Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Dalam Rencana Tuhan

Catatan kali ini aku buat khusus untuk Mbak Sarie (id Sutrapelangi) yang sedang merindukan seorang bayi lagi di tengah-tengah keluarganya.

Kehadiran seorang bayi selalu merupakan kegembiraan bagi seisi keluarga. Sebaliknya ketika yang dinanti-nanti tak kunjung hadir, beribu pertanyaan, terkadang disertai nada menuduh, harus siap untuk dijawab.

Aku pernah mengalaminya juga.

Setelah si sulung Samuel lahir, atas desakan orangtua aku ber-KB dengan IUD. Aku yang saat itu masih kerepotan mengurus bayi untuk pertama kalinya, menurut saja waktu Mamaku bilang tunggu setahun baru hamil lagi.

Ternyata manusia memang cuma bisa berencana. Waktu IUD dilepas setelah Samuel berumur 1 tahun, kedapatan ada infeksi di saluran telur. Saat itu memang diobati, tapi mungkin kurang tuntas karena aku termasuk jenis yang malas ke dokter.

Karena sudah tidak dijaga lagi, aku mulai mempersiapkan Samuel kalau sewaktu-waktu dia punya adik. Setiap saat aku berdoa, memupuk harapan demi harapan. Asal sang “tamu rutin” terlambat sedikit, langsung beli test pack. Tapi hasilnya selalu negatif.

Ketika Samuel menginjak usia 3 tahun, pertanyaan orang pun semakin gencar. “Kenapa gak dikasih adik?” Memangnya adik itu bisa dibeli di supermarket apa?

Mula-mula aku dan suami masih bisa menjawab dengan ringan dan senyum. Lama-lama senyumpun rasanya makin berat. Apalagi kalau ada orang sok tahu yang berteori tentang keburukan anak tunggal. Lho, yang gak mau punya anak lagi itu siapa? Aku dan suami sama-sama suka anak-anak. Dari awal kami malah sudah berencana punya 3 anak.

Biasanya aku jawab mereka sambil senyum pahit, “Belum waktunya Tuhan”. Aku gak mau bilang, “belum dikasih kepercayaan sama Tuhan” karena kesannya kok kami ini orang yang gak bisa dipercaya…..

Ternyata yang ditunggu itu baru hadir tahun berikutnya ketika usia Samuel 4 tahun. Itu juga setelah melalui proses berobat dulu, karena ternyata bekas infeksi yang dulu menyebabkan ada penebalan jaringan pada saluran telur.

Dulu aku sempat mempertanyakan kenapa Tuhan memberiku anak-anak dengan jarak usia yang jauh-jauh. Masing-masing berjarak 5 tahun. Akibatnya aku seperti tak habis-habis mengasuh anak. Padahal kalau saja jaraknya 2 tahunan, sekarang aku sudah enak.

Tapi ketika merenung-renung sendiri, aku melihat satu hal yang baik. Dengan jarak yang jauh, setiap anak kebagian perhatian yang maksimal ketika mereka dalam usia balita. Waktu Debora lahir, Samuel sudah masuk sekolah, sudah bisa melakukan banyak hal sendiri sehingga aku bisa fokus mengurus adiknya. Begitu juga waktu Daniel lahir, Samuel sudah cukup besar sehingga bisa menjadi asistenku, dan Debi juga tidak jealous dengan adik barunya karena sudah punya lingkungan baru di sekolah.

Semua sudah diatur oleh Sutradara Agung yang tahu setiap hal yang terbaik bagi kita. Semua diberi sesuai dengan kesanggupannya masing-masing. Ada yang diberi anak-anak dalam waktu cepat karena mungkin mereka punya kesanggupan untuk membagi kasih dan perhatian dengan baik. Sementara untukku, 5 tahun mungkin dianggap sebagai waktu yang terbaik.

So, Mbak Sarie… jangan putus asa. Semua sudah ada dalam rencanaNya. Bahkan untuk mereka yang sama sekali tidak diberi momongan, pasti ada alasan, dan itu pastilah yang terbaik.

Sekarang kita mungkin belum bisa melihat apa rencana besarNya buat hidup kita. Tapi suatu saat kita akan mengerti bahwa Dia tidak pernah tidur. Semua seruan doa kita sudah didengarNya.

Tetaplah berharap. Dia membuat segala sesuatu indah pada waktuNya….

____________________

Satu-satunya yang menyebalkan dari jarak anak-anak 5 tahun ini adalah, tiap kali anakku masuk TK aku selalu sedang hamil. Kebetulan Samuel dan Debora sekolah di TK yang sama, jadi Bu Guru pernah nyeletuk, “Tiap kita ketemu pasti lagi hamil ya, Bu…”

Apakah tahun depan waktu mengantar Daniel sekolah aku bakal hamil lagi???

Oh… tidaaaaakkkkk….!!!!

Advertisements

Comments on: "Dalam Rencana Tuhan" (9)

  1. drackpack said: aku termasuk jenis yang malas ke dokter

    sammaa….aku alergi banget :p seperti anak kecil, ada rasa takut, ada rasa gak nyaman, dll..btw, fotonya malah bikin aku mupeng :p

  2. drackpack said: Ketika Samuel menginjak usia 3 tahun, pertanyaan orang pun semakin gencar. “Kenapa gak dikasih adik?” Memangnya adik itu bisa dibeli di supermarket apa?

    Eh, tiap keluar rumah selalu ditanya tentang ini…Sebenarnya aku sih cuek bebek, mbak..Tapi stresnya justru gara2 Kayla, yang memang kepengen sekali punya adik..Aku kasihan aja sama dia..Tiap hari dan tiap mau tidur, dia selalu berdoa minta dikasih adik, sampai suatu saat dia tanya, kenapa Tuhan lama sekali mengabulkan doanya?Bagaimanapun, aku tetap bersyukur kok mbak, apapun hasilnya nanti, pasti Tuhan selalu memberikan yang terbaik buat hambanya..Makasih bangettt, sudah memberiku motivasi berupa jurnal khusus untukku :))*Peluk sayang dari Surabaya ^_^

  3. drackpack said: Padahal kalau saja jaraknya 2 tahunan, sekarang aku sudah enak.

    Pyuh..aku juga sering berpikiran begitu, tapi aku segera men”delete”nya dengan cepat karena..gak ada gunanya juga kan?Setiap datang pikiran itu, aku bersegera mengingat2 lagi nikmat Tuhan selama ini untukku, yang ternyata begitu banyak šŸ™‚

  4. cik aku malah sengaja mau ngasih jarak agak jauh mungkn 5 atau 6 tahunan sama agnat biar gak brantem ma iri2an.. Tp kan manusia yg berkehendak dan Allah yg memutuskan yah..jd pasrah aja deh

  5. sutrapelangi said: pertamaxxxxxxx

    Hahaha… baru kali ini ada yang kasih pertamax buatku…

  6. aghnellia said: aku malah sengaja mau ngasih jarak agak jauh mungkn 5 atau 6 tahunan sama agnat biar gak brantem ma iri2an..

    Siapa bilang jarak yang jauh bikin gak berantem. Samuel sama Daniel yang bedanya 10 taun aja masih bisa berantem seru…!

  7. kalau aku anak pertama sama kedua lumayan deket mbak, sempet nyesel dalam hati (karena lebih pada masalah ekonomi, suami kuliah lagi ditambah tanggungan adik-adik sekolah), tapi kemudian diingatkan oleh dokter, alhamdulillah begitu aku ikhlas bisa menerima, rejeki mengalir begitu mudahnya. Makanya anak kedua saya beri nama Rizki….

  8. Aku juga ngerasain tiap anak bawa rejekinya masing-masing, Mbak. Karena Tuhan yang menitipkan anak-anak itu pada kita tentu melengkapinya juga dengan berkat untuk masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: