Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Seorang kerabat suamiku tiba-tiba menelepon tadi siang. Sudah lama juga kami tidak mendengar kabarnya, meskipun sebenarnya beliau tinggal di Bandung juga.

Kerabat yang kami panggil Cihu (kakak ipar) ini mengatakan sekarang dia sudah tidak bisa bepergian terlalu jauh karena kakinya sakit kalau berjalan. Istrinya malah sudah lebih dari 10 tahun kena stroke dan tak bisa berjalan juga. Mereka cuma tinggak berdua ditemani seorang pembantu untuk mengurus keperluan sehari-hari.

Anak-anaknya mencukupkan semua kebutuhan dan biaya hidup. Tapi karena masing-masing punya kesibukan sendiri jadi jarang datang menengok.

Aku sempat terenyuh mendengar ceritanya. Bayangkan dua orang tua yang sudah susah bergerak digerogoti macam-macam penyakit, menghabiskan hari dalam kesepian meski secara materi tidak kekurangan.

Pada suamiku aku nyeletuk, kenapa anak-anaknya yang sudah hidup mapan kok tega membiarkan orang tuanya tinggal berdua saja? Kenapa tidak ada yang tergerak untuk membawa mereka tinggal bersama? Aku yakin bagi para orang tua kebersamaan dengan anak dan cucu akan jauh lebih berarti ketimbang limpahan materi.

Suamiku dengan enteng bilang bahwa mereka sedang menuai apa yang mereka tanam puluhan tahun yang lalu. Menurut ceritanya waktu anak-anak masih kecil, Cicie dan Cihu ini dua-duanya selalu sibuk dengan pekerjaan. Tak pernah punya kedekatan secara emosi dengan anak-anaknya. Anak-anak itu seperti tumbuh begitu saja sendiri-sendiri dengan siraman materi yang berlimpah tapi miskin perhatian. Jadi tak heran, sekarang mereka melakukan hal yang sama pada orang tua mereka.

Menyedihkan ya?

Semua orang tua, terlebih seorang Ibu tentulah menyayangi anak-anaknya. Cuma rasa sayang itu memiliki perwujudan yang berbeda-beda. Dan terkadang tidak semua wujud kasih sayang itu diterima dengan pas dan mengena oleh anak-anaknya. Mungkin itu yang sering tidak disadari oleh orang tua.

Baru-baru ini dalam sebuah acara pembinaan untuk para wanita aku melihat sendiri begitu banyak Ibu-ibu yang ternyata menyimpan luka hati karena perlakuan Ibu mereka pada masa lalu. Luka itu tersimpan berpuluh-puluh tahun dan tanpa mereka sadari menjadi sebuah akar pahit yang kemudian membuat mereka juga tidak bisa bersikap baik pada anak-anak mereka sekarang. Orang yang tidak pernah mendapatkan cinta tidak akan pernah bisa mencintai.

Jadi hukum tabur tuai itu memang benar-benar berlaku. Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

Bagaimana denganku?

Mudah-mudahan aku sudah menyayangi anak-anakku dengan cara yang benar……

Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan

Demikianlah anak-anak pada masa muda.

Berbahagialah orang yang telah membuat penuh

tabung anak panahnya dengan semua itu

Mazmur 127 : 4-5

Advertisements

Comments on: "Tentang Menabur Kasih Sayang" (12)

  1. Begitulah mbak, anak-anak belajar dari orang tuanya, karena orangtua adalah guru pertama mereka didunia. Jika gurunya baik maka baiklah anaknya, jika melihat anak bermasalah tengoklah dulu orangtuanya…

  2. amin disertai ayat yg cantik makasih nice post…..salam..

  3. @Mbak Erwin : Ngeri, Mbak, melihat kenyataan sekarang banyak orang tua yang menyepelekan pendidikan anak. Asal anaknya bisa sekolah di sekolah termahal sepertinya sudah cukup. Padahal pendidikan terbaik itu adanya di rumah. Dan guru terbaik itu adalah orang tua.

  4. manja80 said: amin disertai ayat yg cantik makasih nice post…..salam..

    Makasih…. salam kenal juga.

  5. mudah2an cara aku membesarkan anak2 tidak keliru…contoh seperti diatas tak hanya dikalangan yang mampu aja, mungkin malah lebih parah bagi kalangan kurang mampu, karena secara materi pun anak2nya tidak memenuhi

  6. Bener ya, mba… Perhatian dan kasih sayang nyata dari ortu itu adalah harta yang sangat bernilai dan ngga bisa dinilai dengan materi…

  7. Kalo Ibuku, malah gak mau kuajak tinggal bersama di surabaya, mbak..Sukanya ya tinggal di kampung yang sejuk dan deket gunung πŸ˜‰ Tapi untunglah ternyata adik diterima kerja di pemda sana, jadi ada adik yang jagain :)Jadi inget, saya pernah negor mahasiswa laki yang pake anting 4 di telinga, dan 2 anting di hidung. Dia bilang, baru kali ini ada orang yang memperhatikan dia (saya, maksudnya). Ibunya saja cuek dan gak mau tahu apa yang dilakukan anaknya. Bahkan dia pasang anting2 itu juga Ibunya gak komentar blas. *heran, nih ibu apa urusannya banyak bener kali ya?

  8. qaulandiarra said: mudah2an cara aku membesarkan anak2 tidak keliru…

    Pasti, Mbak………..

  9. mayamulyadi said: Bener ya, mba… Perhatian dan kasih sayang nyata dari ortu itu adalah harta yang sangat bernilai dan ngga bisa dinilai dengan materi…

    Mudah-mudahan Dedek kecil nanti akan tumbuh besar dalam siraman kasih sayang dan perhatian Bundanya……..

  10. sutrapelangi said: Kalo Ibuku, malah gak mau kuajak tinggal bersama di surabaya, mbak..Sukanya ya tinggal di kampung yang sejuk dan deket gunung πŸ˜‰ Tapi untunglah ternyata adik diterima kerja di pemda sana, jadi ada adik yang jagain πŸ™‚

    Masalahnya yang kerabat suamiku itu anak-anaknya tinggal di Bandung juga, tapi gak ada yang mau menampung orang-tuanya. Nengokin aja jarang. Makanya aku jadi prihatin.

  11. “Orang yang tidak pernah mendapatkan cinta tidak akan pernah bisa mencintai” – “Jadi hukum tabur tuai itu memang benar-benar berlaku. Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya”Sangat dalam sekali kalimat ini…!! Trimakasih sdh diposting. Like it..Tq mba…!!

  12. bonapasogitpayt77 said: Trimakasih sdh diposting. Like it..Tq mba…!!

    Makasih juga sudah menyempatkan membaca…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: