Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Rumahku diintai orang. Itu kesimpulan yang kudapat ketika untuk ketiga kalinya kutemukan orang yang sama, pada saat yang sama dan dari tempat yang sama sedang memandang berlama-lama ke arah rumahku. Dia seorang laki-laki setengah baya. Kumis dan jenggotnya dibiarkan tak terawat. Memakai pakaian lusuh dan sebuah topi yang tak kalah kumal.

Aku tak tahu apa sebenarnya yang dilakukannya atau apa yang diinginkannya, tapi dia selalu ada di sudut taman di seberang rumahku pada saat menjelang senja.

“Hati-hati, Nik. Siapa tahu dia orang jahat yang mau merampok rumah kita,” kata Mbak Laras waktu kuceritakan penemuanku padanya.

“Aku nggak tahu, Mbak. Kalau dilihat sepintas sih sepertinya dia cuma seorang gelandangan yang tidak berbahaya.”

“Tapi kamu bilang dia selalu memandang kemari. Mungkin saja dia sedang mengamat-amati kapan saatnya rumah ini kosong. Wah, celaka kita, Nik. Mana Mama pulangnya masih tiga hari lagi,” Mbak Laras kelihatan panik, “Apa nggak sebaiknya kita minta Oom Seno atau Mas Guntur menemani kita sampai Mama pulang?”

“Aku nggak mau merepotkan mereka,” bantahku, “Yang penting kita bertindak hati-hati. Kunci semua pintu dan jendela. Dan jangan lupa berdoa biar Tuhan melindungi kita.”

Mbak Laras akhirnya mengangguk setuju.

Ternyata malam itu dia bukan hanya mengunci pintu tapi juga menyalakan semua lampu, termasuk lampu dapur dan kamar mandi. Semalaman rumah dibiarkannya dalam keadaan terang benderang. Rupanya itupun dianggap belum cukup, ia masih menyediakan sebuah pentungan besar di samping tempat tidurnya. Aku mencoba memahami meski geli setengah mati. Nyatanya sampai pagi tak terjadi apa-apa.

Waktu turun ke ruang makan untuk sarapan, kulihat mata Mbak Laras merah seperti kurang tidur. “Gila, Nik. Aku hampir nggak bisa tidur semalaman. Ada suara aneh sedikit saja hatiku langsung gedebak-gedebuk tak karuan,” katanya setengah mengeluh.

Aku tertawa dibuatnya. “Mbak terlalu berlebihan sih. Aku jadi menyesal menceritakan tentang laki-laki itu pada Mbak.”

“Hari ini sebaiknya kita nggak membiarkan rumah kosong, Nik. Kamu kuliah pagi atau siang?”

“Siang,” sahutku sambil mengoleskan mentega di atas roti.

“Kebetulan. Hari ini aku masuk pagi, jadi kita bisa bergiliran jaga rumah.”

Aku mengangguk.

Setelah Mbak Laras berangkat kurapikan meja dan kuangkut semua piring-piring kotor ke belakang untuk dicuci. Kami memang tidak pernah punya pembantu. Semua pekerjaan rumah dibagi untuk dikerjakan bertiga. Aku, Mbak Laras dan Mama. Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana Mama bisa mengerjakan semua itu sendirian waktu Aku dan Mbak Laras masih kecil.

Mungkin aku lupa bercerita kalau aku tidak pernah melihat atau mengenal Papaku. Mama bilang Papa meninggal waktu aku masih dalam kandungan Mama. Dia seorang pilot. Laut mengubur jasadnya bersama puing-puing pesawatnya yang jatuh karena kecelakaan. Itu sebabnya kami hanya bertiga di rumah.

Yang aku ingat Mama adalah seorang pekerja keras. Usaha jahit kecil-kecilan yang semula dirintisnya untuk mencukupi biaya hidup kami, sekarang telah berkembang menjadi sebuah butik yang cukup besar. Mama juga tetap setia pada almarhum Papa. Tak pernah berpikir untuk mencari penggantinya meski aku dan Mbak Laras ikhlas sekalipun. Padahal kadang-kadang aku ingin juga merasakan seperti apa punya Papa. Biarpun cuma Papa tiri.

Piring terakhir telah selesai kucuci. Kuputuskan untuk melanjutkan kerjaku dengan memotong rumput di halaman yang mulai tinggi. Tapi baru saja hendak mulai bekerja, instingku mengatakan bahwa aku tengah diawasi. Reflek aku menoleh ke seberang jalan. Ternyata benar. Laki-laki itu ada di sana lagi. Jadi sekarang dia juga datang di siang hari?

Kubanting gunting di tanganku dengan kesal. Rasa penasaran membuatku tak berpikir panjang lagi. Aku langsung menyeberang dan menghampiri laki-laki itu. Dia kelihatan terkejut melihatku.

“Bapak siapa?” tanyaku tanpa basa-basi. “Kenapa Bapak selalu mengawasi kami?”

Ditengah kekagetannya laki-laki itu masih memaksakan diri untuk tersenyum. Entah kenapa saat itu juga aku langsung merasa yakin bahwa ia bukan orang jahat seperti yang ditakutkan Mbak Laras.

“Apa mau Bapak sebenarnya?” tanyaku lagi.

Laki-laki itu menggeleng perlahan. “Maafkan saya, Nak. Saya tidak bermaksud mengganggu kalian. Tapi kalian mengingatkan saya pada orang-orang yang saya cintai.” Suaranya mengandung kesedihan yang begitu dalam.

“Siapa?” aku jadi tambah penasaran.

“Istri dan anak-anak saya. Sudah lama sekali saya kehilangan mereka.”

Aku mulai mengerti. “Apa mereka meninggal?” tanyaku hati-hati.

“Tidak. Mereka masih hidup. Anak saya yang bungsu mungkin sudah sebaya kamu sekarang. Tapi saya tidak bisa menjumpai mereka lagi.”

“Kenapa?”

Kudengar ia menghela nafas dalam. Matanya kelihatan beriak. Sepertinya ia tengah menyimpan beban yang begitu berat yang membuatnya kelihatan lebih tua dari usianya yang sebenarnya. “Saya pernah melakukan sebuah kesalahan di masa muda. Itu yang membuat saya kehilangan mereka,” ujarnya masih dengan nada sedih.

“Saya rasa semua orang juga pernah berbuat salah.”

“Tapi kesalahan saya tak termaafkan.”

Rasa ibaku tiba-tiba menyeruak. “Kalau Bapak tidak keberatan, saya ingin mendengar cerita Bapak lebih banyak. Bagaimana kalau sambil minum kopi di rumah saya?”

Ia menggeleng cepat. “Saya tidak berani menginjak rumahmu. Lebih baik kita duduk di sana,” ia menunjuk sebuah bangku kayu di tengah taman.

“Dulu saya pernah punya keluarga yang bahagia,” katanya mengawali ceritanya, “Saya punya seorang istri yang cantik, seorang putri yang manis, dan kami sedang menantikan kehadiran anak kedua. Tapi kemudian saya termakan bujukan setan. Saya berkenalan dengan bajingan-bajingan yang menyeret saya melakukan perbuatan terkutuk. Merampok dan membunuh. Kesalahan yang sekali itulah yang membuat kebahagiaan kami hancur tak bersisa. Saya akhirnya tertangkap dan pengadilan menjatuhi saya hukuman seumur hidup.”

Aku geleng-geleng kepala. “Bagaimana dengan anak dan istri Bapak?”

“Anak saya yang kedua lahir sebulan setelah saya dipenjara. Perempuan. Sayang saya tidak pernah sempat melihatnya. Beberapa tahun setelah itu istri saya masih kerap datang menengok. Tapi kemudian ia menghilang. Saya paham, tak ada lagi yang bisa ia harapkan dari saya.”

“Akhirnya Bapak dibebaskan?”

“Karena kelakuan saya yang baik selama dalam penjara, saya menerima pengampunan. Begitu keluar yang pertama saya lakukan adalah mencari istri dan anak saya. Tapi ternyata mereka sudah pindah.”

“Bapak tidak menemukan mereka?”

Laki-laki itu menatapku dengan sorot aneh lalu menggeleng. “Kalaupun bertemu, saya tidak yakin mereka masih mau menerima saya.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Ada keinginan untuk menghibur, tapi tak tahu juga kata-kata penghiburan yang tepat. Akhirnya aku hanya berdiam diri membiarkan laki-laki itu terus menatapku penuh kerinduan. Mungkin dianggapnya aku ini anaknya yang hilang. Biar sajalah kalau itu bisa meringankan sedikit bebannya.

“Kamu anak baik,” katanya beberapa saat kemudian. “Ceritakan padaku tentang keluargamu. Apa Ayahmu masih ada?”

“Sudah meninggal. Dia seorang pilot. Pesawatnya jatuh dilaut dan ia tewas di sana.”

“Apa Ibumu tidak menikah lagi?” ada getar aneh dalam suaranya ketika menanyakan itu. Tapi aku tak terlalu perduli.

“Mama terlalu mencintai Papa. Tapi saya tak heran. Dari ceritanya saya tahu Papa seorang yang pantas untuk disetiai.”

Mata laki-laki itu bersinar aneh. Ia menghela nafas berat lalu bangkit. “Lebih baik saya pergi sekarang,” katanya.

“Bapak mau kemana?”

“Kemana saja kaki ini mengajak melangkah,” ia tersenyum pahit.

“Apakah kita akan bertemu lagi?”

“Entahlah. Mungkin juga tidak,” matanya menyapuku sekali lagi.

Aku merasa tenggorokanku kering tiba-tiba. Caranya menatapku menimbulkan desir yang aneh dalam dadaku.

“Tunggu!” seruku melihat laki-laki itu mulai melangkah pergi, “Boleh saya tahu nama Bapak?”

Ia menggeleng tegas. “Lebih baik tidak. Anggap saja kamu tidak pernah bertemu denganku.” Setelah itu ia terus berjalan tanpa menoleh lagi.

Aneh sekali, seperti ada sesuatu yang hilang dari hatiku begitu sosoknya lenyap dari pandangan. Begitu juga ketika besok dan besoknya lagi aku tak pernah menemukan lagi laki-laki itu di seberang jalan. Mungkin ia tengah meneruskan pencariannya. Aku hanya bisa berdoa supaya Tuhan memberinya jalan yang terbaik.

(Belum selesai)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: