Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Usia adalah rahasia Tuhan yang tak akan pernah terpecahkan oleh seorang paranormal sekelas Mama Lauren sekalipun.

Rahasia yang membuktikan bahwa manusia ini sungguh tak ada apa-apanya di tangan Sang Maha Pencipta.

Rahasia yang membuat kita perlu berjuang setiap saat untuk melakukan yang terbaik, karena kita tak pernah tahu kapan batas akhir kita tiba.

Seorang teman pernah menegurku ketika aku bercerita bahwa aku bisa berhari-hari mendiamkan suamiku bila emosi sudah tersulut. Dia bilang, “Seandainya saat kamu sedang mendiamkannya lalu tiba-tiba Tuhan memanggilnya pulang, sebesar apakah kira-kira penyesalan yang akan kamu alami?”

Sumpah, aku merasa seperti ditonjok tepat di ulu hati. Aku lupa, jangankan tentang hari besok, satu jam kedepan atau bahkan satu menit ke depan segala sesuatu bisa saja terjadi tanpa pernah kita tahu.

Sejak itu aku tak berani lagi berlama-lama marah. Takut menyesal.

Beberapa hari yang lalu aku diingatkan lagi tentang hal ini ketika membaca tulisan Mbak Sarie Rusnadi disini

Meskipun tulisan Mbak Sarie lebih berfokus pada beban hidup yang harus ditanggung janda-janda muda. Tapi aku melihatnya sebagai sebuah peringatan untuk memanfaatkan waktu yang ada sebaik mungkin.

Bukankah kita sering lupa dan bersikap seolah akan hidup selamanya.

Ketika orang-orang disekitar kita membutuhkan perhatian sering kita mengabaikan dan berkata, “Besok saja. Masih banyak waktu.”

Ketika si kecil merengek mengajak bermain, dengan enteng kita berkata, “Nanti saja, Nak. Mama sedang sibuk.”

Seolah-olah waktu itu akan selalu tersedia untuk kita.

Lalu ketika dengan tiba-tiba pintu kesempatan itu tertutup, terpuruklah kita pada penyesalan yang tidak berujung.

Karena itu selagi masih ada kesempatan, kenapa tidak kita tanyakan pada diri sendiri :

v Sudahkah aku mengatakan pada orang-orang terkasih dalam hidupku (Suami, istri, anak-anak atau orangtua) bahwa aku mencintainya dan bahwa dia adalah anugerah terindah yang dikirim Tuhan untukku?

v Sudahkah hari ini aku melakukan yang terbaik untuk membuat mereka bahagia?

v Sudahkah aku membuat setiap hari sebagai monumen kebersamaan yang indah?

Katakanlah sekarang. Lakukanlah sekarang. Ambil waktu untuk saling berbagi isi hati. Bermainlah. Nikmati kebersamaan. Buatlah sesuatu yang layak untuk dikenang seumur hidup.

Jangan menunggu sampai besok. Karena kita tidak pernah tahu………

*Menulis ini sambil memperhatikan suamiku yang sedang ketiduran di sofa.

I love you, Koh……

Advertisements

Comments on: "Karena Kita tak Pernah Tahu" (19)

  1. Cihuy…..! Ada yang lagi mau mesra-mesraan nih?Iya betul banget, kalau diem-dieman jangan kelamaan. Agama saya mengajarkan kalau kita mendiamkan pasangan hidup lebih dari tiga hari, itu artinya udah buat dosa. Begitu.

  2. Mba noviiii…Aku juga sering menyadarkan diriku sendiri dengan menghadirkan pertanyaan macam itu :)*peluk mba’yu aahhhh 🙂

  3. love u hub….. *nungguin misua pulang….

  4. bener banget mbak, karena itu jangan suka menunda-nunda…..beramal, bersedekah, berbuat baik..lakukan hari ini sebelum terlambat……btw kalau saya marah, saya diam, tapi tidak mendiamkan……drpd mulut keluar kata yang tdk tepat mending menguncinya duluan.

  5. bundel said: Cihuy…..! Ada yang lagi mau mesra-mesraan nih?

    Aaawwww…. aya anu noong geuningan. Nyumput, ah!

  6. mayamulyadi said: *peluk mba’yu aahhhh 🙂

    Berpelukan…..(kayak teletubbies kita yah?)

  7. opangpingpong said: love u hub….. *nungguin misua pulang….

    Teruuusss….????*tutup mata, gak mau ngintip

  8. iras80 said: karena itu jangan suka menunda-nunda…..beramal, bersedekah, berbuat baik..lakukan hari ini sebelum terlambat……

    Yup! do it now….

  9. drackpack said: Aaawwww…. aya anu noong geuningan. Nyumput, ah!

    Ciluk…….. ba! Hooor….., eta geuningan nyumputna dina kolong meja?

  10. “bisa berhari-hari mendiamkan suamiku bila emosi sudah tersulut”.wah… memang sulit mengendalikan amarah. pantes aja bahwa orang yang terkuat bukan pegulat tapi orang yang bisa menahan marah.tapi, jika seseorang dibuat marah dan ia tidak marah, maka ia seperti keledai.Jadi, gimana ya…?n_n

  11. Merinding bacanya mbak…Aku merasa kesentil dengan tulisan ini lho ^_^ Kok aku banget ya, hehe..Pernah baca tentang kejadian WTC gak mbak? Orang-orang yang ada dalam gedung itu (yang menunggu gedungnya ambruk) berlomba2 menelpon pasangannya, mengucap I love you untuk yang terakhir kalinya..Terimakasih sudah dimasukkan dalam jurnalnya ^_^

  12. herylady said: tapi, jika seseorang dibuat marah dan ia tidak marah, maka ia seperti keledai.Jadi, gimana ya…?

    Boleh marah tapi gak boleh lama-lama.Setelah marah sebentar lalu masalah diselesaikan…. Aku lagi belajar seperti itu.

  13. sutrapelangi said: Merinding bacanya mbak…Aku merasa kesentil dengan tulisan ini lho ^_^ Kok aku banget ya, hehe..Pernah baca tentang kejadian WTC gak mbak? Orang-orang yang ada dalam gedung itu (yang menunggu gedungnya ambruk) berlomba2 menelpon pasangannya, mengucap I love you untuk yang terakhir kalinya..Terimakasih sudah dimasukkan dalam jurnalnya ^_^

    Aku yang berterima kasih karena tulisan Mbak Sari lebih dulu nyentil aku….*Peluk Mba Sari….

  14. ikut memaknasi walau bukan dalam kontek keluarga..iya jangan nunda2 hal baik..takut gak keburu nanti

  15. Sip, Mbak Nita… kalo bisa sekarang kenapa harus menunggu besok ya?

  16. betul banget mbak Novie.. as we never know what will happen next! :d

  17. Makasih udah nyempetin baca jurnal lama ini, mbak Von…

  18. Biar lama tapi tetap bermanfaat mbak 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: