal lihat hasilnya saja.”

Lalu pembicaraan beralih ke soal tes sidik jari yang katanya bisa menentukan bakat anak dan jadi apa cocoknya mereka kalau sudah besar.

Kedua Ibu itu bilang anak-anak mereka sudah diikutkan tes itu. Si Ibu menor bahkan bilang dia ikut yang paling lengkap. Bayarnya saja 350 ribu.

Waktu kubilang aku gak pernah bawa anak-anakku ikut tes seperti itu, lagi-lagi mereka menatapku heran sepertinya aku ini mahluk asing yang tiba-tiba nyelonong di tengah manusia bumi.

Aku jadi bingung sendiri. Memang salah ya, cara berpikirku tentang mendidik anak?

Bagiku tanpa harus tes sidik jari pun aku sudah tahu sendiri kelebihan dan kekurangan anak-anakku. Aku ada di samping mereka setiap hari sepanjang hidup mereka. Aku melihat mereka tumbuh dari bayi kecil sampai sebesar sekarang. Aku menyaksikan sendiri mereka belajar dari hari ke hari. Bagaimana mungkin aku tidak tahu apa-apa tentang mereka?

Tanpa harus membayar ratusan ribu aku tahu kalau Samuel punya talenta dalam menggambar dan main musik. Debora tertarik pada seni tari, sedangkan Daniel sepertinya akan mengikuti jejak Papanya karena sejak kecil mainan favoritnya adalah obeng dan sekrup.

Aku tahu persis karakter Samuel dan Daniel yang Sanguin seperti Papanya dan Debi melankolik pleghmatik seperti aku.

Mereka bahkan punya cara yang berbeda dalam menghapal pelajaran. Samuel harus di kamar dalam keadaan senyap. Terkadang jika ada hapalan yang panjang dan sulit dia menyusunnya menjadi sebuah lagu atau dideklamasikan sehingga mudah diingat. Debi sebaliknya bisa lebih mudah menghapal ketika ada suara-suara lain seperti musik atau bahkan orang mengobrol.

Bayangkan jika mereka harus belajar dari guru les yang tentunya menerapkan metode yang sama untuk semua muridnya. (Mana ada guru les yang mau mengajar sambil berdeklamasi tentang bagian-bagian tubuh hewan dan tumbuhan atau ciri-ciri pengidap TBC…….)

Lalu apakah aku salah juga kalau aku memberi kesempatan seluas-luasnya pada anak-anak untuk bermain dan menikmati masa kanak-kanak mereka?

Aku melihat bahwa dengan bermain saja mereka bisa belajar tentang banyak hal.

Beberapa waktu yang lalu aku baru terheran-heran melihat betapa cepatnya pertambahan kosa kata bahasa Inggris Samuel melalui permainan kartu Yu Gi Oh.

Debi sekarang sedang belajar tentang uang, penjumlahan dan pengurangan lewat permainan monopoli.

Tentang talenta dan bakat, aku biarkan saja mereka berkembang pelan-pelan.

Bukannya tak ingin mengikut-sertakan mereka dalam les untuk lebih mempertajam, tapi semua itu kan harus disesuaikan dengan dana yang ada.

Sementara ini aku cuma mendukung mereka untuk ikut extrakurikuler di sekolah yang sesuai dengan minat mereka masing-masing.

Apakah aku aneh?

Apakah aku salah?

Advertisements

Comments on: "Apa aku salah?" (23)

  1. Nggaaaaaa… Mamaku juga ngga pernah suruh aku ikut les ini dan itu, mba. Dari SD sampe kuliah, aku ngga pernah leeessssss… 🙂

  2. Waktu aku masih sekolah aku tidak pernah mengikuti les apa-apa di sekolah, tapi aku rajin belajar sendiri hehehe…Sukses ya…Nice Artikel I like it somuch.

  3. Halo Bu Novi, salam kenal :-). Dulu mamaku hanya mau ngasih aku les kalau aku yang minta dan beliau nilai bermanfaat. Dan kalau dipikir-pikir memang jadi bermanfaat les-nya, pas les jadi tidak merasa kepaksa (tidak seperti banyak anak di tempat les).

  4. Tidak salah Bu, setiap orang tua memiliki cara masing-masing untuk mendidik anak-anaknya. Satu anak berbeda dengan anak yang lain. Jika Ibu bisa melihat nilai unik anak-anak dan mengembangkannya, anak-anak akan menjadi percaya diri dan dapat berprestasi. Banyak les dan kursus, namun tanggung jawab mendidik ada pada orang tua dan keluarga di rumah.

  5. beruntungnya anak2 ibu yg memiliki ibu yg slalu siap sedia disisi mereka,mendidik dan mengasuh mereka 24jam.

  6. mayamulyadi said: Nggaaaaaa… Mamaku juga ngga pernah suruh aku ikut les ini dan itu, mba. Dari SD sampe kuliah, aku ngga pernah leeessssss… 🙂

    Iya sih, aku juga dulu rasanya gak pernah les ini itu…Eh, pernah ding… les menulis waktu SD. Soalnya konon tulisanku dulu jueeeleekknya minta ampun, sampe bu guru gak bisa baca… hihihi… Guru lesnya tanteku sendiri, adiknya Mama.

  7. rudal2008 said: Waktu aku masih sekolah aku tidak pernah mengikuti les apa-apa di sekolah, tapi aku rajin belajar sendiri hehehe…Sukses ya…Nice Artikel I like it somuch.

    Makasih sudah membaca.Makasih juga untuk uluran pertemanannya……….

  8. indres said: Dulu mamaku hanya mau ngasih aku les kalau aku yang minta dan beliau nilai bermanfaat. Dan kalau dipikir-pikir memang jadi bermanfaat les-nya, pas les jadi tidak merasa kepaksa (tidak seperti banyak anak di tempat les).

    Nah, itu dia… kadang-kadang orangtua memaksakan anaknya ikut les ini dan itu cuma untuk kebanggaan orang tua. Seperti salah satu Ibu yang aku ceritakan itu, gara-gara hasil tes sidik jari mengatakan anaknya punya bakat musik, langsung deh anaknya disuruh les piano… ternyata anaknya gak mau dan baru beberapa bulan langsung mogok.Kalau sudah begitu kasihan anaknya dan kasihan orangtuanya juga, jadi buang duit sia-sia.

  9. fredys said: Banyak les dan kursus, namun tanggung jawab mendidik ada pada orang tua dan keluarga di rumah.

    Memang gak ada yang lebih mengerti anak selain Ibunya sendiri. Cuma sekarang ini anak les sepertinya jadi suatu keharusan. Semua temanku yang punya anak paling tidak anaknya ikut satu macam les. Malah ada yang dari senin sampe sabtu jadwal lesnya penuh banget.Makanya aku sering dianggap aneh…

  10. mamanyaikhsan said: beruntungnya anak2 ibu yg memiliki ibu yg slalu siap sedia disisi mereka,mendidik dan mengasuh mereka 24jam.

    Kebetulan saya gak kerja, Mama Ikhsan… jadi waktu saya cukup banyak untuk anak-anak.

  11. Nggak salah. Anak-anak saya juga belum pernah ada yang saya ikutin les apa pun. Dan saya nggak merasa aneh atau merasa beda dari orang-orang lain. Buktinya, anak saya dapat tempat di sekolah negeri juga seperti keinginannya, di saat banyak teman-temannya justru harus cari sekolah swasta sebab tertolak.Jadi, biarkan aja mereka seperti sekarang. Justru sekarang saatnya mereka bermain-main sebanyak-banyaknya, kan? Mumpung belum mikir mau ujian akhir dan belum mikir bagaimana mencari uang untuk menghidupi diri hehehe……… Good job mom!

  12. nggaaakkk…..semua ibu pasti ingin yang terbaik untuk putra-putrinya, tapi yang terbaik itu bukan yang selalu dibeli kan mbak…

  13. Nggaklah, apalagi mbak Novi dirumah, sebaik-baik pendidik kan ibunya. anakku cuma ikut satu les mbak. Lainnya aku sendiri yang mengajari. Memang tugasnya ibu kan mengajari anaknya…asalkan anaknya mampu tanpa les nggak masalah nggak les.

  14. bundel said: Justru sekarang saatnya mereka bermain-main sebanyak-banyaknya, kan? Mumpung belum mikir mau ujian akhir dan belum mikir bagaimana mencari uang untuk menghidupi diri hehehe………

    Duh, makasih, Bunda…Sekarang lega hati saya.Memang pikiran saya juga begitu kok. Saya ingin mereka menikmati masa kanak-kanak sepuasnya, biar kelak gak ada kata-kata “masa kecil kurang bahagia…”

  15. qaulandiarra said: tapi yang terbaik itu bukan yang selalu dibeli kan mbak…

    Ternyata banyak juga yang sepaham. Berarti saya gak aneh dong yaa…

  16. iras80 said: Nggaklah, apalagi mbak Novi dirumah,

    Iya, Mbak… dari pada hasil kerja Papanya dipakai bayar les, mending buat saya aja…. hehehe…

  17. jempol deh buay cik novi.. dulu aku sempet tergoda buat test sidik jari.. tapi setelah browsing ternyata itu blm yerbukyi ilmiah, lebih mirip seperti palmistri atau rajah tangan.. trus aktivasi otak tengah juga ternyata penipuan yaahh!

  18. aghnellia said: tapi setelah browsing ternyata itu blm yerbukyi ilmiah, lebih mirip seperti palmistri atau rajah tangan.. trus aktivasi otak tengah juga ternyata penipuan yaahh!

    Wah, makasih info tambahannya….

  19. Sudah ke TKP, Mbak. Artikelnya menarik sekali.Cuma akhirnya aku jadi kasihan sama Ibu-ibu yang sudah jadi korban. Padahal semua itu cuma pinter-pinternya orang jualan saja kan?Ya, sudahlah…. bolak-balik tetep aja yang paling tahu anak itu cuma Ibunya sendiri, bukan orang lain…

  20. Tentu Cik Novie tak salah..Justru saya setuju bahwa masa kanak – kanak adalah masa bermain, bergembira. Jangan dulu terlalu “dibebani” oleh les – les yang menyita pikiran mereka.

  21. Hei, ada yg sdh lama tdk muncul…. kemana aja nih?

  22. drackpack said: Hei, ada yg sdh lama tdk muncul…. kemana aja nih?

    Masih diAbu Dhabi CikMemang lama sekali saya tak buka MPwaktu banyak tersita di tempat kerja kemarin 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: