Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Terjebak antrian yang mengular di depan kasir Toserba Griya saat menjelang tengah hari, sungguh bukan merupakan hal yang nyaman. Ditambah lagi para pembeli didepanku semua membawa kereta dorong yang full belanjaan. Sedangkan aku cuma beli dua biji mangga untuk melengkapi sop buah yang sedang kubuat. Tapi kan nggak mungkin aku menerobos antrian dan minta didahulukan karena belanjaanku yang cuma sedikit. Bisa-bisa pelototan dan sumpah serapah yang kuterima. Akhirnya kupaksakan diri untuk bersabar, meskipun sedikit dongkol.

Untuk mengisi waktu, mataku berputar ke sekeliling. Mencari sesuatu yang menarik, atau siapa tahu bisa menemukan orang yang kukenal. Lalu pandanganku berhenti pada seorang ibu muda yang sedang menggendong bayinya. Ibu itu berwajah manis. Bayinya yang kutaksir berumur 5 atau 6 bulan juga lucu menggemaskan. Mereka kebetulan sedang mengantri juga di kasir sebelah.

Mungkin karena udara panas atau mulai bosan, kelihatan bayi itu mulai gelisah. Sang Ibu berusaha menghiburnya dengan berbagai cara. Mengajak bercanda, main cilukba, sampai menunjukkan ini dan itu yang sekiranya bisa menarik hati bayinya. Aku langsung memberi nilai plus untuk si Ibu karena kesabarannya. Meskipun beberapa orang nampak mengerutkan kening mendengar rengekan bayinya, Ibu itu kelihatan tak ambil pusing. Wajah manisnya tetap nampak riang dan penuh sayang. Aku sendiri jika dalam posisinya mungkin sudah memutuskan untuk keluar dari antrian dan membatalkan belanja.

Antrian berjalan lambat. Bayi itu sekarang mulai menangis. Aku jadi penasaran apa yang akan dilakukan Ibunya sekarang, jadi tanpa menyolok kuperhatikan terus mereka. Mula-mula Ibu itu masih berusaha membujuk dengan kata-kata lembut. Tapi ketika tangis bayinya malah semakin keras, tiba-tiba tangannya bergerak membuka kancing bajunya sebelah atas.

Oh,no… masa dia mau melakukan itu ? Aku nyaris melotot. Tapi memang itulah yang dilakukannya. Mengeluarkan payudara lalu memberikannya untuk dihisap bayinya. Tak ada rasa malu atau risi kulihat di wajah manisnya. Dengan tenang dia berdiri mengantri, seolah-olah saat itu tak ada siapapun di sekelilingnya. Aku cepat-cepat berpaling. Nilai plus yang tadi kuberikan langsung merosot sot sot…. sampai jadi minus.

Aku juga perempuan, seorang Ibu dan pernah menyusui tiga orang anak. Tapi sampai sekarang aku selalu merasa jengah kalau tidak bisa dibilang jijik setiap kali melihat seorang Ibu mengeluarkan payudara dengan seenaknya di tempat umum untuk menyusui bayi. Masih mending kalau cuma putingnya yang ditongolkan. Ini sih sepenuh-penuhnya diembreng-embreng…

Bukannya sekarang sudah banyak bra khusus untuk Ibu menyusui yang bisa dibuka sedikit untuk memberi kesempatan bayi menghisap tanpa harus memamerkan buah dada ibunya. Bahkan ada juga model baju khusus dengan kancing di bagian puting payudara sehingga proses menyusui bisa dilakukan dengan lebih sopan. Okelah kalau itu terlalu mahal dan tidak terjangkau, tokh masih ada cara lain dengan membuka kancing sedikit, mengeluarkan putingnya saja, kalau perlu ditutupi lagi pakai kain seperti yang biasa kulakukan dulu.

Tapi nggak tahu kenapa perempuan masih banyak yang tidak bisa menghargai dirinya sendiri. Memangnya kalau sudah punya anak terus sah saja pamer buah dada di mana-mana? Nanti kalau terjadi pelecehan seksual, yang disalahkan laki-laki. Lha dia sendiri yang mengundang kok…

Mungkin disetiap tempat umum perlu dipasangi tulisan seperti dalam bus kota “DILARANG MENGELUARKAN ANGGOTA BADAN!”

Halahh…. gak nyambung ya????

Advertisements

Comments on: "Dilarang Mengeluarkan Anggota Badan… !" (4)

  1. Hehehe… Setujuuuhhh! HARAP MENYUSUI TANPA MENGUMBAR ANGGOTA BADAN! *Lhaa??? Panjang amat y, wkwkwk…

  2. bener banget mbak, aku juga suka malu sendiri kalau melihat ibu-ibu yang njembreng PD nya kemana-mana. Mbok ya ditutupi sapu tangan. Tapi itulah, pemandangan ini juga sering aku lihat.

  3. Tadinya kupikir cuma aku sendiri yang aneh karena berpikir begitu… sukur deh ada yang setuju….

  4. Duh. . . Sama bgt dgn apa yg bru q liat kemarin. Pas belanja, ibu2 penjualx kancingx trbuka dan membuat cleavagex trlht jelas. Spontan sy tegur pelan krn mengingat itu d pasar (dan si ibu itu orgx cakep juga, putih semok bohay gitu). Eh ternyata dgn enteng si ibu bilang; ini tadi barusan nyusui si kecil.

    Duh malux sy (kok malah sy yg malu ya?). Mendadak merasa berslh syx. Sy tau kalo seorg ibu harus loyal dan total dlm memberi ASI tapi carax itu loh. Sy se7 dgn pemaparan mbak d atas. Dan sy juga pnh menyusui full 2 org anak, mestix ya harus jgn diperlhtkn smua PDx. Ditu2p dgn kain gendongan atau sapu tgn kan bs.

    Memang org2 di sktr ibu menyusui harus menghormati keadaan ini apapun yg tjd dan apapun resikox, tp bknkah mestix kita sbg ibu2 juga harus menghormati diri sndiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: