Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Soulmate

Aku punya seorang teman sekaligus sahabat terbaikku semasa kuliah dulu. Orangnya sederhana dan berasal dari keluarga sederhana pula. Tapi ada satu hal yang langsung bisa terbaca begitu ada di dekatnya. Ketulusan.

Mungkin karena punya begitu banyak persamaan akhirnya kami jadi dekat. Sama-sama sudah ditinggal ayah, sama-sama berkegiatan di PMK, sama-sama suka menghabiskan waktu di perpustakaan, dan sama-sama mengejar target untuk lulus secepatnya berhubung keterbatasan biaya.

Bagiku dia sudah seperti seorang kakak. Tempat curhat, tempat minta pendapat tapi juga teman jalan-jalan yang menyenangkan. Waktu aku frustasi karena skripsi yang tak selesai-selesai, dia yang tak bosan menyemangati. Sampai akhirnya kami lulus sama-sama dan wisuda sama-sama pula.

Setelah lulus dan pulang kembali ke kota kelahiran, hubungan kami berlanjut lewat surat menyurat. Maklum waktu itu belum musim email atau HP dengan pulsa murah.

Beberapa hari setelah aku diterima kerja, aku dapat kabar kalau dia pun sudah bekerja juga. Lalu waktu aku bercerita lewat surat bahwa aku tak betah di tempat kerjaku karena job desk yang tidak jelas, ternyata diapun sedang mengalami hal yang sama di tempat kerjanya. Dan untuk alasan yang sama pula kami berusaha bertahan di tempat masing-masing karena tak yakin bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik.

Ketika akhirnya seiring waktu aku mulai bisa menyesuaikan diri dan merasa betah kerja, dia juga merasakan yang sama. Lalu waktu aku diangkat jadi Section Head, tak berselang lama aku dengar dia juga dapat promosi jabatan.

Kedengarannya memang aneh. Tapi entah kenapa perjalanan hidup kami seperti dua rel kereta yang terus bersisian.

Hubungan kami sempat terputus waktu aku menikah dan pindah ke Bandung ikut suami. Aku kehilangan jejaknya karena dia juga ternyata pindah alamat entah kemana.

13 tahun kami tak tahu kabar masing-masing. Lalu akhir tahun yang lalu akhirnya aku menemukannya lagi berkat Facebook. Tak membuang waktu kami langsung janjian untuk reuni.

Dari hasil ngobrol kesana kemari, membayar waktu 13 tahun yang hilang, aku lagi-lagi menemukan begitu banyak pengalamanyang sama. Bahkan saat itu kami sama-sama sedang pusing cari rumah karena kontrakan habis.

Waktu beberapa hari kemudian dia telepon dan bilang mau coba ambil KPR saja, aku dan suami juga baru deal untuk hal yang sama.

Selama proses menunggu kredit turun, dia banyak nguatin aku karena bagiku untuk ambil rumah itu benar-benar jadi langkah iman berhubung uang tak ada. Dia juga mengalami yang sama. Tapi dia lebih dulu dapat mujizatnya. Dan padaku dia selalu bilang, “Tuhan gak punya anak emas, Vi. Kalo aku ditolong, pasti kamu juga.”

Ketika akhirnya semua masalah rumah itu selesai, kami tertawa bersama. Kok bisa ya… kami selalu mengalami hal yang sama pada saat yang hampir sama. Bahkan selama 13 tahun tanpa kami ketahui kami terus menjalani rel hidup yang bersisian. Mungkin ini yang disebut soulmate ya?

Satu-satunya yang membedakan aku dan dia saat ini cuma anakku 3 orang, sementara dia sudah dua kali keguguran dan sampai saat ini belum dianugerahi kesempatan untuk menjadi seorang Ibu.

Untuk itu giliran aku yang berkata, “Tuhan gak punya anak emas, Sobat. Kalau sampai sekarang kamu belum dapat momongan bukan berarti kurang kasih sayangNya padamu. Tapi semata-mata karena Dia ingin memberi yang terbaik untukmu pada saat yang terbaik.”

Advertisements

Comments on: "Soulmate" (5)

  1. mudah2an cepet punya anak…!! semangat…!!!

  2. wah indahnya persahabatan….

  3. terharu saya bacanya mbak….semoga soulmate mbak Novi segera mendapat momongan…persahabatan yang indah…

  4. Cik, saya jadi inget kemenakan saya (yang jadi anak saya itu). Dia dengan teman TK-nya bareng terus sampai selesai SMA. Ajaibnya, mereka selalu sekelas. Saya ingat pas OSPEK SMA, anak saya minta dicarikan tutup botol 7-Up tapi harus dua. Rupanya, dia duduk di kelas 1-7 bersama dengan sahabat lelakinya itu. Satu orang lagi, sama-sama sejak kelas 1 SD, cuma pisah di SMP. SMA sampai universitas bareng lagi.Kalau Allah menghendaki, maka segala hal mungkin saja terjadi ya cik?!

  5. Iya lho, Bunda…. Rasanya gak ada habisnya kalau harus bercerita tentang dia. Bersyukur sekali bisa bertemu lagi setelah belasan tahun…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: