Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Waktu ku kecil….

Kadang-kadang aku kasihan dengan anak-anak. Sepertinya mereka kurang punya aktifitas bermain yang benar-benar menyenangkan. Mungkin karena kami tinggal di kompleks dan kebetulan di blok kami tidak ada anak-anak yang sebaya mereka, jadi kebanyakan mereka bermain di rumah saja. Kalaupun main diluar paling naik sepeda atau jalan-jalan ke taman unyil.

Sungguh jauh berbeda kalau dibandingkan masa kecilku dulu yang selalu dihabiskan diluar rumah. Dari pulang sekolah sampai sore asyik bersama anak-anak tetangga. Rumahku dulu terletak di gang kecil, jadi teman-temanku begitu beragam dari mulai anak mantri, anak pemilik salon, anak guru, sampai anak tukang kupat tahu. Ada begitu banyak permainan seru yang bisa dilakukan bersama-sama. Mulai dari jual-jualan, petak umpet, permainan yang menguras tenaga seperti baren, engklek, jeblag panto atau permainan yang lucu seperti sasalimpetan atau perepet jengkol (duh… jadi kepingin kecil lagi…).

Pokoknya masa itu aku tidak akan pulang ke rumah kalau Mamaku belum berteriak-teriak menyuruh mandi dan bikin PR. Kadang-kadang waktu menjelang maghrib dan teman-temanku mau pulang karena harus belajar mengaji di madrasah, aku suka jadi setan yang merayu mereka supaya bolos dan bisa bermain lebih lama… (ck..ck..ck..).

Pulang dengan baju belepotan tanah itu sudah bukan hal yang aneh. Kalau dipikir sekarang setelah aku jadi Ibu, kasihan amat Mamaku yang tiap hari harus mencuci baju super kotor. Mana jaman itu kami belum punya mesin cuci…

Tapi masa kecil yang menyenangkan dan tidak terlupakan itu yang membuatku berpikir, apakah kelak anak-anakku juga akan mengenang masa kecil mereka sebagai saat-saat yang paling indah? Apa yang akan mereka kenang? Game-game yang mereka mainkan di komputer, atau acara-acara televisi yang mereka tonton?

Aku sudah berusaha sebisa mungkin menciptakan acara bermain yang menarik. Tapi memang tak banyak yang bisa dilakukan dengan lahan yang terbatas dan teman main yang terbatas juga. Perbedaan usia anak-anakku yang jauh juga membuat masalah tersendiri. Setiap kali aku mengajak mereka main bersama seperti monopoli,ular tangga atau lego, pasti berakhir dengan ribut karena Daniel tampil sebagai si pengacau kecil… Akhirnya kegiatan yang bisa dilakukan sama-sama dengan damai di rumah ya cuma nonton tivi.

Tentang tivi ini, selama liburan kemarin anak-anak hampir setiap hari nonton film kartun Ipin Upin dan Little Khrisna. Kuakui memang ceritanya cukup bagus biarpun membosankan karena terus diulang-ulang. Daniel yang baru belajar bicara sampai fasih mengatakan “Kisna…kisna…” Bahkan ketika ditanya nama lengkapnya (Daniel Shendy Kristianto) dia malah bilang “Aning… Ndi…. Kisna…” (Halahhh..!!).

Begitu juga ketika iseng aku tanya anak-anak apa cita-cita mereka. Samuel dengan mantap bilang mau jadi pengusaha.. (wheizzzz…). Debi katanya mau jadi Mama. Sementara Daniel dengan kalem bilang mau jadi “Kisna….”

Jadi bagaimana kalau sudah begini? Pengaruh televisi memang dahsyat. Aku sudah berusaha membatasi sebisa mungkin. Bahkan aku dan suami juga sepakat tidak menonton televisi pada saat anak-anak harus belajar. Main game juga dibatasi maksimal 1 jam sehari supaya mata mereka tidak rusak. Tapi rasanya kalau hanya melarang ini dan itu tanpa menyediakan alternatif lain juga nggak adil buat mereka. Menganjurkan mereka baca buku? Sudah. Anakku yang besar bahkan jadi pecinta buku sampai-sampai waktu lulus kemarin dapat penghargaan khusus sebagai siswa yang paling rajin pinjam buku di perpustakaan. Mengajak rekreasi ? Tentunya nggak bisa setiap saat karena papanya hampir selalu sibuk mengejar setoran. Tapi kalau ada waktu dan ada dana selalu kami usahakan membawa mereka jalan-jalan sekedar supaya tidak jenuh di rumah.

Tapi kok rasanya masih saja ada yang kurang. Atau mungkin cuma aku sendiri yang punya pikiran aneh, padahal anak-anak sendiri mungkin saja sudah cukup puas dengan keseharian mereka sekarang. Dan ketika mereka dewasa nanti mungkin mereka akan berkata, “masa kecilku yang tak terlupakan karena ada Upin Ipin dan Little Khrisna…..”

(Mijet-mijet kepala, pusing sendiri…)

Advertisements

Comments on: "Waktu ku kecil…." (15)

  1. begitulah nasib anak kota, mbak…. >>>pijet-pijet kepala Mbak nov yg pusing<<<

  2. kalau anakku yang bungsu Galih, temennya banyak mbak. Malah sering hilang karena buka pagar rumah sendiri trus main kerumah temennya. Kalau yang nomor satu dan dua, sudah sibuk sekolah dan les, jadi kalau pulang sekolah maunya santai dirumah atau ngenet aja…dulu yang nomor satu rajin main sepeda keliling komplek, pokoknya jago deh main sepedanya, tapi berhenti dan ngambek gara-gara dikirimi surat cinta oleh temen tknya yang sekolah di SD lain….sejak itu dia nggak mau keluar rumah lagi.

  3. opangpingpong said: pijet-pijet kepala Mbak nov yg pusing<<<

    Waduh… mama Opang… pijetannya uenaakkk tenan….

  4. iras80 said: berhenti dan ngambek gara-gara dikirimi surat cinta oleh temen tknya yang sekolah di SD lain.

    Hehehe… ada-ada aja…Tapi beruntung anak-anaknya mba Erwin masih bisa main di luar rumah. Di deket rumahku gak ada yang sepantaran anak-anak, jadi mereka main sendiri aja.

  5. Wah… Berarti anakku ntar main ama kakak2 sepupunya aja deh. Main diluar rumah juga ga ada temen sebaya…

  6. Perepet jengkol gimana itu maennya mbak? Apa pake jengkol qiqiqiqi…Kalo saya sering membiarkan anak bermain air waktu mandi, atau maen petak umpet dirumah, walopun rumahnya seuprit hehe..

  7. mayamulyadi said: Wah… Berarti anakku ntar main ama kakak2 sepupunya aja deh. Main diluar rumah juga ga ada temen sebaya…

    cepet dikasih adek aja, Mba… biar ada temen di rumah…

  8. qaulandiarra said: Perepet jengkol gimana itu maennya mbak? Apa pake jengkol qiqiqiqi…

    Yang main biasanya 3 atau 4 orang anak, semua punggung-punggungan terus sebelah kakinya diangkat ke belakang, dicantelin sama kaki anak-anak lainnya (bingung ya?) terus nyanyi sambil loncat-loncat sebelah kaki : perepet jengkol jajahean, kacepet panto jejeretean…. (jangan tanya artinya apa… )

  9. Ah saya ngerti, dulu juga suka maen itu, tapi tentu lagunya versi ngapak..:D

  10. Foto Daniel yang di headshot ini ya teh Novi :)Imut banget 🙂

  11. mimpidanasa said: Foto Daniel yang di headshot ini ya teh Novi :)Imut banget 🙂

    iya, mas Yudha… si bungsuku yang paling aktif.

  12. drackpack said: Tapi kok rasanya masih saja ada yang kurang. Atau mungkin cuma aku sendiri yang punya pikiran aneh, padahal anak-anak sendiri mungkin saja sudah cukup puas dengan keseharian mereka sekarang.

    Maaf nih saya laki-laki tapi pingin ‘nimbrung’, boleh kan?Kita sebagai orang tua sebaiknya fokus pada kegembiraan bathin anak-anak. Format lalakonnya gak harus sama dengan apa yang pernah kita lakoni atau antara satuanak dengan anak lainnya-pun lalakonnya tidak harus sama/mirip, tergantung sikon tempat anak-anak dibesarkanKedua kita sebagai orang tua sebaiknya fokus pada pembentukkan kebaik sikap dan fikir anak-anak. Tantangan “konsumsi televisi” memang masalah yang semestinya disepakati bersama oleh seluruh orang tua Indonesia.Dari sisi pihak yang berwenang silang pendapat dan perdebatan sudah sering terdengar bahkan saya sendiri sudah sampai ketitik jenuh mendengarnya.Dari sisi kita sebagai konsumen rasanya kita memiliki power luar biasa kalau kita semua berbuat bersama. Sederhananya, bahwa apa yang di “jual” pers terserah kita untuk membelinya tau tidak membelinya. Nah kalau kita berbuat bersama untuk tidak mebeli tayangan tertentu toh pihak “penjual” akan menarik produknya dan ganti berjualan yang lain.Repotnya….kadang ada orang-tua tertentu yang mengeluhkan hal-hal tertentu dari tayangan televisi tapi tidak berhenti mengkonsumsinya………

  13. rasikiniin said: Kita sebagai orang tua sebaiknya fokus pada kegembiraan bathin anak-anak.

    Itulah yang sedang kami coba lakukan, Mas…Trims untuk pencerahannya….

  14. jamannya beda, mainannya pun beda…. saya tinggal di komplex perumahan juga susah, jarang temen main buat si kecil. untung umurnya selisih 2 tahun, so mainan ama sodara sendiri.

  15. Ditambah lagi beban tugas sekolah yang membuat waktu bermain mereka sangat terbatas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: