Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Ini kisah nyata yang mungkin bisa jadi warning buat para Ibu yang mempercayakan anaknya ke tangan Mbak Zus alias pengasuh anak.

Sore itu karena udara cerah, aku mengajak anak-anak bersepeda mengitari taman kecil dekat rumah. Sementara mereka bermain, aku iseng memperhatikan beberapa anak lain yang juga sedang bermain dengan para pengasuhnya.

Menarik, karena umurnya rata-rata sebaya dengan Daniel dan mereka sedang disuapi makan oleh masing-masing Mbak Zus-nya. Duh, aku kok nggak suka banget melihat anak-anak makan sambil jalan-jalan. Apalagi yang piringnya nggak ditutup. Kotor, dong! Anak-anakku sendiri sudah dibiasakan makan sambil duduk, bahkan waktu mereka masih duduk di kursi bayinya.

Para pengasuh itu kelihatannya justru mengambil waktu makan anak-anak untuk bisa berjalan-jalan dan ngerumpi dengan sesama temannya. Terbukti mereka yang di taman itu lebih asyik berhaha-hihi daripada memperhatikan anak asuhannya masing-masing.

Salah satu anak rupanya agak susah makan. Setiap kali si Mbak mau menyuapkan makanan ia selalu mengelak dan berlari. Beberapa kali begitu dan si Mbak kelihatan tidak terlalu perduli dan tidak berusaha membujuk. Tetap saja asyik dengan teman-temannya.

Lalu ketika untuk kesekian kalinya si Mbak menyendok makanan, anak itu cepat memalingkan muka dan bermain dengan gerumbul pohon putri malu di dekatnya. Dengan tenang tanpa rasa bersalah si Mbak balik menyuapkan makanan ke…mulutnya sendiri. Sesendok, dua sendok… Temannya sambil nyengir bertanya, “Ari maneh, naha didahar sorangan? (Lho, kok dimakan sendiri?)”. Si Mbak itu balas terkikik sambil menyahut, “Ah, bongan hararese. Bae da indungna moal apaleun ieuh. (Ah, salah sendiri dikasih makan kok susah. Biarin, toh Ibunya nggak tahu)”. Satu yang lain ikut menimpali, “Enya, pokona mah beak. Kusaha we beakna mah (Iya, pokoknya habis. Terserah siapa yang menghabiskan)”.

Lalu mereka terkikik bersama dan kemudian melengos ketika bersirobok dengan mata saya yang melotot gemas campur kesal.

Nah, lo……

Advertisements

Comments on: "Jangan dimakan sendiri, Mbak Zus…" (7)

  1. Kutan aya kitunya anu taregaeun ka anak dunungan? Duh Gusti……..!

  2. Wah, saya termasuk yang mengandalkan “mbak Zus” untuk menjaga anak – anak. Untunglah mbak Zus di rumah sudah sepuh, hampir 50 tahun dan tidak suka ngerumpi 🙂

  3. Memang lebih baik anak2 makan dirumah, lebih terkontrol…

  4. bundel said: Kutan aya kitunya anu taregaeun ka anak dunungan? Duh Gusti……..!

    sumuhun, Bunda… meni hoyong neke… (Bunda, tiasa sunda oge geuningan… biasana nyarios Jawa…)

  5. mimpidanasa said: Wah, saya termasuk yang mengandalkan “mbak Zus” untuk menjaga anak – anak.

    Yang penting nggak lepas kontrol sama sekali mungkin, Mas…

  6. qaulandiarra said: Memang lebih baik anak2 makan dirumah, lebih terkontrol…

    Setuju, Mbak… lebih bersih dan mengajar anak-anak untuk disiplin…

  7. drackpack said: sumuhun, Bunda… meni hoyong neke… (Bunda, tiasa sunda oge geuningan… biasana nyarios Jawa…)

    Isy, kantenan atuh. Piraku urang Bogor ku dusun-dusun teuing teu tiasa nyarios Sunda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: