Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Berminggu-minggu lewat. Aku hampir melupakan laki-laki aneh itu ketika tanpa terduga dia muncul lagi. Kali ini sebagai pahlawan yang menyelamatkanku dari para penjahat.

Aku memang salah. Pulang terlalu larut tanpa memperhitungkan jalanan menuju rumahku yang selalu lengang selepas maghrib. Lantas beberapa orang berandal mencegatku, memaksaku menyerahkan uang dan perhiasan yang kupakai. Tidak cukup hanya itu, mereka juga mulai bersikap kurang ajar padaku. Untung pada saat yang tepat muncul seseorang yang dengan sekali gebrak saja sanggup membuat para berandal itu tunggang langgang ketakutan. Ternyata dia, laki-laki itu.

“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya cemas.

Aku menggeleng, menatapnya penuh terima kasih.

“Lain kali berhati-hatilah. Jangan pulang terlalu larut, karena tidak setiap saat saya bisa menolongmu. Nah, sekarang pulanglah!” Ia berbalik hendak pergi.

“Sebentar, Pak!” cegahku, “Apa Bapak sudah menemukan anak dan istri Bapak?”

“Saya sudah berhenti mencari,” jawabnya singkat.

“Apa ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk membantu Bapak?”

Ia tersenyum sambil menggeleng. “Mereka mungkin sudah hidup bahagia sekarang. Saya tidak ingin mengusiknya lagi. Anggap saja kehilangan ini sebagai hukuman atas dosa-dosa saya pada mereka,” ia menghela nafas sebelum melanjutkan, “Saya sudah cukup bersyukur bisa mengenalmu, anak baik. Kalau kamu tak keberatan saya ingin menemuimu sekali-kali, untuk melepas kerinduan saya pada anak saya.”

“Tentu saja boleh,” sahutku cepat, “Bapak boleh datang ke rumah kapan saja.”

“Terima kasih. Sekarang pulanglah. Mamamu mungkin sudah menunggu.”

Aku terpaksa mengangguk. Sebetulnya masih banyak yang ingin kuketahui, tapi dia sepertinya tak suka terlalu banyak ditanyai. Namanya saja sampai saat ini tetap ia rahasiakan.

“Mungkin dia tidak ingin keberadaannya diketahui banyak orang,” komentar Mbak Laras waktu kuceritakan keherananku itu padanya. “Mungkin saja dia itu bukannya mendapat pengampunan tapi kabur dari penjara.”

“Mbak jangan berprasangka buruk terus dong,” protesku. “Kalau memang dia kabur, mestinya dia bersembunyi dan bukan keluyuran di jalan seperti sekarang.”

“Aku cuma mengingatkanmu agar tetap berhati-hati. Sekarang ini orang bisa berbuat kejahatan dengan berbagai cara. Jangan sampai kamu ditipunya.”

Aku mencibir. Mbak-ku tersayang ini agaknya terlalu banyak membaca cerita kriminal. Jadi selalu curiga pada semua orang.

Tapi Mama rupanya punya usul yang lebih cemerlang. Ia menyuruhku mengundang laki-laki itu untuk makan malam dirumah. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolongku.

Aku spontan menyetujuinya. Meski tak tahu keberadaan laki-laki itu saat ini, tapi aku yakin dia akan mencariku dalam beberapa hari ini.

Dan feelingku memang tak keliru. Dia datang dua hari setelah itu. Berdiri di sudut taman seperti biasa. Untung aku melihatnya waktu baru pulang kuliah. Segera saja aku menyeberang menghampirinya.

“Pulang kuliah?” ia menyapaku lebih dulu.

Aku mengiakan. “Bapak sudah lama disini? Kenapa tidak ke rumah saja?”

“Saya tidak ingin membuat kaget keluargamu.”

“Mereka sudah tahu tentang Bapak. Mama bahkan mengundang Bapak untuk makan malam bersama. Kami semua ingin berterima kasih karena Bapak telah menolong saya waktu itu.”

“Itu hanya suatu kebetulan. Untuk apa dibesar-besarkan? Saya bukan seorang pahlawan.”

“Apapun kata Bapak, saya tetap ingin mengundang Bapak. Bagaimana kalau kita masuk sekarang? Kebetulan Mama ada di rumah.”

Wajahnya tiba-tiba berubah. Matanya memandang gugup ke arah rumah.

“Kenapa, Pak?” tanyaku heran.

Ia tak menjawab. Seperti tengah berpikir keras. Tangannya mengepal-ngepal gelisah.

Beberapa saat kemudian baru ia berkata dengan terpatah-patah, “Kamu… sungguh-sungguh ingin saya… bertemu…. Mamamu?”

“Tentu saja,” anggukku.

“Bagaimana kalau terjadi sesuatu… yang tidak kamu inginkan?”

“Sesuatu apa?”

“Misalnya… eh… Mamamu… mengusir saya?”

Aku tertawa. “Bapak tidak punya alasan untuk takut. Bukankah tadi saya katakan Mama sendiri yang mengundang Bapak. Ayolah, kita ke sana sekarang.”

Ia berpikir lagi beberapa saat sebelum akhirnya mengikuti langkahku. Topinya dibenamkan lebih dalam hingga menutupi setengah wajahnya. Benar-benar laki-laki aneh, gumamku dalam hati.

Kebetulan Mama sendiri yang membukakan pintu. Langsung kuperkenalkan dia pada Mama. “Ini Bapak yang kemarin menolong Niken, Ma.”

Mama tersenyum dan mengulurkan tangan. Tapi laki-laki itu tetap menunduk dalam-dalam seperti ingin menyembunyikan diri di balik topinya. Akhirnya Mama menarik kembali tangannya. “Mari masuk, Pak,” ajaknya serba salah.

Perlahan laki-laki itu mengangkat wajah, lalu membuka topinya. Begitu mereka bertatapan kulihat wajah Mama berubah, seperti tengah berusaha mengenali.

“Apa kabar, Hes?” laki-laki itu berkata pelan.

Mama tiba-tiba terpekik kaget lalu menutup mulut dengan kedua tangannya. Wajahnya langsung pucat seperti kertas. Aku menatapnya tak mengerti. Ada apa ini?

“Mas Bambang?” kudengar suara Mama gemetar seperti menahan gejolak yang amat sangat di dadanya.

Laki-laki itu mengangguk. “Maaf telah mengagetkanmu. Tentu kamu tak mengira akan melihatku lagi. Terus terang tadinya aku juga tak berniat menemui kalian. Berhari-hari aku hanya berani memandang kalian dari jauh. Aku tak ingin mengusik ketentraman kalian. Apalagi setelah Niken bercerita tentang Papanya yang sudah meninggal.”

Bu
tir-butir air mata kontan meluncur mengaliri pipi Mama. “Maaf, Mas. Aku terpaksa mengarang cerita itu. Kamu tentu paham, tak mudah menjelaskannya pada mereka saat itu.”

Laki-laki itu tersenyum getir. “Aku mengerti, Hes. Aku berterima kasih kamu telah membesarkan anak-anak kita dengan baik.”

Blarrrrr!!!! ucapan terakhir itu seperti gelegar petir yang maha dahsyat di telingaku. Aku tersuruk beberapa langkah ke belakang. Perlu beberapa saat untuk meyakinkan diri bahwa aku tadi tidak salah dengar.

“Nik!” Mama memburuku, memelukku sebelum aku jatuh terduduk.

Kucubiti pergelangan tanganku. Sakit. Berarti ini bukan mimpi.

Duh, Gusti…. lelakon macam apa ini? Jadi ternyata anak yang dicarinya itu adalah aku? Jadi dia itu…

Pandanganku jadi nanar. Tulang-tulangku seperti baru dicopoti. Lemas. Khayalanku tentang seorang Papa yang terbang gagah di balik awan sekarang hancur berantakan. Ternyata Papaku cuma seorang perampok yang menghabiskan belasan tahun hidupnya di balik jeruji penjara.

Teman, jika kau jadi aku… apa yang akan kau lakukan sekarang?

**************

Bandung, Mei 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: