Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Entah kenapa hari ini aku tiba-tiba teringat kembali Bapak itu. Malaikat penolongku, yang meskipun tak pernah kukenal secara sungguh-sungguh tapi telah meninggalkan kesan yang begitu dalam dan tak terlupakan.

Desember 1996, tepat sehari setelah perayaan natal, sebuah peristiwa luar biasa mengguncang kota Tasikmalaya. Kerusuhan rasial. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan sedikitpun, mengingat kota kami itu meski terkenal agamis tapi sangat menghargai pluralisme. Puluhan tahun tinggal di sana, bergaul dengan berbagai lapisan masyarakatnya, tak pernah menjadi masalah bagiku sebagai kaum minoritas.

Tapi hari itu tiba-tiba semuanya berbeda. Pagi hari ketika akan berangkat kerja aku sempat heran melihat sejumlah tentara bersenjata berjaga-jaga sepanjang jalan HZ Mustofa. Masa itu berita belum secepat sekarang tersebar. Siaran televisi swasta di Tasik masih terbatas, internet belum musim, tambahan lagi kami tidak langganan koran di rumah dan aku juga baru liburan 3 hari. Jadi saat itu sama sekali tak ada bayangan apa yang sedang terjadi.

Baru setelah tiba di kantor aku tahu bahwa di depan kantor Polres sedang ada demo besar-besaran. Katanya gara-gara seorang polisi menganiaya orang pesantren.

Aku belum merasa cemas karena kupikir itu urusan polisi, tak ada sangkut pautnya dengan kami. Malah pagi itu seperti biasa aku pergi ke Bank, ke kantor pajak, dan konyolnya berkali-kali minta sopir kantor yang mengantarku untuk lewat Mesjid Agung, tempat para pendemo berkumpul.

Desas-desus beredar bahwa demo akan berkembang menjadi kerusuhan rasial seperti yang pernah terjadi tahun 60-an. Tapi itu belum juga membuatku merasa cemas berlebihan. Yang kutahu dari cerita orang tua, tahun 60 itu toko-toko di sepanjang jalan protokol dilempari batu. Tapi cuma itu saja.

Dengan bodohnya aku berpikir, tokh rumahku cukup aman di dalam gang. Di kantorpun kami bisa sembunyi di bagian belakang kantor yang cukup jauh dari jalan raya. Jadi buat apa khawatir?

(Kadang-kadang sifatku yang suka menggampangkan segala sesuatu ini memang bisa membawa masalah…!)

Aku baru panik ketika kira-kira pukul 10 pagi ada seorang laki-laki entah dari mana masuk ke showroom kami sambil berteriak-teriak menyuruh semua mobil pajangan di pindah ke belakang. Katanya masa mulai tidak terkendali dan mereka sudah membakar beberapa tempat ibadah.

Seisi kantor langsung berhamburan. Aku tak sempat lagi mengambil tas yang kutaruh di ruang kerja karena keburu ditarik teman-teman ke seberang jalan. Kami berdelapan (wanita semua) masuk sejauh-jauhnya ke sebuah gang. Tak tahu harus kemana. Untungnya ada seorang Ibu yang kemudian membuka pintu rumahnya untuk kami. Mengijinkan kami tinggal, bahkan memakai teleponnya untuk menghubungi keluarga masing-masing.

Aku cukup lega setelah menelepon dan keluarga di rumah tak kurang satu apapun. Bahkan mereka terbilang lebih beruntung dari aku saat itu, karena Jl. RSU tempat kami tinggal menjadi satu-satunya jalan yang tidak terjamah sama sekali oleh masa. Maklum di situ ada satu-satunya rumah sakit di kota Tasikmalaya, dan di ujung jalannya ada markas Polisi Militer.

Sampai sore hari aku masih tertahan di rumah Ibu yang baik itu. Kerusuhan entah kapan akan mereda karena setiap saat kami mendengar kabar jalan ini dan itu jadi sasaran amuk masa. Aku ingin pulang tapi tidak tahu bagaimana caranya. Sementara teman-temanku yang pribumi satu persatu mulai dijemput keluarganya dan pulang.

Beberapa orang rekan karyawan dari kantor yang datang menengok kami di rumah itu tak ada yang berani mengantarku pulang. Pertama karena semua jalan menuju rumahku termasuk daerah sangat rawan, masa masih bolak-balik melakukan perusakan, pembakaran dan penjarahan di sana. Kedua karena aku Cina (Huffff….!!!). Bahkan teman terdekatku waktu kuminta tolong cuma bilang akan melihat-lihat dulu ke jalan, padahal nyatanya dia langsung kabur pulang dan meneleponku lagi setelah berada di rumahnya hanya untuk bilang maaf….

Aku sudah nyaris putus asa dan berpikir mungkin memang harus menginap di rumah Ibu itu semalam. Tapi tanpa diduga sekitar pukul 8 malam ada seorang sopir kantor datang. Namanya Heri. Di kantor selama ini dia dikenal sebagai karyawan yang sulit didekati. Wajahnya sangar dengan cambang dan bewok. Omongannya juga sering kali kasar. Tapi padaku entah kenapa dia selalu bersikap baik. Mungkin karena aku sering menyediakan telinga untuk mendengar curhatnya.

Waktu dia datang itupun dia baru kembali dari rumah sakit. Kakinya dijahit karena robek terkena pecahan kaca waktu menyelamatkan dokumen-dokumen di ruang kerjaku.

Tanpa menimbang ini dan itu dia langsung menyanggupi mengantarku pulang. Tapi jalan kaki dan harus memutar cukup jauh untuk menghindari daerah bahaya. Aku tahu tak ada cara lain, jadi aku setuju.

Keluar dari gang dan tiba di jalan raya, hatiku ciut bukan main melihat api berkobar dimana-mana. Seperti dalam film-film perang. Belum lagi teriakan dan cacian bernada SARA yang masih banyak terdengar. Aku benar-benar tak yakin bisa sampai di rumah dengan selamat, apalagi dengan berjalan kaki. Bagaimana jika tiba-tiba berpapasan dengan para penjarah…. apa mereka akan “menjarahku” juga…. Hii
ii….!!!!

Karena untuk melewati jalan HZ Mustofa terlalu berbahaya, akhirnya kami berbelok ke sebuah jalan kecil yang kelihatan agak sepi. Di depan sebuah rumah kulihat seorang Bapak tengah berdiri, memandangi kepulan asap hitam yang tampak di segala arah.

Waktu melihatku, dia kelihatan agak tertegun lalu menyapa. Neng, bade kamana? (Neng, mau kemana?)“. Aku jawab aku mau pulang. Bapak itu geleng-geleng kepala “Mapah? Tos wengi kieu? Dimana calikna kitu? (Jalan kaki ? Malam-malam begini? Memang rumahnya dimana?“

Waktu kuberitahu alamat rumahku, Bapak itu kelihatan makin prihatin. “Tebih geuningan. Asa hawatos. Tiasa nyetir teu? Anggo mobil Bapa we atuh! (Jauh juga. Kasihan. Bisa nyetir nggak? Pakai saja mobil Bapak)”.

Aku sampai ternganga tak percaya. Tapi begitu Heri bilang dia sopir kantor, tanpa banyak bicara Bapak itu langsung menyerahkan kunci mobilnya lalu menyuruh kami cepat jalan.

Sempat kami menolak, tapi Bapak itu meyakinkan bahwa pakai mobil pasti akan lebih aman daripada jalan kaki. Aku sungguh-sungguh kaget, lega, senang, terharu… campur aduk.

Bayangkan, Bapak itu tak pernah mengenalku sebelumnya. Dan keadaan saat itu sedang chaos. Tidakkah dia khawatir mobilnya tak kembali, atau mengalami celaka dan rusak. Apalagi jelas-jelas aku ini “Cina”, golongan yang menjadi sasaran para penjarah. Bahkan seandainya aku minta tolong pada familiku sekalipun belum tentu mereka memberi mobilnya untuk kupakai. Dalam kondisi seperti saat itu orang-orang cenderung berubah jadi egois dan hanya memikirkan keselamatannya sendiri saja.

Tapi Bapak berhati emas itu melepasku dengan senyum, tak lupa menyertakan doa, “Sing salamet nya, Neng…”

Aku menjadi lebih terenyuh waktu mendapati di dalam mobilnya sudah tersimpan buntalan pakaian dan barang-barang berharga. Rupanya Bapak itu sekeluarga sudah bersiap-siap untuk mengungsi kalau keadaan menjadi lebih buruk. Tapi dia masih mendahulukan untuk menolong seorang yang bahkan tidak dikenalnya. Alangkah mulianya…

Berkat pertolongan Bapak itu ( bahkan aku tak pernah tahu namanya hingga sekarang), akhirnya aku bisa tiba dengan selamat di rumah. Heri yang kemudian mengembalikan mobil itu mengatakan Bapak itu ikut lega mendengar aku sudah sampai di rumah.

Aku percaya Tuhan bisa melindungi anak-anakNya dengan berbagai cara. Dia bisa mengirim siapa saja untuk menjadi malaikat penolong ketika kita sedang dalam keadaan terjepit.

Bagiku, Bapak itu adalah seorang malaikat kiriman Tuhan….

*** Gambar diambil dari berbagai sumber

Advertisements

Comments on: "Bapak itu pastilah malaikat" (19)

  1. Puji Tuhan! Allah Maha Agung! Betul ceu, dia malaikat untuk melindungi ceuceu dari bahaya yang disebarkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Nggak bisa didatangi lagikah untuk menjalin silaturahmi dengan beliau?Itulah ki Sunda yang sejati, biasanya hatinya tulus suci ya?

  2. thats a miracle…. semenjak kejadian itu bu nov blm pernah silaturahmi lg ke bapak itu???

  3. ikut merinding bacanya mbak….pas kerusuhan th 96 itu aku masih di Kupang. jadi nggak merasakan kengeriannya. Begitu aku pindah, selisih beberapa bulan kemudian, gantian Kupang yang rusuh. Para pendatang bukan hanya Cina mbak, rumahnya dilempari, tapi nggak sampai dijarah sih….

  4. bundel said: Itulah ki Sunda yang sejati, biasanya hatinya tulus suci ya?

    Betul, Bunda…. ketulusan yang sangat langka dimasa sekarang ini…

  5. opangpingpong said: semenjak kejadian itu bu nov blm pernah silaturahmi lg ke bapak itu???

    Beberapa waktu setelah kejadian itu, setelah trauma hilang, aku sempat mendatangi jalan itu dan mencari rumah si Bapak. Tapi aku nggak berhasil mengingatnya. Mungkin karena waktu kejadian itu malam dan aku dalam kondisi kalut, jadi tak sempat memperhatikan jelas. Ditambah lagi daerah situ rumahnya satu sama lain mirip seperti di kompleks. Mau tanya pada orang situ, nggak tahu juga siapa namanya. Mungkin ini salah satu kebodohanku yang lain.Heri juga mengaku nggak terlalu ingat rumahnya, karena ketika ia mengembalikan mobil, Bapak itu sudah menunggunya di ujung jalan dan mobil dikembalikan di sana.Sayang ya….. jadi ceritanya cuma berakhir sampai di situ.

  6. iras80 said: Begitu aku pindah, selisih beberapa bulan kemudian, gantian Kupang yang rusuh.

    Tahun-tahun itu memang kerusuhan rasial banyak terjadi. Poso, Situbondo, Rengasdengklok, lalu akhirnya Jakarta juga…Semoga tidak sampai terjadi lagi…

  7. drackpack said: Beberapa waktu setelah kejadian itu, setelah trauma hilang, aku sempat mendatangi jalan itu dan mencari rumah si Bapak. Tapi aku nggak berhasil mengingatnya. Mungkin karena waktu kejadian itu malam dan aku dalam kondisi kalut, jadi tak sempat memperhatikan jelas. Ditambah lagi daerah situ rumahnya satu sama lain mirip seperti di kompleks. Mau tanya pada orang situ, nggak tahu juga siapa namanya. Mungkin ini salah satu kebodohanku yang lain.Heri juga mengaku nggak terlalu ingat rumahnya, karena ketika ia mengembalikan mobil, Bapak itu sudah menunggunya di ujung jalan dan mobil dikembalikan di sana.Sayang ya….. jadi ceritanya cuma berakhir sampai di situ.

    Sebenernya mah ceu, ceritanya nggak pernah berakhir lho. Setidak-tidaknya hidup di dalam kenangan kita. Dan jadi pedoman untuk berperilaku di masyarakat di masa yang akan datang baik pada diri kita sendiri, maupun bagi anak-cucu ceu Novi. Iya nggak sih?

  8. Iya juga sih, Bun…

  9. Masya Allah, menyentuh sekali ceritanya, mbak NoviSaya ingat juga saat kerusuhan Mei 98, ikut panik karena mantan kekasih saya orang keturunan Cina dan terjebak di Jakarta.(dia kuliah disana)Alhamdulillah, bisa pulang dengan selamat ngga kurang suatu apa 🙂

  10. Pengalaman yang traumatis, Mas Yudha… tapi memberi saya banyak hikmah dan pelajaran.

  11. hiks…. terharu bacanya…. bukan cuma ditolong 1 bapak malaikat yach bu…. tapi 2 sekaligus + ibu malaikat…..

  12. qqmerangkumkisah said: hiks…. terharu bacanya…. bukan cuma ditolong 1 bapak malaikat yach bu…. tapi 2 sekaligus + ibu malaikat…..

    3 malah… dengan Heri, sopir malaikat….

  13. drackpack said: Dalam kondisi seperti saat itu orang-orang cenderung berubah jadi egois dan hanya memikirkan keselamatannya sendiri saja.

    Ya begitulah psikologi seseorang (tidak semua) ketika panik tak ada yang difikirkan selain “selamat sendiri”…Beruntunglah kamu telah dikirimi oleh Tuhan seorang manusia yang menjadi penolong-mu…..berterimaksihlah pada Tuhan…..fikirkanlah dengan apa kamu akan membalas kasih TUhan itu…..Lalu berharaplah…….

  14. amin Cie… Tuhan memberkati ^_^

  15. God Bless u 2….

  16. jadi inget ibuku ganti nama dari Tan susana jadi Nengsih karena masalah ras 🙂

  17. cinderellazty said: jadi inget ibuku ganti nama dari Tan susana jadi Nengsih karena masalah ras 🙂

    maksudnya?

  18. ibuku namanya Tan Susana mbak etnis china hehehe terus gara2 masalah perpolitikan di Indonesia yang saat itu ANTI-CHINA, nama ibuku diganti jadi nama pribumi ^^ kakekku china nenekku sunda 🙂

  19. Waduh, good Job, Sir…Memang kadang Tuhan mengirimkan bantuannya lewat apapun tanpa kita sangka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: