Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Lomba mengarang kisah romantis? Kedengarannya menarik. Beberapa hari aku merenung, mengingat kembali jalinan kisah antara aku dan si Daddy. Tapi sampai bolak-balik ditelusuri, diurut dari masa perkenalan hingga menikah hingga saat ini, rasanya aku tak berhasil menemukan bagian romantis yang cocok untuk dibuat sebuah cerita.

Perkenalanku dengannya terjadi begitu saja. Dia mengantar temannya yang kebetulan menjadi salah satu supplier di tempat kerjaku. Kami berkenalan, ngobrol-ngobrol sedikit, habis itu sudah.

Beberapa minggu kemudian kami bertemu lagi di gereja usai ibadah. Dia mengantarku pulang lalu ngobrol-ngobrol lagi di rumahku. Di situ kami merasa cocok satu sama lain. Dia seorang yang berwawasan luas, suka bercanda dan tahan bicara berjam-jam tanpa berhenti. Seorang Sanguin sejati. Tapi mungkin itu hal pertama yang membuatku tertarik. Dia bisa membuat topik apapun menjadi bahan perbincangan yang menarik.

Kalau ditanya sejak kapan kami pacaran, aku tidak tahu. Semua seperti mengalir begitu saja. Tidak pernah ada ungkapan cinta. Tidak pernah ada komitmen untuk menjalin hubungan lebih serius. Hanya dengan datang rutin tiap Sabtu malam, tiba-tiba saja dia sudah mentahbiskan aku sebagai pacarnya. Dan ajaibnya, aku tidak protes.

Padahal aku pernah berangan-angan ketika akhirnya aku “pacaran” maka itu akan diawali dengan sebuah candle light dinner, dia memegang tanganku dan menatapku begitu rupa lalu bilang I love you dengan manis. Atau dipantai sambil berlari-lari dengan gaya film India, lalu laut dan langit jadi saksi tentang cinta yang dipahatkan diantara debur ombak.

Nyatanya? Jauh sekali dari angan-angan.

Masa pacaranpun tak ada yang bisa disebut romantis. Jarak yang jauh (aku di Tasik dan dia di Bandung) membuat kami cuma bisa bertemu seminggu sekali. Itupun lebih banyak diisi dengan nonton TV di rumah sementara dia tidur di sofa (katanya cape setelah nyetir dari Bandung ke Tasik). Pernah sekali setelah menikah kami tertawa bersama mengingat hal ini. Aku bilang kasihan banget aku ini, sudah dandan cantik cuma disuruh nungguin orang tidur. Dia malah balas bilang kok aku mau aja? Nah, itu dia yang aku heran…

Peristiwa yang lebih konyol terjadi waktu dia mau melamar. Karena dia sudah tidak punya orang tua maka kakaknya yang akan jadi wakil dari pihak keluarganya. Sehari sebelum waktu yang ditentukan dia telepon dari Bandung dan bilang kalau dia belum sempat menyiapkan barang-barang antaran untuk melamar. Jadi dia minta aku sendiri yang beli buah-buahan dan koya merah, terus tolong bungkusin pakai kertas merah dan dikirim ke rumah kakaknya untuk besoknya dibawa ke tempatku sebagai perlengkapan melamar. Rasanya belum pernah aku dengar ada acara lamaran yang seperti ini.

Berlanjut setelah kami menikah. Rasanya juga tak pernah kualami moment yang romantis yang pantas untuk diceritakan. Tahun pertama menikah, aku pernah memergoki dia mengintip KTP di dompetku hanya untuk melihat tanggal lahirku yang katanya lupa. Kemudian ketika hari ulang tahun itu tiba, tetap saja dia lupa…

Aku pernah secara bercanda bilang padanya kalo aku ingin sekali-kali dikirimi surat cinta. Dengan santainya dia jawab, “Kamu kan pinter nulis. Tolong bikinin deh, nanti aku yang tanda tangan…” (????????)

Ajaib. Tapi itulah dia. Lelaki paling tidak romantis yang ternyata telah menjadi pemenang dengan mengambil tempat teristimewa dalam hatiku. Dari 15 tahun yang kujalani bersamanya ( 2 tahun masa pacaran dan 13 tahun berumah tangga), aku akhirnya belajar sisi lain dari romantisme.

Romantisme bukan hanya ada pada acara makan malam dibawah cahaya lilin, tapi dari hal-hal sederhana seperti ketika kami berhimpit-himpit di tempat tidur bersama anak-anak dan mendengar cerita mereka tentang hari-hari di sekolah.

Romantisme bukan hanya disampaikan lewat kata-kata bersayap dalam puisi atau surat cinta, tapi bisa juga dirasakan lewat doa yang selalu ia panjatkan tengah malam untuk istri dan anak-anaknya.

Romantisme tidak bisa diukur dari banyaknya bunga mawar yang diberikan, tapi dari tiap tetes keringat yang dikorbankan dalam perjuangan memberi kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang tercintanya.

Romantisme yang sesungguhnya adalah ketika kita telah berhasil mengolah perbedaan sehingga menghasilkan sebuah harmoni yang indah. Seperti bagian-bagian dari sebuah puzzle yang selalu saling melengkapi satu sama lain.

Dan ketika aku telah berhasil melihat itu semua, maka akulah wanita yang paling berbahagia di dunia karena memiliki cinta dari seorang yang sangat tidak romantis.

Advertisements

Comments on: "Romantisme Ala Aku dan Dia" (4)

  1. Mbak Erwin, kalo dinilai dari komen yang masuk, gimana denganku yang kontaknya baru bisa dihitung jari… itupun yang rajin komen cuma mbak Erwin dan Mbak Fitri…

  2. mbak, nanti aku kopi ke blog aku, supaya dikomenint teman2. Hiks, aku terharu ternyata ada ya lelaki yg lbh tdk romantis…asalkan setia, it does not matter…

  3. Thanks, Mbak…

  4. yee……Horeee..banyak laki2 tak romantis tetep sayang dan Cinta….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: