Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Dibalik seorang pria yang sukses pasti ada seorang wanita yang luar biasa. Dibalik seorang wanita yang sukses… ada suami yang stress..” Kalimat dengan nada bercanda itu dilontarkan Helmy Yahya saat menutup acara “Masihkah Kau Mencintaiku” yang tayang di RCTI tadi malam.

Sebetulnya tidak sengaja juga menonton acara itu. Tadinya menghidupkan televisi cuma supaya tidak terasa sepi karena semalam harus mengerjakan tugas rutin awal tahun ajaran : menyampul buku pelajaran dan buku tulis anak-anak.

Dari awalnya cuma iseng, akhirnya aku jadi tertarik untuk menyimak hingga selesai.

Dikisahkan seorang istri minta cerai pada suaminya yang dituduh selingkuh. Konon dulu pria tersebut hanya seorang pegawai rendahan, sementara istrinya adalah sekretaris Bos dengan penghasilan yang jauh lebih tinggi. Dengan rekomendasi istrinya, sang suami akhirnya bisa mendapat jabatan yang lebih tinggi. Karirnya terus menanjak hingga kemudian bisa punya perusahaan sendiri.

Seharusnya keadaan rumah tangga itu menjadi lebih baik setelah itu. Tapi kenyataannya sang istri mendapati suaminya selingkuh. Lalu dengan nada arogan dia mengatakan suaminya adalah orang yang paling tidak tahu diri. Sudah dibantu hingga berhasil meraih kesuksesan, tapi malah mengkhianati.

Lalu ketika mendapat giliran bicara, sang suami mengatakan dia juga sudah tidak tahan dengan sifat dominan istrinya. Mungkin karena latar belakangnya dari keluarga kaya dan karirnya yang juga sukses, istrinya itu tidak pernah menghargainya sebagai seorang kepala keluarga. Bicaranya selalu bernada memerintah. Kasar. Bahkan suka menganiaya suaminya. Dibuktikan dengan guratan-guratan bekas cakaran di tangan sang suami yang katanya hasil karya istrinya. Belum lagi lebam dekat lehernya karena dilempar asbak. Dan satu goresan panjang akibat kena gebuk tas yang asesorinya tajam. Astaganaga…. rupanya ada juga laki-laki yang jadi korban KDRT…. (geleng-geleng sambil menghela nafas).

Aku sempat merasa gemas juga melihat begitu ngototnya si istri mengungkit-ungkit seluruh jasa yang sudah dia berikan untuk suaminya. Nada bicaranya terkesan melecehkan seolah-olah jika tanpa dirinya tak mungkin suaminya akan seperti sekarang. Meskipun kedua konselor telah berulang-ulang mengingatkan bahwa diapun mungkin tak akan sesukses sekarang bila tidak ada dukungan dari suaminya, tapi wanita itu keukeuh dengan pendapatnya bahwa selama 15 tahun pernikahan dialah yang paling banyak menghasilkan uang dalam keluarga. Saking keukeuhnya dia bilang tidak rela jika ada pembagian harta setelah bercerai. Semua harus jatuh ke tangannya dengan alasan tidak sudi hasil jerih payahnya nanti akan dinikmati suaminya bersama perempuan lain.

Sekali lagi astaga..ga..ga… Tapi inilah potret keluarga jaman sekarang ketika uang bertahta di atas segala-galanya. Ketika atas nama emansipasi wanita berusaha mencapai kesuksesan melebihi pria, berkarir setinggi-tingginya, mencari harta sebanyak-banyaknya. Sampai lupa bahwa bagaimanapun kodrat seorang istri adalah sebagai penolong, bukan perongrong apalagi penodong.

Dalam sebuah bahtera rumah tangga suami tetap adalah kapten kapal. Pemimpin. Posisi yang tidak boleh dikudeta oleh istri. Bisakah dibayangkan sebuah kapal yang dipimpin oleh dua orang kapten dan masing-masing tidak mau mengalah? Satu bilang ke kanan, satu bilang ke kiri. Satu bilang maju, satu bilang mundur. Yang ada kapal itu malah tenggelam.

Kisah yang kulihat semalam cuma satu dari banyak kisah pahit keluarga gara-gara istri memiliki rasa keberhargaan diri yang salah. Tidak bisa menempatkan diri dalam posisi yang seharusnya.

Ketika seorang suami yang tadinya “Bukan apa-apa“ akhirnya bisa menjadi “Apa-apa“ berkat istrinya, bukankah itu sesuatu yang luar biasa karena sang istri telah berhasil dalam tugasnya sebagai penolong. Tapi setelah itu? Kapten ya tetaplah kapten. Imam tetap imam. Dan penolong tetap penolong. Masing-masing harus berjalan sesuai fungsinya. Tak perlu ada yang merasa lebih hebat atau lebih berjasa.

Yang lebih kacau lagi, wanita yang punya penghasilan sendiri, apalagi penghasilannya lebih besar dari suami, banyak yang berprinsip “Uangmu adalah uang kita, uangku adalah uangku“.

Terus apa dong artinya TWO BECOME ONE dalam sebuah pernikahan? Semuanya boleh menjadi satu kecuali uang? Nah, uang lagi kan akar masalahnya?

Tidak heran wanita dalam kisah semalam begitu ngotot tidak mau ada pembagian harta lalu akhirnya ketika seorang ahli hukum mengatakan bahwa itu tidak mungkin menurut undang-undang perkawinan, maka ia memilih menjalani hubungan yang tidak jelas. Tidak bercerai secara hukum, tapi masing-masing hidup menurut jalannya sendiri.

Olala…..

Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya

Tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri

(Amsal 14 : 1)

Advertisements

Comments on: "Dibalik wanita yang sukses ada suami yang setres…..???" (10)

  1. drackpack said: Astaganaga…. rupanya ada juga  laki-laki yang jadi korban KDRT…. (geleng-geleng sambil menghela nafas).

    Saya menemukan banyak keluhan suami-suami yang “tersiksa” oleh sikap istri. Entahlah itu kategori KDRT atau bukan……Memang penderitaan itu lebih banyak bersifat psikis…..perlu pengkajian kali ya…..

  2. nice posting… >_<!–

  3. Ck..ck..ck… cermin untuk para istri.Yang memilukan adalah pilihan untuk menjalani hubungan tak jelas hanya karena pertimbangan harta. Jika mereka telah memiliki anak, alangkah kasihannya sang anak tumbuh di lingkungan keluarga yang seperti ini.

  4. rasikiniin said: Saya menemukan banyak keluhan suami-suami yang “tersiksa” oleh sikap istri.

    Betul, Mas… korban KDRT sebetulnya memang bukan cuma perempuan… (Jadi ingat Sitkom “Suami-suami takut istri”)…

  5. qqmerangkumkisah said: nice posting… >_<!–

    Thanks, Mbak…

  6. mimpidanasa said: Jika mereka telah memiliki anak, alangkah kasihannya sang anak tumbuh di lingkungan keluarga yang seperti ini.

    Ya, Mas Yudha… bukan cuma suaminya yang tersakiti, tapi lebih parah mungkin anak-anaknya…

  7. Keikhlasan melakukan segala hal memang penting ya mbak 🙂 Kalo gak ikhlas, jadinya akan seperti itu…

  8. senyumitulah manusia tak pernah puas.tak ada yang mau mengalah dan saling menghormati*duh

  9. Menyedihkan ya….

  10. heheheaku malah baru baca yang ini :)salam kenal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: