Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

ART, antara benci dan butuh

Menjelang Lebaran ketika banyak orang berkeluh kesah tentang kerepotan di rumah karena ART mudik, aku bisa menarik nafas lega karena bagiku masa-masa merepotkan itu sudah lama lewat.

Sejak memutuskan untuk tidak lagi memakai jasa ART, aku malah merasa lebih happy. Soalnya kalau dipikir-pikir sekian banyak ART yang pernah bekerja padaku ujung-ujungnya selalu malah bikin ubanku bertambah.

Dapat yang masih muda, kerjanya pacaran melulu. Sampai-sampai ada yang pakai alasan mau sholat tarawih di mesjid padahal ternyata jalan-jalan sama pacarnya dan pas kepergok suamiku. Langsung kusuruh pulang besoknya.

Giliran dapat yang sudah berkeluarga, suaminya nyamperin melulu. Pake nginap-nginap di rumah segala. Sekali dua kali sih aku kasih, tapi kalo keseringan kan ngerepotin. Ada lagi yang kerjanya pinjam uang untuk berbagai urusan. Ada yang nggak jujur, nyolong dari mulai makanan sampai mainan anak. Nambahin uban kan?

Kalau dibilang butuh, aku memang butuh juga tenaga mereka. Tapi kalau jadi cape hate, mendingan aku cape kerja saja.

ART terakhirku namanya si E. Sebelum ikut aku dia cukup lama ngurusin kakak iparku yang lumpuh. Orangnya memang cukup telaten, rajin, jujur dan bersih. Masaknya lumayan pinter juga. Makanya aku awalnya senang sekali waktu kakak ipar menyuruh dia untuk ikut aku. Kebetulan juga waktu itu aku sering ikut suami kerja di luar rumah, jadi aku perlu orang yang bisa dipercaya untuk jaga anak-anak (Waktu itu baru Semsem dan Debi).

Si E ini pernah menikah dan punya anak yang dititipkan sama kakaknya di kampung karena suaminya pergi entah kemana. Jadi setiap 3 bulan dia pasti minta ijin pulang untuk nengok anaknya. Dan kalau sudah pulang paling cepat 2 minggu baru dia balik ke Bandung lagi. Aku nggak mempermasalahkan. Malah setiap dia mau pulang pasti kubekali oleh-oleh untuk anaknya.

Sampai sekali waktu dia pulang kampung agak lama. Hampir sebulan. Katanya anaknya sakit jadi dia nggak bisa ninggalin. Kabar itu aku dapat dari kakaknya yang jadi tukang becak di Tasik. Waktu akhirnya dia balik lagi ke Bandung, aku melihat dia agak berubah, Lebih pendiam dan sering melamun. Kukira dia masih kangen sama anaknya. Tapi kemudian aku dapat kabar yang kurang sedap dari teman sekampungnya yang kerja pada kakak iparku. Jadi aku mulai memperhatikan dia lebih seksama. Sekarang dia suka pakai daster yang longgar di rumah, padahal dulu dia selalu pakai kaos dan celana rok. Terus kalau berdiri di dekatku selalu berusaha menyembunyikan perutnya.

Setelah kubicarakan dengan suami, akhirnya kami sepakat mengajak dia bicara. Aku tanya sebetulnya ada masalah apa yang dia sembunyikan. Ditanya begitu dia langsung nangis dan minta jangan diusir. Lalu dia mengaku bahwa dia sedang hamil, dan bukan dari suaminya tapi dari suami orang (bekas pacarnya). “Saya khilaf, Bu,” katanya, “Tapi tolong saya jangan diusir dari sini. Saya perlu kerja buat anak saya di kampung karena Bapaknya sudah gak peduli lagi dan gak tahu ada dimana.”

Buatku itu betul-betul sebuah dilema. Disatu pihak aku marah dan jijik dengan perbuatan zinahnya, tapi disisi lain kasihan juga melihat dia menangis mengiba-iba begitu. Selain itu jujur saja aku masih perlu sekali tenaganya saat itu, terutama untuk jaga anak-anak kalau aku harus keluar untuk urusan kerjaan.

Akhirnya setelah berunding lama dengan suamiku, kuijinkan dia tetap bekerja. Tapi segala masalah yang berhubungan dengan pacarnya itu aku tidak mau tahu. Dia harus selesaikan semua sendiri. Aku juga melarang keras dia bertemu dengan pacarnya itu di rumahku. Soalnya sebelum masalah itu terbuka, pernah beberapa kali ada telepon untuknya dari seorang laki-laki. Semula dia mengaku itu kakaknya, tapi akhirnya dia berterus terang kalau yang menelepon itu pacarnya.

Aku masih memperlakukannya dengan baik sesudah itu. Bahkan waktu akhirnya dia pamit pulang sebelum melahirkan, kubekali dengan perlengkapan bayi dan baju-baju bekas anak-anak. Hampir 2 bulan dia di kampung. Berita yang kudapat anaknya perempuan dan diberikan pada orang dari kampung lain yang kebetulan gak punya anak.

Setelah kejadian itu dia masih sekitar 2 tahun kerja denganku. Akhirnya minta berhenti karena keluarganya mendesak untuk menikah lagi.

Habis itu aku kapok cari pembantu. Apalagi Semsem dan Debi mulai besar jadi bisa sedikit-sedikit membantu pekerjaan rumah. Cape? Tentu saja. Urusan rumah dan anak-anak tak pernah ada habisnya dari pagi sampai malam. Tapi aku menikmatinya kok. Kalau dikerjakan dengan senang hati semua beres tuh. Masih sempat ngempi pulak……….. hehehe…

(Memperingati 4 tahun lepas dari jajahan pembantu *Pinjem istilahnya Mbak Erwin nih…)

Advertisements

Comments on: "ART, antara benci dan butuh" (6)

  1. Seumur hidup saya, sebagai IRT saya cuma sekali pake jasa pembantu. Tapi alhamdulillah bertahan 16 tahun. Dan dia pulang karena sudah kelewat masanya nikah, dan alhamdulillah sekarang nikah beneran, jadi istri seorang ustadz. Dia datang nengok ke rumah dengan anak-anak dan emaknya waktu saya dan anak-anak dalam keadaan sangat terpuruk tahun lalu. Yang mengharukan : Dia bawa beras 20 kg hasil panennya sendiri, di dalam kereta yang sempit berdesakan sambil menggandeng dua balita yang masih perlu dibimbing. Bayangkan cik, dari Banyumas, sejauh itu…………Kenapa saya nggak mau punya pembantu lagi? Sebetulnya dia orang jujur, walau culangung (sembronoan). Tapi di sela-selanya ada juga ketidakjujurannya yaitu saat dia jatuh cinta, persis kayak pembantunya cik Vivie. Selain itu, mulutnya panjang kemana-mana, sehingga suka dipermasalahkan orang. Gitu aja, yang bikin saya nyaman hidup tanpa pembantu. Sekarang prinsip saya, rumah rapi syukur, nggak rapi ya tutup mata aja deh!

  2. hehehehe, saya masih dijajah mbak….nggak mungkin lepas….

  3. @Bunda : Saya nggak seberuntung itu dalam hal ART, Bunda.Tapi sekarang saya juga merasa nyaman ngerjain semua sendiri. Kebetulan suami juga nggak terlalu cerewet masalah kerapian rumah.

  4. @Mbak Erwin : Asal dapat “penjajah” yang baik aja, Mbak… hehehe…

  5. menginspirasi saya untuk hidup tanpa bantuan ART..makasi buat sharingnya mba 😀

  6. Duh kalau saya mah gak kebayang kalau gak ada pembantu! Ntar agnat ma siapa dirumah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: