Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Tiba-tiba saja teringat olehku pepatah itu, gara-gara seorang teman yang datang tadi siang.

Baik aku maupun suami, jujur saja tidak terlalu gembira menyambut kedatangannya. Kami bahkan serentak mengeluh begitu mengintip dari gorden dan melihat ternyata Bapak O yang berdiri di depan pagar.

Bukan apa-apa. Sepanjang yang kuingat setiap kali Pak O itu datang, tujuannya pastilah untuk minta tolong. Dan hari ini sungguh tidak tepat karena kami berdua kebetulan sedang sibuk luar biasa. Ada pekerjaan yang deadline-nya hari Senin.

Ternyata benar, tanpa basa-basi begitu duduk Pak O bilang minta tolong ditransferkan uang lewat e-banking kami ke rekening saudara iparnya. Lalu dia menyodorkan uang tunai sejumlah yang ditransfer untuk pengganti.

Aku sempat nyeletuk, “Kok nggak ditransfer lewat Bank saja?”

Dia bilang kalau lewat Bank antrinya lama dan dia lagi keburu-buru. Dalam hati aku jawab, lewat ATM atuh, Pak…

Untung jumlah yang dia minta nggak banyak, Cuma seratus lima puluh ribu. Dulu dia pernah minta ditransferkan juga dengan jumlah besar dan diganti dengan cek. Aku sampai ketawa waktu itu. Mana ada duit segitu di rekening kami….

Setelah selesai dan dia pulang, aku bilang sambil bergurau pada suami, “Nanti lagi kalau dia minta transfer kita minta biaya administrasi, ya. Lumayan buat beli kerupuk.”

Suamiku ketawa, “Jangan gitu, ah! Siapa tahu suatu saat nanti kita yang butuh pertolongannya. Emang kamu mau dikenakan biaya adm juga?”

“Perasaan dari dulu dia terus yang minta tolong,” bantahku bandel.

Tapi benar kok, Bapak O itu nggak pernah datang ke rumah kalau lagi nggak ada perlunya. Minta tolongnya macam-macam. Dari mulai pinjam kunci-kunci untuk betulin mobil (yang nggak pernah dibalikin kalau kita nggak ambil ke rumahnya), minta tolong dibetulin komputernya, minta nge-charge aki mobilnya. Sampai pernah mau pinjem kartu kredit, katanya lagi ada diskon di Carrefour untuk pemegang kartu kredit dari Bank tertentu. Terang saja nggak kami kasih….

Dan kalau dipikir-pikir kasus seperti ini bukan cuma dengan Bapak O saja. Banyak teman-teman (terutama teman suamiku) yang seperti itu. Apa mungkin karena suamiku terlalu baik ya? Jadi aku sering merasa banyak orang yang memanfaatkan kami? Atau aku saja yang terlalu pelit dan egois?

Tapi kalau aku sendiri, rasanya kok sungkan kalau minta tolong ini dan itu pada orang yang ketemu saja jarang. Atau kalau memang mau sering minta tolong, jalin silaturahmi dong. Berkunjung sekali-kali, atau telepon sekedar tanya kabar.

Kembali ke pepatah tadi. Sahabat sejati adalah sahabat yang ada ketika kita membutuhkan (bener gak sih artinya?). Apakah cuma supaya dibilang sahabat sejati kita harus terus menolong dan menolong seseorang tanpa ada timbal baliknya?

Apa bagi Pak O kami ini termasuk sahabat sejatinya?

Sepertinya nggak begitu… buktinya tiap kali kami makan di restoran miliknya selalu harus bayar penuh, gak pake “harga hopeng”…. hahahaha…

Menghibur diri : ayo… ayo… jangan ngomel…. ikhlas dong! Tuhan yang melihat dan upahmu nanti besar di surga…

Ffffhhhhh….

*** kembali ke pekerjaan yang belum selesai….

Advertisements

Comments on: "A friend in need is a friend indeed…" (13)

  1. Ah, itu mah orang yang cuma mau memanfaatkan anda dan Koko aja cik, kayaknya begitu. Pantes kok kalau kecewa.

  2. Mau deh jadi tetangga Cik Novi 😀

  3. Hehehe… Lain kali, kayaknya kudu “agak” tegas nih, mba :)Aku ngerti sih keselnya. Soalnya pernah digituin juga. Yah, lama2 daripada jadi dosa (tetep nolongin tapi aku ngedumel), pelan2 ngga aku tanggapin lagi dengan cara yg halus… 🙂

  4. bundel said: Ah, itu mah orang yang cuma mau memanfaatkan anda dan Koko aja cik, kayaknya begitu. Pantes kok kalau kecewa.

    Iya, Bun… serba salah jadinya. Terlalu baik, dimanfaatkan orang. Terlalu jutek juga banyak musuh. Lagi-lagi balik ke lagunya Veti Vera.. ‘Yang sedang-sedang sajaaa….’

  5. mimpidanasa said: Mau deh jadi tetangga Cik Novi 😀

    Hush! Mau ikut ngerjain ya? (Pasang jurus silat…!)

  6. mayamulyadi said: Lain kali, kayaknya kudu “agak” tegas nih, mba 🙂

    Ini juga sebetulnya kami udah jaga jarak, Mbak… cuma orangnya memang agak muka tembok kali ya….

  7. drackpack said: Hush! Mau ikut ngerjain ya? (Pasang jurus silat…!)

    Tipikal seperti bapak O memang sering dijumpai, baik dilingkungan rumah/kantor meski hanya 1-2 orang :)Saya ngga tahu Cik, ini disebabkan oleh kebiasaan atau kondisi kejiwaan.. heheTapi suatu saat, kita perlu tegas menarik batas agar tidak selalu terganggu oleh tetangga/teman tipe demikian

  8. mimpidanasa said: Tapi suatu saat, kita perlu tegas menarik batas agar tidak selalu terganggu oleh tetangga/teman tipe demikian

    Aku sendiri sih berani menolak.Susahnya ya suamiku yang baik hati itu, Mas…

  9. drackpack said: Aku sendiri sih berani menolak.Susahnya ya suamiku yang baik hati itu, Mas…

    Kenalin ke suami donk Cik..heheheheBiar tahu kemana kalau saya butuh2 apa ..hahahaha

  10. menolong tanpa pamrih, akan balik dengan berlimpahhehehehehPeace ahhh mba.. 😀

  11. rirhikyu said: menolong tanpa pamrih, akan balik dengan berlimpahhehehehehPeace ahhh mba.. 😀

    Amiiiiinnn….. (tapi kalo kesel dikit boleh dong… hehe…)

  12. drackpack said: Amiiiiinnn….. (tapi kalo kesel dikit boleh dong… hehe…)

    mberr.. so pasti ^_^

  13. hehehehe…. iya nih klo temen itu yaa harus saling yaa… tapi klo belom gitu ya ditegasin aja mbak, daripada mengeluh dibelakang… ato diikhlaskan saja kekekeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: