Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Dilema Facebook

Beberapa teman pernah berbagi cerita tentang susahnya menghadapi anak yang menjelang remaja. Rata-rata mereka mengatakan ketika anak mulai beranjak remaja sebaiknya orangtua mengambil peran sebagai teman, dan bukan lagi pengatur, pengasuh, apalagi jadi pendikte yang otoriter.

Aku cukup bersyukur karena memasuki usia remaja, si sulungku nampaknya tidak mengalami gejolak yang cukup menggelisahkan. Dia tetap si ceriwis manja yang selalu terbuka menceritakan segala sesuatu pada Mamanya.

Baru beberapa hari ini aku merasa sedikit risau. Pasalnya sejak masuk SMP, Samuel kerap bercerita tentang teman-temannya yang memiliki akun di facebook.

Memang dia tidak secara terang-terangan mengatakan ingin punya facebook juga. Tapi dari nada bicaranya aku tahu dia punya keinginan itu.

Samuel memang anak yang nyaris tidak pernah menuntut apapun. Waktu kecil kalau kami mengajaknya jalan-jalan dan dia melihat mainan yang bagus, dia tidak pernah merengek meminta. Paling hanya memegang-megang dan mengatakan mainan itu bagus. Baru kalau aku atau Papanya tanya apakah dia mau, dia akan tersenyum sumringah dan bilang “Mau kalau boleh…”.

Sampai sekarangpun masih seperti itu. Jika menginginkan sesuatu dia biasa mengungkapkannya secara tersamar melalui cerita-ceritanya. Kalau ditawari barulah dia bilang “Mau”. Lalu ditambah, “Kalau Mama punya duit…”

(Sungguh bersyukur Mama punya anak sepertimu, sayang.)

Tentang Facebookpun sebetulnya sejak masih di SD dia suka bercerita kalau teman-temannya suka bermain Petsos atau Farmville. Tapi waktu itu sepertinya dia belum tertarik. Kalau minta ijin nge-net paling dia cuma browsing hal-hal yang berkaitan dengan Tamiya atau Yoyo, mainan kesukaannya.

Baru belakangan ini dia menunjukkan rasa tertarik pada facebook.

Sebetulnya aku bukan khawatir dengan hal-hal negatif yang mungkin dia dapat dari facebook. Aku cukup percaya dia bisa menjaga dirinya untuk tidak melanggar aturan-aturan yang telah digariskan di rumah. Aku juga yakin dia sudah mengerti memilah-milah hal yang baik dan buruk.

Satu-satunya yang membuatku tidak segera mengabulkan keinginannya adalah karena Facebook mensyaratkan batas usia 13 tahun bagi penggunanya. Samuel baru 12 tahun. Jadi jika ingin membuka akun dia harus memalsukan tahun lahirnya. Hal serupa juga pasti dilakukan teman-temannya.

Sepertinya bukan sebuah masalah besar. Tapi bagiku itu seperti mengijinkan anakku untuk berbuat curang dan melanggar aturan.

Ini sebuah dilema bagiku. Di satu pihak aku ingin Samuel mengerti bahwa ada aturan-aturan main dalam hidup ini yang tak boleh dia langgar. Bahkan aturan-aturan yang sepertinya sepele pun tentulah dibuat dengan berbagai pertimbangan untuk keamanan dan kenyamanan penggunanya.

Tapi dipihak lain aku tidak mau dia mengalami perasaan terasing atau lain dari yang lain karena tidak mengikuti apa yang sedang digemari teman-temannya.

Aku tahu betul betapa tidak nyamannya perasaan terasing seperti itu, karena aku begitu sering mengalaminya dulu.

Dibesarkan dalam aturan yang super ketat oleh orangtuaku membuatku kerap diejek sebagai anak yang ketinggalan jaman. Aku ingat saat-saat ketika aku cuma bisa bengong mendengarkan teman-temanku bercerita tentang hal-hal yang tengah menjadi
trend masa itu. Hal-hal yang tidak bisa kunikmati karena ketatnya aturan di rumah.

Dan meskipun sekarang aku bisa mensyukuri cara orangtuaku membesarkanku, dulu aku sering menganggapnya sebagai penjara kecilku. Karena itulah aku tak ingin anakku mengalami hal yang sama.

Beberapa hari aku mendiskusikan ini dengan Papanya. Suamiku pada prinsipnya tidak keberatan asalkan Samuel tidak sampai melalaikan tugas sekolahnya. Masalah aturan itu dia bilang toh Samuel kurang dari setahun lagi sudah 13. Rasanya tidak terlalu salah.

Lama berpikir, akhirnya aku mengalah. Kukatakan pada Samuel bahwa ia diijinkan membuka akun di facebook dengan beberapa syarat. Pertama harus meng-add juga Papa dan Mama sebagai teman (Supaya kami bisa mengontrol aktivitasnya di facebook). Kedua, aturan ngenet tetap 1 jam sehari pada saat libur atau tidak ada ulangan. Ketiga, hanya boleh berteman dengan orang-orang yang dia kenal baik atau teman-teman sekolahnya saja. Karena kalau teman-teman sekolahnya sebagian besar sudah bersama-sama sejak TK jadi aku cukup kenal dengan orangtuanya juga. Keempat, tidak boleh mengupload foto diri.

Samuel terlalu senang sehingga menyetujui semua syarat itu tanpa protes. Dan kemudian aku dibuatnya terkaget-kaget ketika tanpa kesulitan dia langsung bisa membuat sendiri alamat email di yahoo, registrasi di facebook plus mengatur tampilan, privasi sampai menulis status pertamanya. Waktu kutanya dari mana dia tahu semua itu, dengan senyum dia bilang sudah diajari teman-temannya.

“Hebat juga anak Mama,” komentarku, “Tahu nggak, Mama baru tahu yang namanya komputer itu waktu udah kuliah.”

“Ya iyalah. Mama kan produk lama. Kalau Semsem keluaran baru. Kalau diibaratkan Semsem itu komputer, Mama itu kalkulator.” sahutnya santai.

“Ha ? Kalau Mama kalkulator, terus Oma apa dong?”

“Oma itu barang antik yang harus dilestarikan… yaaa… semacam sipoa deh..” katanya diakhiri tawa ngakak.

Haiyahhh…!

Advertisements

Comments on: "Dilema Facebook" (15)

  1. Nanti diprotes dengan bilang gini “Setahun lagi FB gak populer bu” :Dtapi saya akui saat ini pamor FB mulai berkurang seiring makin banyaknya anak-anak yang twitteran. Dan Keinginan Menjadi Treding Topic..Untuk twitter rasanya saya cukup aman. yaa sebab hanya nulis2 dg max 140 char. tapi gak tau juga persyaratan umur untuk account.

  2. Ngga diajak ngempi aja, CikBisa sekalian belajar nulisseperti saya 🙂

  3. iya mba nit, kayaknya skrg fb dah turun pamor, coz tmn2ku yg biasanya updet status dah kaya pegawai FB teladan aja coz srg bgt update status, skrg mah dah lbh dr sbln gak nongol updet statusnya..

  4. aku dan putriku punya FB dan MP, sebab FB banyak ortu tunarungu, mereka sudah ku ajak MP tapi katanya MP sulit, kalau FB gampang..:)

  5. Semsem bener2 anak yang manis ya 😉

  6. Tugas yang sangat berat buat ortu dizaman milenium ini, yaitu menjaga dan membimbing anak2nya dengan fleksibel…

  7. Naufal sdh bosan jg sama fb, sekarang mainannya blogspot. Ada tugas juga dari sekolah agar punya blog sendiri. Dan dia lebih canggih drpd sy, pdhl gak ada yg ngajari. Browsing sdr….ya begitulah anak2 sekarang….

  8. mimpidanasa said: Ngga diajak ngempi aja, CikBisa sekalian belajar nulisseperti saya 🙂

    Samuel gak suka nulis. Sukanya menggambar.

  9. nitafebri said: tapi saya akui saat ini pamor FB mulai berkurang seiring makin banyaknya anak-anak yang twitteran. Dan Keinginan Menjadi Treding Topic..

    Aku nggak terlalu ngerti kalo twitter, Mba…MP aja baru aktif beberapa bulan ini.Ketinggalan ya?

  10. sutrapelangi said: Semsem bener2 anak yang manis ya 😉

    Puji Tuhan…

  11. iras80 said: Naufal sdh bosan jg sama fb, sekarang mainannya blogspot.

    Nggak ngempi sama Bundanya?

  12. khoriyatulj said: mereka sudah ku ajak MP tapi katanya MP sulit, kalau FB gampang..:)

    Banyak yang berpikir ngeblog itu cuma buat orang-orang yang sudah jago banget nulisnya. Padahal nggak juga kan? Tulisanku juga masih berantakan begini…

  13. fairfa said: Tugas yang sangat berat buat ortu dizaman milenium ini, yaitu menjaga dan membimbing anak2nya dengan fleksibel…

    Betul… harus dibarengi banyak doa…

  14. drackpack said: Dan meskipun sekarang aku bisa mensyukuri cara orangtuaku membesarkanku, dulu aku sering menganggapnya sebagai penjara kecilku. Karena itulah aku tak ingin anakku mengalami hal yang sama. 

    Ibu…..yang harus kita pertahankan adalah subtansi dari pembentukkan anak untuk menjadi.Hanya memang keluwesan cara harus lebih dikreatifi……selamat mendidik…

  15. @Kang Ikin : Terimakasih…. Selalu berharap bisa memberi yang terbaik buat anak-anakku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: