Mari berbagi, karena berbagi tidak akan membuat kita miskin…. malah akan membuat kita makin kaya

Dia memang pangeranku. Sejak pertama kali melihatnya aku tahu bahwa dia akan menjadi belahan jiwaku.

Perhatiannya lembut, tatapannya menyejukkan. Dia memiliki semua yang aku inginkan dalam diri seorang laki-laki. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengannya tanpa merasa bosan. Bahkan sekedar mendengar sapaannya lewat telepon bisa membuatku melayang ke langit ke tujuh. Semuanya terasa indah dan sempurna.

Lalu kami menikah.

And they lived happily ever after, begitu kalimat yang biasa kubaca dalam cerita dongeng ketika tokoh utama akhirnya menikah dengan pangeran tampan pujaannya.

Tapi aku bukan Cinderella, bukan Belle, bukan Snow White. Pernikahan bagiku ternyata bukan penutup kisah, tapi justru jadi awal dari sebuah kisah yang baru. Dan kisah itu tak sepenuhnya berisi kebahagiaan.

Aku sempat terperangah, shock, kaget dan tak terima ketika tiba-tiba saja dia tidak lagi seperti Prince Charmingku yang lembut dan selalu penuh cinta.

Kata-katanya yang dulu begitu manis sekarang jadi seperti pisau tajam yang membuatku berdarah-darah setiap saat. Pujian dan rayuan berganti jadi celaan dan tuntutan yang tak habis-habis. Selalu ada yang kurang. Selalu ada yang tak sempurna. Padahal dia sendiri juga tak sempurna. Bukankah memang cuma Tuhan yang sempurna?

Hari-hari yang dulu menyenangkan berubah jadi mimpi buruk. Dia bak Count Dracula yang menghisap habis seluruh energi positifku hingga tak tersisa. Luka, luka dan luka. Kecewa dan kecewa.

Mungkin semua karena tuntutan hidup dan tanggung jawab yang berat sebagai kepala keluarga. Ketika lembaran-lembaran rupiah begitu sukar dikejar tapi begitu cepat melayang setelah didapat, siapa pula yang masih berpikir tentang mempertahankan imaji sebagai pecinta sejati.

Dan meski Rossa selalu berdendang : Atas nama cinta.. kurelakan diriku merana… Tapi aku tak sudi hidup merana. Kebahagiaan bagiku adalah mutlak. Sebuah keharusan, bukan if clauses.

Maka akupun mulai memohon pada Tuhan agar diubahNya Count Dracula itu menjadi Prince Charmingku kembali. Tiap hari, tiap saat kupanjatkan doa yang sama sampai-sampai menjadi seperti sebuah hafalan. Namun tak ada yang berubah. Doa itu seperti hanya memantul di langit-langit kamar.

Sampai suatu ketika sebuah kesadaran tiba-tiba datang, seperti sehembus angin meniup debu-debu kedegilan di benakku. Kenapa selalu meminta perubahan? Kenapa tidak melakukan sesuatu yang lebih nyata. Jika setiap celaannya kuanggap sebagai koreksi untuk memperbaiki diri dan tuntutannya menjadi sebuah goal yang harus kucapai, tidakkah hidupku nantinya akan menjadi jauh lebih baik? Ketimbang berusaha membelokkan arus sebuah sungai, kenapa tidak diikuti saja alirannya. Siapa tahu akan membawaku ke sebuah tempat yang jauh lebih indah.

Sebuah keputusan kuambil. Kalau aku tak merasa nyaman dengan segala tuntutannya, maka tak akan kubiarkan dirinya mengalami ketidak nyamanan yang sama karena tuntutanku yang berlebihan. Bukankah hidup itu tentang memberi dan menerima. Apa yang kau ingin orang lakukan padamu, maka lakukanlah itu terlebih dahulu pada mereka. Dan jika kebahagiaan itu nantinya kau rasakan, maka itulah bonus dari sebuah kerelaan.

Malam itu aku terbangun dan menyadari dia tak lagi berada di tempat tidurnya. Dengan mata berat aku turun dan melangkah keluar dalam keremangan. Lalu dipintu kamar anak-anak kakiku tiba-tiba terpaku. Dimataku tersaji sebuah keindahan yang sulit diceritakan dengan kata-kata. Pangeranku, Prince Charmingku, tengah berlutut di tepi ranjang si sulung. Matanya terpejam dalam doa dan sebelah tangannya tertumpang di atas kepala sang putra yang tengah terlelap. Begitu khusyuk… mengalirkan berkat dan kasih sayang terdalam yang hanya dapat dimiliki seorang ayah terhadap putranya.

Setetes air mengambang di pelupuk mataku. Meski tak dapat kudengar kata-kata yang diucapkannya tapi aku mengerti seluruh harapan yang terkandung di dalamnya. Dan saat itu aku seperti melihatnya sebagai sosok yang sama sekali berbeda. Ternyata dibalik semua sikap otoriter dan kerasnya dia masih punya hati. Masih punya cinta.

Ternyata dia masih adalah Prince Charmingku….

Advertisements

Comments on: "Prince Charming Vs Count Dracula" (1)

  1. lelaki kalahnya dengan kelembutan dan kesabaran mbak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: