Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Membaca postingan Mbak Erwin tentang penjual toko online yang kurang ramah, aku jadi ingat seorang Encim penjual kue di depan pasar Basalamah. Bukan karena dia juga kurang ramah, tapi justru karena keramahannya yang berlebihan dan sering bikin aku risi.

Bagi orang Bandung atau yang pernah ke Bandung, tentu tahu Pasar Basalamah. Sebuah pasar kecil di bilangan jalan Gardujati. Pembelinya kebanyakan orang Tionghoa. Mungkin karena yang paling banyak dijual disana adalah daging B2 dan keperluan-keperluan sembayang di Kelenteng.

Aku dan suami tidak termasuk penggemar daging babi, tapi kami sering juga ke pasar itu untuk membeli buah-buahan. Kebetulan letaknya dekat dengan Gereja tempat aku ibadah tiap minggu, jadi kami biasa mampir ke sana kalau pulang dari Gereja.

Si Encim yang aku maksud biasa berjualan dengan sebuah meja kecil di depan pasar. Mula-mula aku tertarik karena kue-kue basah jualannya cukup beragam. Sementara aku memilih-milih kue, si Encim mulai bertanya-tanya aku ini dari mana, rumah di mana, anakku berapa, umur berapa, suamiku di mana, kerjanya apa. Aku mulai berpikir, ceriwis juga si Encim. Mungkin karena aku memang pada dasarnya tidak terlalu suka banyak bicara, apalagi dengan orang yang tidak begitu kukenal, maka pertanyaan yang begitu banyak itu kurasakan agak mengganggu. Tapi tentu saja tidak sopan kalau aku tidak menjawab, jadi kusahuti saja seperlunya.

Minggu berikutnya waktu ke pasar, suamiku minta kue talam yang seperti minggu kemarin. Jadi aku mampir lagi di tempat si Encim. Sambil memilih kue, lagi-lagi si Encim bertanya pertanyaan yang sama. Dari mana, rumahnya di mana, anaknya berapa, suaminya kerja apa…

Rasanya kok seperti mendengar kaset yang diputar berulang-ulang. Tapi aku masih berusaha menjawab demi sopan santun. Baru ketika kunjungan berikutnya lagi-lagi mendapat pertanyaan yang sama, aku jadi agak kepikiran.

Apa ini memang pertanyaan standar untuk tiap pembeli? Atau wajahku termasuk susah diingat jadi biarpun sudah berkali-kali jajan di sana tetap dianggap sebagai pelanggan baru yang harus di interview…

Aku mencoba mengamati sikapnya pada pembeli lain. Ternyata sama juga. Ada seorang nenek tua ditanya umurnya berapa, apa rahasianya sehingga bisa tetap sehat, cucunya berapa. Lalu seorang perempuan yang kelihatan masih muda ditanyai apakah sudah menikah, kenapa belum menikah, sudah punya calon atau belum…

Aku sampai geleng-geleng kepala melihat begitu sibuknya si Encim antara bertanya, menghitung jumlah yang harus dibayar pembeli, memberikan uang kembalian, membungkus, dan bertanya lagi pada pembeli yang lain…

Lama-lama aku jadi malas beli kue di situ. Risi ditanya macam-macam. Sekarang kalaupun mau ke Pasar Basalamah, aku minta suamiku parkir mobil di Cibadak dan aku masuk pasar lewat sisi yang berlainan dengan tempat jualan si Encim. Soalnya kalau aku cuma sekedar lewat dan tidak beli kue pun si Encim ceriwis itu masih mengejar dengan pertanyaan kenapa nggak beli kue? Cape dehhh…!

Kesimpulannya, segala sesuatu yang berlebihan itu akhirnya malah jadi tidak baik. Terlalu jutek, pembeli kabur. Tapi ramah berlebihan juga mengganggu, dan ujung-ujungnya pembeli kabur juga. Lebih baik seperti kata Vetti Vera, “Yang sedang-sedang saja…” (sambil berjoget dangdut)

Advertisements

Comments on: "Yang sedang-sedang saja…." (7)

  1. Hehehehe… Setujuuuuhhh!!!

  2. hehehe…si encimnya saking ramahnya jadi kelewat ramah ya mbak…aku juga punya teman, jualan juga yang begitu. Ceritanya selalu diulang-ulang. Dari sekian banyak orang hanya aku yang telaten mendengarkan, walaupun sambil terkantuk kantuk. Pikirku, dia butuh seseorang yang bisa mendengarkan, dan aku hanya menyediakan kupingku saja…itu saja sih reasonnya supaya tetep betah mendengarkan ceritanya.

  3. mellyheaven said: Hehehehe… Setujuuuuhhh!!!

    Makasih sudah mampir, Mbak…

  4. Mbak Erwin, berbahagialah penjual itu yang punya langganan sesabar Mbak Erwin… Katanya sekarang ini susah cari kuping yang bersedia mendengar karena semua berlomba-lomba ingin didengar…

  5. ada juga sih mbak timbal baliknya, aku sering dibawain kue sama beliau…

  6. betul betul betul…..jadi seimbang 🙂

  7. Hihihi… kalo si encim itu kasih aku bonus satu atau dua kue… aku ladenin semua omongannya gak ya? Ladenin aja kali… lumayan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: