Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Menyimpan Kenangan

Si Utun berulah lagi. Mobil keramat yang sudah menemani kami sejak awal pernikahan itu belakangan rewel dan selalu minta perhatian.

“Apanya lagi sekarang, Pa?” aku memperhatikan suamiku yang sedang melongok-longok ke kolong si Utun.

“Mungkin water pump-nya harus diganti.”

Aku mengeluh dalam hati. Halah…. jajan lagi deh.

Tapi si Utun memang sudah tua. Seorang temanku pernah menyarankan untuk tukar tambah dengan yang tahunnya lebih muda. Waktu itu aku cuma tertawa. Kubilang mobil itu banyak kenangannya, sayang kalau dilepas.

Sekarang, setelah si Utun ngambek lagi untuk kesekian kali, giliran suamiku mengatakan hal yang sama. “Sepertinya kita harus mulai berpikir untuk tukar tambah, Neng. Soalnya kalau dipertahankan juga sudah nggak efektif.”

“Kalau duitnya cukup sih mendingan ambil satu lagi. Yang ini biar saja jangan dilepas,” kataku.

“Terus mau disimpan dimana? Garasi kita cuma muat buat satu mobil.”

“Kan bisa di carport. Tinggal dikasih tambahan atap, beres kan?” aku ngotot, “Soalnya sayang. Kenangan kita sama si Utun kan banyak sekali.”

Suamiku menggerutu. “Kamu sih, semua benda selalu dibilang banyak kenangannya. Sampai-sampai rumah kita sudah mirip museum saking banyaknya benda-benda bersejarah.”

Aku nyengir malu.

Tapi yang dibilang suamiku memang tidak salah. Aku ingat di gudang belakang masih teronggok sebuah radio tape keluaran tahun 80-an. Aku tidak tega membuangnya karena itu adalah benda kesayangan almarhum Papaku. Tapenya memang sudah rusak, tapi radionya masih jalan, begitu selalu kilahku kalau suamiku sedang ingin mengenyahkan barang-barang tak terpakai. Tokh nyatanya radionya pun tak pernah kuhidupkan karena aku masih punya yang lebih baru.

Masih ada lagi sebuah dus berisi kertas-kertas gambar hasil karya Samuel sejak ia belajar mencoret-coret. Melihat-lihat kembali tumpukan kertas itu sering membuatku tersenyum sendiri. Mulai dari coretan-coretan yang tidak jelas, berubah jadi gambar sederhana, dan sekarang sulungku itu sudah bisa menggambar dengan sangat bagus. Bahkan sudah bisa membuat komiknya sendiri.

Itu baru dua contoh kenangan yang setia kusimpan. Masih banyak lagi yang lain. Sepatu yang dipakai suamiku waktu kami menikah, jam tangan lama yang kubeli dari uang gajiku yang pertama, boks bayi bekas ketiga buah hatiku, baju-baju lama yang masing-masing punya arti tersendiri, beberapa majalah tua yang pernah memuat cerpenku waktu remaja dulu. Ah, terlalu banyak kalau harus kusebut satu persatu. Belum lagi setumpukan foto dari mulai fotoku waktu kecil sampai foto anak-anakku sekarang.

“Membuang barang-barang itu kan tidak berarti kamu membuang kenangan yang menyertainya,” kata suamiku lagi. “Kenangan itu akan tetap hidup dalam dirimu dan jadi milikmu yang paling indah selamanya.”

Sekali ini sepertinya aku harus menyerah. Apalagi rumahku memang mulai terasa sesak. Terlalu banyak barang yang tak terpakai dan teronggok begitu saja atas nama kenangan. Mungkin aku harus mulai menyortirnya. Beberapa sepertinya masih bisa berguna buat orang lain.

Aku menatap suamiku dan tersenyum. “Jadi si Utun kita jual saja?”

“Ya nggak sekarang. Tunggu dananya cukup.”

Baiklah…. setidaknya masih ada kesempatan bagiku menikmati kenangan bersama si Utun…

Advertisements

Comments on: "Menyimpan Kenangan" (2)

  1. barang yang kurang berguna bagi kita, adalah harta bagi orang lain, supaya rela mbak ngelepasnya….berguna bagi orang lain. Contohnya kertas2 itu bisa diaur ulang mjd kertas baru lg, mengurangi penebangan hutan…

  2. Betul, Mbak… sekarang lagi belajar “Melepas”…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: